Sebagaimana lazimnya di seantero penjuru nusantara, ketika musim Lebaran tiba, umat Islam di Indonesia memiliki satu agenda wajib yang seolah telah mendarah daging, yakni Halalbihalal. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas musiman, melainkan sebuah manifestasi kultural yang menjadi ciri khas unik umat Islam Indonesia. Meskipun dari kacamata pakar bahasa Arab istilah ini kerap diperdebatkan validitas tata bahasanya dalam ilmu nahwu-shorof, namun esensi positif yang terkandung di dalamnya membuat kegiatan ini tetap lestari, merawat silaturahmi, dan mempererat ukhuwah islamiyah.
Bagi kami, para pegiat Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI) generasi "zaman now", khususnya di AMRI Cabang Kesesi, momen Lebaran bukan sekadar ajang berkumpul biasa. Kami mengemas tradisi silaturahmi ini dengan format yang lebih segar dan dinamis melalui agenda "Hiling" atau singkatan dari Halalbihalal Keliling. Istilah "Hiling" sengaja kami pilih agar terdengar lebih santai dan kekinian, sekaligus menjadi upaya untuk mendobrak kesan kaku dalam berorganisasi di kalangan anak muda. "Hiling kesane men kekinian raaa leh," ujar kami sembari berkelakar, merujuk pada keinginan agar kegiatan keagamaan bisa menyentuh hati para pemuda dengan cara yang lebih merakyat.
Secara teknis, kegiatan Hiling ini merupakan ajang kunjungan dari satu ranting ke ranting lainnya. Inti dari kegiatan ini adalah silaturahmi dan sowan kepada para pinisepuh Rifa’iyah. Namun, ada dimensi lain yang lebih emosional; momen ini menjadi titik temu bagi para perantau yang mudik ke kampung halaman. Di sinilah terjadi pertukaran cerita, napak tilas kenangan masa lalu, gendu rasa mengenai realitas kehidupan saat ini, hingga diskusi hangat perihal proyeksi masa depan. Suasana yang tercipta sungguh seneng nemen pokokmen, sebuah kebahagiaan sederhana yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Rangkaian kegiatan Hiling tahun ini dimulai dari Ranting Besimahan. Kedatangan rombongan disambut dengan hangat dan penuh rasa bangga oleh Ustadz Erlani. Dalam sambutannya, beliau sempat menyinggung keresahannya melihat fenomena anak muda zaman sekarang yang cenderung apatis terhadap kegiatan keagamaan, apalagi untuk aktif berorganisasi. Ada kegelisahan yang mendalam melihat betapa sulitnya mengajak generasi muda untuk sekadar hadir dalam majelis ilmu, apalagi terlibat dalam struktur pergerakan.
Untuk memantik semangat para pemuda, Ustadz Erlani melakukan tahadduts binni’mah dengan menceritakan kembali masa kejayaan perintis AMRI Cabang Kesesi di era kepemimpinan almaghfurlah K. Abdullah Hamzah. Beliau melukiskan betapa dinamis dan militannya para pemuda Rifa’iyah pada masa itu. "Orang tua itu tergantung bagaimana pemudanya. Kalau pemudanya loyo, ya orang tuanya ikut loyo," tegas beliau. Kalimat itu menjadi cambuk bagi kami, pengingat bahwa ritme pergerakan sebuah komunitas sangat bergantung pada lincah atau tidaknya pemuda yang menjadi motor penggerak. Namun, melihat antusiasme AMRI yang hadir dalam kegiatan Hiling kali ini, Ustadz Erlani mengaku optimistis. Beliau yakin bahwa ghirroh (semangat) para perintis akan selalu terwariskan dan justru bisa menyala lebih terang di tangan generasi saat ini.
Perjalanan berlanjut ke Ranting Srinahan. Di sana, Bapak Rosidin menyambut kami dengan senyum lebar khas "Pepsodent". Beliau tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya melihat jumlah peserta yang membludak. Dengan nada humoris yang mengundang gelak tawa, beliau berkata, "Kalau pengajian selapanan Rifa’iyah pemudanya bisa seramai ini, alangkah mantapnya. Ya maklum, karena kebanyakan pemuda memang sedang merantau." Celetukan tersebut disambut riuh tepuk tangan dan tawa khas AMRI. Meskipun bernada canda, terselip harapan besar agar semangat kehadiran ini tidak hanya terjadi saat Lebaran, tetapi juga saat pengajian rutin bulanan.

Puncak dari rangkaian Hiling ini dipungkasi oleh tausiyah dari Ustadz Ghofur di Ranting Jenggul. Beliau memberikan nasihat yang mendalam dengan mengutip bait nadhom dari Kitab Imrithi:
Afa al-fata wa al-ni’matu al-mu’tabarot, hahuwa al-yaqin wa al-thoriqatu al-mu’tabarot
(Seorang pemuda harus memiliki keyakinan. Jika tidak punya keyakinan, tidak akan bisa bermanfaat. Maka dari itu, sebagai pemuda harus memiliki tekad yang yakin supaya bisa bermanfaat).
Pesan tersebut menjadi inti dari eksistensi seorang AMRI. Bahwa dalam berorganisasi, yang paling utama bukanlah sekadar jabatan atau seragam, melainkan keyakinan (yaqin) terhadap perjuangan yang dilakukan. Tanpa keyakinan, pergerakan akan kehilangan arah dan manfaat bagi umat. Namun, suasana khidmat penyampaian materi ini sedikit mencair di akhir acara. Setelah seharian berkeliling, ditambah perut yang sudah kwaregen (kekenyangan) karena terlalu banyak menyantap camilan Lebaran, para peserta mulai menunjukkan raut wajah yang sedikit "sayu". Terlebih, pemateri terakhir adalah senior yang sudah dianggap seperti teman sendiri, sehingga suasana menjadi lebih santai, cair, dan akrab. Pora temen! (benar-benar seru!).
Kegiatan Hiling ini bukan sekadar perayaan formalitas. Bagi AMRI Cabang Kesesi, ini adalah cara kami merawat tradisi agar tetap relevan dengan zaman. Kami percaya bahwa organisasi yang kuat tidak lahir dari instruksi yang kaku, melainkan dari ikatan emosional dan persaudaraan yang tulus. Melalui Hiling, kami belajar bahwa silaturahmi adalah energi, dan ghirroh berorganisasi akan tetap hidup selama ada keinginan untuk saling berbagi dan menguatkan.
Di akhir perjalanan ini, kami menyadari bahwa tantangan ke depan jauh lebih besar. Arus modernisasi dan perubahan perilaku generasi muda adalah keniscayaan yang harus dihadapi. Namun, dengan pondasi silaturahmi yang kokoh seperti yang kami lakukan hari ini, kami yakin AMRI akan terus menjadi wadah yang bermanfaat. Kami mengundang rekan-rekan AMRI di berbagai daerah untuk turut berbagi cerita keseruan Halalbihalal di tempat masing-masing. Mari kita jadikan momen Lebaran ini sebagai titik balik untuk membangkitkan kembali semangat dakwah Rifa’iyah melalui cara-cara yang kreatif dan penuh kegembiraan.
Demikianlah sepenggal kisah dari perjalanan Hiling AMRI Cabang Kesesi tahun ini. Sebuah perjalanan yang singkat, namun meninggalkan kesan mendalam tentang pentingnya menjaga marwah organisasi di tengah perubahan zaman. Semoga semangat ini tetap terjaga hingga Lebaran di tahun-tahun mendatang, membawa keberkahan bagi organisasi, keluarga, dan masyarakat luas.
Mangli, Randudongkal, 3 Syawal 1447 H.

