BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Artis Angela Tee, yang sebelumnya dikenal sebagai mantan personel girlband 7 Icons, membuat keputusan mengejutkan di awal tahun 2026 dengan menjalani operasi plastik (oplas) di Thailand. Penampilannya yang kini terlihat berbeda, terutama pada bagian hidung, diakuinya sebagai upaya untuk mempercantik diri. "Oplas di Thailand awal tahun 2026. Oplas hidung saja. Mau lebih mancung biar kek bule jadi langsung berubah," ujar Angela Tee saat dihubungi pada Minggu, 26 April 2026. Keputusan ini tidak diambil sembarangan, melainkan didorong oleh situasi rumah tangganya yang tengah berada di ujung tanduk. Ia mengungkapkan bahwa suaminya, Goldwin Yustantio, berulang kali mengutarakan niat untuk menceraikannya.
Proses operasi plastik yang dijalani Angela Tee di Thailand menghabiskan biaya sebesar Rp 300 juta. Biaya yang tidak sedikit ini dialokasikan untuk prosedur pembentukan hidung menggunakan tulang iga sendiri. Pilihan untuk melakukan operasi di Thailand bukan tanpa alasan. Angela Tee mempercayakan keahlian dokter di Hospital SLC yang spesialis dalam membentuk hidung mancung, tinggi, dan terlihat natural. "Segituan lebih karena pakai tulang iga sendiri. Kenapa pilih di Thailand, karena Dokter di Hospital SLC pilihanku spesialis bikin hidung mancung tinggi natural," jelasnya.
Alasan utama di balik keputusan drastis Angela Tee untuk menjalani operasi plastik adalah ancaman perceraian dari suaminya. Ia mengakui bahwa sejak tahun sebelumnya, rumah tangganya dilanda berbagai masalah dan gangguan yang membuat suaminya merasa muak dan kerap melontarkan kata-kata cerai. "Jujur awal mulanya dari tahun lalu banyak mengalami gangguan kuasa lain di rumah tangga yang berakibat suami saya selalu benci melihat saya dan selalu mengucapkan kata bercerai. Hampir tiga kali ucapin cerai," tuturnya dengan nada prihatin. Di tengah keretakan hubungan tersebut, Angela Tee memutuskan untuk mengambil langkah nekat dengan pergi ke Thailand sendirian selama 14 hari untuk menjalani operasi plastik, tanpa sepengetahuan suaminya.
Keberanian dan keputusan Angela Tee untuk melakukan perubahan fisik ini ternyata membuahkan hasil yang tak terduga. Sekembalinya dari Thailand, penampilan Angela Tee yang telah berubah drastis membuat suaminya, Goldwin Yustantio, memberikan reaksi positif. Alih-alih melanjutkan niat perceraian, sang suami justru terkesan dengan perubahan tersebut. "Hasilnya sepulang oplas, suami tidak jadi menceraikan saya, karena katanya saya berubah jadi lebih cantik dan berbeda dengan saya sebelumnya," ungkap Angela Tee dengan nada lega. Ia berharap bahwa operasi plastik ini dapat menjadi keputusan terbaik yang mampu menyelamatkan rumah tangganya dari kehancuran.
Keputusan Angela Tee untuk melakukan operasi plastik sebagai upaya menyelamatkan pernikahan menjadi topik hangat yang memicu berbagai pandangan. Di satu sisi, langkah ini menunjukkan dedikasi dan keinginan kuatnya untuk mempertahankan ikatan pernikahan yang terancam. Ia rela mengeluarkan biaya besar dan menanggung risiko medis demi sebuah perubahan yang diharapkan dapat memperbaiki hubungan. Di sisi lain, tindakan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang fondasi pernikahan itu sendiri. Apakah kecantikan fisik semata dapat menjadi solusi jangka panjang untuk masalah rumah tangga yang kompleks?
Perjalanan Angela Tee dalam menghadapi krisis pernikahan ini menjadi refleksi bagi banyak pasangan. Tekanan dalam rumah tangga dapat muncul dari berbagai faktor, termasuk kesalahpahaman, komunikasi yang buruk, hingga ketidakpuasan pribadi. Dalam kasus Angela Tee, ia memilih jalan yang tidak konvensional dengan mengubah penampilannya. Hal ini mengindikasikan adanya rasa tidak percaya diri atau keinginan untuk memberikan "sesuatu yang baru" kepada pasangannya.
Fakta bahwa suaminya bereaksi positif terhadap perubahan fisiknya juga menimbulkan perdebatan. Apakah ini berarti suaminya lebih mengutamakan penampilan luar daripada esensi hubungan? Atau apakah ini hanya sebuah reaksi awal yang mungkin akan berubah seiring waktu? Penting untuk dicatat bahwa hubungan yang sehat dibangun di atas pondasi yang kuat, meliputi kepercayaan, rasa hormat, komunikasi terbuka, dan penerimaan terhadap kekurangan masing-masing. Kecantikan fisik, meskipun penting, seringkali bersifat sementara dan dapat memudar seiring waktu.
Dalam konteks ini, Angela Tee patut diapresiasi atas keberaniannya dalam menghadapi masalah rumah tangga. Namun, upaya untuk menyelamatkan pernikahan tidak seharusnya hanya berhenti pada perubahan fisik. Komunikasi yang jujur dan terbuka dengan suaminya mengenai akar permasalahan yang menyebabkan ancaman perceraian menjadi langkah krusial selanjutnya. Terapi pernikahan atau konseling pasangan bisa menjadi pilihan yang lebih konstruktif untuk mengatasi konflik dan membangun kembali fondasi hubungan.
Biaya sebesar Rp 300 juta untuk operasi hidung menggunakan tulang iga sendiri menunjukkan keseriusan Angela Tee dalam melakukan perubahan ini. Penggunaan tulang iga sendiri memang merupakan teknik yang umum dalam prosedur rhinoplasty untuk mendapatkan hasil yang lebih natural dan permanen. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap prosedur medis memiliki risiko, dan Angela Tee telah mengambil risiko tersebut demi tujuannya.
Pilihan untuk melakukan operasi di Thailand, khususnya di Hospital SLC, juga mencerminkan pencarian akan keahlian terbaik. Thailand memang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata medis terkemuka, terutama untuk prosedur bedah plastik. Reputasi dokter spesialis yang mumpuni menjadi daya tarik utama bagi banyak orang yang ingin melakukan perubahan fisik.
Kisah Angela Tee ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap hubungan, terutama pernikahan, dibutuhkan upaya yang berkelanjutan. Perubahan fisik mungkin bisa menjadi pemicu awal untuk memperbaiki situasi, namun inti dari penyelamatan rumah tangga terletak pada kesediaan kedua belah pihak untuk saling memahami, memaafkan, dan berkomitmen untuk tumbuh bersama. Semoga Angela Tee tidak hanya mendapatkan hidung yang lebih mancung, tetapi juga menemukan kembali keharmonisan dalam rumah tangganya melalui komunikasi yang lebih mendalam dan upaya bersama. Keputusannya yang berani ini setidaknya membuka jalan untuk dialog kembali dengan suaminya, dan dari sana, harapan untuk perbaikan hubungan dapat tumbuh.

