Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (PP AMRI) menggelar rangkaian Safari Ramadan yang sarat makna di Desa Tanabaya dan Mangli, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang ibadah di bulan suci, melainkan sebuah gerakan strategis untuk mempererat simpul silaturahim antarwilayah serta menginisiasi penguatan kaderisasi AMRI di Kabupaten Pemalang sebagai salah satu basis penting organisasi.
Rombongan PP AMRI yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum, Abdul Kholiq, M.Pd., hadir dengan membawa misi konsolidasi organisasi yang mendalam. Dalam perjalanan spiritual dan organisatoris ini, mereka didampingi oleh Ketua Dewan Syari’ah Pimpinan Pusat Rifa’iyah, KH Muhammad Abidun Zuhri, Lc. Kehadiran beliau memberikan bobot religius yang kuat, mengingat peran vital beliau dalam menjaga marwah keilmuan dan syariat di lingkungan Rifa’iyah. Tidak hanya dari pusat, delegasi ini juga diperkuat oleh kehadiran tokoh-tokoh masyayikh dari Kabupaten Pati, seperti Ketua PD Rifa’iyah Kabupaten Pati KH Ahmad Rifa’i Al Asnawi dan anggota Dewan Syariah PD Rifa’iyah Pati, K. Ali Mursyidi. Kehadiran para tokoh dari Pati ini bukan tanpa alasan; mereka membawa pesan historis tentang kedekatan emosional dan organisatoris antara Rifa’iyah di tanah Jawa bagian utara dengan basis pergerakan di Pemalang.

Titik awal kunjungan Safari Ramadan ini dimulai dengan silaturahim hangat di kediaman KH Zaenal Khafidin di Desa Tanabaya. Sosok KH Zaenal Khafidin sendiri bukan figur sembarangan dalam peta sejarah Rifa’iyah; beliau adalah putra dari KH Ahmad Hambali, seorang perintis yang namanya terukir emas dalam sejarah pendirian organisasi Rifa’iyah. Pertemuan ini menjadi ajang "napak tilas" bagi para pengurus AMRI untuk memahami lebih dalam akar perjuangan para pendahulu. Suasana kekeluargaan tampak sangat kental, mencerminkan nilai-nilai luhur Rifa’iyah yang senantiasa mengedepankan kerukunan dan rasa hormat antar generasi.
Setelah sesi silaturahim yang penuh dengan hikmah tersebut, rombongan melanjutkan agenda ibadah dengan melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di Masjid Baitul Karim, Mangli. Masjid ini menjadi saksi bisu kebersamaan antara pengurus pusat, tokoh daerah, dan masyarakat setempat. Kekhusyukan dalam ibadah di bulan Ramadan seolah meleburkan sekat-sekat formalitas, menegaskan bahwa AMRI hadir bukan hanya sebagai organisasi formal, tetapi sebagai bagian integral dari denyut nadi kehidupan masyarakat Rifa’iyah di tingkat akar rumput.
Usai melaksanakan shalat Tarawih, kegiatan berlanjut ke sesi sarasehan yang dipandu oleh Drs. Mursyidi Ramli. Beliau, yang dikenal sebagai pelaku sejarah sekaligus saksi kunci penyelenggaraan Seminar Nasional Rifa’iyah di Yogyakarta, mampu mengemas diskusi menjadi refleksi sejarah yang inspiratif. Dalam forum tersebut, Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq, M.Pd., menyampaikan pidato yang menegaskan kembali urgensi posisi Tanabaya dalam sejarah Rifa’iyah.

Dalam pemaparannya, Abdul Kholiq menekankan tiga poin krusial. Pertama, ia menegaskan bahwa Tanabaya memegang posisi historis sebagai embrio berdirinya organisasi Rifa’iyah. Sejarah mencatat, berdirinya Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah (Yasrif) pada tahun 1965 di Tanabaya merupakan tonggak awal yang membangkitkan semangat pendidikan dan dakwah Rifa’iyah. Jejak langkah ini kemudian bersinergi dengan lahirnya Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah Sundoluhur (YPIR) di Pati pada tahun 1968. Dengan menyebut Tanabaya sebagai "titik nol" atau embrio, PP AMRI ingin membangkitkan kembali kesadaran sejarah di kalangan generasi muda Rifa’iyah agar tidak melupakan akar perjuangan para pendahulunya.
Poin kedua adalah tentang kesinambungan silaturahim. Abdul Kholiq mengingatkan kembali kedekatan emosional antara tokoh Rifa’iyah dari Pati, yakni KH Ali Zuhri, dengan tokoh Rifa’iyah Tanabaya, KH Ahmad Hambali. Hubungan yang terjalin puluhan tahun silam ini harus terus dirawat oleh generasi penerus. Safari Ramadan ini dipandang sebagai media untuk menyambung kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat merenggang karena jarak geografis, namun tetap satu dalam ikatan ideologi dan organisasi yang sama.
Poin ketiga, dan yang menjadi fokus utama PP AMRI saat ini, adalah penguatan kaderisasi. Abdul Kholiq menegaskan bahwa organisasi yang besar tidak akan bisa bertahan tanpa adanya regenerasi yang sistematis dan terukur. Di hadapan para pemuda dan tokoh masyarakat, ia menekankan pentingnya mengintensifkan kegiatan kaderisasi seperti Latihan Kader Dasar (LKD) AMRI maupun Pendidikan dan Pelatihan Dasar (DIKLATSAR) BARANUSA. Menurutnya, kaderisasi adalah napas organisasi. Tanpa kader yang militan dan memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, dakwah Rifa’iyah akan kehilangan momentum di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. AMRI harus menjadi wadah bagi lahirnya generasi penerus yang tidak hanya berwawasan luas, tetapi juga memiliki loyalitas tinggi terhadap komitmen dakwah Rifa’iyah.

Kegiatan di Pemalang ini diharapkan menjadi langkah awal atau "pemicu" bagi penguatan struktur dan kaderisasi AMRI di tingkat ranting dan cabang di seluruh Kabupaten Pemalang. Kehadiran pimpinan pusat di tengah masyarakat Tanabaya–Mangli bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bentuk nyata perhatian pusat terhadap penguatan basis massa pemuda di daerah.
Antusiasme masyarakat dan para kader muda yang hadir dalam acara tersebut menunjukkan adanya semangat yang besar untuk terus bergerak. Para peserta sarasehan tampak menyimak dengan serius setiap arahan yang disampaikan, menunjukkan bahwa ada kerinduan akan adanya arahan dan konsolidasi dari pusat untuk lebih menggairahkan kegiatan-kegiatan lokal.
Sebagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah, Rifa’iyah selalu memandang penting peran pemuda. AMRI, sebagai sayap organisasi, memiliki tanggung jawab besar untuk menjembatani nilai-nilai tradisional Rifa’iyah dengan tantangan modernitas. Melalui Safari Ramadan ini, PP AMRI berhasil menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk diperjuangkan, asal dikelola dengan manajemen organisasi yang baik dan semangat kaderisasi yang berkelanjutan.

Penulis, Ahmad Zahid Ali, yang juga merupakan bagian dari pengurus PP AMRI, dalam catatannya menekankan bahwa keberhasilan Safari Ramadan ini bukan hanya diukur dari banyaknya orang yang hadir, melainkan dari bagaimana pesan-pesan organisasi dapat terserap dan diimplementasikan oleh para kader di lapangan. Langkah konkret setelah ini adalah pendampingan berkelanjutan bagi pengurus AMRI di tingkat lokal untuk segera mengeksekusi rencana kaderisasi yang telah dibahas.
Sebagai penutup, rangkaian kegiatan Safari Ramadan di Tanabaya dan Mangli ini menjadi bukti nyata bahwa semangat berorganisasi di lingkungan Rifa’iyah masih menyala dengan sangat terang. Dengan berbekal sejarah yang kuat, hubungan silaturahim yang erat, dan komitmen kaderisasi yang tajam, PP AMRI optimistis bahwa masa depan dakwah Rifa’iyah akan berada di tangan generasi muda yang siap menjawab tantangan zaman. Konsolidasi yang dimulai dari Pemalang ini diharapkan dapat menular ke wilayah-wilayah lain, menciptakan jejaring kader yang solid, militan, dan berwawasan luas demi kemajuan organisasi Rifa’iyah di masa depan.

