0

Jet F-35 Inggris Rontokkan Drone Kamikaze Iran Tapi Biayanya Mahal

Share

F-35, jet tempur tercanggih dan termahal Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF), mencatat sejarah baru dengan menembak jatuh drone kamikaze buatan Iran di langit Yordania. Insiden ini, yang menandai keberhasilan pertama jet F-35 Inggris dalam menembak jatuh target musuh dalam operasi militer sesungguhnya, sekaligus menyoroti dilema strategis dan finansial yang signifikan dalam menghadapi ancaman asimetris modern: biaya penangkal yang jauh melampaui harga ancaman itu sendiri. Drone Iran yang berhasil dihancurkan, yang diyakini berharga puluhan ribu dolar, dilumpuhkan oleh rudal canggih yang harganya mencapai jutaan dolar, menyoroti ketidakseimbangan ekonomi dalam peperangan drone.

Pada malam yang cerah di Yordania, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, sebuah F-35 Lightning II milik RAF melakukan patroli udara. Pilotnya, yang identitasnya dirahasiakan, terbang selama empat jam bersama dua jet Typhoon, sebagai bagian dari misi pengawasan dan pencegahan. Radar canggih F-35 akhirnya mendeteksi dua pesawat tak berawak (UAV) jenis Shahed, yang diyakini merupakan drone kamikaze buatan Iran. Tanpa ragu, pilot F-35 melepaskan dua rudal udara-ke-udara AIM-132 ASRAAM (Advanced Short Range Air-to-Air Missile), menghancurkan kedua drone tersebut di udara. Momen ini bukan hanya pencapaian operasional yang penting bagi RAF, tetapi juga menempatkan pilot tersebut sebagai pilot jet tempur siluman pertama dari Angkatan Udara Kerajaan Inggris yang berhasil menghancurkan target dalam pertempuran.

Keberhasilan ini datang di tengah eskalasi yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran serta proksinya di seluruh wilayah. Kementerian Pertahanan Inggris merilis video yang memperlihatkan detik-detik hancurnya drone-drone tersebut, menegaskan keterlibatan langsung Inggris dalam upaya kolektif untuk menekan pengaruh Iran yang destabilisasi. Namun, di balik kemenangan militer ini, muncul perdebatan sengit mengenai efektivitas biaya. F-35, dengan biaya akuisisi per unit yang melampaui $100 juta dan biaya operasional per jam terbang yang signifikan, merupakan investasi strategis yang monumental bagi negara-negara penggunanya. Rudal udara-ke-udara canggih seperti AIM-132 ASRAAM yang digunakan, juga memiliki label harga jutaan dolar per unit. Membandingkan angka-angka ini dengan perkiraan biaya drone Shahed yang berkisar antara $20.000 hingga $50.000 per unit, jelas terlihat adanya ketidakseimbangan ekonomi yang mencolok.

Peristiwa di Yordania bukan satu-satunya insiden yang terjadi. Unit pasukan darat Inggris yang dilengkapi dengan senjata anti-drone juga berhasil melumpuhkan lebih banyak drone di udara Irak, yang diyakini mengancam pasukan koalisi di wilayah tersebut. Secara terpisah, sebuah jet Typhoon RAF berhasil menghancurkan drone serang kamikaze yang mengancam Qatar, juga menggunakan rudal udara-ke-udara. Serangkaian insiden ini menggarisbawahi realitas baru peperangan modern, di mana ancaman asimetris dari drone murah dan mudah diproduksi dapat menantang sistem pertahanan yang paling canggih dan mahal sekalipun. Para analis militer sepakat bahwa pesawat tempur canggih, meskipun sangat efektif, bukanlah metode yang hemat biaya untuk melumpuhkan armada drone yang terus berkembang. Ini memunculkan pertanyaan penting tentang keberlanjutan strategi pertahanan saat ini dan kebutuhan untuk mengembangkan solusi kontra-drone yang lebih ekonomis dan beragam.

Menanggapi ancaman rudal dan drone Iran yang terus meningkat, Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menyatakan bahwa Angkatan Laut Kerajaan akan mengerahkan kapal perusak Tipe 45, HMS Dragon. Langkah ini diambil untuk memperkuat pertahanan di sekitar pangkalan RAF Akrotiri di Siprus dan di kawasan Teluk, dua titik strategis vital bagi kepentingan Inggris dan sekutunya. HMS Dragon, kapal perang canggih yang bermarkas di Portsmouth, dirancang khusus untuk pertahanan udara regional. Kapal ini mampu melacak dan menghancurkan target yang bergerak cepat, termasuk rudal balistik dan rudal jelajah, dengan sistem rudal Sea Viper dan radar SAMPSON yang sangat canggih. Kapal tersebut dijadwalkan berlayar secepatnya dan diperkirakan memakan waktu lima hingga tujuh hari untuk tiba di zona konflik. Selain itu, Inggris juga mengirimkan dua helikopter Wildcat yang dipersenjatai dengan rudal anti-drone, menambah lapisan pertahanan bergerak yang fleksibel terhadap ancaman udara rendah.

Detik-detik penembakan drone oleh F-35 memberikan gambaran mendalam tentang kompleksitas dan tekanan dalam misi tempur udara modern. Di langit malam cerah Yordania, pilot F-35 Inggris, dalam pengakuannya, menggambarkan misi tersebut sebagai operasi berisiko sangat tinggi. Alasannya adalah kepadatan lalu lintas udara di area operasi, di mana banyak aset militer dari Amerika dan Israel lalu-lalang. Dalam skenario yang padat seperti itu, insiden salah tembak sangat rentan terjadi. "Ada banyak aset militer dari Amerika dan Israel lalu-lalang di area operasi. Jadi, fokus utama saya adalah mengidentifikasi target secara pasti sebelum melepas tembakan. Untungnya, saya dan para pilot Typhoon yang mengudara saat itu memiliki waktu yang cukup untuk memastikannya," ujarnya. Kehati-hatian dan ketelitian dalam identifikasi target adalah kunci untuk menghindari eskalasi yang tidak diinginkan dan memastikan bahwa hanya ancaman yang sah yang dinetralkan.

Pejabat militer meyakini pesawat tak berawak itu dikerahkan kemungkinan oleh Hizbullah, kelompok milisi yang didukung Iran di Lebanon. Targetnya diduga adalah hanggar yang menampung pesawat mata-mata AS di wilayah tersebut. Fakta bahwa drone tersebut berhasil menghindari sistem pertahanan di pangkalan menunjukkan kerentanan yang ada, kemungkinan besar karena ukurannya yang kecil dan kecepatannya yang rendah, membuatnya sulit dideteksi oleh radar konvensional atau sistem pertahanan udara jarak pendek yang ada. Drone Shahed-136, atau varian serupa yang digunakan dalam insiden ini, adalah contoh sempurna dari strategi Iran dalam mengembangkan senjata asimetris. Dengan desain sayap delta yang khas, mesin pembakaran internal yang sederhana, dan kemampuan navigasi dasar berbasis GPS/INS, drone ini dapat menjangkau jarak yang jauh dengan biaya produksi yang relatif rendah. Kemampuannya untuk terbang rendah dan lambat juga bisa menjadi keuntungan, karena beberapa sistem pertahanan udara dirancang untuk menghadapi target yang lebih cepat dan berukuran besar.

Peristiwa ini menjadi sebuah studi kasus penting dalam evolusi peperangan modern dan tantangan yang dihadirkannya. Meskipun F-35 telah membuktikan kemampuannya dalam menghadapi ancaman udara, pertanyaan tentang efektivitas biaya tetap menjadi prioritas. Apakah negara-negara mampu terus-menerus menggunakan aset militer termahal mereka untuk menangkis serangan dari drone yang relatif murah dan dapat diproduksi secara massal? Ini mendorong pengembangan strategi kontra-drone yang lebih komprehensif, termasuk penggunaan sistem peperangan elektronik (EW), senjata energi terarah seperti laser, dan interceptor yang lebih murah. Masa depan peperangan udara kemungkinan akan diwarnai oleh pertempuran antara platform canggih yang mahal dan armada drone murah yang berjumlah besar, menuntut inovasi berkelanjutan dalam teknologi pertahanan dan strategi militer.

Secara keseluruhan, keberhasilan F-35 Inggris dalam merontokkan drone kamikaze Iran adalah bukti kemampuan teknologinya yang superior dan kesiapan operasional RAF. Namun, insiden ini juga berfungsi sebagai pengingat akan tantangan yang kompleks dan multidimensional dalam lanskap keamanan global saat ini. Dilema biaya yang mahal, ancaman asimetris dari aktor non-negara yang didukung negara, dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, semuanya bersatu dalam satu peristiwa tunggal ini. Ini bukan hanya tentang satu drone yang ditembak jatuh, melainkan tentang pergeseran paradigma dalam peperangan dan kebutuhan mendesak bagi negara-negara untuk beradaptasi dengan realitas baru yang terus berkembang.