0

Terus Digempur, Rudal dan Drone Iran Masih Siap Tempur

Share

Di tengah serangkaian gempuran militer yang intens dan kampanye tekanan berkelanjutan dari pasukan Amerika Serikat dan Israel, Iran menunjukkan ketahanan yang luar biasa, menegaskan bahwa produksi rudal dan dronenya tetap berjalan tanpa hambatan berarti. Klaim ini datang sebagai respons terhadap upaya gencar untuk melumpuhkan kapasitas pertahanan Teheran, namun seolah-olah semakin memperkuat tekad negara tersebut untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kemampuan militernya.

Jenderal Ali Mohammad Naeini, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, menyampaikan pernyataan yang menantang kepada kantor berita pemerintah IRNA. Ia menekankan bahwa negaranya terus memproduksi rudal "bahkan dalam kondisi perang," sebuah pencapaian yang disebutnya "luar biasa." Naeini juga menambahkan bahwa "tidak ada masalah berarti dalam hal penumpukan stok," mengindikasikan bahwa cadangan rudal Iran tetap kuat dan kapasitas produksinya tidak terganggu secara fundamental oleh serangan musuh. Pernyataan ini bertujuan untuk mengirimkan pesan kuat tentang kesiapan Iran dalam menghadapi ancaman eksternal dan kemampuan industri militernya yang adaptif.

Klaim ini muncul di tengah narasi yang disajikan oleh laporan-laporan awal, yang menggambarkan dimulainya sebuah "perang" antara AS-Israel dan Iran sejak 28 Februari. Dalam skenario konflik ini, Iran disebut telah membalas dengan meluncurkan rudal ke berbagai sasaran strategis, menunjukkan jangkauan dan tekadnya untuk menanggapi setiap agresi. Sasaran-sasaran tersebut termasuk wilayah Israel sendiri, serta negara-negara tetangga seperti Qatar dan Uni Emirat Arab, di mana pangkalan militer AS, situs-situs sipil vital, dan operasi energi diserang. Laporan yang dikutip dari CNBC juga menyebutkan bahwa Iran menyerang Provinsi Timur Arab Saudi, yang menjadi rumah bagi banyak ladang minyak krusial negara tersebut, serta wilayah Kuwait dan Bahrain. Aksi-aksi ini, jika benar terjadi, akan menandai eskalasi yang signifikan dan menunjukkan kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan melampaui perbatasannya.

Sebelum konflik ini mencapai puncaknya, Iran telah lama dianggap memiliki persenjataan rudal terbesar dan paling beragam di Timur Tengah. Inventarisnya mencakup ribuan rudal balistik dan jelajah dengan berbagai tipe, beberapa di antaranya mampu mencapai jangkauan hingga 2.000 kilometer. Kapasitas ini menempatkan Teheran sebagai kekuatan militer yang patut diperhitungkan di kawasan tersebut, mampu mengancam kepentingan musuh-musuhnya di seluruh spektrum geografis.

Ukuran pasti dari stok rudal Iran sebelum "perang" masih menjadi misteri yang diperdebatkan oleh para analis intelijen dan militer. Perkiraannya bervariasi secara signifikan, mulai dari 2.500 unit menurut militer Israel hingga sekitar 6.000 unit oleh beberapa sumber lain. Alex Plitsas, seorang peneliti terkemuka di Atlantic Council, memberikan gambaran yang lebih rinci, memperkirakan bahwa sebelum konflik, Iran memiliki sekitar 2.000 hingga 3.000 rudal balistik jarak menengah dan antara 6.000 hingga 8.000 rudal balistik jarak pendek. Angka-angka ini menggarisbawahi skala ambisi Iran dalam membangun kapasitas penangkalan yang kuat.

Namun, dengan dimulainya "perang" dan serangkaian serangan balasan, Presiden AS Donald Trump pernah mengklaim bahwa kapasitas rudal balistik Iran telah "secara fungsional hancur." Klaim ini mencerminkan optimisme Washington dalam upaya mereka untuk melumpuhkan program rudal Teheran. Akan tetapi, Jenderal AS Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, memberikan penilaian yang lebih hati-hati, mengakui bahwa Iran "masih mempertahankan beberapa kemampuan rudalnya," menyiratkan bahwa penghancuran total mungkin belum tercapai. Sejalan dengan ini, Israel juga dilaporkan secara aktif menggempur pabrik-pabrik rudal dan drone negara tersebut, dalam upaya sistematis untuk merusak infrastruktur produksi militer Iran.

Ketidakjelasan menyelimuti dampak sebenarnya dari serangan-serangan ini. AS dan Israel belum memberikan detail yang jelas mengenai berapa banyak fasilitas semacam itu yang ada di Iran, berapa yang telah diserang, dan seberapa parah kerusakan yang ditimbulkan. William Alberque, seorang peneliti di Pacific Forum, menyoroti kompleksitas penilaian ini. Ia berpendapat bahwa meskipun fasilitas produksi rudal di atas tanah Iran mungkin rusak atau hancur, "pasti ada yang luput" dari pengawasan dan serangan. Ini membuka pertanyaan besar mengenai "seberapa besar kapasitas Iran di fasilitas bawah tanah."

Fasilitas bawah tanah ini merupakan kartu truf strategis Iran. Kapasitasnya mungkin relatif terbatas untuk memproduksi rudal berukuran besar yang membutuhkan infrastruktur kompleks dan ruang yang luas. Namun, Alberque menambahkan, "ada cukup ruang untuk memproduksi drone dalam jumlah sangat banyak atau rudal yang lebih kecil dan lebih murah." Produksi bawah tanah menawarkan perlindungan dari serangan udara dan satelit, memungkinkan Iran untuk melanjutkan perakitan komponen dan bahkan produksi skala kecil di lokasi yang sulit dijangkau.

Alberque juga mengingatkan bahwa dalam situasi seperti ini, "tentu saja merupakan kepentingan Iran terlihat sekuat mungkin." Oleh karena itu, ada "unsur pamer kekuatan dan melebih-lebihkan" dalam pernyataan-pernyataan Teheran. Namun, ia menekankan bahwa "kapasitasnya bukan berarti nol dan kita sama sekali tidak bisa mengetahuinya dan Iran memang tidak ingin kita mengetahuinya." Ketidakpastian ini sendiri merupakan bagian dari strategi Iran untuk menjaga musuh-musuhnya dalam keraguan, menciptakan efek penangkalan yang kuat.

Gary Samore, direktur Crown Center for Middle East Studies, menawarkan analisis yang membedakan antara produksi drone dan rudal balistik yang lebih besar. Menurutnya, "sangat masuk akal jika Iran terus memproduksi drone selama perang," karena drone "dapat dirakit dari komponen sederhana di bawah tanah atau garasi" dengan relatif mudah dan biaya rendah. Proses produksi drone yang lebih modular dan tidak memerlukan fasilitas manufaktur raksasa membuatnya lebih tahan terhadap gempuran. Namun, Samore "meragukan apakah Iran masih mampu memproduksi rudal balistik lebih besar dan berjangkauan jauh," mengingat kompleksitas teknis, kebutuhan akan material khusus, dan infrastruktur besar yang diperlukan untuk rudal jenis ini.

Alex Plitsas memperkirakan bahwa kapasitas Iran untuk membuat rudal adalah sekitar 300 unit per bulan pada awal "perang." Namun, ia juga mengakui bahwa "jumlah itu mungkin menyusut saat ini" akibat tekanan berkelanjutan pada rantai pasokan, serangan terhadap fasilitas produksi, dan potensi kekurangan komponen kunci. Meskipun ada potensi penyusutan, angka 300 unit per bulan menunjukkan kapasitas produksi yang signifikan yang, jika dipertahankan, dapat memungkinkan Iran untuk mengisi kembali stoknya atau setidaknya memperlambat penipisannya.

Narasi Iran tentang ketahanan produksi militernya, meskipun terus digempur, menyoroti dilema strategis yang dihadapi oleh Amerika Serikat dan Israel. Menghancurkan sepenuhnya kemampuan rudal dan drone Iran terbukti menjadi tugas yang jauh lebih rumit daripada yang diperkirakan, terutama karena adanya fasilitas bawah tanah dan kemampuan adaptasi industri militer Iran. Konflik ini, baik dalam bentuk "perang" terbuka atau serangkaian operasi rahasia dan serangan terbatas, tampaknya telah berubah menjadi perang gesekan di mana setiap pihak berupaya mengikis kekuatan dan tekad lawan.

Pada akhirnya, klaim Iran tentang kapasitas tempur yang utuh dan produksi yang berkelanjutan, terlepas dari validitas angka pastinya, berfungsi sebagai pesan politik dan militer yang penting. Ini menegaskan tekad Teheran untuk tidak menyerah pada tekanan eksternal dan untuk mempertahankan posisi sebagai kekuatan regional yang signifikan. Ketidakpastian mengenai sejauh mana kemampuan Teheran yang sebenarnya akan terus menjadi faktor kunci dalam dinamika geopolitik Timur Tengah, memengaruhi perhitungan strategis semua aktor di kawasan tersebut. Masa depan konflik dan perdamaian di kawasan ini akan sangat bergantung pada seberapa akurat dunia luar dapat menilai kekuatan dan kelemahan sejati persenjataan Iran, serta kemampuan mereka untuk terus berinovasi di bawah tekanan.