BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kebahagiaan pasangan selebriti Corry Pamela dan Umar Syarief kini semakin lengkap dengan kehadiran tiga jagoan kecil mereka yang mengisi hari-hari penuh tawa dan keceriaan di rumah. Namun, di balik riuhnya rumah tangga yang kini dipenuhi oleh para lelaki, Corry menyimpan sebuah cerita yang tak kalah mengharukan mengenai masa lalunya, sebuah pengalaman yang kini ia sadari memiliki makna mendalam. Siapa sangka, ibu dari tiga anak laki-laki ini baru saja menemukan sebuah pencerahan, sebuah hikmah besar mengapa Sang Pencipta menitipkan tiga orang putra sekaligus kepadanya. Kesadaran ini ternyata memiliki kaitan erat dengan perjalanan hidup Corry di masa kecilnya, di mana ia tumbuh besar tanpa kehadiran sosok ayah yang mendampinginya.
"Aku baru saja sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa mungkin karena di masa kecilku aku cenderung tomboy dan tidak memiliki figur laki-laki di sekitarku, itulah sebabnya Allah sekarang memberikanku anak laki-laki semua," ungkap Corry Pamela dengan nada penuh rasa syukur saat ditemui dalam sebuah wawancara eksklusif di Studio TransTV, yang berlokasi di Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada hari Kamis, 26 Februari 2026. Pengakuan ini datang setelah ia merenungkan kembali masa lalu yang membentuk dirinya. Kesadaran ini ternyata baru saja menghampirinya, tepat pada malam sebelumnya, saat ia sedang tenggelam dalam ingatan masa kecilnya yang hanya dihabiskan bersama sang ibunda tercinta. Ia teringat betapa dulu, dalam dunia kecilnya, hanya ada dirinya dan ibunya.
"Itu benar-benar terjadi tadi malam saat aku merenung, aku baru tersadar, oh, sekarang aku tahu mengapa Allah memberikan aku tiga orang anak laki-laki. Sungguh, aku sangat bersyukur atas karunia ini," lanjut Corry, matanya berbinar menahan haru. Pengalaman masa kecil yang mungkin terasa sedikit berbeda dari anak-anak lain, kini ia lihat sebagai sebuah anugerah yang tak ternilai. Ia menyadari bahwa setiap perjalanan hidup memiliki pelajaran dan rencana tersendiri.
Kini, rasa kosong yang mungkin pernah dirasakannya akibat ketiadaan figur laki-laki di masa kecilnya, seolah dibayar lunas oleh Tuhan dengan cara yang paling indah. Rumah tangganya kini bukan hanya diisi oleh kehadiran sang suami, Umar Syarief, tetapi juga oleh ketiga putranya yang siap sedia melindunginya, menjadi benteng pertahanan dan sumber kebahagiaan. "Dulu, pendamping hidupku hanya ibuku seorang. Tidak ada figur laki-laki yang bisa kuandalkan untuk bermain atau sekadar mencontoh. Nah, sekarang aku justru diberi kelimpahan yang luar biasa. Ada suami, lalu anak pertama laki-laki, anak kedua laki-laki, dan anak ketiga pun laki-laki. Masya Allah Tabarakallah," tutup Corry dengan senyum merekah, memancarkan rasa syukur yang mendalam atas segala berkah yang telah dilimpahkan kepadanya.
Perjalanan hidup Corry Pamela memang menawarkan sebuah perspektif yang menarik tentang bagaimana masa lalu dapat membentuk masa kini, dan bagaimana sebuah kekurangan di masa lalu justru dapat menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan di masa depan. Pengalaman tumbuh tanpa figur ayah tentu meninggalkan jejak tersendiri dalam diri setiap individu. Bagi Corry, hal ini mungkin memicu rasa penasaran atau bahkan keinginan untuk merasakan dinamika interaksi dengan sosok laki-laki dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengakui bahwa dirinya cenderung tomboy di masa kecil, sebuah sifat yang mungkin muncul sebagai respons terhadap lingkungan yang didominasi oleh kehadiran perempuan. Tanpa adanya kakak laki-laki atau saudara sepupu laki-laki yang dekat, ia mungkin merasa perlu untuk mengembangkan sisi yang lebih mandiri dan kuat.
Ketika ia menikah dengan Umar Syarief dan kemudian dikaruniai anak, fokusnya tentu beralih pada peran barunya sebagai seorang ibu. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah anak, refleksi mendalam mulai muncul. Kesadaran bahwa ia kini dikelilingi oleh tiga orang anak laki-laki, ditambah dengan kehadiran suami, memberikannya sebuah gambaran lengkap dari sebuah keluarga yang ia mungkin impikan, atau bahkan lebih dari itu. Ia melihat ini bukan sebagai kebetulan semata, melainkan sebagai sebuah skenario ilahi yang dirancang dengan indah.
Hikmah yang ditemukan Corry Pamela ini dapat diinterpretasikan dalam beberapa lapisan. Pertama, ini adalah bentuk pemenuhan. Kehidupan Corry di masa kecil mungkin terasa seperti ada bagian yang belum terisi, yaitu kehadiran figur ayah. Dengan memiliki tiga anak laki-laki, ia kini memiliki kesempatan untuk merasakan berbagai macam interaksi yang khas antara ibu dan anak laki-laki. Ia bisa mendampingi mereka dalam bermain, mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan menyaksikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab. Ini adalah kesempatan untuk "melatih" dan "membimbing" generasi laki-laki di rumahnya, sesuatu yang mungkin tidak ia dapatkan secara langsung di masa kecilnya.
Kedua, ini bisa menjadi sebuah pelajaran tentang peran gender dan dinamika keluarga. Corry, yang mungkin pernah merasa perlu untuk menjadi "tomboy" karena tidak ada figur laki-laki, kini memiliki tiga contoh nyata dari sosok laki-laki yang bisa ia ajarkan dan didik. Ia bisa mengajarkan mereka tentang pentingnya menghormati perempuan, tentang kelembutan di samping kekuatan, dan tentang tanggung jawab sebagai seorang pria. Ia juga bisa membuktikan bahwa perempuan, seperti dirinya, juga memiliki kekuatan dan kemampuan untuk memimpin dan mendidik sebuah keluarga.
Ketiga, ini adalah pengingat akan kebesaran dan kebijaksanaan Tuhan. Corry menyadari bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Diberikannya tiga anak laki-laki sekaligus, bukanlah semata-mata untuk menambah keramaian, tetapi ada tujuan yang lebih dalam. Mungkin Tuhan melihat potensi dalam diri Corry untuk menjadi ibu yang hebat bagi anak-anak laki-laki. Mungkin Tuhan ingin memberikan Corry kesempatan untuk merasakan cinta dan perlindungan dari tiga orang pria dalam hidupnya, sebuah pengalaman yang mungkin sangat berharga baginya. Pernyataannya, "Ada suami, anak satu, anak dua, anak tiga, laki semua Masya Allah Tabarakallah," menunjukkan kekaguman dan penerimaan total atas apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya.
Lebih jauh lagi, pengalaman Corry ini dapat memberikan inspirasi bagi banyak perempuan lain yang mungkin juga memiliki pengalaman serupa di masa lalu. Banyak perempuan yang tumbuh tanpa figur ayah, dan mungkin mereka juga memiliki pertanyaan atau keraguan tentang bagaimana hal itu akan memengaruhi kehidupan mereka di masa depan. Kisah Corry memberikan pesan positif bahwa kekurangan di masa lalu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bisa menjadi awal dari sebuah anugerah yang tak terduga. Ia menunjukkan bahwa dengan penerimaan, rasa syukur, dan kepercayaan pada rencana Tuhan, setiap individu dapat menemukan kebahagiaan dan makna dalam hidupnya.
Peran Umar Syarief dalam konteks ini juga patut diperhatikan. Sebagai suami dan ayah dari ketiga anak laki-laki tersebut, ia menjadi figur laki-laki sentral di rumah tangga mereka. Kehadirannya melengkapi dinamika keluarga yang ada. Corry bisa saja belajar banyak tentang bagaimana ia sebagai istri berinteraksi dengan suami, dan bagaimana mereka berdua bersama-sama mendidik anak-anak mereka. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi Umar untuk memberikan contoh positif bagi anak-anak laki-lakinya, mengajarkan mereka tentang menjadi pria yang baik, suami yang bertanggung jawab, dan ayah yang penuh kasih.
Dalam pandangan sosiologis, keluarga dengan banyak anak laki-laki memiliki dinamika sosial yang unik. Terdapat potensi untuk lebih banyak aktivitas fisik, persaingan sehat, dan rasa persaudaraan yang kuat di antara saudara. Corry, sebagai ibu, akan berperan penting dalam mengelola energi ini, menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, dan memastikan bahwa setiap anak merasa dihargai dan dicintai secara individu. Ia juga mungkin akan merasakan sebuah "pasukan" yang siap membantunya dalam berbagai hal, baik itu untuk tugas-tugas rumah tangga ringan hingga sekadar mendapatkan dukungan emosional.
Secara keseluruhan, cerita Corry Pamela bukan hanya sekadar ungkapan rasa syukur atas kehadiran anak-anaknya, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana pengalaman hidup, sekecil apapun, dapat membentuk perspektif dan memberikan hikmah yang luar biasa. Masa kecil tanpa ayah yang mungkin terasa seperti sebuah kekurangan, justru menjadi latar belakang yang memungkinkan ia untuk lebih menghargai dan merasakan kebahagiaan dari keberadaan tiga anak laki-laki dalam hidupnya. Ini adalah bukti bahwa Tuhan memiliki cara-cara-Nya sendiri untuk memberikan apa yang terbaik bagi hamba-Nya, seringkali dalam bentuk yang tak terduga namun penuh makna. Kehidupan Corry Pamela kini menjadi saksi bisu atas keindahan rencana ilahi dan kekuatan cinta seorang ibu yang luar biasa.

