Sektor teknologi global saat ini tengah menghadapi krisis kelangkaan chip yang semakin memburuk, sebuah fenomena yang dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah lonjakan permintaan untuk pengembangan dan implementasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang tak terduga. Di tengah gejolak rantai pasokan global ini, Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, diidentifikasi memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi pemain kunci dalam industri semikonduktor dunia. Momentum ini dilihat sebagai peluang emas bagi bangsa untuk tidak hanya mengatasi ketergantungan impor, tetapi juga untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) secara proaktif mendorong pergeseran paradigma menuju produksi semikonduktor bernilai tinggi, sebuah langkah strategis yang diharapkan akan membuka gerbang peluang ekonomi baru serta meningkatkan posisi Indonesia dalam konstelasi industri teknologi global. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan urgensi bagi Indonesia untuk segera mengintegrasikan diri ke dalam rantai pasokan global semikonduktor. Menurutnya, ini adalah langkah paling realistis dan mendesak yang harus diambil dalam waktu dekat untuk membangun fondasi yang kuat.
"Kita masuk dulu ke rantai pasokan global. Di komponen yang strategis, kita harus ada. Dari situ daya tawar Indonesia akan tumbuh," ujar Nezar dalam audiensi dengan PT Sat Nusapersada Tbk di Kantor Kementerian Komdigi, seperti dikutip dari siaran pers Komdigi, Kamis (29/1/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi visi pemerintah untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan juga produsen yang memiliki kekuatan tawar di pasar global. Pendekatan bertahap, dimulai dengan komponen-komponen strategis, dianggap sebagai jalan paling efektif untuk membangun kapabilitas dan kredibilitas.
Salah satu modal awal terkuat yang dimiliki Indonesia adalah cadangan pasir silika yang melimpah ruah. Pasir silika merupakan bahan baku esensial dalam pembuatan silicon wafer, komponen utama yang membentuk inti setiap chip semikonduktor. Keberadaan sumber daya vital ini di dalam negeri memberikan keunggulan komparatif yang signifikan. Proses dari pasir silika mentah hingga menjadi silicon wafer adalah tahapan krusial dan kompleks dalam manufaktur semikonduktor, melibatkan pemurnian ekstensif, peleburan, kristalisasi menjadi ingots, dan kemudian pemotongan presisi menjadi wafer tipis. Memiliki kendali atas bahan baku ini pada dasarnya memberikan Indonesia sebuah leverage strategis yang tak ternilai.
Nezar menjelaskan lebih lanjut bahwa ledakan industri AI telah memicu peningkatan kebutuhan akan silicon wafer secara eksponensial. Permintaan yang sangat tinggi ini, dikombinasikan dengan kelangkaan chip global yang sedang terjadi, menciptakan peluang emas bagi negara-negara yang memiliki cadangan bahan baku melimpah seperti Indonesia. "Permintaan silicon wafer sangat tinggi karena industri AI berkembang pesat. Ini momentum yang jarang dan harus dimanfaatkan," ungkapnya dengan nada optimis, menekankan bahwa Indonesia tidak boleh melewatkan kesempatan historis ini.
Selain kekayaan sumber daya alam, posisi geopolitik Indonesia yang netral di tengah ketegangan global juga dinilai sangat strategis. Netralitas ini menjadikan Indonesia destinasi yang menarik bagi berbagai mitra internasional, baik dari Barat maupun Timur, yang mencari lokasi investasi stabil dan aman untuk fasilitas produksi semikonduktor mereka. Pemerintah melihat peluang besar untuk menarik investasi dari berbagai negara sekaligus memastikan terjadinya transfer teknologi yang substansial. "Yang kita kejar itu transfer teknologi. Kalau hanya tenaga kerja, dampak jangka panjangnya kecil," ucap Wamenkomdigi, menegaskan prioritas pada pembangunan kapabilitas internal dan penguasaan teknologi.
Visi Komdigi tidak berhenti pada produksi bahan baku atau komponen dasar. Pemerintah menargetkan untuk menumbuhkan ekosistem industri nasional yang kuat. Untuk mencapai tujuan ini, Komdigi telah mengimplementasikan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Melalui kebijakan ini, produk-produk teknologi seperti handphone, komputer genggam, dan tablet yang dipasarkan di Indonesia wajib memenuhi TKDN minimal 35%. Kebijakan ini dirancang untuk merangsang pertumbuhan industri komponen lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Menurut Nezar, kebijakan TKDN secara efektif membuka ruang bagi tumbuhnya rantai pasok dalam negeri. Dengan adanya kewajiban penggunaan komponen lokal, produksi di dalam negeri akan berkembang seiring meningkatnya kebutuhan komponen tersebut. Ini menciptakan efek domino yang positif, mendorong investasi di sektor manufaktur komponen, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kapabilitas teknis industri lokal. TKDN bukan sekadar angka, melainkan instrumen strategis untuk mematangkan ekosistem industri teknologi Indonesia.
Melalui serangkaian langkah strategis ini, pemerintah menargetkan agar industri teknologi nasional dapat naik kelas. Ambisinya adalah agar Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai perakit atau pasar bagi produk teknologi asing, melainkan menjadi pemain yang ikut menentukan arah industri semikonduktor global. Ini berarti bergerak melampaui perakitan sederhana menuju desain, fabrikasi, dan pengembangan teknologi inti. Transformasi ini diharapkan akan menciptakan manfaat ekonomi yang jauh lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat, mulai dari penciptaan lapangan kerja berkualitas tinggi, peningkatan pendapatan per kapita, hingga penguatan kedaulatan teknologi bangsa.
Namun, perjalanan menuju status produsen semikonduktor global bukanlah tanpa tantangan. Investasi yang dibutuhkan sangat masif, mencapai miliaran dolar untuk pembangunan fasilitas pabrik (fab) modern yang memerlukan lingkungan ultra-bersih (clean room) dan peralatan presisi tinggi. Selain itu, kompleksitas teknologi dalam desain dan manufaktur chip membutuhkan keahlian tingkat tinggi dan sumber daya manusia yang terampil, mulai dari insinyur mikroelektronika hingga teknisi spesialis. Indonesia perlu berinvestasi besar-besaran dalam pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), pelatihan vokasi, dan menarik talenta-talenta diaspora yang tersebar di seluruh dunia.
Persaingan dari pemain-pemain global yang sudah mapan seperti Taiwan, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa juga sangat ketat. Negara-negara ini telah menginvestasikan triliunan dolar dan puluhan tahun dalam pengembangan industri semikonduktor mereka. Oleh karena itu, Indonesia perlu mengembangkan strategi niche yang cerdas, mungkin dimulai dari segmen-segmen tertentu dalam rantai pasokan seperti bahan baku, pengujian, atau pengemasan (packaging), sebelum secara bertahap naik ke tahap desain dan fabrikasi chip yang lebih kompleks.
Selain itu, aspek infrastruktur pendukung juga krusial. Industri semikonduktor membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan berlimpah, air bersih dalam jumlah besar, serta sistem logistik yang efisien. Pemerintah harus memastikan ketersediaan infrastruktur ini di kawasan industri yang ditargetkan. Isu keberlanjutan dan dampak lingkungan juga harus menjadi perhatian utama, mengingat konsumsi energi dan air yang tinggi dalam proses manufaktur semikonduktor.
Meskipun tantangan yang dihadapi besar, potensi imbalan jangka panjang bagi Indonesia jauh lebih besar. Menjadi produsen semikonduktor bukan hanya tentang kemandirian teknologi, tetapi juga tentang menciptakan pusat inovasi, mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan meningkatkan daya saing bangsa di panggung global. Kelangkaan chip global yang diperparah oleh permintaan AI adalah seruan bangun bagi Indonesia untuk memanfaatkan keunggulan komparatifnya dan berani mengambil langkah ambisius ini. Dengan perencanaan matang, investasi berkelanjutan, dan determinasi kolektif dari pemerintah, industri, dan akademisi, mimpi Indonesia menjadi produsen semikonduktor global yang diperhitungkan dapat terwujud, membawa bangsa ini ke era baru kemajuan teknologi dan kemandirian ekonomi. Ini adalah momen krusial untuk menorehkan sejarah dan mengubah masa depan industri teknologi nasional.

