BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kengerian legenda Jawa kini hadir dalam visual yang memukau dan cerita yang mendalam. Film horor "Penunggu Rumah: Buto Ijo" secara resmi merilis poster dan trailer resminya, membangkitkan rasa penasaran sekaligus ketakutan di kalangan penikmat film Tanah Air. Sosok Buto Ijo, si raksasa hijau yang ikonik, ditampilkan dengan detail yang menyeramkan, menjanjikan pengalaman mencekam yang tak terlupakan. Trailer berdurasi dua menit ini tidak hanya memamerkan penampilan Buto Ijo yang mengintimidasi, tetapi juga memberikan gambaran awal tentang kisah Ali, seorang kreator konten uji nyali yang harus berhadapan langsung dengan teror makhluk mistis ini.
Diproduksi oleh kolaborasi antara Creator Media, Maxstream Studios, Seru Juga Film Studio, dan Vibe, "Penunggu Rumah: Buto Ijo" disutradarai oleh Achmad Romie. Film ini berani mengambil langkah inovatif dengan mengadaptasi secara bebas kisah legendaris Timun Mas, memberikan dimensi baru yang lebih gelap dan mencekam pada cerita yang sudah dikenal luas. Adaptasi ini bukan sekadar menakut-nakuti dengan jumpscare semata, melainkan membangun narasi yang kompleks dengan memanfaatkan kekayaan simbol budaya, membangun ketegangan atmosferik, serta menyoroti drama emosional yang kuat antar karakter. Gandhi Fernando, yang tidak hanya berperan sebagai aktor tetapi juga penulis naskah dan produser, menjelaskan visi di balik film ini. Ia menekankan bahwa mereka ingin menyajikan horor yang tidak hanya menakutkan secara fisik, tetapi juga meninggalkan jejak emosional yang mendalam. Mitos Buto Ijo, yang dalam cerita Timun Mas seringkali diasosiasikan dengan kerakusan dan kekuatan yang destruktif, diinterpretasikan oleh tim produksi sebagai refleksi dari keserakahan manusia dan konsekuensi yang tak terhindarkan dari pilihan-pilihan hidup yang keliru.
Inti cerita "Penunggu Rumah: Buto Ijo" berpusat pada Srini (Celine Evangelista), seorang janda yang hidup bersama putranya yang berusia enam tahun. Menjelang ulang tahun putranya, Srini mulai dihantui oleh kehadiran sosok raksasa yang mengerikan. Dalam keputusasaan mencari pertolongan, ia kembali menghubungi Ali (Gandhi Fernando), mantan kekasihnya yang kini sukses sebagai kreator konten horor uji nyali. Didorong oleh kebutuhan ekonomi yang mendesak, Ali bersama adiknya, Lana (Valerie Thomas), menerima tawaran Srini untuk membantu. Namun, situasi segera berubah menjadi mimpi buruk ketika sosok Buto Ijo mulai menampakkan diri secara nyata di hadapan Ali. Teror demi teror mulai menghantui, membuka tabir misteri gelap yang tersembunyi di dalam rumah tersebut, sekaligus mengungkap jati diri sebenarnya dari Buto Ijo, makhluk mistis yang dalam folklor Jawa dikenal sebagai penjaga sekaligus pembawa malapetaka.
Dari sisi visual, "Penunggu Rumah: Buto Ijo" secara strategis memanfaatkan rumah sebagai ruang teror utama. Desain produksi yang mencekam, diperkuat dengan tata cahaya yang dramatis dan desain suara yang intens, menciptakan atmosfer yang membelenggu. Pendekatan cerita yang modern, namun tetap berakar kuat pada folklor tradisional, diharapkan mampu memberikan pengalaman menonton yang dekat, mistis, dan membekas di benak penonton. Gandhi Fernando menambahkan bahwa perpaduan elemen-elemen ini dirancang untuk menciptakan sensasi horor yang autentik dan berbeda dari yang biasa disajikan di layar lebar. Film ini tidak hanya bermain dengan elemen kejutan, tetapi juga membangun narasi yang membuat penonton ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dialami para karakternya.
"Kami ingin menghadirkan horor yang tidak sekadar menakutkan, tetapi juga membekas secara emosional. Mitos Buto Ijo dari cerita Timun Mas kami tafsirkan sebagai keserakahan dan konsekuensi dari pilihan manusia," ujar Gandhi Fernando dalam keterangan resminya pada Minggu, 4 Januari 2026. Pernyataan ini menegaskan komitmen tim produksi untuk menghadirkan film horor yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki kedalaman makna dan mampu memprovokasi pemikiran penonton. Interpretasi Buto Ijo sebagai representasi dari keserakahan dan dampak buruk dari keputusan manusia memberikan dimensi filosofis pada cerita horor ini, menjadikannya lebih dari sekadar tontonan hantu-hantuan biasa.
Penampilan visual Buto Ijo dalam film ini menjadi salah satu daya tarik utama. Didesain dengan detail yang menyeramkan, sosok raksasa ini diharapkan mampu menjadi ikon horor baru di perfilman Indonesia. Visualnya yang kuat, dikombinasikan dengan narasi yang dibangun dengan cermat, menciptakan kombinasi yang mematikan untuk membuat penonton terpaku di kursi mereka. Trailer resmi yang dirilis memberikan cuplikan singkat namun efektif tentang betapa mengerikannya perjumpaan dengan Buto Ijo, membangkitkan antisipasi untuk melihat bagaimana Ali dan Srini akan berjuang untuk bertahan hidup.
Lebih jauh lagi, pemilihan latar tempat, yaitu sebuah rumah, sebagai pusat teror, memberikan nuansa klaustrofobik yang intens. Rumah, yang seharusnya menjadi tempat aman, justru diubah menjadi arena pertempuran melawan kekuatan supernatural yang mengancam. Tata cahaya yang gelap, bayangan yang menari, dan suara-suara misterius yang mengisi keheningan, semuanya berkontribusi pada pembangunan suasana mencekam yang konsisten sepanjang film. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sutradara Achmad Romie dan timnya memahami betul bagaimana menciptakan horor yang efektif, tidak hanya melalui penampilan monster, tetapi juga melalui manipulasi lingkungan dan indra penonton.
Film "Penunggu Rumah: Buto Ijo" dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai tanggal 15 Januari 2026. Dengan jajaran pemain yang berbakat, termasuk Celine Evangelista yang memerankan Srini dengan penuh emosi, Gandhi Fernando sebagai Ali yang berani namun terperangkap dalam situasi mengerikan, dan Valerie Thomas sebagai Lana yang turut terlibat dalam perjuangan mereka, film ini diprediksi akan menjadi salah satu tontonan horor yang paling ditunggu tahun ini. Selain itu, kehadiran Meryem Hasanah sebagai Tisya, Adnan Djani sebagai Indra, Pratito Wibowo sebagai Buto Ijo yang ikonik, dan Arie Dwi Andhika sebagai Riza, semakin memperkaya kualitas akting dan narasi dalam film ini.
Eksplorasi cerita Timun Mas dari sisi yang lebih gelap ini menjanjikan pengalaman yang berbeda. Alih-alih cerita dongeng tentang kepahlawanan dan kebaikan yang menang, "Penunggu Rumah: Buto Ijo" membawa penonton pada sisi kelam dari mitos tersebut, di mana konsekuensi dari tindakan manusia dapat memicu kekuatan supranatural yang mengerikan. Ini adalah sebuah pendekatan yang berani, yang berpotensi menarik bagi penonton yang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar formula horor konvensional. Film ini tidak hanya menawarkan ketakutan, tetapi juga sebuah cerita yang dapat direnungkan, menggali lebih dalam tentang sisi gelap dari sifat manusia dan bagaimana mitos dapat menjadi cerminan dari realitas.
Keberhasilan film horor seringkali bergantung pada kemampuannya untuk menyentuh ketakutan primal penonton, dan "Penunggu Rumah: Buto Ijo" tampaknya memiliki semua elemen yang dibutuhkan untuk melakukan hal tersebut. Visual Buto Ijo yang mengancam, cerita yang dibangun dengan ketegangan, dan tema yang mendalam, semuanya berpadu untuk menciptakan sebuah tontonan yang akan menghantui penonton bahkan setelah mereka meninggalkan bioskop. Kombinasi antara elemen supernatural yang kuat dan drama manusia yang emosional diharapkan akan membuat film ini relevan dan berkesan bagi berbagai kalangan penonton.
Dalam konteks perfilman Indonesia, "Penunggu Rumah: Buto Ijo" menandai sebuah langkah maju dalam eksplorasi genre horor. Dengan memanfaatkan kekayaan folklor lokal dan mengemasnya dalam produksi yang berkualitas tinggi, film ini berpotensi untuk tidak hanya memukau penonton domestik, tetapi juga menarik perhatian internasional. Keberanian untuk menafsirkan ulang cerita klasik dan menghadirkan dimensi baru yang lebih gelap menunjukkan kedewasaan dalam industri perfilman Indonesia, yang semakin berani dalam bereksperimen dan menawarkan cerita-cerita yang unik. Harapannya, film ini akan memberikan warna baru dan standar yang lebih tinggi bagi film horor Indonesia di masa mendatang.

