BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di usianya yang senja dan tengah berjuang melawan kondisi kesehatan yang kurang prima, pelawak sekaligus pedangdut senior Jaja Miharja menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Ia tak membiarkan rasa sakit menghalangi hasratnya untuk terus berkarya. Bukti nyata dari kegigihannya terlihat dari aktivitasnya yang tetap produktif, bahkan harus dibantu dengan kursi roda dan tongkat saat menjalani syuting. Keberaniannya untuk tetap tampil di depan publik, meski dalam kondisi yang tidak ideal, menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Dalam sebuah kesempatan wawancara yang hangat di Studio FYP Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Jaja Miharja dengan penuh antusias membagikan kabar gembira mengenai proyek terbarunya. Ia baru saja menyelesaikan sebuah lagu kolaborasi yang sangat spesial bersama presenter kondang, Irfan Hakim. Lagu tersebut diberi judul "Siti Dinamit," sebuah nama yang cukup unik dan mengundang rasa penasaran. "Iya sudah selesai. Judulnya Siti Dinamit," ungkap Jaja dengan senyum merekah, seolah rasa sakit yang mungkin dirasakannya seketika sirna oleh kebahagiaan atas rampungnya karya tersebut.
Meskipun kondisi fisiknya belum sepenuhnya pulih, Jaja Miharja menegaskan komitmennya untuk tetap aktif dan produktif di dunia hiburan. Ia tidak berniat untuk beristirahat total dan membiarkan bakatnya terpendam. "Masih, masih. Gue syuting lagi nih. Ke mana lagi," ujarnya dengan nada optimis, menunjukkan bahwa panggung hiburan masih menjadi tempat di mana ia merasa hidup. Keputusannya untuk terus berkarya, meski harus beradaptasi dengan keterbatasan fisiknya, membuktikan dedikasinya yang tak tergoyahkan.
Lebih jauh, Jaja Miharja membeberkan bahwa aktivitas bekerja, termasuk syuting dan menciptakan lagu, justru menjadi salah satu metode ampuh baginya untuk menjaga kesehatan mental dan fisiknya. Ia percaya bahwa menjaga pikiran tetap aktif dan tubuh tetap bergerak adalah kunci utama untuk mencegah penurunan fungsi kognitif dan menjaga vitalitas. "Satu, biar nggak pikun. Betul itu. Banyak gerak. Dokter suruh Ayah bawa mobil," ungkapnya dengan lugas, mengutip saran medis yang diterimanya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa ia sangat serius dalam menjaga kesehatannya, dan bekerja adalah salah satu bentuk terapi baginya.
Menurut Jaja, anjuran dokter untuk tidak banyak berdiam diri dan terus bergerak sangatlah penting baginya. Bergerak bukan hanya dalam artian fisik, tetapi juga dalam konteks aktivitas kreatif. Menciptakan lagu, misalnya, melibatkan proses berpikir, merangkai kata, dan melodi, yang semuanya membutuhkan stimulasi mental. "Biar nggak ini apa namanya nggak diam saja. Harus banyak gerak," tambahnya, menekankan pentingnya dinamika dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi seseorang yang usianya tidak lagi muda.
Di tengah kesibukannya dan pembicaraan mengenai kesehatannya, Jaja Miharja juga tak luput dari perhatian publik terkait penampilannya yang khas. Banyak penggemarnya yang penasaran dengan kebiasaannya mengenakan syal yang kerap terlihat di lehernya saat beraktivitas. Jaja dengan ramah menjelaskan bahwa benda yang sering dikira syal itu sebenarnya adalah handuk. "Pertama, ngurangin keringat buat Ayah. Biasanya bukan syal, kayak anduk. Buat ngurangin keringat," jelasnya dengan senyum. Penjelasannya ini bukan hanya menjawab rasa penasaran publik, tetapi juga menunjukkan sisi praktis dan sederhana dari dirinya.
Ia mengakui bahwa dirinya memang mudah berkeringat ketika sedang beraktivitas, entah itu saat syuting, bernyanyi, atau sekadar berbincang. Oleh karena itu, membawa handuk menjadi sebuah keharusan baginya agar dapat segera mengelap keringat dan merasa nyaman. "Iya, keringetan. Ayah selalu bawa handuk kalau kerja," tuturnya, mengindikasikan bahwa kebiasaan ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitasnya saat bekerja. Ini adalah bukti bagaimana Jaja Miharja selalu berusaha untuk tampil prima dan nyaman di depan publik, meskipun di balik layar ada penyesuaian yang ia lakukan.
Kebiasaan membawa handuk ini ternyata sudah ia lakukan sejak lama, bahkan sejak ia bisa mengingat. Ini bukan sesuatu yang baru saja ia terapkan karena kondisi kesehatannya saat ini, melainkan sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging. "Dari mulai ingat saja. Ingat. Sekarang mendingan gue pakai handuk saja nih," pungkasnya sambil tertawa ringan. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa Jaja Miharja adalah sosok yang konsisten dan apa adanya, tidak dibuat-buat. Ia memprioritaskan kenyamanan dan kepraktisan, yang pada akhirnya juga berkontribusi pada kemampuannya untuk tetap berkarya dengan baik.
Semangat Jaja Miharja dalam menghadapi tantangan kesehatan sambil terus berkarya adalah sebuah pelajaran berharga. Ia membuktikan bahwa usia dan kondisi fisik bukanlah penghalang untuk terus memberikan kontribusi positif. Kemampuannya untuk beradaptasi, menjaga semangat, dan bahkan menjadikan aktivitas kreatif sebagai bagian dari terapi kesehatan, patut diacungi jempol. Kisahnya menginspirasi kita semua untuk tidak pernah menyerah pada impian dan tetap berjuang, dalam kondisi apapun, untuk terus memberikan yang terbaik. Kehadirannya di dunia hiburan, bahkan di tengah sakit, menjadi bukti nyata bahwa dedikasi dan kecintaan pada seni dapat mengatasi segalanya. Jaja Miharja bukan hanya seorang seniman, tetapi juga seorang pejuang yang memberikan contoh nyata tentang arti ketangguhan.

