BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perjalanan Kepa Arrizabalaga di kancah final Carabao Cup bak sebuah kisah yang diwarnai keberuntungan yang enggan berpihak. Tiga kali mencapai partai puncak, tiga kali pula ia harus merasakan pahitnya kekalahan, dan dua kali di antaranya meninggalkan jejak kontroversi serta momen-momen yang sangat disayangkan. Terbaru, kiper asal Spanyol ini kembali menjadi sorotan dalam kekalahan Arsenal dari Manchester City di Stadion Wembley pada Minggu, 22 Maret 2026. Blunder fatal yang dilakukannya di menit ke-64, yang berujung pada gol pembuka Nico O’Reilly, menjadi titik balik yang tak terhindarkan dalam pertandingan tersebut.
Momen nahas itu bermula ketika Kepa, yang berusaha mengamankan umpan silang dari Rayan Cherki, justru gagal mengontrol bola dengan sempurna. Bola terlepas dari genggamannya, menciptakan peluang emas bagi Nico O’Reilly yang dengan sigap menyundul bola ke gawang yang kosong melompong. Gol ini seolah menjadi pukulan telak bagi Arsenal, yang kemudian harus kembali kebobolan dua menit berselang melalui sundulan O’Reilly yang memanfaatkan umpan silang lainnya. Kekalahan ini bukan sekadar kekalahan biasa bagi Kepa, melainkan sebuah pengulangan pola yang menyakitkan di final Carabao Cup.
Sebelumnya, Kepa telah merasakan getirnya kekalahan di final yang sama bersama klub lamanya, Chelsea. Final Carabao Cup musim 2018/2019 menjadi salah satu momen paling diingat, dan sekaligus paling diperdebatkan, dalam karier Kepa. Saat itu, Chelsea yang dilatih oleh Maurizio Sarri berhadapan dengan Manchester City. Dalam sebuah situasi krusial, ketika Sarri bermaksud mengganti Kepa dengan Willy Caballero, sang kiper secara kontroversial menolak untuk keluar dari lapangan. Kepa bersikeras bahwa ia hanya mengalami kram dan merasa mampu melanjutkan pertandingan. Namun, Sarri sendiri kemudian menjelaskan bahwa ia salah paham dan mengira Kepa mengalami cedera serius yang mengharuskannya diganti. Kejadian ini, meskipun diklaim sebagai kesalahpahaman, meninggalkan kesan yang kurang baik dan memicu perdebatan sengit tentang disiplin dan komunikasi di lapangan.
Pada akhirnya, Chelsea harus mengakui keunggulan Manchester City dalam adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 0-0 selama waktu normal dan perpanjangan waktu. Kegagalan Kepa dalam momen krusial tersebut, ditambah dengan penolakannya untuk diganti, semakin menambah daftar panjang momen-momen buruk yang ia alami di final Carabao Cup.
Dua musim kemudian, pada final Carabao Cup 2021/2022, Kepa kembali menjadi bagian dari skuad Chelsea yang berhadapan dengan Liverpool. Pertandingan kali ini kembali berakhir imbang 0-0, memaksa kedua tim untuk menentukan pemenang melalui drama adu penalti. Saat skor adu penalti mencapai 10-10, giliran Kepa yang maju sebagai penendang ke-11 bagi Chelsea. Namun, alih-alih menjadi pahlawan, bola eksekusi Kepa justru melenceng jauh dari sasaran, memberikan kemenangan bagi Liverpool. Momen ini menjadi penutup yang pahit bagi Kepa, yang kembali harus merasakan kekecewaan di final yang sama.
Tiga final Carabao Cup, tiga kekalahan, dan dua momen yang sangat disorot. Catatan ini menjadikan Kepa sebagai figur yang sering dikaitkan dengan nasib sial di turnamen ini. Lebih ironis lagi, nasib serupa juga menghantuinya di ajang Piala FA, di mana ia juga tercatat telah tiga kali menjadi runner-up bersama Chelsea.
Rentetan kekalahan dan momen-momen yang kurang menguntungkan di partai puncak ini menimbulkan pertanyaan tentang "kutukan" yang seolah melekat pada Kepa Arrizabalaga di final-final penting. Apakah ini hanya sekadar kebetulan yang disayangkan, ataukah ada faktor lain yang lebih dalam yang mempengaruhi penampilannya di momen-momen krusial?
Kepa, yang dikenal sebagai kiper dengan refleks cepat dan kemampuan penyelamatan yang mumpuni, seringkali berada di bawah sorotan tajam ketika performanya tidak sesuai harapan, terutama di pertandingan besar. Final Carabao Cup telah menjadi panggung yang secara konsisten menampilkan sisi lain dari perjalanannya, sebuah sisi yang penuh dengan tekanan, ekspektasi, dan pada akhirnya, kekecewaan.
Sejak kepindahannya ke Chelsea dengan status kiper termahal di dunia pada tahun 2018, Kepa telah menghadapi berbagai tantangan. Kepindahannya ke Arsenal pada musim ini, dengan harapan dapat menemukan kembali performa terbaiknya, tampaknya belum mampu memutus lingkaran nasib buruknya di final Carabao Cup. Pertandingan melawan Manchester City, meskipun menjadi kesempatan untuk membuktikan diri, justru kembali menambahkan babak baru pada kisah traumatisnya di turnamen ini.
Masa depan Kepa di kancah sepak bola profesional tentu masih panjang, namun pengalaman pahit di tiga final Carabao Cup ini akan menjadi pelajaran berharga yang kemungkinan besar akan terus membekas. Pertanyaannya adalah, apakah ia mampu bangkit dari bayang-bayang momen-momen buruk tersebut dan menulis ulang takdirnya di masa depan, ataukah trauma final Carabao Cup akan terus menghantuinya sebagai pengingat akan momen-momen yang disayangkan dalam kariernya yang gemilang?
Para pengamat sepak bola dan penggemar akan terus mengamati bagaimana Kepa Arrizabalaga akan menghadapi tekanan dan ekspektasi di pertandingan-pertandingan mendatang. Kemampuan mentalnya untuk bangkit dari kekecewaan dan kesalahan akan menjadi kunci utama dalam menentukan apakah ia dapat melampaui catatan buruknya di final Carabao Cup dan meraih kesuksesan yang lebih besar di masa depan. Sejauh ini, kisah Kepa di final Carabao Cup adalah pengingat yang kuat bahwa dalam sepak bola, bahkan pemain bertalenta sekalipun bisa saja terjebak dalam momen-momen yang menentukan dan membentuk persepsi publik tentang mereka.

