Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar… Laa Ilaaha Illa Allah Allahu Akbar… Allahu Akbar Wa Lillaahilhamd…
Suasana malam kemenangan tahun ini terasa begitu unik sekaligus penuh warna di kampung kami. Fenomena perbedaan penetapan 1 Syawal kembali menyapa, menciptakan harmoni yang tidak biasa namun tetap syahdu. Sejak Kamis malam, gema takbir sudah bersahut-sahutan. Sebagian warga Muhammadiyah yang memegang teguh metode hisab telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 20 Maret 2026. Sementara itu, jamaah Rifaiyah dan sebagian warga lainnya memilih untuk tetap menanti keputusan sidang isbat pemerintah.
Ada pemandangan yang menyejukkan hati di malam Jumat itu. Di satu sisi, masjid Muhammadiyah mengumandangkan takbir dengan khidmat, sementara di sisi lain, musholla jamaah Rifaiyah mengisi malam dengan qabalan dan tadarus Al-Qur’an. Keduanya tidak saling menegasikan, apalagi berselisih. Alunan suara dari pengeras suara masjid dan musholla justru saling bersahutan, menciptakan simfoni keimanan yang meramaikan malam yang berkah tersebut. Tidak ada kesan saling mengejek, yang ada justru semangat kolektif untuk menghidupkan syiar agama di tanah kelahiran kami.
Namun, memasuki malam kedua, suasana berubah drastis. Setelah pemerintah mengumumkan bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026, antusiasme masyarakat seolah meledak. Malam takbiran kali ini tidak lagi hanya berpusat di masjid atau musholla. Jalan-jalan kampung seketika berubah menjadi arena karnaval suara. Mobil-mobil bak terbuka yang dilengkapi dengan sound system "horeg" versi mini berkeliling kampung, diikuti oleh rombongan pemuda bermotor yang bising dan gegap gempita.
Mas’ad, seorang pemuda setempat yang dikenal kritis namun humoris, sudah bersiap-siap mengenakan baju koko dan sarung untuk berangkat ke masjid. Ia hendak bergabung dengan teman-temannya untuk takbiran secara konvensional. Namun, sebelum melangkah keluar pintu, ia melihat kakeknya, Mbah Mad, sedang duduk termenung di kursi teras rumah. Pria sepuh itu tampak gelisah memperhatikan lalu lalang mobil takbiran yang suaranya memecah kesunyian malam.
Melihat Mbah Mad yang biasanya ceria kini tampak murung, Mas’ad mendekat perlahan. "Enten nopo, Mbah? Kok diam-diam bae, tidak seperti biasanya yang semangat kalau malam takbiran?" tanya Mas’ad lembut.
Mbah Mad menghela napas panjang, matanya mengikuti mobil takbiran yang baru saja melintas dengan dentuman bass yang menggetarkan kaca jendela. "Kwi lo, Mas’ad. Ngapain sih wong-wong do kleleng-kleleng turut ndalan gawa mobil takbiran? Donge ya takbiran nang masjid! Ibadah itu ya di tempat ibadah, bukan malah keliling jalanan kayak pawai politik," keluh Mbah Mad dengan nada jengkel.
Mas’ad terdiam, membiarkan kakeknya menumpahkan unek-uneknya. Mbah Mad melanjutkan, "Nek takbiran nang masjid kan luwih apik, sekalian i’tikaf. Akeh jajanane, napa malih pastinya bakal ditiliki Malaikat Rahmat. Malaikat itu turun untuk menehi berkah kepada orang-orang yang sedang berdzikir di rumah Allah. Itu jelas berkah, jelas dapat pahala. Lha nek kleleng-kleleng koyo kuwi, lha kepriye? Sing takbiran malah mobile, suarane banter tapi atine ora nang Gusti Allah. Haduh, wong kok malah gawe mubazir waktu."
Mendengar petuah Mbah Mad yang penuh dengan kekhawatiran khas orang tua, Mas’ad sebenarnya paham. Namun, logika humorisnya tiba-tiba muncul. Ia membayangkan skenario yang baru saja dilontarkan kakeknya. Sesaat kemudian, Mas’ad tidak bisa menahan tawanya. "Wkwkwkwkwk!" suara tawanya pecah di teras rumah.

Mbah Mad melirik cucunya dengan bingung. "Lho, malah ngguyu? Opo sing lucu?"
Mas’ad berusaha menghentikan tawanya meski masih tersengal. "Hehehe, Mbah, berarti kalau begitu Malaikat Rahmat ya ketipu dong? Mereka datang ke kampung kita karena dengar suara takbiran, eh pas sampai sini yang takbiran malah mobil bak terbuka. Malaikatnya pasti bingung, ‘Lho, kok takbirannya ada rodanya?’"
Mendengar celetukan cucunya, Mbah Mad yang tadinya marah besar mendadak terpingkal-pingkal. Ia memegangi perutnya sambil tertawa sampai matanya berair. "Ya Allah, ana-ana bae bocah! Kok nduwe pikiran ana malaikat ketipu. Haha, lucu tenan. Terus malaikate bali nang langit wadul mbi kanca-kancane, ‘Nyong bar ketipu, niate golet wong takbiran jebul malah nemu mobil sora’. Astaghfirullah, Mas’ad, ada-ada saja pikiranmu!"
Mbah Mad kemudian ikut-ikutan berimajinasi, memperkaya lelucon tersebut. "Iya ya, bayangkan malaikat lapor ke malaikat lain, ‘Gara-gara speaker horeg itu, aku salah alamat.’ Hahaha, bisa-bisanya kamu berpikir malaikat bisa ketipu gara-gara teknologi manusia."
Keduanya tertawa bersama, larut dalam obrolan hangat yang jarang terjadi. Bagi Mbah Mad dan Mas’ad, momen ini adalah pengingat bahwa agama memang harus dijalankan dengan keseriusan, namun tidak perlu membuat kita kehilangan akal sehat dan selera humor dalam melihat realitas sosial.
"Wes, wes, wis cukup ngguyune," Mbah Mad mengakhiri tawanya sambil menepuk bahu Mas’ad. "Sana, mangkat takbiran sekarang. Takbirane nang masjid, takbiran temenan, yang khusyuk dan ikhlas. Ojo ngapusi malaikat, ndak kuwalat. Kalau takbiran di masjid, Malaikat Rahmat pasti datang membawa berkah, bukan malah bingung nyari mana orangnya dan mana mobilnya."
Mas’ad mengangguk patuh. Ia mencium tangan Mbah Mad sebelum beranjak pergi menuju masjid. Malam itu, di tengah gegap gempita suara sound system yang mengguncang jalanan, Mas’ad berjalan tenang menuju masjid. Ia membawa pesan Mbah Mad di dalam hatinya: bahwa ibadah adalah tentang kehadiran hati, bukan sekadar riuh rendah suara yang dipancarkan oleh alat-alat elektronik.
Di masjid, Mas’ad duduk bersila di antara jamaah lainnya. Ia mulai melantunkan takbir dengan suara yang tenang namun mantap. Di sana, di dalam rumah Allah, ia merasa suasana jauh lebih damai. Ia tidak lagi memikirkan apakah malaikat tertipu oleh mobil takbiran atau tidak. Yang ia tahu, di masjid inilah tempat yang tepat untuk melabuhkan rasa syukur atas berakhirnya bulan Ramadan, sembari berharap keberkahan benar-benar turun kepada mereka yang bersungguh-sungguh mencari ridho-Nya, bukan kepada mereka yang hanya sekadar memeriahkan jalanan dengan polusi suara.
Malam itu, di kampung Srinahan, 1 Syawal 1447 H, menjadi pengingat bahwa di balik perbedaan metode penentuan hari raya dan gaya dalam beribadah, esensi dari takbiran tetaplah mengagungkan kebesaran Allah. Dan bagi Mas’ad, ia sudah mendapatkan pelajaran berharga dari Mbah Mad: jangan sampai niat ibadah yang suci justru kehilangan esensinya karena terbawa arus tren yang tidak substansial. Ia pun takbir dengan khidmat, menutup malam dengan kedamaian yang sesungguhnya.

