BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Wulan Guritno, aktris yang dikenal dengan parasnya yang selalu memesona, baru-baru ini membuka luka lama yang sempat membuatnya terpuruk. Pengalaman ini bermula saat wajahnya yang dianggap berbeda antara di media sosial dengan kenyataan, terutama saat syuting film "Norma", menjadi sorotan publik. Pembongkaran oleh netizen ini memicu kembali trauma masa remajanya, membuat Wulan merasa "gak karuan" dan bahkan sempat menarik diri dari dunia maya selama dua hari.

"Itu tuh sudah aku tutupin selama ini, insekuritas aku saat remaja," ujar Wulan Guritno saat ditemui di YouTube Curhat Bang Denny Sumargo, Selasa (16/12/2025). Ungkapan ini menyiratkan betapa dalam luka yang ia rasakan. Wajah "gradakan" yang ia maksud adalah kondisi kulitnya yang tidak selalu mulus, sebuah realitas yang ia coba tutupi selama bertahun-tahun. Ketika kenyataan ini terungkap ke publik, rasa takut dan cemas seketika menghantuinya. Ia khawatir pandangan orang akan berubah, dari yang tadinya menganggapnya "mulus" menjadi melihat kekurangannya.
"Begitu kebongkar muka Wulan gradakan, itu aku gak lihat social media 2 hari, ini beneran. Karena setelah trauma ke-trigger lagi, aku benar-benar gila, orang mikir apa ya, mikir Wulan yang mulus dipikir apa ya, gitu," jelas Wulan dengan nada yang menunjukkan kegelisahan mendalam. Ia mengakui bahwa beban pikiran ini sampai mengganggu konsentrasinya dalam bekerja. Ia merasa tidak fokus, terus memikirkan persepsi orang lain terhadap dirinya.

"Kerja gak fokus, di kepala tuh mikir orang gimana ya. Masih sampai sekarang mikirnya gitu," tuturnya, memperlihatkan betapa kuatnya dampak psikologis dari kejadian tersebut. Wulan Guritno bahkan sempat menangis akibat dibongkar wajah aslinya oleh netizen. Hal ini menunjukkan kerentanan yang ia miliki di balik citra publiknya yang kuat. Perjuangan untuk menerima diri sendiri memang bukan hal yang mudah, apalagi ketika kekurangannya menjadi konsumsi publik.
Namun, Wulan Guritno bukan tipe orang yang menyerah begitu saja. Ia menyadari bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari dirinya. Setelah melalui fase penolakan dan rasa cemas, ia perlahan mulai berproses untuk menerima kondisi kulitnya. "Tapi sekarang sudah menerima, sudah ikhlas, dan sudah bagus kulitnya," katanya dengan nada yang lebih tenang. Ia menambahkan bahwa kulitnya kini sudah membaik, "Sudah 70 persen pulih, tapi trauma masih nempel di badan." Pengakuan ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan fisik, luka emosional masih membutuhkan waktu untuk benar-benar sembuh.

Wulan tak menampik bahwa memiliki wajah yang dianggap "gradakan" sempat membuatnya terbebani dan merasa minder jika dibandingkan dengan artis lain yang tampil sempurna di depan publik. "Ada beban tersendiri karena muka aku harus didempul satu-satu," ungkapnya. Proses "mendempul" ini merujuk pada usaha kerasnya untuk menutupi kekurangan kulitnya dengan makeup agar terlihat mulus di layar. Hal ini tentu membutuhkan usaha ekstra dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
Namun, Wulan selalu mencoba mencari cara untuk mengatasi rasa minder tersebut. Ia memilih untuk fokus pada hal yang bisa ia kontrol, yaitu karyanya. "Tapi aku berusaha meng-cover dengan karya, berprestasi, do more. Itu sedikit membantu melupakan kekurangan aku," ujarnya. Dengan terus berkarya dan menunjukkan prestasinya, Wulan berharap dapat mengalihkan perhatian dari penampilan fisiknya dan menunjukkan bahwa nilai dirinya tidak hanya terletak pada kesempurnaan wajah.

Pengalaman Wulan Guritno ini menjadi pengingat penting bagi kita semua tentang tekanan yang seringkali dihadapi oleh figur publik terkait penampilan fisik. Di era media sosial, batasan antara realitas dan citra diri seringkali kabur, dan standar kecantikan yang tidak realistis dapat menimbulkan luka mendalam bagi siapa saja, bahkan bagi mereka yang terlihat "sempurna" di depan layar. Kisah Wulan adalah bukti perjuangan untuk penerimaan diri, keberanian untuk menunjukkan kerentanan, dan kekuatan untuk bangkit dari trauma, sembari terus menginspirasi banyak orang untuk mencintai diri apa adanya.
Perjuangan Wulan Guritno tidak hanya tentang kulit yang tidak mulus, tetapi juga tentang perjuangan melawan standar kecantikan yang sempit dan penerimaan diri yang tulus. Ia menunjukkan bahwa kecantikan sejati terpancar dari kepercayaan diri dan kemampuan untuk menerima diri sendiri, terlepas dari segala kekurangan yang mungkin ada. Dalam prosesnya, ia menemukan bahwa karyanya, prestasinya, dan semangatnya untuk terus berkarya adalah senjata ampuh untuk mengatasi rasa minder dan membangun kembali kepercayaan dirinya. Ia belajar bahwa fokus pada kelebihan dan terus berusaha memberikan yang terbaik adalah jalan untuk melupakan dan mengatasi ketidaksempurnaan yang ia rasakan. Dukungan dari orang-orang terdekat, seperti yang ia dapatkan di YouTube Curhat Bang Denny Sumargo, juga menjadi faktor penting dalam proses pemulihannya.

Kisah Wulan ini menjadi refleksi bagi banyak wanita yang mungkin juga pernah mengalami hal serupa. Dalam dunia yang serba visual ini, tekanan untuk tampil sempurna sangatlah besar. Wulan Guritno, melalui pengalamannya, mengajarkan kita untuk tidak takut menunjukkan sisi kita yang sebenarnya, untuk tidak terbebani oleh pandangan orang lain, dan untuk senantiasa berjuang menerima dan mencintai diri sendiri. Perjalanannya untuk memulihkan kulitnya yang "gradakan" adalah metafora dari perjalanannya untuk memulihkan luka batin dan membangun kembali kepercayaan dirinya. Meskipun trauma masih membekas, semangatnya untuk terus maju dan menerima dirinya apa adanya patut diacungi jempol. Ia telah membuktikan bahwa kekuatan batin jauh lebih berharga daripada kesempurnaan fisik semata. Kini, dengan kulit yang semakin membaik dan hati yang lebih lapang, Wulan Guritno terus melangkah, menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk berani menjadi diri sendiri dan merangkul segala aspek diri, termasuk ketidaksempurnaan.

