0

Cerita Seru Rayhan Cornelis Lebaran di Belanda, Tempuh 1,5 Jam demi Salat Id

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aktor muda berbakat, Rayhan Cornelis, yang kini tengah menempuh pendidikan di Belanda, negara asal sang ayah, membagikan pengalaman uniknya merayakan Hari Raya Idul Fitri di negeri kincir angin tersebut. Perayaan Lebaran tahun ini terasa berbeda bagi Rayhan, terutama dalam menjalankan ibadah salat Id. Ia harus menempuh perjalanan yang cukup signifikan, yaitu selama 1,5 jam, demi dapat menunaikan salat Id.

"Harus jauh ke Amsterdam buat salat Id. Harus naik mobil jauh, 1,5 jam demi pengin salat Id. Parkir mahal dan susah kalau di Belanda," ungkap Rayhan melalui pesan singkat pada Jumat, 27 Maret 2026. Meskipun perjalanan jauh dan kendala parkir menjadi tantangan tersendiri, Rayhan mengaku hal tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk melaksanakan salat Id. Baginya, kesempatan untuk menunaikan ibadah tersebut adalah hal yang paling utama, terlepas dari berbagai kesulitan yang mungkin dihadapi. Pengalaman ini memperlihatkan betapa pentingnya makna spiritual bagi Rayhan, bahkan di tengah kesibukan dan lingkungan yang berbeda dari tanah air.

Perbedaan paling mencolok yang dirasakan Rayhan dalam menjalankan puasa dan merayakan Lebaran di Belanda dibandingkan dengan di Indonesia adalah minimnya suasana religius yang kental. Ia mengungkapkan bahwa lingkungan rumahnya tidak memiliki masjid yang berdekatan, sehingga ia merindukan suara azan yang mengumandangkan panggilan salat dan tradisi membangunkan sahur yang biasa dilakukan di Indonesia. "Sangat beda dengan di Indonesia. Karena lingkungan rumah tidak ada masjid yang dekat. Jadi rindu yang bangunin sahur, azan, jadi kurang suasana Ramadan-nya," jelas Rayhan. Ketiadaan suara azan yang berkumandang, tradisi membangunkan sahur dari rumah ke rumah, bahkan kegiatan takbir keliling yang identik dengan malam takbiran di Indonesia, semuanya absen di Belanda. Hal ini menciptakan rasa rindu yang mendalam akan atmosfer Ramadan dan Lebaran yang telah akrab baginya sejak kecil.

Lebih lanjut, Rayhan menjelaskan bahwa tradisi perayaan Lebaran di Belanda sangat bergantung pada latar belakang keluarga masing-masing. Jika dibandingkan dengan tradisi di Indonesia, di mana banyak keluarga berkumpul bersama kerabat atau kenalan dari tanah air, di Belanda, Muslim di sana cenderung mengikuti tradisi dari negara asal mereka, seperti Turki atau Maroko. Hal ini menciptakan keragaman dalam cara merayakan, namun juga memberikan kesempatan bagi Rayhan untuk mengenal budaya Islam yang lebih luas. "Tradisi di sini tergantung masing-masing keluarga. Misal keluarga Indonesia biasanya ngumpul juga sama keluarga atau kenalan dari Indonesia. Kalau Muslim di Belanda biasanya tradisi orang Turki atau Maroko," terangnya. Meskipun demikian, di tengah perbedaan budaya tersebut, kehangatan keluarga tetap terjaga. Ibunda Rayhan tetap berupaya menghadirkan cita rasa kampung halaman di meja makan. Berbagai hidangan khas Lebaran Indonesia seperti lontong sayur, rendang, dan opor ayam tetap tersaji, membangkitkan nostalgia dan memberikan sentuhan akrab di perayaan Idul Fitri yang jauh dari Indonesia. "Sama seperti di Indonesia, karena mama selalu masak masakan Indonesia di rumah," ujar Rayhan dengan senyum bangga. Kehadiran masakan-masakan tersebut menjadi pengobat rindu dan pengingat akan tradisi keluarga yang tak lekang oleh jarak.

Perjalanan Rayhan Cornelis di Belanda tidak hanya tentang menuntut ilmu, tetapi juga tentang penemuan diri dan adaptasi budaya. Pengalaman merayakan Lebaran di negeri orang memberinya perspektif baru tentang makna kekeluargaan, keagamaan, dan kebangsaan. Keterpisahan fisik dari tanah air tidak serta merta memadamkan semangat keislaman dan kecintaan pada tradisi. Justru, tantangan yang dihadapi semakin memperkuat nilai-nilai tersebut. Keterbatasan fasilitas ibadah dan minimnya suasana religius yang kental di lingkungan sekitarnya justru memicu Rayhan untuk lebih aktif mencari dan menciptakan momen-momen spiritual. Perjalanan jauh ke Amsterdam untuk salat Id menjadi bukti nyata komitmennya. Ia tidak hanya melihatnya sebagai sebuah kewajiban, tetapi juga sebagai sebuah kesempatan berharga untuk terhubung dengan sesama Muslim dan merasakan kebersamaan dalam ibadah.

Selain itu, Rayhan juga merasakan perbedaan mendalam dalam hal interaksi sosial dan kebiasaan masyarakat. Di Indonesia, suasana Ramadan dan Lebaran begitu meriah dengan berbagai kegiatan komunitas, mulai dari pengajian, buka puasa bersama, hingga pawai obor. Di Belanda, suasana tersebut lebih bersifat personal dan keluarga. Hal ini mengajarkan Rayhan untuk lebih mandiri dalam mencari sumber kebahagiaan dan makna spiritual. Ia belajar untuk menghargai setiap momen, sekecil apapun itu, yang dapat mengingatkannya pada esensi perayaan Idul Fitri. Pengalaman ini juga membuka matanya terhadap keragaman umat Islam di dunia. Ia menyadari bahwa Islam dirayakan dengan berbagai cara di berbagai belahan dunia, dan setiap tradisi memiliki keindahan dan keunikannya sendiri. Interaksi dengan Muslim dari latar belakang Turki dan Maroko memberikan wawasan baru tentang kekayaan budaya Islam yang lebih luas.

Meskipun jauh dari rumah, semangat ke-Indonesiaan Rayhan tetap membara. Kepiawaian ibundanya dalam meracik masakan khas Nusantara menjadi perekat kehangatan keluarga di perantauan. Aroma lontong sayur, rendang, dan opor ayam yang memenuhi rumah seolah membawa nuansa kampung halaman, menciptakan surga kecil di tengah dinginnya udara Belanda. Makanan-makanan ini bukan sekadar hidangan, tetapi juga simbol cinta, perhatian, dan upaya untuk menjaga akar budaya di tengah lingkungan yang asing. Rayhan mengakui bahwa kehadiran masakan Indonesia sangat membantu mengurangi rasa rindu terhadap tanah air dan keluarganya. Ia bersyukur memiliki ibu yang senantiasa menjaga tradisi kuliner Indonesia, sehingga momen Lebaran tetap terasa spesial meskipun dirayakan jauh dari Indonesia.

Perjalanan Rayhan Cornelis di Belanda ini merupakan gambaran nyata tentang bagaimana generasi muda Indonesia beradaptasi dengan lingkungan baru sambil tetap memegang teguh nilai-nilai luhur. Kisahnya memberikan inspirasi bahwa dimanapun kita berada, semangat ibadah dan kecintaan pada tradisi dapat terus dijaga dan bahkan diperkaya. Ia membuktikan bahwa jarak bukanlah halangan untuk menjalankan perintah agama dan merayakan hari besar dengan penuh makna. Pengalaman ini juga menjadi pengingat bagi banyak orang tentang pentingnya menghargai perbedaan budaya dan merayakan keragaman dalam bingkai persatuan. Rayhan Cornelis, melalui ceritanya, telah memberikan warna baru pada narasi perayaan Idul Fitri di luar negeri, menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan keagamaan dapat tumbuh subur di mana saja, asalkan ada kemauan dan tekad yang kuat.