0

Telkom Ungkap 90% BTS di Sumut dan Sumbar Pulih, Aceh Terus Dikebut

Share

Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (Telkom) mengumumkan kemajuan signifikan dalam upaya pemulihan infrastruktur telekomunikasi pasca-bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Setelah berhasil mengaktifkan kembali seluruh kantor Sentral Telepon Otomat (STO) di ketiga provinsi tersebut, kini fokus utama perusahaan beralih pada percepatan pemulihan Base Transceiver Station (BTS) yang vital bagi konektivitas seluler. Data terbaru menunjukkan bahwa 90% BTS TelkomGroup di Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah beroperasi penuh, menandai pencapaian penting dalam mengembalikan layanan normal bagi jutaan pelanggan. Namun, perhatian khusus saat ini tertuju pada Provinsi Aceh, di mana upaya pemulihan BTS masih terus dikebut dengan tingkat aktivasi mencapai 50%, menjadikannya prioritas utama dalam agenda recovery Telkom.

Bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang dahsyat dan tak terduga yang melanda sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa waktu lalu telah meninggalkan jejak kerusakan yang mendalam dan meluas. Tidak hanya menghantam permukiman warga dan infrastruktur publik vital seperti jalan dan jembatan, bencana ini juga secara signifikan merusak jaringan telekomunikasi yang menjadi urat nadi kehidupan modern. Putusnya akses komunikasi di tengah krisis dapat memperparah kondisi masyarakat, menghambat upaya penyelamatan dan koordinasi bantuan darurat, serta secara efektif mengisolasi wilayah terdampak dari dunia luar. Dalam situasi seperti ini, kecepatan dan efektivitas respons PT Telkom Indonesia dalam memulihkan infrastruktur telekomunikasi menjadi sangat krusial, tidak hanya untuk meminimalkan dampak bencana tetapi juga untuk memastikan kelangsungan hidup dan pemulihan sosial-ekonomi masyarakat.

Tahap awal pemulihan Telkom berpusat pada reaktivasi STO, yang berfungsi sebagai pusat saraf bagi jaringan telepon tetap dan data. STO adalah jantung dari setiap layanan telekomunikasi, menghubungkan berbagai jalur komunikasi dan memastikan data serta suara dapat dikirimkan secara efisien. Kerusakan pada STO, yang seringkali disebabkan oleh genangan air dan lumpur, dapat melumpuhkan seluruh layanan di suatu wilayah. Oleh karena itu, keberhasilan Telkom mengaktifkan kembali seluruh STO di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merupakan fondasi penting bagi langkah pemulihan selanjutnya. Ini menunjukkan kesigapan dan kapabilitas tim teknis Telkom dalam menangani kerusakan kompleks pada perangkat keras dan lunak di fasilitas-fasilitas vital tersebut. Dengan STO yang berfungsi, saluran komunikasi dasar dapat dipulihkan, memungkinkan transmisi data dan suara kembali mengalir, meskipun cakupannya masih terbatas sebelum BTS aktif sepenuhnya.

Setelah STO beroperasi, fokus beralih ke BTS, menara pemancar yang menyediakan sinyal seluler bagi pengguna. Tanpa BTS, ponsel dan perangkat seluler tidak dapat terhubung ke jaringan, meskipun STO sudah aktif. Direktur Network Telkom, Nanang Hendarno, dalam keterangannya pada Senin (15/12/2025), mengungkapkan optimisme sekaligus tantangan yang dihadapi. "Di Aceh, kerusakan terbesar BTS ada di sana. Kami fokuskan seluruh sumber daya yang ada di TelkomGroup untuk mempercepat recovery dari BTS yang ada di Aceh ini, mudah-mudahan 75% coverage di masing-masing kota bisa kami hidupkan lagi kurang lebih hari ini atau besok," jelas Nanang. Pernyataan ini menegaskan prioritas Telkom untuk segera mengembalikan konektivitas di Aceh, mengingat perannya yang sentral dalam kehidupan masyarakat modern. Target ambisius 75% cakupan dalam waktu singkat menunjukkan komitmen kuat Telkom untuk meminimalkan disrupsi layanan dan mempercepat pemulihan digital di wilayah tersebut.

Untuk mencapai target pemulihan yang ambisius, terutama di Aceh, Telkom tidak main-main. Nanang menambahkan bahwa seluruh sumber daya TelkomGroup, tidak hanya dari Telkomsel sebagai operator seluler utama, tetapi juga dari seluruh anak usaha lainnya, telah dikerahkan secara maksimal. Ini mencakup pengerahan tenaga ahli berpengalaman, peralatan khusus yang canggih, serta logistik yang diperlukan untuk menjangkau lokasi-lokasi BTS yang sulit diakses akibat kondisi geografis pasca-bencana. Sinergi antar unit bisnis ini menjadi kunci dalam mempercepat proses perbaikan dan aktivasi kembali BTS yang mengalami gangguan, baik akibat kerusakan fisik langsung, putusnya pasokan listrik, maupun terputusnya jalur transmisi yang vital. Tim gabungan ini bekerja bahu-membahu untuk mengatasi setiap rintangan, mulai dari membersihkan lumpur hingga mengganti perangkat yang rusak, demi memastikan layanan dapat segera pulih.

Dalam tinjauan langsung ke lapangan, Nanang sempat mengunjungi kantor STO Telkom di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu wilayah yang paling parah terdampak banjir. Ia mengamati langsung kondisi STO yang masih memerlukan banyak pembenahan, terutama akibat genangan lumpur tebal yang menyelimuti perangkat dan fasilitas. Kerusakan akibat lumpur tidak hanya merusak komponen elektronik, tetapi juga memerlukan proses pembersihan yang intensif dan hati-hati untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. "Telkom berupaya memprioritaskan perbaikan layanan kepada pelanggan. Kami coba me-recovery services kepada customer lebih dahulu, ini prioritas utama Telkom," tegas Nanang. Pernyataan ini mencerminkan filosofi Telkom yang menempatkan kebutuhan pelanggan di garis depan, bahkan di tengah tantangan teknis yang berat. Pembersihan dan perbaikan STO di Kuala Simpang menjadi simbol perjuangan Telkom dalam mengembalikan normalitas layanan di tengah kondisi yang serba terbatas.

Tidak hanya fokus pada infrastruktur, TelkomGroup juga menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi terhadap masyarakat terdampak. Saat melakukan peninjauan di Kota Langsa, Nanang menyaksikan pemandangan mengharukan di mana banyak masyarakat memanfaatkan layanan jaringan internet dan charger gratis yang disediakan TelkomGroup di berbagai titik access point (AP). Layanan ini menjadi penyelamat di tengah kondisi jaringan listrik yang mati menyeluruh di wilayah Langsa, memungkinkan warga untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga, mengakses informasi penting terkait bencana, atau sekadar mengisi daya perangkat gadget mereka yang vital. "Terdapat beberapa AP yang sudah diaktifkan dan melihat animo masyarakat kami pikir perlu ditambahkan beberapa titik lagi, di samping juga memenuhi kebutuhan listrik akan perangkat gadget masyarakat," kata Nanang. Komitmen untuk menambah posko layanan internet dan charger gratis ini menegaskan peran Telkom sebagai penyedia "digital lifeline" bagi masyarakat di masa krisis, memastikan tidak ada yang terisolasi dari dunia digital dan dapat tetap terhubung dengan sumber daya dan orang-orang terdekat.

Kondisi perangkat di Kota Langsa, menurut Nanang, telah menunjukkan pemulihan yang lebih baik dibandingkan dengan wilayah Kuala Simpang. Hal ini memungkinkan upaya Telkom untuk lebih cepat menyediakan layanan darurat bagi masyarakat. Namun, secara keseluruhan, fokus percepatan recovery layanan Telkom akan lebih diarahkan ke wilayah Aceh. Strategi pemulihan di Aceh dilakukan melalui pendekatan ‘umbrella coverage,’ yaitu pembangunan cakupan jaringan yang menaungi satu kota atau kabupaten secara menyeluruh. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan layanan konektivitas dapat kembali dinikmati secara lebih luas oleh masyarakat, tidak hanya di titik-titik tertentu yang mungkin lebih mudah dijangkau. Namun demikian, proses recovery di sejumlah lokasi masih sangat bergantung pada stabilitas pasokan listrik di wilayah terdampak, yang kerap menjadi kendala utama dalam mengaktifkan kembali perangkat telekomunikasi. Di balik setiap titik jaringan yang kembali aktif, ada dedikasi luar biasa dari tim teknis Telkom yang bekerja tanpa henti, siang dan malam, menembus medan sulit dan menghadapi berbagai risiko. Mereka adalah garda terdepan dalam mengatasi hambatan ini, memastikan setiap upaya pemulihan berjalan sesuai rencana dan target yang telah ditetapkan.

Komitmen Telkom untuk memulihkan layanan pasca-bencana bukan sekadar tanggung jawab bisnis semata, melainkan juga bagian integral dari kontribusi perusahaan dalam mendukung ketahanan nasional dan kesejahteraan masyarakat. Infrastruktur telekomunikasi yang tangguh adalah fondasi penting bagi pembangunan ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, dan sektor-sektor vital lainnya. Tanpa konektivitas yang handal, roda ekonomi dan sosial dapat terhenti, memperlambat proses pemulihan jangka panjang. Melalui upaya pemulihan ini, Telkom tidak hanya mengembalikan konektivitas yang hilang, tetapi juga membangun kembali kepercayaan masyarakat dan memperkuat fondasi digital Indonesia yang lebih resilient di masa depan. Perusahaan plat merah ini terus berinvestasi dalam teknologi dan prosedur mitigasi bencana, termasuk sistem peringatan dini dan desain infrastruktur yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, untuk memastikan bahwa layanan telekomunikasi dapat bertahan dan pulih dengan cepat dalam menghadapi berbagai tantangan alam yang semakin tidak terduga.

Dengan progres yang telah dicapai di Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang relatif stabil, seluruh mata dan sumber daya Telkom kini tertuju pada penyelesaian pemulihan di Aceh. Keberhasilan dalam menanggulangi dampak bencana ini akan menjadi bukti nyata kapasitas, dedikasi, dan tanggung jawab sosial TelkomGroup dalam melayani bangsa, terutama di saat-saat paling krusial. Telkom berkomitmen penuh untuk terus berupaya hingga seluruh layanan telekomunikasi di wilayah terdampak kembali normal, memastikan setiap warga negara memiliki akses terhadap informasi dan konektivitas digital yang merupakan hak dasar di era modern. Ini adalah janji Telkom untuk terus menjadi jembatan digital bagi seluruh masyarakat Indonesia, di mana pun mereka berada dan dalam kondisi apa pun yang mereka hadapi.