0

Ratu Sofya Bantah Somasi Ibu Soal Kembalikan Uang Syuting, Akui Konflik Keluarga Hampir Dua Tahun

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Ratu Sofya membantah keras telah melayangkan somasi kepada ibu kandungnya, Intan, terkait pengembalian uang syuting film "Dosa". Penyangkalan ini juga mencakup ayahnya, menegaskan bahwa tidak ada surat somasi yang pernah dikirimkan kepada kedua orang tuanya. Pernyataan ini disampaikan Ratu Sofya saat ditemui di kawasan Jakarta pada Sabtu (23/5/2026), sebagai respons terhadap klaim ibunya yang menyebutkan bahwa Ratu Sofya telah menyomasi dirinya untuk mengembalikan seluruh uang syuting film "Dosa" yang telah dilakukan pada tahun 2024.

"Tidak ada somasi, saya tidak pernah mensomasi ibu saya. Dan papa saya, saya tidak pernah," ujar Ratu Sofya dengan tegas. Ia menambahkan bahwa persoalan keluarga yang tengah dihadapinya ini telah memberikan dampak yang signifikan pada pekerjaan dan kariernya. Konflik keluarga ini diakuinya telah berlangsung cukup lama, bahkan hampir dua tahun lamanya. "Karena maksudnya ini, sudah berjalan hampir kurang lebih dua tahun. Sebenarnya permasalahan keluarga ini yang saya sudah berusaha untuk menyelesaikan, tapi tidak bisa diselesaikan. Kalau ditanya capek, sudah pasti capek," ungkapnya dengan nada lelah.

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai upaya penyelesaian secara kekeluargaan yang mungkin telah dilakukan sebelumnya, Ratu Sofya membenarkan bahwa hal tersebut memang pernah diupayakan. Namun, sayangnya, upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan. Ia merasa telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah ini secara internal, namun kompleksitasnya membuat penyelesaian menjadi sulit.

Lebih lanjut, Ratu Sofya turut mengungkap fakta mengejutkan terkait proses produksi film "Dosa". Ia menyatakan bahwa tidak ada intimacy coordinator yang dilibatkan selama proses syuting berlangsung. Intimacy coordinator sendiri adalah sebuah profesi yang semakin dikenal di industri film dan teater, dengan tugas utama menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan profesional bagi para aktor, terutama saat mereka harus memerankan adegan intim, adegan kekerasan yang sensitif, atau adegan-adegan yang dianggap vulgar. Keberadaan profesional ini sangat penting untuk memastikan kesejahteraan psikologis dan fisik para pemain, serta menjaga integritas artistik tanpa mengorbankan kenyamanan dan batasan pribadi para aktor.

Meskipun demikian, Ratu Sofya memilih untuk tetap enggan membahas secara lebih mendalam mengenai detail komunikasinya dengan keluarga, termasuk dengan sang ibu. Ia menegaskan bahwa persoalan ini merupakan urusan pribadi yang ingin diselesaikan secara pribadi pula, dan bukan untuk menjadi konsumsi publik. "Itu pertanyaan yang tidak bisa saya jawab di sini, karena kembali lagi, untuk permasalahan saya dan keluarga saya. Saya harap saya bisa menyelesaikan itu secara pribadi, tidak untuk konsumsi publik. Karena saya tidak pernah membuka permasalahan ini ke publik," jelasnya dengan penuh keyakinan. Pernyataannya ini menunjukkan keinginannya untuk menjaga privasi keluarganya dan menyelesaikan masalah ini secara internal tanpa campur tangan pihak luar.

Ratu Sofya juga mengungkapkan rasa kekecewaannya yang mendalam setelah mendengar pernyataan dari pihak HAS Pictures dalam konferensi pers yang mereka gelar sebelumnya. Kekecewaan ini menjadi salah satu alasan mengapa ia merasa perlu untuk memberikan klarifikasi dan tanggapan melalui pernyataannya kali ini. "Pastinya saya kecewa, itulah kenapa ada kita hari ini di sini," pungkasnya, menyiratkan bahwa ada ketidaksesuaian antara apa yang disampaikan oleh pihak produser dengan pengalamannya sendiri.

Polemik ini sendiri mencuat ke publik setelah Ratu Sofya secara terbuka mengaku merasa tidak nyaman dengan adegan-adegan intim yang harus ia perankan dalam produksi film tersebut. Selain itu, ia juga menyinggung adanya persoalan keluarga yang menurutnya turut memberikan pengaruh negatif terhadap kondisi mentalnya. Pengakuan ini membuka tabir tentang adanya tekanan ganda yang dihadapi Ratu Sofya, baik dalam ranah profesional maupun personal.

Konflik yang terjadi antara Ratu Sofya dan ibunya, Intan, tampaknya berakar pada perbedaan pandangan dan tuntutan terkait proses produksi film "Dosa". Intan, sang ibu, mengklaim bahwa Ratu Sofya telah menyomasi dirinya untuk mengembalikan uang syuting yang telah dikeluarkan. Namun, Ratu Sofya dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa ia tidak pernah mengirimkan somasi kepada orang tuanya. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kebenaran informasi yang beredar dan pentingnya klarifikasi dari kedua belah pihak.

Perjuangan Ratu Sofya dalam menyelesaikan konflik keluarga ini menunjukkan betapa beratnya beban yang harus ia pikul. Di satu sisi, ia harus menghadapi tekanan profesional dalam industri hiburan, termasuk tuntutan adegan yang mungkin membuatnya tidak nyaman. Di sisi lain, ia juga harus bergulat dengan permasalahan keluarga yang kompleks dan telah berlangsung cukup lama. Upayanya untuk menyelesaikan masalah ini secara pribadi menunjukkan kedewasaannya dalam menghadapi situasi yang sulit.

Pentingnya intimacy coordinator dalam industri film modern semakin disadari. Keberadaan mereka bukan hanya untuk memastikan kenyamanan aktor, tetapi juga untuk melindungi mereka dari potensi eksploitasi atau situasi yang tidak diinginkan. Fakta bahwa film "Dosa" tidak menggunakan jasa profesional ini menjadi salah satu poin krusial yang diangkat oleh Ratu Sofya, yang mungkin berkontribusi pada ketidaknyamanannya selama proses syuting. Hal ini juga membuka diskusi lebih luas tentang standar keamanan dan etika kerja dalam produksi film, terutama yang melibatkan adegan-adegan sensitif.

Kekecewaan Ratu Sofya terhadap pernyataan HAS Pictures juga patut menjadi sorotan. Pernyataan resmi dari pihak produser dalam sebuah konferensi pers biasanya dianggap sebagai sumber informasi yang kredibel. Namun, jika pernyataan tersebut menimbulkan kekecewaan bagi salah satu pihak yang terlibat, seperti Ratu Sofya, maka hal ini mengindikasikan adanya kemungkinan narasi yang berbeda atau informasi yang belum terungkap sepenuhnya. Klarifikasi dari Ratu Sofya ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai duduk perkara yang sebenarnya.

Konflik keluarga yang berdampak pada kesehatan mental adalah isu yang serius dan seringkali disalahpahami. Pernyataan Ratu Sofya bahwa masalah keluarga memengaruhi kondisi mentalnya menekankan pentingnya dukungan dan pemahaman dari lingkungan terdekat. Industri hiburan yang seringkali penuh tekanan dapat memperburuk kondisi ini, sehingga penting bagi para pelaku industri untuk menciptakan lingkungan yang suportif.

Dalam situasi yang rumit ini, harapan Ratu Sofya agar masalah ini dapat diselesaikan secara pribadi dan tidak menjadi konsumsi publik adalah hal yang wajar. Namun, ketika sebuah isu telah menjadi perbincangan publik, terkadang klarifikasi yang transparan menjadi perlu untuk menghindari kesalahpahaman dan spekulasi yang tidak berdasar. Keterbukaan Ratu Sofya dalam membantah somasi dan mengungkapkan rasa kekecewaannya adalah langkah awal dalam mengendalikan narasi terkait masalahnya.

Perjalanan Ratu Sofya dalam menghadapi masalah ini patut diapresiasi. Ia menunjukkan kekuatan dan keberanian dalam menyuarakan pendapatnya, meskipun harus menghadapi tekanan dari berbagai pihak. Semoga Ratu Sofya dapat menemukan solusi yang terbaik untuk menyelesaikan konflik keluarga ini dan dapat kembali fokus pada kariernya dengan pikiran yang lebih tenang dan kondisi mental yang sehat. Kasus ini juga menjadi pengingat bagi banyak pihak tentang pentingnya komunikasi yang baik, penyelesaian masalah yang konstruktif, dan perlindungan terhadap kesejahteraan individu, baik dalam ranah profesional maupun personal.