0

Ramadan Cheating Day: Fanny Ghassani Santai Nikmati Takjil hingga Gorengan, Jaga Berat Badan Jadi Prioritas Utama

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Presenter dan aktris kenamaan, Fanny Ghassani, mengungkapkan bahwa momen berbuka puasa di bulan Ramadan seringkali menjadi saat baginya untuk melepaskan diri dari aturan ketat mengenai asupan makanan. Bagi Fanny, periode ini seringkali diibaratkan sebagai "cheating day" dalam rutinitas menjaga bentuk tubuhnya yang selama ini dikenal sangat disiplin. Ia rutin berolahraga dan memperhatikan pola makan demi menjaga kebugaran serta penampilan prima di layar kaca. Namun, ketika Ramadan tiba, Fanny mengaku lebih cenderung bersikap santai dalam memilih makanan untuk berbuka. Pengakuannya ini mencerminkan sebuah pendekatan yang lebih holistik terhadap keseimbangan antara menjaga kesehatan dan menikmati momen spiritual yang spesial.

"Sebenarnya cheating day sih aku dari dulu gak pernah strict sama makanan. Aku selalu mencoba menikmati semua makanan yang ada di depan mata aku deh," ujar Fanny Ghassani saat ditemui di daerah Jakarta pada Jumat, 13 Maret 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi Fanny yang tidak ingin terlalu membatasi diri secara ekstrem, terutama pada momen-momen yang memiliki makna emosional dan sosial kuat seperti Ramadan. Ia percaya bahwa kenikmatan dalam menyantap hidangan berbuka puasa adalah bagian tak terpisahkan dari kebahagiaan setelah seharian menahan lapar dan haus. Pendekatan ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mental dan emosional sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.

Menurut Fanny, ketika waktu berbuka puasa tiba, ia tidak ragu untuk menikmati berbagai jenis makanan yang tersaji di hadapannya. Mulai dari hidangan manis yang identik dengan takjil, seperti kolak pisang, bubur sumsum, atau es buah segar, hingga berbagai macam gorengan yang kerap menjadi favorit banyak orang saat berbuka puasa, seperti bakwan, tempe mendoan, atau risoles. Ia tidak mempermasalahkan keragaman jenis makanan tersebut, asalkan masih dalam batas yang ia anggap wajar dan tidak berlebihan. Fleksibilitas ini memungkinkan dirinya untuk tetap merasakan kebahagiaan dan kenikmatan tanpa dihantui rasa bersalah atau penyesalan.

Namun, di balik kelonggarannya tersebut, Fanny tetap memiliki batasan yang jelas terkait berat badan yang ia jaga. Ia mengaku mulai lebih ketat dalam mengatur pola makan dan meningkatkan intensitas olahraganya jika angka di timbangan mulai mencapai batas tertentu yang telah ia tetapkan. "Misal, aku tuh khawatir kalau berat badan aku udah di 52 kilo. Gitu. Nah kalau aku udah di 52 kilo baru aku strict tuh makanan," lanjut Fanny. Batasan ini menunjukkan bahwa meskipun ia menikmati momen berbuka puasa, ia tetap berkomitmen pada tujuan jangka panjangnya untuk menjaga kesehatan dan kebugaran. Penetapan target berat badan yang spesifik ini juga memberikan motivasi tambahan baginya untuk kembali ke rutinitas yang lebih teratur setelah periode Ramadan.

Bagi Fanny, menjaga berat badan bukan sekadar soal penampilan pribadi atau estetika semata, tetapi juga sangat berkaitan erat dengan tuntutan pekerjaannya di industri televisi. Ia menyadari betul bahwa kamera memiliki efek yang dapat membuat tampilan tubuh terlihat lebih besar dibandingkan dengan kondisi sebenarnya. "Aku kan kerja di TV juga. Kalau di TV itu berat badan kan nambah besar ya, nambah kayak 5 kilo. Jadi makanya kita secara tidak langsung dituntut untuk kecil, sekecil mungkin gitu supaya di TV tuh kelihatannya proporsional," papar Fanny. Pemahaman ini sangat krusial bagi para pekerja seni peran dan presenter yang dituntut untuk selalu tampil prima di depan publik.

Lebih lanjut, Fanny menegaskan bahwa menjaga proporsi tubuh di layar kaca bukan sekadar tentang ego atau kecantikan semata, melainkan sebuah profesionalisme. Tampilan yang proporsional membantu penonton untuk lebih fokus pada konten yang disajikan, bukan terdistraksi oleh penampilan fisik. Oleh karena itu, ia merasa perlu untuk terus menjaga berat badannya agar tetap ideal dan terlihat baik saat tampil di berbagai program televisi. Dedikasi ini mencerminkan keseriusannya dalam menjalani profesi yang ia tekuni.

Meskipun demikian, Fanny tetap berusaha keras untuk menjalani pola hidup yang seimbang dan sehat secara keseluruhan. Ia tidak ingin terlalu mengekang diri dalam menikmati makanan, terutama di momen-momen spesial seperti bulan Ramadan yang sarat akan makna spiritual dan kebersamaan. Baginya, menikmati makanan saat berbuka puasa juga menjadi bagian integral dari kebahagiaan sederhana yang ia rasakan setelah seharian beraktivitas sambil menahan lapar dan haus. Momen ini adalah waktu untuk refleksi, bersyukur, dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga serta orang terkasih.

Karena itu, selama asupan makanannya masih dalam batas yang ia anggap wajar dan tidak mengganggu target kesehatannya secara signifikan, Fanny memilih untuk menikmati berbagai hidangan berbuka tanpa terlalu merasa bersalah. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman yang matang tentang pentingnya keseimbangan dalam gaya hidup. Ia tidak melihat makanan sebagai musuh, melainkan sebagai sumber energi dan kenikmatan yang perlu dinikmati secara bijak.

Dalam konteks yang lebih luas, pandangan Fanny Ghassani ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia menunjukkan bahwa menjaga kesehatan dan penampilan tidak harus berarti mengorbankan kebahagiaan atau kenikmatan hidup. Sebaliknya, dengan pendekatan yang fleksibel namun tetap disiplin, seseorang dapat mencapai keseimbangan yang optimal. Bulan Ramadan, dengan tradisi berbuka puasa yang kaya akan ragam kuliner, menjadi momen yang tepat untuk menerapkan filosofi ini.

Penting untuk diingat bahwa "cheating day" yang dilakukan Fanny bukanlah sebuah pemakluman untuk makan secara berlebihan tanpa kendali. Melainkan, ini adalah bentuk relaksasi yang terukur dari aturan ketat, yang memungkinkan dirinya untuk tetap menikmati momen dan hidangan tanpa menimbulkan dampak negatif yang signifikan pada kesehatan atau target jangka panjangnya. Kuncinya terletak pada kesadaran diri, pengendalian diri, dan kemampuan untuk kembali ke pola hidup sehat setelah periode relaksasi tersebut.

Dengan demikian, Fanny Ghassani tidak hanya piawai dalam berakting dan membawakan acara, tetapi juga menunjukkan kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan hidupnya. Ia berhasil memadukan tuntutan profesionalisme dengan kebutuhan personal untuk menikmati momen-momen spesial, menciptakan gaya hidup yang sehat, bahagia, dan berkelanjutan. Komitmennya untuk menjaga berat badan di angka 52 kilogram menjadi bukti nyata bahwa disipilin tetap menjadi fondasi, meskipun ada ruang untuk kenikmatan sesekali. Pendekatan ini patut diapresiasi dan bisa menjadi contoh bagi masyarakat luas dalam menjalani gaya hidup yang lebih sehat dan bahagia.