Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ultimatum keras yang mengancam akan meluluhlantakkan infrastruktur sipil Iran. Menanggapi ancaman tersebut, militer Iran tidak tinggal diam dan menegaskan bahwa setiap agresi terhadap fasilitas vital negara mereka akan dibalas dengan serangan yang jauh lebih dahsyat dan meluas. Konflik yang berpusat pada penutupan Selat Hormuz ini kini berubah menjadi perang urat saraf yang berpotensi memicu eskalasi militer skala besar, mengingat posisi strategis selat tersebut sebagai nadi energi global.
Situasi memanas setelah Trump, melalui platform media sosial Truth Social, memberikan peringatan ultimatum kepada Teheran. Dalam unggahannya yang sarat dengan retorika agresif, Trump menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali akses Selat Hormuz. Ia secara spesifik menyebutkan bahwa jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, maka hari Selasa akan menjadi "Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan" bagi Iran—sebuah isyarat bahwa AS siap menghancurkan fasilitas vital yang menopang kehidupan warga sipil di negara tersebut. Trump bahkan menggunakan bahasa yang kasar dalam peringatannya, menegaskan bahwa penolakan Iran akan membuat mereka "hidup di neraka."
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, sebagai otoritas komando militer Iran, merespons ancaman tersebut dengan pernyataan yang sangat tegas. Juru bicara militer Iran memperingatkan Washington bahwa setiap upaya untuk menargetkan infrastruktur sipil, seperti pembangkit listrik, jembatan, atau fasilitas publik lainnya, akan dianggap sebagai tindakan perang yang melanggar hukum internasional. "Jika serangan terhadap sasaran sipil terulang, tahapan selanjutnya dari operasi ofensif dan pembalasan kami akan jauh lebih dahsyat dan meluas," tegas pihak militer Iran melalui stasiun televisi pemerintah IRIB. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Iran telah menyiapkan skenario pembalasan yang tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga ofensif dengan skala yang lebih masif.
Ketegangan ini bermula dari kebuntuan geopolitik yang sudah berlangsung sejak 28 Februari, ketika serangan terkoordinasi oleh AS dan Israel menghantam berbagai titik di Iran, termasuk fasilitas-fasilitas vital. Akibat serangan tersebut, Iran menutup Selat Hormuz sebagai langkah strategis dan pertahanan. Sejak saat itu, arus lalu lintas kapal tanker minyak yang menjadi tulang punggung pasar energi dunia terhenti total. Pada 26 Maret, Trump menetapkan tenggat waktu 10 hari bagi Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Meskipun sempat ada klaim bahwa kedua pihak sedang dalam proses negosiasi, ancaman terbaru dari Trump menunjukkan bahwa upaya diplomasi tersebut kini berada di ujung tanduk.
Merespons ancaman tersebut, misi diplomatik Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengeluarkan kecaman keras. Mereka menyebut rencana Trump untuk menyerang infrastruktur sipil sebagai bentuk nyata dari kejahatan perang. "Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur yang penting bagi kelangsungan hidup warga sipil di Iran," ujar perwakilan misi Iran. Mereka mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak mencegah bencana kemanusiaan, seraya menekankan bahwa jika dunia diam, maka esok hari mungkin sudah terlambat untuk mencegah kehancuran yang lebih luas.
Perselisihan ini tidak hanya menyangkut masalah militer, tetapi juga masalah ekonomi dan kedaulatan. Seyyed Mehdi Tabatabaei, wakil bidang komunikasi di kantor presiden Iran, mengungkapkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan terjadi begitu saja. Iran menuntut kompensasi finansial atas kerusakan besar yang diderita akibat perang yang dimulai oleh AS dan Israel. Iran berencana menerapkan "rezim hukum baru" di sekitar selat tersebut, yang mengharuskan kapal-kapal yang melintas untuk membayar biaya transit. Sistem ini diharapkan akan tetap berlaku bahkan setelah perang berakhir, sebagai bentuk kendali kedaulatan Iran atas wilayah perairannya.
Tabatabaei menepis semua ancaman Trump sebagai tindakan keputusasaan. Menurutnya, retorika kasar yang digunakan Trump di media sosial hanyalah cerminan dari kemarahan dan kegagalan strategi AS dalam melumpuhkan Iran. "Itu hanyalah kata-kata kotor dan omong kosong yang keluar karena mereka merasa putus asa," ujar Tabatabaei. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada intimidasi, terutama ketika ancaman tersebut menyasar rakyat sipil dan fasilitas penunjang kehidupan.
Kondisi di lapangan semakin diperparah dengan laporan mengenai dampak serangan sebelumnya yang telah dilakukan oleh aliansi AS-Israel. Fasilitas-fasilitas seperti sekolah, universitas, rumah sakit, dan jembatan penghubung antar-wilayah telah menjadi sasaran serangan. Para ahli hukum internasional dan pengamat HAM telah memperingatkan bahwa penargetan infrastruktur sipil semacam ini merupakan pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa. Namun, hingga saat ini, belum ada intervensi berarti dari organisasi internasional untuk menghentikan pola serangan tersebut.
Bagi pasar global, ancaman Trump dan balasan Iran ini membawa dampak ekonomi yang sangat serius. Selat Hormuz adalah jalur distribusi minyak mentah dunia yang paling krusial. Jika eskalasi ini berlanjut menjadi perang terbuka, harga energi dunia dipastikan akan melonjak drastis, yang pada gilirannya akan memicu inflasi global. Ketidakpastian mengenai kapan perang ini akan berakhir—ditambah dengan pernyataan Trump yang menolak memberikan garis waktu spesifik bagi berakhirnya konflik—membuat pelaku pasar dan negara-negara importir energi berada dalam posisi yang sangat rentan.
Dalam dinamika ini, posisi Trump yang terus mendesak agar Selat Hormuz dibuka menunjukkan tekanan domestik yang ia hadapi untuk mengamankan pasokan energi. Namun, pendekatan "tekanan maksimum" yang ia terapkan justru memperkuat posisi tawar Iran di tingkat regional. Dengan menyatakan bahwa mereka memiliki "tahapan selanjutnya" yang lebih dahsyat, Iran mencoba memberikan pesan bahwa mereka memiliki kapabilitas rudal dan siber yang mampu menjangkau aset strategis AS dan sekutunya di kawasan tersebut.
Sementara itu, dunia terus memantau dengan cemas apakah ancaman Trump pada hari Selasa ini akan terealisasi atau hanya menjadi gertakan untuk menekan Iran di meja perundingan. Sejarah mencatat bahwa konflik di Timur Tengah sering kali dipicu oleh salah perhitungan dalam retorika politik. Jika salah satu pihak benar-benar melangkah ke arah eskalasi militer lebih jauh, maka dampak kemanusiaan dan ekonomi yang akan dihasilkan tidak lagi terbatas pada dua negara saja, melainkan akan menjalar ke seluruh penjuru dunia.
Situasi saat ini menunjukkan bahwa Iran tidak lagi berada dalam posisi bertahan yang pasif. Mereka telah mengubah strategi menjadi respons yang setara atau bahkan lebih keras terhadap agresi yang mereka terima. Dengan dukungan pernyataan resmi dari komando militer, Iran menegaskan bahwa mereka telah siap menghadapi skenario terburuk sekalipun. Dunia kini menunggu dengan napas tertahan, berharap diplomasi masih memiliki ruang di tengah gema ancaman yang terus bersahutan dari Washington dan Teheran.
Konflik ini juga menjadi ujian bagi kredibilitas PBB dan hukum internasional. Jika seruan Iran untuk mencegah kejahatan perang diabaikan, maka preseden buruk akan tercipta di mana infrastruktur sipil bisa dijadikan sandera dalam sengketa geopolitik. Sampai detik ini, tidak ada tanda-tanda penurunan ketegangan. Sebaliknya, setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh kedua belah pihak justru semakin menutup celah bagi perdamaian, membuat kawasan Selat Hormuz tetap menjadi titik paling berbahaya di muka bumi saat ini. Iran, dengan keteguhan posisinya, telah memberi sinyal bahwa mereka akan membayar setiap tetes kerusakan dengan harga yang jauh lebih mahal, sebuah peringatan yang kini sedang dipertimbangkan dengan serius oleh para analis militer di seluruh dunia.

