BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kehidupan rumah tangga pasangan selebritas yang kini berkarir di dunia politik, Arumi Bachsin dan Emil Dardak, telah memasuki usia 13 tahun. Di tengah kesibukan masing-masing sebagai figur publik dan pejabat daerah, rumah tangga mereka justru kerap digambarkan sebagai lingkungan yang adem ayem dan jauh dari gosip miring. Ketenangan ini tentu bukan tanpa usaha. Arumi Bachsin secara blak-blakan membagikan kunci utama yang mereka terapkan untuk menjaga agar api asmara tetap menyala dan hubungan tidak terjebak dalam rutinitas yang monoton. Baginya, inisiatif untuk terus meromantiskan hubungan adalah sebuah keharusan. "Kita romantisnya meromantiskan diri karena kita sudah lama menikah kan. Kalau gak dikasih bumbu-bumbu ya nanti bosan, jadi terus saja kita berkreasi," ungkap Arumi Bachsin kepada awak media di kawasan Studio TransTV, Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/10/2026). Pengakuan ini menegaskan bahwa menjaga keharmonisan dalam pernikahan yang telah berjalan lama memerlukan upaya sadar dan kreatif dari kedua belah pihak, bukan sekadar membiarkan hubungan berjalan apa adanya.
"Bumbu-bumbu" yang dimaksud oleh Arumi Bachsin bukan selalu berupa hadiah mewah atau kejutan yang spektakuler. Salah satu contoh nyata bagaimana mereka berkreasi dalam meromantiskan hubungan terlihat pada momen spesial ulang tahun Arumi yang kebetulan bertepatan dengan momen sahur pertama di bulan Ramadan. Demi memberikan kebahagiaan ekstra bagi sang istri tercinta, Emil Dardak rela turun tangan langsung ke dapur untuk menyiapkan menu sahur yang spesial. Meskipun bahan-bahan yang digunakan terbilang sederhana, seperti aneka olahan telur, namun niat tulus dan usaha yang dikeluarkan Emil menjadi nilai tambah tersendiri bagi Arumi. Kejutan ini tidak hanya menunjukkan perhatian Emil, tetapi juga bagaimana mereka beradaptasi dan menciptakan momen manis di tengah rutinitas harian yang padat. Momen ini menjadi bukti bahwa cinta dan perhatian dapat diekspresikan melalui tindakan nyata, sekecil apapun itu, asalkan dilakukan dengan penuh ketulusan.
Emil Dardak sendiri memberikan jawaban yang jenaka namun tetap realistis mengenai alasan di balik kejutan sahur spesial tersebut. "Karena takut dibahas nanti. Lebih ke kombinasi juga karena itu pas sahur, jadi yang relevan itu masak," candanya. Pernyataan ini menunjukkan sisi humoris Emil yang juga pandai mengambil hati istrinya. Namun, di balik candaan tersebut, tersirat pemahaman Emil tentang pentingnya momen-momen kecil dalam membangun keharmonisan. Mengaitkan kejutan dengan momen sahur di bulan Ramadan adalah ide cerdas yang menunjukkan kedekatan dan pemahaman Emil terhadap jadwal dan aktivitas Arumi, terutama ketika bertepatan dengan ibadah puasa. Hal ini menunjukkan bahwa Emil tidak hanya memikirkan kesenangan Arumi, tetapi juga bagaimana kejutan tersebut dapat selaras dengan nilai-nilai dan kegiatan yang sedang dijalani.
Bagi Arumi Bachsin, konsep keharmonisan dalam rumah tangga bukanlah tentang siapa yang paling sering memberikan hadiah mewah atau merencanakan kejutan besar. Ia lebih menekankan pada konsep keseimbangan dan usaha yang datang dari kedua belah pihak. Dalam pandangannya, agar sebuah hubungan terasa adil dan kuat, maka effort atau usaha untuk menjaga api asmara haruslah datang dari suami dan istri secara setara. "Seimbang, artinya cinta harus setara," tegas Arumi saat ditanya mengenai siapa di antara mereka yang lebih sering memberikan kejutan. Pernyataan ini merupakan inti dari filosofi hubungan mereka. Arumi percaya bahwa hubungan yang langgeng bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang memberi. Keseimbangan dalam memberi dan menerima, baik dalam bentuk perhatian, kasih sayang, maupun kejutan, adalah pondasi yang kokoh untuk pernikahan yang awet dan bahagia.
Dalam dinamika pernikahan yang telah terjalin selama 13 tahun, Arumi Bachsin dan Emil Dardak telah membuktikan bahwa kesibukan duniawi tidak harus mengorbankan keintiman dan romantisme. Mereka secara aktif menciptakan "bumbu-bumbu" yang membuat hubungan tetap segar dan bergairah. Ini bukan hanya tentang momen-momen besar, tetapi juga tentang bagaimana mereka secara konsisten melakukan upaya kecil namun bermakna. Kemampuan mereka untuk berkreasi, beradaptasi dengan situasi, dan menjaga keseimbangan dalam memberi dan menerima adalah kunci utama yang membuat rumah tangga mereka tetap harmonis di tengah terpaan berbagai kesibukan.
Pentingnya "meromantiskan diri" seperti yang diungkapkan Arumi, mencakup berbagai aspek. Ini bisa berarti meluangkan waktu berkualitas bersama meskipun hanya sebentar, saling memberikan apresiasi secara tulus, berkomunikasi secara terbuka tentang perasaan dan kebutuhan masing-masing, serta terus belajar dan berkembang bersama. Bagi pasangan yang telah lama menikah, godaan untuk terjebak dalam rutinitas adalah hal yang wajar. Namun, dengan kesadaran dan komitmen untuk terus berinovasi, seperti yang dicontohkan oleh Arumi dan Emil, setiap pasangan dapat menemukan cara unik mereka sendiri untuk menjaga percikan cinta tetap menyala.
Contoh kejutan sahur yang diberikan Emil Dardak adalah salah satu bukti nyata dari upaya mereka untuk keluar dari zona nyaman rutinitas. Meskipun sederhana, tindakan memasak dengan bahan terbatas menunjukkan prioritas Emil untuk membuat Arumi bahagia. Hal ini mengajarkan bahwa kejutan tidak harus selalu melibatkan pengeluaran besar, melainkan lebih kepada pemikiran dan usaha yang ditujukan untuk menyenangkan pasangan. Dalam konteks ini, kesederhanaan justru menjadi kekuatan, karena lebih menekankan pada niat tulus di baliknya.
Keseimbangan dalam cinta, seperti yang ditekankan Arumi, adalah prinsip yang krusial. Ini berarti kedua belah pihak harus merasa bahwa kontribusi mereka dalam hubungan dihargai dan sepadan. Ketika salah satu pihak merasa lebih banyak memberi atau lebih banyak menerima, ketidakseimbangan ini bisa menjadi sumber ketegangan. Oleh karena itu, penting bagi suami istri untuk secara sadar menjaga keseimbangan ini, baik dalam hal perhatian, dukungan emosional, maupun dalam menciptakan momen-momen spesial. Arumi dan Emil tampaknya telah berhasil membangun fondasi ini, di mana keduanya saling mengisi dan mendukung satu sama lain.
Dalam era digital saat ini, di mana banyak pasangan menghadapi tantangan tersendiri, kisah Arumi Bachsin dan Emil Dardak bisa menjadi inspirasi. Mereka menunjukkan bahwa dengan niat yang kuat, kreativitas, dan komitmen untuk saling membahagiakan, sebuah pernikahan yang telah berjalan lama dapat terus tumbuh dan berkembang. Hubungan mereka bukan hanya tentang cinta romantis, tetapi juga tentang kemitraan yang kuat, di mana keduanya bekerja sama untuk menciptakan kehidupan yang bahagia dan bermakna, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi keluarga mereka.
Lebih jauh lagi, kesuksesan mereka dalam menjaga keharmonisan dapat dikaitkan dengan kemampuan mereka untuk tetap menjadi individu yang utuh di dalam pernikahan. Meskipun memiliki peran publik yang menuntut, mereka tampaknya mampu memisahkan dan mengelola waktu serta energi mereka dengan baik, sehingga tidak mengorbankan kualitas hubungan mereka. Ini adalah pelajaran berharga bagi banyak pasangan, terutama mereka yang memiliki profesi yang sama-sama menyita waktu.
Pesan yang ingin disampaikan oleh Arumi Bachsin dan Emil Dardak melalui kisah mereka cukup jelas: pernikahan adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan perawatan konstan. Jangan pernah berhenti berusaha untuk membuat pasangan merasa dicintai dan dihargai. Rutinitas memang tak terhindarkan, tetapi cara kita menghadapinya yang membuat perbedaan. Dengan sentuhan kreatif, komunikasi yang baik, dan komitmen untuk keseimbangan, setiap pernikahan dapat terus diwarnai dengan kehangatan dan romantisme, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Keharmonisan mereka bukan sebuah kebetulan, melainkan hasil dari upaya yang disengaja dan berkelanjutan.
Dalam upaya menjaga api asmara tetap menyala, Arumi dan Emil tidak hanya berfokus pada momen-momen besar, tetapi juga pada hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Ini bisa berupa ucapan terima kasih yang tulus, pijatan ringan setelah hari yang panjang, atau sekadar mendengarkan dengan penuh perhatian ketika pasangan bercerita. Tindakan-tindakan kecil inilah yang membangun fondasi kekuatan emosional dalam sebuah hubungan dan membuat pasangan merasa terhubung secara mendalam.
Filosofi "cinta harus setara" yang diutarakan Arumi Bachsin juga mencakup kesetaraan dalam berbagi beban dan tanggung jawab. Dalam pernikahan, tidak ada pihak yang seharusnya merasa lebih terbebani daripada yang lain. Ketika kedua belah pihak berkontribusi secara seimbang, baik dalam urusan rumah tangga, pengasuhan anak, maupun dalam menjaga keharmonisan hubungan, maka rasa keadilan dan kepuasan akan tercipta. Hal ini akan membuat kedua belah pihak merasa dihargai dan termotivasi untuk terus memberikan yang terbaik bagi hubungan mereka.
Kisah Arumi Bachsin dan Emil Dardak adalah pengingat bahwa pernikahan yang bahagia bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses yang dinamis. Dibutuhkan kesabaran, pengertian, dan kemauan untuk terus beradaptasi. Dengan menerapkan prinsip-prinsip sederhana namun efektif seperti yang mereka lakukan, setiap pasangan memiliki potensi untuk membangun rumah tangga yang tidak hanya langgeng, tetapi juga penuh dengan cinta, kebahagiaan, dan romantisme yang terus menyala.

