0

Ratu Sofya Disomasi PH Imbas Tolak Promosi Film dan Singgung Adegan 17+

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Rumah produksi HAS Pictures, yang didirikan oleh Haldy Sabri dan aktris Irish Bella, telah melayangkan somasi kepada aktris Ratu Sofya. Somasi ini dilayangkan menyusul dugaan penolakan Ratu Sofya untuk mempromosikan film terbaru mereka yang berjudul "Dosa Penebusan atau Pengampunan". Lebih lanjut, Ratu Sofya juga dikabarkan keberatan dengan adegan yang dikategorikan 17+ dalam film tersebut, yang menjadi salah satu alasan ia tidak ikut serta dalam agenda promosi. Reza Aditya, perwakilan dari HAS Pictures, menyatakan bahwa sikap Ratu Sofya dinilai sangat merugikan pihak rumah produksi, mengingat statusnya sebagai salah satu pemeran utama dalam film tersebut. Ia menjelaskan bahwa permasalahan ini berakar pada penolakan Ratu Sofya untuk terlibat dalam promosi film yang akan segera dirilis.

Reza Aditya mengungkapkan kekecewaannya atas sikap Ratu Sofya. Menurutnya, penolakan promosi oleh salah satu pemeran utama jelas menimbulkan kerugian yang signifikan bagi pihak rumah produksi. "Ada permasalahan soal film kita yang akan rilis yang berjudul Dosa Penebusan atau Pengampunan. Apa masalahnya? Salah satu peran utama dari kita, dari film ini, tidak ikut promo di kita dan itu jelas merugikan kita dari PH," ujar Reza Aditya saat ditemui di Kemang, Jakarta Selatan, pada Jumat, 22 Mei 2026. Ia menambahkan bahwa alasan utama Ratu Sofya menolak berpartisipasi dalam promosi adalah karena ia mengaku merasa tidak nyaman dengan isi film, terutama terkait adegan-adegan yang dianggap sensitif.

Lebih lanjut, Reza Aditya merinci bahwa Ratu Sofya menyatakan ketidaknyamanannya dengan film tersebut, khususnya yang berkaitan dengan adegan-adegan intim atau yang sering disebut sebagai sex scene. "Tapi sebelum itu saya mau menjelaskan dulu. Jadi, saudari RS ini enggan ikut promo karena saudari RS ini bilang dia kurang nyaman dengan film ini," jelas Reza. Pernyataan ini menimbulkan kebingungan bagi pihak HAS Pictures, mengingat selama proses produksi, mulai dari casting, pembacaan naskah (reading), hingga syuting, Ratu Sofya tidak pernah menunjukkan adanya keberatan atau keresahan.

Reza Aditya menekankan bahwa Ratu Sofya terlihat sangat menikmati proses syuting dan tidak ada keluhan apapun yang diterimanya dari sang aktris selama periode tersebut. "Padahal sebelum masalah ini terjadi, saudari RS ini dari awal proses casting, dari reading, dan dari proses syuting, dia sangat fun dan sangat nyaman di lokasi syuting. Dan tidak ada keresahan yang kita terima, tidak ada komplain yang kita terima juga," bebernya. Hal ini membuat pihak rumah produksi heran dengan perubahan sikap Ratu Sofya yang mendadak.

Mengenai adanya adegan dewasa dalam film tersebut, Reza Aditya membenarkan keberadaannya. Namun, ia menegaskan bahwa adegan tersebut tidak dibuat secara vulgar atau mengarah pada pornografi. Menurutnya, adegan tersebut memiliki makna dan narasi yang kuat dalam cerita film. "Nah, yang RS ini yang lempar isu kalau memang ada adegan sex scene di film kita. Memang benar, tapi kita juga tidak sangat mengekspos itu karena bukan cuma sekadar sex scene yang kita mau tampilin di film," katanya. Ia menjelaskan bahwa adegan tersebut memiliki nilai filosofis dan naratif yang penting bagi perkembangan cerita.

Reza Aditya menambahkan bahwa pihak rumah produksi tidak bermaksud menjual film hanya berdasarkan adegan dewasa semata. "Ini ada filosofinya, ini ada ceritanya. Bukan kita ngejual, ‘Oh, ini karena ada adegan sex scene jadi kita jualan nih film’, nggak gitu. Kita juga bikinnya masih dengan batas-batas yang ya kita tahulah batasnya, enggak vulgar dan tidak mengarah ke pornografi," lanjutnya. Ia berupaya meyakinkan publik bahwa film tersebut memiliki kedalaman cerita di luar adegan sensitif yang dipermasalahkan oleh Ratu Sofya.

Masalah ini mulai membesar ketika Ratu Sofya menceritakan pengalamannya dalam sebuah podcast yang kemudian menjadi viral di media sosial. Penuturan Ratu Sofya dalam podcast tersebut dianggap bertentangan dengan apa yang ia sampaikan dan tunjukkan selama proses produksi film. "Podcast-nya juga lumayan viral bahwa dia menyebut kalau dia tidak nyaman dan tidak disediakan body double gitu. Jelas itu bertentangan banget ya dengan fakta yang ada di lokasi, dengan yang disampaikan sama RS ini. Itu bener-bener kayak, ‘Kok begitu sih kamu Dek? Kok ngomongnya beda ya? Di lokasi syuting juga beda, di podcast itu beda, ketika kamu sudah menjalin hubungan sama yang ya seseorang itulah’, gitu loh," ujar Reza, menyiratkan adanya faktor eksternal yang mempengaruhi sikap Ratu Sofya.

Sementara itu, kuasa hukum HAS Pictures, Takwa, turut memberikan keterangan terkait permasalahan ini. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah mengumpulkan berbagai bukti dan keterangan saksi mengenai proses produksi film "Dosa Penebusan atau Pengampunan". Takwa juga menyoroti adanya klausul dalam kontrak kerja sama antara rumah produksi dan Ratu Sofya yang tampaknya dilanggar oleh sang aktris. "Terkait penggunaan body double dan lain sebagainya, kami sudah meminta keterangan dari beberapa saksi-saksi terkait dengan pekerjaan film ini. Hal-hal yang berkaitan dengan kontraknya antara perusahaan klien kami terkait dengan Safira Ratu Sofya, ini adalah hal-hal yang memang bertentangan dengan hukum secara tidak langsung maupun langsungnya," ungkap Takwa.

Takwa menjelaskan bahwa salah satu poin krusial yang dipermasalahkan adalah kewajiban promosi film yang tidak dipenuhi oleh Ratu Sofya. Kewajiban ini dianggap sebagai bagian penting dari kesepakatan kontrak yang mengikat kedua belah pihak. "Pada saat ada kewajiban promo di mana dia diwajibkan untuk melaksanakan promo baik secara diri pribadinya maupun bersama dengan perusahaan melalui medsosnya dia, maka itu akan merugikan perusahaan ini sendiri," jelasnya. Kerugian ini dapat berupa penurunan minat penonton atau citra film yang kurang baik akibat absennya salah satu pemeran utama dalam kampanye promosi.

Oleh karena itu, HAS Pictures memutuskan untuk menempuh jalur hukum dengan melayangkan somasi. Somasi ini bertujuan untuk mendesak Ratu Sofya agar segera memenuhi kewajibannya dalam mempromosikan film tersebut. "Maka perusahaan ini tentu melakukan langkah somasinya dan sekaligus mengundang untuk pertemuan tersebut. Pada saat pertemuan tersebut dihadiri oleh kuasa hukumnya. Pada saat dihadiri kuasa hukumnya, itu pun tidak ada solusi lain gitu," kata Takwa. Pertemuan dengan kuasa hukum Ratu Sofya juga tidak menghasilkan titik temu yang memuaskan bagi pihak rumah produksi.

Dalam kesempatan tersebut, Takwa menegaskan tuntutan HAS Pictures kepada Ratu Sofya. Ia meminta agar Ratu Sofya segera melaksanakan kewajibannya mempromosikan film, baik secara personal melalui akun media sosialnya maupun bersama dengan tim promosi perusahaan. Jadwal dan daftar promosi yang telah diberikan kepada kuasa hukum Ratu Sofya diharapkan dapat segera ditindaklanjuti. "Artinya kita menuntut kepada artis ini, Safira Ratu Sofya, untuk melakukan promosinya segera dan seketika. Dalam kesempatan ini kami sampaikan, laksanakan yang menjadi kewajibannya terkait promo baik diri pribadinya melalui medsosnya maupun dengan perusahaan yang telah diberikan list-nya, jadwalnya oleh perusahaan kepada kuasa hukumnya saat itu," pungkas Takwa, menutup penjelasannya.