0

Para Legenda Bulutangkis: Merengkuh Gelar All England Terbanyak Sepanjang Masa

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kejuaraan All England, sebuah turnamen bulutangkis yang tidak hanya tertua di dunia tetapi juga menjadi tolok ukur prestise dalam olahraga tepok bulu, terus melahirkan para juara yang namanya terukir abadi dalam sejarah. Diselenggarakan pertama kali pada tahun 1899 di Inggris, turnamen ini telah menyaksikan evolusi yang signifikan, dari format awal yang hanya mempertandingkan nomor ganda, hingga penambahan nomor tunggal di edisi-edisi berikutnya. Sejak tahun 2018, All England mengukuhkan posisinya sebagai turnamen level Super 1000, sebuah peningkatan dari status Super Series pada 2007 dan Super Series Premier pada 2011, menegaskan kembali statusnya sebagai salah satu ajang paling bergengsi di kalender bulutangkis internasional. Sejarah panjang ini telah diwarnai oleh kehadiran para pebulutangkis luar biasa yang berhasil mengoleksi gelar terbanyak, menorehkan prestasi yang sulit ditandingi.

Di antara para legenda tersebut, nama George Alan Thomas bersinar paling terang. Pebulutangkis asal Inggris ini mencatatkan rekor luar biasa dengan total 21 gelar All England yang diraihnya antara tahun 1903 hingga 1928. Gelar-gelar tersebut tersebar di berbagai nomor: empat di tunggal putra, sembilan di ganda putra, dan delapan di ganda campuran. Dominasi Thomas di eranya menunjukkan kualitasnya yang tak tertandingi, menjadikannya salah satu ikon terbesar dalam sejarah bulutangkis. Keberhasilannya bukan hanya tentang jumlah gelar, tetapi juga tentang konsistensi dan kemampuan untuk unggul di berbagai disiplin permainan. Ia menjadi inspirasi bagi generasi pebulutangkis setelahnya, membuktikan bahwa dedikasi dan bakat dapat menghasilkan pencapaian monumental.

Mengikuti jejak Thomas, Frank Devlin, seorang pemain asal Irlandia, juga mengukir namanya dalam sejarah All England dengan raihan impresif 18 gelar. Devlin menunjukkan kehebatannya dengan meraih tiga gelar tunggal putra berturut-turut pada tahun 1926, 1927, dan 1929. Dominasinya di lapangan tidak hanya terbatas pada nomor tunggal, tetapi juga terbukti di nomor ganda. Prestasinya yang konsisten selama bertahun-tahun menjadikannya salah satu pemain paling disegani di zamannya. Keberhasilan Devlin menjadi bukti nyata dari semangat juang dan keterampilan teknis yang tinggi, yang membawanya meraih pengakuan global.

Tak kalah mengagumkan, saudara perempuan Frank Devlin, Judy Devlin, menempati posisi ketiga dalam daftar pemain tersukses dengan total 17 gelar. Keberhasilan Judy di All England tidak hanya menjadikannya salah satu pemain wanita terhebat, tetapi juga menunjukkan bahwa bakat bulutangkis mengalir kuat dalam keluarga Devlin. Ia berhasil mengoleksi gelar di berbagai nomor, membuktikan kemampuannya yang serbaguna. Sejarah mencatat bahwa Judy Devlin adalah pemain wanita yang sangat berpengaruh di eranya, dengan gaya bermain yang elegan dan agresif.

Lebih lanjut, daftar pemain dengan gelar terbanyak terus diperkaya oleh nama-nama lain yang juga memberikan kontribusi signifikan terhadap sejarah All England. Meriel Lucas, yang juga berhasil meraih 17 gelar, berdiri sejajar dengan Judy Devlin, menunjukkan bahwa era tersebut dipenuhi oleh para atlet wanita yang luar biasa. Finn Kobbero, pemain asal Denmark, mencatatkan 15 gelar, menunjukkan dominasinya di kancah Eropa. Betty Uber, dengan 13 gelar, dan Tonny Ahm, dengan 12 gelar, juga merupakan nama-nama yang tak boleh dilupakan dalam daftar ini. Keberhasilan mereka di berbagai nomor dan era yang berbeda menegaskan betapa kaya dan beragamnya sejarah All England.

Tak hanya itu, deretan pemain yang berhasil mengoleksi 11 gelar juga menunjukkan kedalaman talenta yang pernah menghiasi turnamen ini. Di antaranya adalah Ethel Thomson, Margaret Tragett, dan Hazel Hogarth, yang mewakili era awal kejayaan bulutangkis Inggris. Dari Denmark, Erland Kops adalah salah satu pemain tunggal putra tersukses yang meraih 11 gelar. Di era yang lebih modern, Gillian Gilks dan Kirsten Thorndah dari Inggris, serta Gao Ling dari Tiongkok, juga berhasil mengukir prestasi serupa. Keberadaan nama-nama dari berbagai negara dan generasi ini menunjukkan daya tarik universal dan persaingan ketat yang selalu tersaji di All England.

Setiap gelar yang diraih oleh para pemain ini bukan sekadar angka, melainkan bukti dari kerja keras, dedikasi, latihan tanpa henti, dan semangat juang yang membara. All England bukan hanya sebuah turnamen, tetapi juga sebuah panggung di mana para atlet terbaik dunia bersaing untuk meraih kemuliaan, meninggalkan warisan yang menginspirasi generasi mendatang. Kejuaraan ini terus menjadi saksi bisu dari momen-momen epik, rivalitas sengit, dan kehebatan individu yang membentuk lanskap bulutangkis global. Bagi para penggemar bulutangkis, nama-nama seperti George Alan Thomas, Frank Devlin, dan Judy Devlin akan selalu dikenang sebagai perwujudan dari keunggulan dalam olahraga ini, serta sebagai simbol ambisi dan pencapaian tertinggi di All England. Kisah mereka terus hidup, menginspirasi para pemain muda untuk bermimpi besar dan berusaha meraih puncak kejayaan di arena bulutangkis dunia.

Sejarah All England adalah mozaik yang kaya akan prestasi luar biasa. George Alan Thomas dengan 21 gelarnya menjadi mercusuar keunggulan yang tak tertandingi. Frank Devlin, dengan 18 gelar, menunjukkan konsistensi dan dominasi di era keemasannya. Judy Devlin, saudari Frank, mengukir 17 gelar, membuktikan bakat luar biasa yang mengalir dalam keluarganya. Meriel Lucas, juga dengan 17 gelar, berbagi sorotan sebagai salah satu pemain wanita paling sukses. Finn Kobbero dari Denmark mengoleksi 15 gelar, menjadi bukti kekuatan Eropa. Betty Uber dengan 13 gelar dan Tonny Ahm dengan 12 gelar, juga menorehkan jejak yang mendalam. Sederet nama dengan 11 gelar, seperti Ethel Thomson, Margaret Tragett, Hazel Hogarth, Erland Kops, Gillian Gilks, Kirsten Thorndah, dan Gao Ling, semakin melengkapi gambaran tentang kedalaman talenta yang pernah merajai All England. Masing-masing dari mereka telah berkontribusi pada legenda turnamen ini, menciptakan narasi persaingan yang tak terlupakan dan menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia untuk mencintai olahraga bulutangkis.

Lebih dari sekadar jumlah gelar, para pemain ini telah memberikan pelajaran berharga tentang ketekunan, sportivitas, dan semangat pantang menyerah. Mereka telah menjadi duta bulutangkis, memperkenalkan keindahan dan kompleksitas olahraga ini kepada khalayak yang lebih luas. Melalui penampilan mereka di All England, mereka telah memicu imajinasi para penggemar dan mendorong generasi baru atlet untuk mengejar impian mereka. Sejarah All England terus ditulis setiap tahunnya, tetapi pencapaian para legenda ini akan selalu menjadi babak yang paling gemilang, menjadi inspirasi abadi bagi siapa pun yang berani bermimpi untuk meraih kehebatan tertinggi di arena bulutangkis dunia. Turnamen ini, dengan sejarahnya yang panjang dan prestisius, akan terus menjadi panggung bagi para juara masa depan untuk mengukir nama mereka, melanjutkan tradisi keunggulan yang telah dibangun oleh para pahlawan bulutangkis sebelumnya.