Sekilas, Shahed tampak biasa saja jika dibandingkan dengan teknologi senjata mutakhir yang sering kali menjadi sorotan. Bentuknya yang sederhana, kecepatan yang relatif rendah, dan muatan yang tidak terlalu besar membuat analis militer terkadang meremehkannya, bahkan menjulukinya sebagai "rudal jelajah orang miskin." Namun, di balik kesederhanaannya, terdapat keampuhan strategis yang tak terbantahkan. Meskipun sekutu AS berhasil mencegat sebagian besar drone ini dengan sistem pertahanan canggih seperti rudal Patriot yang dipasok AS, banyak drone Shahed tetap berhasil mencapai sasarannya, menimbulkan kerusakan, dan yang lebih penting, menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi pihak bertahan.
Kunci efektivitas drone ini, seperti yang diungkapkan oleh berbagai analisis, terletak pada jumlahnya. Drone Shahed relatif murah dan mudah diproduksi secara massal, terutama jika dibandingkan dengan sistem pertahanan udara canggih yang digunakan untuk menangkisnya. Faktor-faktor ini membuat drone Shahed ideal untuk serangan bergerombol, sebuah taktik yang dirancang untuk membanjiri dan membebani sistem pertahanan udara musuh. Setiap drone yang berhasil dicegat oleh rudal pencegat canggih berarti terkurasnya aset pertahanan yang jauh lebih berharga, menciptakan ketimpangan biaya yang mencolok dan tidak berkelanjutan bagi pihak yang bertahan.
Patrycja Bazylczyk, seorang analis Missile Defense Project di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menegaskan, "Shahed-136, di antara sistem udara tak berawak lainnya, telah memberikan negara-negara seperti Rusia dan Iran cara murah untuk membebankan biaya yang tidak proporsional kepada musuh." Pernyataan ini menggarisbawahi inti dari strategi asimetris yang diterapkan Iran: menggunakan alat yang murah namun dalam jumlah besar untuk menguras sumber daya musuh yang jauh lebih kaya dan berteknologi maju.
Laporan pemerintah AS menggambarkan Shahed-136 sebagai drone serangan satu arah (kamikaze drone) yang diproduksi oleh entitas Iran yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam. Dibandingkan dengan rudal balistik atau rudal jelajah konvensional, drone ini terbang rendah dan lambat, membawa muatan yang relatif kecil, dan biasanya mengincar target tetap. Namun, karakteristik ini, yang pada awalnya mungkin terlihat sebagai kelemahan, justru menjadi kekuatan tersendiri. Terbang rendah membuatnya sulit dideteksi oleh radar tertentu, sementara kecepatannya yang lambat memungkinkan perencanaan jalur yang lebih fleksibel.
Perbedaan biaya antara drone Shahed dan sistem pertahanan yang melawannya sangat signifikan. Satu unit drone Shahed diperkirakan berharga antara USD 20.000 hingga USD 50.000. Angka ini sangat kontras dengan rudal balistik dan rudal jelajah yang harganya bisa mencapai jutaan dolar per unit. Lebih jauh lagi, sistem pertahanan udara yang digunakan oleh negara-negara Teluk dan Israel, seperti rudal pencegat Patriot, dapat memakan biaya USD 3 juta hingga USD 12 juta per rudal pencegat, menurut anggaran Departemen Pertahanan AS. Ini berarti, untuk setiap drone Shahed senilai puluhan ribu dolar yang berhasil ditembak jatuh, pihak bertahan mungkin menghabiskan rudal pencegat senilai jutaan dolar.
"Shahed dan sejenisnya pada dasarnya berfungsi sebagai ‘rudal jelajah orang miskin’ yang menawarkan cara menyerang dan mengganggu musuh dengan biaya murah," ungkap Behnam Ben Taleblu, direktur senior di Foundation for Defense of Democracies. Bagi Iran, sebuah negara yang menghadapi sanksi internasional berat dan keterbatasan dalam memperoleh senjata canggih dari pasar global, keuntungan biaya ini sangatlah signifikan. Drone ini memungkinkan Teheran untuk memproyeksikan kekuatan dan menimbulkan ancaman nyata tanpa harus memiliki anggaran militer sebesar negara-negara adidaya.
Ketimpangan biaya yang mencolok ini memunculkan masalah serius bagi musuh Iran. Sistem pertahanan udara, meskipun canggih, memiliki jumlah rudal pencegat yang terbatas dalam persediaannya. Drone Shahed dapat digunakan secara efektif untuk melemahkan persediaan rudal pencegat ini, membuka jalan bagi serangan yang lebih merusak dari rudal balistik atau pesawat berawak di kemudian hari. "Logikanya adalah menghabiskan drone di awal pertempuran sambil menghemat rudal balistik untuk jangka panjang," kata Bazylczyk dari CSIS, menjelaskan strategi penggunaan drone ini sebagai umpan atau pembuka jalan.
Amerika Serikat telah berupaya keras untuk mengganggu produksi Shahed-136, termasuk dengan menjatuhkan sanksi baru kepada pihak-pihak yang dicurigai sebagai pemasok komponen. Namun, keberhasilan Rusia dalam memproduksi drone Shahed, yang mereka namakan Geran-2, menunjukkan bahwa sistem semacam itu tetap dapat diproduksi dalam skala besar di tengah sanksi yang ketat. Ini disebabkan oleh penggunaan komponen komersial yang tersedia di pasaran (commercial off-the-shelf/COTS) dalam desain Shahed, yang membuatnya lebih sulit untuk sepenuhnya dihentikan melalui sanksi rantai pasokan.
Pejabat AS mengklaim bahwa Iran telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone dalam konflik tersebut hingga hari Rabu tertentu, sebuah angka yang mencengangkan. Meskipun demikian, Iran diyakini memiliki persediaan yang sangat besar dan mungkin mampu memproduksi ratusan unit setiap minggunya. Kapasitas produksi massal ini memberikan Iran keunggulan strategis yang signifikan, memungkinkan mereka untuk mempertahankan tekanan dan ancaman berkelanjutan.
Joze Pelayo dari Atlantic Council memperingatkan, "Negara-negara Teluk berisiko kehabisan rudal pencegat mereka kecuali mereka lebih bijaksana dalam memutuskan kapan harus menembakkannya." Peringatan ini menyoroti dilema yang dihadapi oleh negara-negara yang diserang: apakah menembak jatuh setiap drone murah dan menguras persediaan rudal mahal, atau membiarkan beberapa drone lewat dengan risiko kerusakan.
Shahed-136 pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 2021 dan mulai menarik perhatian global setelah Rusia secara masif mengerahkannya saat invasi ke Ukraina. Kremlin tidak hanya menerima ribuan drone tersebut tetapi juga mulai memproduksinya secara lokal berdasarkan cetak biru dan teknologi dari Iran. Penggunaan intensif di Ukraina menjadi "laboratorium" tempur yang berharga, memberikan data dan pengalaman yang digunakan Iran untuk terus menyempurnakan desainnya.
Beberapa analis berpendapat bahwa Iran telah belajar banyak dari pengalaman tempur Rusia di Ukraina. Pengetahuan ini telah memicu modifikasi signifikan pada drone Shahed, termasuk penambahan antena anti-jamming yang meningkatkan ketahanan terhadap peperangan elektronik, sistem navigasi yang lebih tahan terhadap gangguan, dan hulu ledak baru yang mampu membawa 30 kg hingga 50 kg bahan peledak. Peningkatan ini membuat drone Shahed menjadi lebih mematikan dan sulit dilumpuhkan.
Michael Connell, seorang spesialis Timur Tengah di Center for Naval Analyses, bahkan mengungkapkan bahwa Shahed-136 terbukti sangat efektif sehingga Amerika Serikat sendiri merekayasa balik teknologinya dan mengerahkan versi mereka sendiri di medan perang, khususnya melawan Iran. Dalam salah satu serangannya ke Iran, Komando Pusat AS mengonfirmasi penggunaan drone yang meniru model Shahed untuk pertama kalinya, sebuah pengakuan implisit atas efektivitas dan relevansi desain Iran tersebut dalam peperangan modern.
Secara keseluruhan, keampuhan drone murah Iran yang dijuluki ‘rudal orang miskin’ bukan hanya terletak pada kemampuannya untuk mencapai target, melainkan pada kemampuannya untuk mengubah dinamika konflik, menciptakan ketimpangan biaya yang merugikan lawan, dan memaksa negara-negara maju untuk beradaptasi dengan ancaman baru yang berasal dari teknologi yang relatif sederhana namun diproduksi secara massal. Shahed telah membuktikan bahwa di era modern, inovasi strategis dan efisiensi biaya bisa menjadi sama, jika tidak lebih, pentingnya daripada kecanggihan teknologi semata. Drone ini telah membuka babak baru dalam peperangan asimetris, di mana "murah" tidak lagi berarti "lemah," melainkan "strategis."

