0

Mengenal ‘Bom Beranak’ Iran yang Bikin Iron Dome Kewalahan

Share

Jakarta – Serangan balasan Iran ke Israel pada pertengahan April 2024 menandai sebuah eskalasi signifikan yang membawa dimensi baru dalam konflik Timur Tengah. Di antara berbagai proyektil yang diluncurkan, Israel melaporkan adanya penggunaan munisi tandan atau yang populer disebut ‘bom beranak’ oleh Iran. Senjata ini, dengan karakteristiknya yang unik dan mematikan, terbukti menjadi tantangan serius bagi sistem pertahanan udara Israel yang canggih, termasuk Iron Dome dan Arrow, bahkan berpotensi membuat mereka kewalahan.

Munisi tandan bukanlah penemuan baru dalam dunia persenjataan, namun penggunaannya oleh Iran dalam skala besar terhadap Israel menimbulkan kekhawatiran yang mendalam. Senjata ini dirancang untuk melepaskan puluhan hingga ratusan sub-munisi atau anak bom (bomblets) yang lebih kecil di area yang luas. Hulu ledak munisi induk pecah di ketinggian tinggi, menyebarkan muatan mematikannya seperti hujan logam dan bahan peledak. Anak-anak bom ini, terutama saat malam hari, bisa terlihat seperti bola api oranye yang melesat ke bawah, menciptakan pemandangan yang menakutkan sekaligus mematikan.

Salah satu alasan utama mengapa munisi tandan ini begitu sulit diantisipasi adalah sifatnya yang terfragmentasi. Sistem pertahanan rudal dirancang untuk mencegat target tunggal yang besar seperti rudal balistik atau roket. Namun, ketika sebuah rudal balistik melepaskan puluhan anak bom pada ketinggian 7-10 kilometer, sistem pertahanan tradisional menghadapi tantangan yang tidak biasa. Anak-anak bom ini tersebar di area yang sangat luas, dari beberapa ratus meter hingga beberapa kilometer persegi, menjadikannya target yang mustahil untuk dicegat secara individual oleh sistem pertahanan rudal yang ada.

Pejabat militer Israel memperkirakan bahwa sekitar separuh dari proyektil yang diluncurkan Iran ke arah Israel adalah munisi tandan. Sistem pertahanan rudal Arrow Israel, yang dirancang untuk mencegat rudal balistik di luar atmosfer atau di ketinggian yang sangat tinggi, telah menunjukkan kinerja yang baik dalam menghancurkan rudal balistik Iran. Namun, masalah muncul jika munisi tandan dilepaskan dari rudal induk sebelum rudal itu dihancurkan. Setelah anak-anak bom terpisah, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh sistem pertahanan seperti Arrow.

Begitu pula dengan Iron Dome, sistem pertahanan udara yang terkenal karena kemampuannya mencegat roket jarak pendek dan menengah yang ditembakkan dari wilayah padat penduduk. Iron Dome dirancang untuk menargetkan roket tunggal yang relatif besar dan bergerak dalam lintasan yang dapat diprediksi. Namun, sistem ini sama sekali tidak dirancang untuk menghancurkan puluhan atau bahkan ratusan anak bom yang menyebar dan meluncur dengan lintasan yang acak setelah dilepaskan. Anak-anak bom ini, yang sering kali berbobot kurang dari 3 kilogram, terlalu kecil dan terlalu banyak untuk direspons secara efektif oleh rudal pencegat Iron Dome.

Dampak dari munisi tandan ini sangat mengerikan, terutama bagi warga sipil. Kritikus di seluruh dunia berpendapat bahwa munisi tandan membunuh atau melukai secara membabi buta karena sifatnya yang tidak diskriminatif. Berbeda dengan bahan peledak yang lebih berat yang mungkin merusak bangunan secara struktural, anak-anak bom ini paling berbahaya bagi target yang lebih "lunak" seperti mobil, etalase toko, atau orang-orang yang terjebak di luar tempat perlindungan. Yehoshua Kalisky, peneliti senior di Institute for National Security Studies, dengan tegas menyatakan, "Bom tandan tidak menimbulkan kerusakan nyata pada bangunan, melainkan pada manusia."

Selain ancaman langsung saat serangan, bahaya munisi tandan berlanjut jauh setelah konflik usai. Anak-anak bom ini memiliki tingkat kegagalan yang tinggi untuk meledak saat benturan awal, jauh lebih tinggi dibandingkan jenis hulu ledak lainnya. Senjata yang belum meledak (UXO – Unexploded Ordnance) ini dapat terus bertahan di tanah dan berfungsi layaknya ranjau darat, meledak kapan saja di kemudian hari akibat sentuhan, getaran, atau kondisi cuaca. Otoritas Israel beberapa hari terakhir telah berusaha mengedukasi masyarakat tentang bahayanya, karena setidaknya tiga orang dilaporkan tewas akibat ledakan munisi tandan yang belum meledak. Anak-anak, yang secara alami penasaran, sering kali menjadi korban utama dari UXO ini, karena mereka mungkin menganggapnya sebagai mainan atau benda yang tidak berbahaya. Kontaminasi wilayah dengan UXO juga menghambat pemulihan pasca-konflik, mencegah petani kembali ke ladang mereka atau anak-anak pergi ke sekolah dengan aman.

Secara luas, munisi tandan memang bukan senjata ilegal, namun penggunaannya sangat kontroversial dan telah dilarang oleh Konvensi tentang Munisi Tandan (Convention on Cluster Munitions/CCM) yang ditandatangani oleh lebih dari 120 negara. Konvensi ini melarang penggunaan, produksi, penimbunan, dan transfer munisi tandan karena sifatnya yang tidak diskriminatif dan bahaya jangka panjang yang ditimbulkannya bagi warga sipil. Namun, negara-negara besar seperti Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak ikut serta dalam perjanjian ini, memungkinkan mereka untuk terus mengembangkan dan menggunakannya.

Sejarah penggunaan munisi tandan membentang beberapa dekade dalam berbagai konflik di seluruh dunia. Nazi Jerman adalah salah satu yang pertama menggunakannya, menjatuhkan "bom kupu-kupu" di Inggris selama Perang Dunia II. Amerika Serikat telah menggunakannya dalam konflik di Vietnam, Laos, Irak, dan Afghanistan, dan baru-baru ini juga menyediakan munisi tandan kepada Ukraina untuk membantu pertahanannya melawan invasi Rusia. Di sisi lain, Rusia juga dituduh menggunakan bom tandan dalam invasinya ke Ukraina, tuduhan yang dibantah oleh Moskow.

Israel sendiri memiliki sejarah penggunaan munisi tandan. Selama perang tahun 2006 di Lebanon dengan kelompok militan Hizbullah, PBB memperkirakan sekitar 30% hingga 40% bom tandan yang digunakan Israel gagal meledak. Hal ini meninggalkan Lebanon selatan berserakan dengan ratusan ribu anak bom yang belum meledak, menciptakan warisan bahaya yang berlangsung selama bertahun-tahun setelah konflik berakhir. Pengalaman ini menggarisbawahi dampak jangka panjang dan tidak manusiawi dari senjata tersebut.

Dari perspektif strategis, penggunaan munisi tandan oleh Iran mungkin memiliki beberapa tujuan. Pertama, untuk mengatasi sistem pertahanan Israel yang sangat canggih dengan menciptakan "banjir" target kecil yang sulit dicegat. Kedua, untuk menimbulkan kepanikan dan efek psikologis yang luas di kalangan penduduk sipil Israel, mengingat sifatnya yang membabi buta dan bahaya UXO. Ketiga, munisi tandan mungkin lebih hemat biaya dibandingkan rudal presisi tinggi, memungkinkan Iran untuk meluncurkan serangan dalam skala yang lebih besar.

Ancaman "bom beranak" Iran ini tidak hanya menimbulkan tantangan militer dan teknis bagi Israel, tetapi juga menyoroti dilema etika dan hukum internasional terkait penggunaan senjata perang. Sementara negara-negara terus berpegang pada kedaulatan mereka untuk tidak menandatangani perjanjian pelarangan, korban utamanya tetaplah warga sipil yang tidak bersalah. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan kebutuhan mendesak untuk meninjau kembali dan memperkuat norma-norma internasional demi melindungi kehidupan manusia di tengah konflik yang semakin kompleks dan mematikan.