Pekalongan kala itu tak lagi sama. Langit di atas tanah Kalisalak diselimuti awan kelabu yang menggantung rendah, seolah alam sedang berduka dan ikut menitikkan air mata mengiringi langkah seorang ulama besar yang dipaksa menanggalkan tanah kelahirannya. Burung-burung yang biasanya bersahut-sahutan menyambut fajar dengan kicauan riang, mendadak membisu. Suasana hening yang mencekam menyelimuti Pesantren Kalisalak, menciptakan simfoni kesedihan yang mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya. Inilah hari di mana Syaikh Ahmad Rifa’i, sang penuntun jalan lurus menuju keridaan Ilahi, harus melangkah menuju pengasingan di Ambon, sebuah negeri yang jauh di seberang pulau.
Kepergian Syaikh Ahmad Rifa’i bukanlah sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah ujian berat bagi keberlangsungan dakwah dan perasaan kemanusiaan para pengikutnya. Di dalam kompleks pesantren, isak tangis Umul Umrah dan anggota keluarga lainnya pecah tak tertahankan. Anak laki-laki beliau yang masih bayi, yang bahkan belum mengerti arti dari sebuah perpisahan, terus menangis tiada henti. Tangis sang bayi seolah menjadi resonansi dari hancurnya hati para murid dan keluarga yang harus melepas sosok ayah, guru, sekaligus pemimpin spiritual mereka. Di tengah derai air mata, yang terdengar hanyalah kalimat Istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) yang berulang kali diucapkan sebagai bentuk penyerahan diri total kepada takdir Allah SWT.
Ketegangan di Pekalongan saat itu memang mencapai puncaknya. Syaikh Ahmad Rifa’i, yang dikenal karena ketegasan beliau dalam melawan ketidakadilan dan kolonialisme, telah menjadi duri dalam daging bagi pihak-pihak yang tidak menyukai tegaknya syariat Islam. Pengasingan ini adalah skenario yang disusun untuk memadamkan api perjuangan beliau. Namun, di balik awan mendung dan suasana berkabung tersebut, Syaikh Ahmad Rifa’i tetap berdiri tegak dengan keteguhan iman yang luar biasa. Beliau memandang peristiwa ini bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai bagian dari Sunnatullah—ketetapan Tuhan yang akan selalu menguji hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran.
Di tengah suasana yang kian menyesakkan, dua murid setia beliau, Muhammad Ilham dan Haji Abdul Qahhar, datang menghadap. Mereka melihat guru mereka sedang menjalani masa-masa tersulit dalam perjuangan dakwahnya. Dengan rasa hormat yang mendalam, Muhammad Ilham menyampaikan permohonan yang menyentuh hati. Mereka menawarkan diri untuk menggantikan posisi Syaikh Ahmad Rifa’i dalam pengasingan, atau setidaknya mendampingi beliau agar beban beliau menjadi lebih ringan. "Ayah, kami melihat Ayah sudah sepuh. Tanggung jawab umat sangat berat, dan keluarga Ayah sangat membutuhkan bimbingan. Biarkan kami yang menanggung beban ini," ucap Ilham dengan nada penuh harap.
Namun, Syaikh Ahmad Rifa’i menyambut tawaran tersebut dengan senyum tenang dan nasihat yang menyejukkan. Beliau menegaskan bahwa takdir adalah rahasia Allah yang harus dijalani dengan kesabaran. Beliau mengibaratkan kepergiannya ke Ambon layaknya perjalanan hijrah Rasulullah SAW ke Madinah—sebuah perjalanan yang penuh hikmah dan sarat akan misi perjuangan yang lebih luas. Baginya, Ambon maupun Jawa hanyalah bagian dari bumi Allah. Tidak ada alasan untuk takut atau gentar selama Allah SWT menjadi pelindung. Beliau justru menolak tawaran murid-muridnya untuk menggantikannya, karena beliau sadar bahwa setiap manusia memiliki peran dan ujiannya masing-masing.
Dalam pesan-pesan terakhir sebelum keberangkatannya, Syaikh Ahmad Rifa’i menitipkan amanah besar kepada para muridnya. Beliau berpesan agar mereka menjaga diri, menjaga keluarga, dan terus membina umat agar tetap teguh dalam iman dan perjuangan. Salah satu perhatian utama beliau adalah keberlangsungan karya-karya tulisnya, termasuk kitab Abyanal yang belum rampung diharkati. Beliau memerintahkan agar kitab tersebut segera diselesaikan agar bisa menjadi pegangan bagi umat di masa depan. Beliau juga menitipkan anak bungsu laki-lakinya kepada murid-muridnya, sebuah simbol bahwa dakwah harus terus berlanjut melampaui usia sang pendakwah.

Di sisi lain, tidak semua orang merasakan kesedihan yang sama. Para ulama tradisional yang berseberangan paham, oknum birokrat pribumi, serta pihak-pihak yang membenci ketegasan beliau justru berpesta pora. Mereka merayakan putusan pengadilan yang mengasingkan Syaikh Ahmad Rifa’i ke Ambon sebagai sebuah kemenangan mutlak. Mereka berpikir bahwa dengan menyingkirkan sang pendiri (founding father), gerakan Rifa’iyah akan mati suri dan akhirnya bubar. Mereka meremehkan kekuatan akar rumput yang telah dibangun oleh Syaikh Ahmad Rifa’i selama bertahun-tahun.
Sejarah membuktikan bahwa dugaan mereka keliru besar. Pengasingan Syaikh Ahmad Rifa’i justru menjadi katalisator yang memperkuat ikatan di antara para pengikutnya. Meskipun beliau berada jauh di Ambon, pengaruh dan ajaran beliau tetap hidup, bahkan semakin mengakar kuat di hati umat. Gerakan Rifa’iyah tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang dan menjadi salah satu warisan intelektual dan spiritual yang signifikan bagi masyarakat muslim di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Pengasingan beliau justru membuktikan bahwa kebenaran tidak bisa dibungkam oleh jeruji besi maupun jarak yang jauh.
Kisah perpisahan ini menjadi pelajaran penting tentang arti ketabahan seorang ulama. Syaikh Ahmad Rifa’i mengajarkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak akan meninggalkan umatnya hanya karena tekanan kekuasaan. Beliau justru memberikan teladan bagaimana menghadapi musibah dengan kepala tegak, tetap produktif dalam berkarya, dan tetap memikirkan keberlanjutan estafet perjuangan bagi generasi penerus. Beliau meninggalkan Pekalongan bukan sebagai orang yang kalah, melainkan sebagai sosok yang telah menanamkan benih-benih keberanian yang akan terus tumbuh subur di bumi pertiwi.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi kita akan sejarah panjang perjuangan tokoh-tokoh agama dalam melawan kolonialisme. Syaikh Ahmad Rifa’i adalah sosok yang konsisten menolak tunduk pada aturan-aturan yang bertentangan dengan ajaran Islam, sebuah sikap yang membuatnya berkali-kali harus berurusan dengan penguasa kolonial Belanda. Keberanian beliau adalah cerminan dari prinsip hidup yang teguh pada keadilan. Meskipun raga beliau diasingkan, pemikiran beliau yang tertuang dalam berbagai kitab tetap menjadi kompas bagi murid-muridnya dalam menjalani kehidupan beragama dan berbangsa.
Hingga saat ini, jejak perjuangan Syaikh Ahmad Rifa’i masih terasa kental. Makam beliau, yang kini menjadi salah satu titik napak tilas sejarah, menjadi saksi bisu betapa besarnya dampak seorang ulama yang ikhlas dalam berjuang. Pesan-pesan yang beliau sampaikan kepada Muhammad Ilham dan Haji Abdul Qahhar kala itu kini menjadi wasiat abadi yang terus dipelajari. Bahwa dalam setiap perpisahan, selalu ada janji pertemuan—baik di dunia dalam wujud keberlanjutan dakwah, maupun di akhirat dalam wujud balasan atas ketabahan yang telah dilalui.
Kepergian beliau ke Ambon adalah sebuah babak dramatis dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia bukan sekadar catatan tentang pengasingan seorang individu, melainkan kisah tentang daya tahan sebuah gerakan yang berbasis pada keyakinan yang mendalam. Para murid yang ditinggalkan pun tidak menyia-nyiakan amanah tersebut. Mereka terus berjuang, menjaga kerukunan umat, dan memastikan bahwa api yang dinyalakan oleh Syaikh Ahmad Rifa’i tidak pernah padam. Mereka membuktikan bahwa pengasingan hanyalah upaya fisik, namun ideologi dan ajaran kebenaran akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk tetap hidup dan relevan di setiap zaman.
Sebagai penutup, kisah perpisahan di Pekalongan ini mengajarkan kita tentang arti penting dari sebuah integritas. Syaikh Ahmad Rifa’i menunjukkan bahwa seorang pejuang harus siap dengan segala konsekuensi, termasuk harus meninggalkan keluarga dan tanah kelahiran. Namun, selama perjuangan itu didasarkan pada keikhlasan karena Allah, maka pertolongan-Nya akan senantiasa menyertai. Sejarah telah mencatat nama beliau dengan tinta emas, bukan hanya sebagai seorang ulama, tetapi juga sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang tak lekang oleh waktu. Kepergian beliau ke Ambon memang mengharukan, namun keabadian pengaruhnya jauh lebih mengagumkan. Selamat berjuang, selamat beribadah, dan selamat mengenang takdir Ilahi yang telah membawa sang guru melangkah lebih jauh dari sekadar batas wilayah, menuju keabadian dalam ingatan umat.

