0

Mengenal Tyto Alba, Burung Hantu Pemburu Ulung yang Viral Ditembak

Share

Belum lama ini, jagat media sosial dihebohkan dengan sebuah insiden tragis yang melibatkan seekor burung hantu jenis Tyto Alba di Dusun Nela, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seekor burung hantu ditembak mati oleh seorang warga yang merasa terganggu oleh keberadaannya. Aksi penembakan yang direkam dan diunggah ke media sosial ini sontak menuai kecaman dan keprihatinan luas dari masyarakat, memicu diskusi penting tentang perlindungan satwa liar dan kesadaran ekologis.

Kabid Humas Polda NTT Kombes Henry Novika Chandra menjelaskan bahwa terduga pelaku, seorang warga setempat, menggunakan senapan angin untuk menembak burung hantu tersebut hingga mati pada Rabu (14/1) malam. Respons cepat dari jajaran Polres Belu segera menindaklanjuti kasus ini dengan melakukan klarifikasi dan pendalaman. Akibat perbuatannya, terduga pelaku kini berurusan dengan pihak kepolisian dan diproses hukum atas dugaan penganiayaan terhadap hewan yang mengakibatkan kematian, sebagaimana diatur dalam Pasal 337 ayat (2) KUHP Pidana Baru, dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Insiden ini menjadi pengingat pahit tentang bagaimana kurangnya pemahaman tentang peran satwa liar dapat berujung pada tindakan kekerasan yang merugikan, tidak hanya bagi individu hewan, tetapi juga bagi keseimbangan ekosistem.

Tyto Alba: Sang Pemburu Malam dengan Wajah Hati

Peristiwa penembakan Tyto Alba ini menyoroti pentingnya kita mengenal lebih dekat sosok burung hantu yang sering disebut serak jawa, burung hantu lumbung, atau burung hantu gudang ini. Tyto Alba adalah salah satu spesies burung hantu yang paling dikenal dan tersebar luas di dunia, mendiami hampir setiap benua kecuali Antartika dan beberapa wilayah gurun serta kepulauan. Kemampuannya beradaptasi di berbagai habitat menjadikannya salah satu predator nokturnal paling sukses.

Secara fisik, Tyto Alba memiliki penampilan yang sangat mencolok dan mudah dikenali. Kepalanya besar dan bulat, uniknya tanpa jumbai telinga yang sering terlihat pada jenis burung hantu lain. Ciri khas paling menonjol adalah wajahnya yang berbentuk hati, berwarna putih bersih atau krem, yang berfungsi layaknya piringan parabola untuk mengarahkan suara ke telinganya yang asimetris. Mata gelapnya yang besar, menatap tajam ke depan, adalah adaptasi sempurna untuk penglihatan di cahaya redup.

Tubuhnya ditutupi bulu halus berwarna putih atau cokelat muda di bagian bawah, sementara punggung dan kepalanya berwarna cokelat keemasan dengan bintik-bintik hitam dan putih yang bervariasi, memberikan kamuflase yang efektif di antara dedaunan atau struktur bangunan. Sayapnya bulat dan ekornya pendek. Tyto Alba betina cenderung sedikit lebih besar dan berat daripada jantan, dengan berat sekitar 570 gram berbanding 470 gram. Panjang tubuh betina berkisar antara 34 hingga 40 cm, sedangkan jantan 32 hingga 38 cm. Rentang sayap keduanya cukup lebar, mencapai 107 hingga 110 cm. Hingga saat ini, sekitar 35 subspesies Tyto Alba telah diakui, dibedakan berdasarkan variasi ukuran tubuh dan warna bulu yang minor.

Tyto Alba adalah makhluk nokturnal sejati, yang berarti mereka aktif berburu di malam hari. Di siang hari, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bertengger dan beristirahat di tempat-tempat tersembunyi seperti rongga pohon, celah tebing, tepi sungai, lumbung, kotak sarang, menara gereja, atau struktur buatan manusia lainnya yang menawarkan perlindungan. Mereka dapat hidup menyendiri atau berpasangan, dan sebagian besar bersifat menetap di habitatnya, tidak melakukan migrasi jarak jauh. Tingkah laku mereka yang cenderung tenang dan efisien dalam berburu menunjukkan bahwa mereka adalah predator yang sangat terampil, menghabiskan banyak waktu untuk bersantai setelah kebutuhan energi mereka terpenuhi.

Predator Ulung Malam Hari: Strategi Berburu yang Tak Tertandingi

Kemampuan berburu Tyto Alba adalah salah satu yang paling luar biasa di dunia hewan. Mereka adalah predator nokturnal yang sangat efisien, mengandalkan kombinasi penglihatan tajam di cahaya redup, pendengaran yang luar biasa, dan penerbangan senyap untuk menangkap mangsa. Diet utama mereka adalah mamalia kecil seperti tikus, mencit, voles, shrews, dan kelinci kecil. Namun, mereka juga dapat memangsa burung kecil, serangga besar, atau bahkan reptil jika kesempatan muncul.

Proses berburu Tyto Alba dimulai setelah Matahari terbenam. Untuk mendeteksi pergerakan mangsa di padang rumput atau area terbuka, mereka telah mengembangkan penglihatan cahaya redup yang sangat sensitif. Mata mereka yang besar dilengkapi dengan konsentrasi sel batang yang tinggi, memungkinkan mereka melihat dalam kondisi cahaya yang sangat minim. Namun, yang paling menakjubkan adalah kemampuan mereka berburu dalam kegelapan total, di mana penglihatan menjadi tidak relevan. Dalam situasi ini, Tyto Alba sepenuhnya mengandalkan pendengarannya yang super tajam.

Struktur wajah berbentuk hati mereka berfungsi sebagai corong akustik yang mengarahkan gelombang suara ke telinga mereka. Uniknya, telinga Tyto Alba memiliki posisi asimetris, satu sedikit lebih tinggi dari yang lain. Adaptasi ini memungkinkan mereka untuk menentukan lokasi suara mangsa dengan presisi yang luar biasa dalam tiga dimensi – ketinggian, arah, dan jarak. Mereka dianggap sebagai burung yang paling akurat dalam menemukan mangsa hanya berdasarkan suara.

Ciri lain yang menambah keberhasilan berburu mereka adalah bulu-bulu halus dan khusus pada sayapnya. Bulu primer terluar memiliki tepi bergerigi, dan seluruh permukaan bulu memiliki tekstur seperti beludru. Adaptasi ini membantu meredam suara kepakan sayap, memungkinkan Tyto Alba untuk mendekati mangsanya hampir tanpa terdeteksi. Mereka meluncur di atas tanah dengan penerbangan yang sunyi, seringkali hanya 1,5 hingga 4,5 meter di atas permukaan, menunggu momen yang tepat.

Ketika mangsa terdeteksi, Tyto Alba akan menyerang dengan cepat, menjulurkan kakinya ke depan untuk menangkap mangsa dengan cakar yang kuat. Setelah mangsa berhasil digenggam, burung hantu ini akan menggigit bagian belakang tengkorak mangsa dengan paruhnya yang tajam, memastikan kematian instan. Kemudian, mereka akan menelan mangsanya secara utuh, termasuk tulang dan bulu. Bagian yang tidak dapat dicerna akan dimuntahkan kembali dalam bentuk pelet (gumpalan) beberapa jam kemudian, yang seringkali menjadi petunjuk penting bagi para peneliti untuk mempelajari diet mereka.

Peran Ekologis dan Tantangan Konservasi

Sebagai pemburu tikus yang ulung, Tyto Alba memainkan peran ekologis yang sangat vital, terutama di ekosistem pertanian. Peneliti Ahli Madya yang juga Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yudhistira Nugraha, menegaskan bahwa Tyto Alba memiliki kemampuan memangsa tikus dalam jumlah signifikan di alam terbuka. Seekor burung hantu dewasa mampu memakan beberapa ekor tikus per malam. Ini menjadikan mereka agen pengendali hama alami yang sangat efektif, mengurangi ketergantungan petani pada pestisida kimia yang dapat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Di banyak negara, Tyto Alba sengaja dipelihara atau dilindungi di sekitar lahan pertanian untuk membantu mengendalikan populasi tikus yang merusak tanaman padi, jagung, dan komoditas pertanian lainnya. Keberadaan mereka dapat secara signifikan mengurangi kerugian ekonomi yang disebabkan oleh serangan hama pengerat.

Namun, Yudhistira Nugraha juga mengingatkan bahwa penggunaan burung hantu sebagai pengendali hama memerlukan pengelolaan yang cermat. Jika populasi Tyto Alba tidak dikendalikan dengan baik dan sumber makanan utama mereka, yaitu tikus, menipis secara drastis, mereka bisa beralih memangsa spesies lain seperti burung kecil, kelelawar, atau bahkan ternak kecil. "Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengganggu keseimbangan ekosistem lokal. Oleh karena itu, diperlukan pemantauan dan pengaturan populasi secara berkelanjutan," kata Yudhistira, dikutip dari situs resmi BRIN. Ini adalah peringatan penting bahwa intervensi manusia dalam ekosistem, bahkan dengan niat baik, harus selalu dilakukan dengan pemahaman mendalam dan perencanaan yang matang.

Meskipun secara global Tyto Alba dikategorikan dalam status "Least Concern" (risiko terendah) oleh IUCN karena persebarannya yang luas, populasi lokal mereka tetap menghadapi berbagai ancaman. Hilangnya habitat akibat deforestasi dan urbanisasi, penggunaan pestisida yang dapat meracuni rantai makanan, serta perburuan langsung seperti yang terjadi di Belu, menjadi faktor-faktor yang dapat menekan populasi mereka. Selain itu, mitos-mitos negatif yang mengaitkan burung hantu dengan hal-hal mistis juga seringkali menjadi pemicu persekusi terhadap mereka.

Pentingnya Edukasi dan Penegakan Hukum

Insiden penembakan Tyto Alba di Belu adalah cerminan dari kurangnya edukasi dan kesadaran masyarakat akan pentingnya satwa liar dalam ekosistem. Tindakan semacam ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga menunjukkan ketidakpedulian terhadap kehidupan makhluk lain yang memiliki peran vital bagi lingkungan kita. Penegakan hukum berdasarkan Pasal 337 ayat (2) KUHP Pidana Baru menjadi sangat penting untuk memberikan efek jera dan menegaskan bahwa perlakuan kejam terhadap hewan tidak dapat ditoleransi.

Lebih dari sekadar hukuman, peristiwa ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi ekologi masyarakat. Memahami bahwa "gangguan" yang dirasakan dari seekor burung hantu mungkin sebenarnya adalah bagian dari upaya alami menjaga keseimbangan lingkungan adalah langkah awal. Tyto Alba, dengan segala keunikan dan kehebatannya sebagai pemburu, adalah aset berharga bagi pertanian dan ekosistem kita. Melindungi mereka berarti melindungi keseimbangan alam dan pada akhirnya, melindungi kualitas hidup kita sendiri. Mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikan Tyto Alba, sang pemburu ulung malam hari, agar mereka dapat terus menjalankan perannya sebagai penjaga alam yang tak tergantikan.