0

Intip Menu Makanan Khusus Astronaut Artemis 2 yang Terbang ke Bulan

Share

Empat awak astronaut misi Artemis 2, yang terdiri dari Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, saat ini sedang dalam perjalanan monumental menuju Bulan. Misi ini bukanlah pendaratan, melainkan uji coba krusial selama 10 hari untuk menguji sistem kapsul Orion dan kesiapan manusia untuk misi pendaratan di Bulan di masa depan. Dalam perjalanan bersejarah ini, aspek terpenting yang tidak boleh luput adalah bekal makanan dan minuman khusus yang dirancang untuk mendukung mereka. Bekal ini harus tahan lama, kaya nutrisi, dan dapat disiapkan secara cepat dalam lingkungan yang menantang.

Kapsul Orion, wahana yang membawa keempat astronaut ini mengelilingi Bulan, memiliki ruang yang sangat terbatas dan berbeda jauh dengan International Space Station (ISS) yang sering menjadi rumah bagi para astronaut. Salah satu perbedaan paling mencolok adalah absennya fasilitas dasar seperti kulkas atau kompor. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan tantangan logistik dan desain yang mendalam. Berbeda dengan ISS yang mendapatkan pasokan makanan secara rutin dari Bumi melalui misi kargo, misi Artemis 2 akan terbang solo tanpa kemungkinan untuk menyetok ulang bahan makanan di tengah perjalanan. Setiap gram dan setiap inci kubik di dalam kapsul memiliki nilai strategis yang tinggi.

Menyadari keterbatasan dan pentingnya nutrisi optimal, National Aeronautics and Space Administration (NASA) berkoordinasi erat dengan para pakar makanan luar angkasa. Tim multidisiplin ini terdiri dari ahli gizi, ilmuwan pangan, dan insinyur yang bekerja sama untuk menyiapkan makanan khusus yang mempertimbangkan setiap detail, mulai dari kebutuhan kalori yang tinggi untuk aktivitas di luar angkasa, hidrasi yang memadai, hingga nutrisi esensial untuk menjaga kesehatan fisik dan mental astronaut. Tantangan tambahan adalah makanan untuk astronaut tidak boleh menyisakan banyak remah, karena remah-remah dapat melayang bebas dalam kondisi mikrogravitasi, berpotensi merusak peralatan atau bahkan membahayakan pernapasan awak. Selain itu, makanan harus mudah disiapkan dan dikonsumsi tanpa menimbulkan kekacauan.

Untuk mengatasi tantangan persiapan makanan, NASA telah membekali kapsul Orion dengan peralatan yang sederhana namun efektif. "Awak astronaut menggunakan dispenser air minum Orion untuk menghidrasi makanan dan minuman, serta penghangat makanan ringkas berbentuk koper untuk memanaskan makanan sesuai kebutuhan," kata NASA. Dispenser air ini sangat vital, tidak hanya untuk menghidrasi makanan beku-kering tetapi juga untuk memastikan kebutuhan cairan para astronaut terpenuhi. Sementara itu, penghangat makanan portabel memungkinkan makanan yang distabilkan secara termal (thermostabilized) dapat dinikmati dalam keadaan hangat, memberikan sedikit sentuhan kenyamanan di tengah lingkungan yang serba ekstrem.

Detail menu makanan dan minuman yang dibawa oleh misi Artemis 2 sungguh mengesankan. NASA membagikan infografis yang menunjukkan betapa beragamnya pilihan yang tersedia. Total ada 189 jenis makanan dan minuman berbeda, termasuk lebih dari 10 jenis minuman yang beragam. Ini menunjukkan bahwa meskipun terbatas, variasi tetap menjadi prioritas untuk menjaga semangat dan selera makan para astronaut selama misi.

Dalam daftar menu tersebut, terdapat beberapa item yang menarik perhatian. Ada lima jenis saus pedas yang berbeda, menunjukkan bahwa NASA memahami pentingnya sentuhan rasa yang kuat untuk melawan efek mikrogravitasi yang terkadang dapat mengurangi indra perasa. Sebanyak 58 tortilla juga disertakan, yang merupakan pilihan cerdas karena tortilla jauh lebih sedikit menghasilkan remah dibandingkan roti biasa, menjadikannya pengganti yang ideal untuk sandwich di luar angkasa. Untuk memuaskan hasrat akan makanan manis, tersedia sederet cemilan mulai dari puding, kue, cokelat, hingga kue kering. Astronaut di misi ini dijadwalkan makan tiga kali sehari dan boleh mengonsumsi hingga dua minuman beraroma per hari, termasuk kopi, yang tentu menjadi penambah semangat yang sangat dihargai.

Strategi pengemasan makanan juga dirancang dengan cermat untuk memastikan makanan tetap awet dan mudah diakses selama perjalanan. Masing-masing kontainer Artemis 2 berisi makanan untuk 2-3 hari. Ini memungkinkan para astronaut untuk memilih dari beberapa pilihan hanya dengan membuka satu kotak, menghemat waktu dan upaya dalam lingkungan mikrogravitasi. Namun, ada beberapa batasan tergantung pada tahap misi yang dikerjakan, yang menunjukkan tingkat perencanaan yang sangat detail.

"Menu disesuaikan berdasarkan kemampuan persiapan makanan di pesawat luar angkasa selama setiap fase penerbangan," kata NASA. Ini berarti bahwa jenis makanan yang tersedia bervariasi tergantung pada kapan dan di mana misi berada. "Makanan tertentu – seperti makanan beku kering – membutuhkan hidrasi menggunakan dispenser air minum Orion, yang tidak tersedia selama beberapa fase, termasuk peluncuran dan pendaratan. Alhasil, makanan yang dipilih untuk fase tersebut harus siap makan dan kompatibel dengan batasan operasional pesawat luar angkasa, sementara pilihan makanan yang lebih lengkap akan tersedia setelah sistem persiapan makanan beroperasi," sambung NASA. Pada fase peluncuran dan pendaratan, ketika sistem pesawat belum sepenuhnya aktif atau sedang dalam mode kritis, astronaut akan mengandalkan makanan "siap makan" yang tidak memerlukan persiapan apapun, seperti batangan energi atau buah kering, untuk memastikan tidak ada gangguan pada operasi penting.

Pilihan makanan di luar angkasa tidak hanya tentang nutrisi fisik, tetapi juga tentang kesejahteraan psikologis. Makanan dapat menjadi sumber kenyamanan dan nostalgia, terutama dalam perjalanan panjang jauh dari Bumi. Memberikan variasi dan pilihan makanan yang menarik dapat membantu mengurangi kebosanan dan meningkatkan moral awak.

Dua awak Artemis 2 mengaku senang dengan pilihan makanan yang ditawarkan. Christina Koch, yang memiliki pengalaman luas dengan tinggal sekitar satu tahun di ISS, mengatakan ia terkesan dengan variasi makanannya. "Berbagai hidangan utama yang mungkin tidak Anda bayangkan dapat dihidrasi kembali, dan benar-benar terasa enak di luar angkasa," ujarnya. Komentar Koch ini sangat berarti, mengingat pengalamannya yang luas dengan diet luar angkasa. Hal ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi dan resep makanan luar angkasa yang telah berkembang pesat sejak era awal penerbangan antariksa, di mana astronaut hanya dibekali dengan bubur dalam tabung atau kubus makanan padat.

Sejarah makanan luar angkasa adalah cerminan dari evolusi eksplorasi antariksa itu sendiri. Dari tabung makanan bertekanan di era Mercury dan Gemini, hingga makanan beku-kering dan distabilkan secara termal di era Apollo dan Shuttle, hingga kini di ISS dan Artemis dengan pilihan yang lebih beragam. Setiap inovasi dalam makanan luar angkasa bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, nutrisi, dan tentu saja, kualitas hidup para astronaut.

Untuk misi Artemis 2, makanan yang dipilih mencakup berbagai jenis:

  1. Makanan beku-kering (Freeze-dried): Ini adalah jenis makanan yang paling umum di luar angkasa. Proses ini menghilangkan hingga 98% kandungan air, secara signifikan mengurangi berat dan volume, sekaligus mempertahankan sebagian besar nutrisi dan rasa asli. Makanan ini membutuhkan rehidrasi dengan air dari dispenser. Contohnya bisa berupa sup, nasi, atau hidangan daging yang direhidrasi.
  2. Makanan distabilkan secara termal (Thermostabilized): Makanan ini dipanaskan untuk membunuh bakteri dan kemudian disegel dalam kantong atau kaleng fleksibel, siap makan tanpa rehidrasi. Contohnya termasuk hidangan pembuka seperti macaroni and cheese, atau bahkan steak mini.
  3. Makanan bentuk alami (Natural Form): Ini adalah makanan yang sudah tahan lama dan dapat dimakan langsung tanpa persiapan khusus. Tortilla adalah contoh klasik, bersama dengan kacang-kacangan, buah kering, atau batangan energi.
  4. Minuman: Selain air putih, terdapat berbagai minuman beraroma, jus, dan kopi, yang semuanya dalam bentuk bubuk atau konsentrat yang memerlukan rehidrasi.

Perencanaan menu makanan untuk misi Artemis 2 adalah contoh nyata dari bagaimana setiap detail kecil diperhitungkan untuk keberhasilan misi antariksa yang kompleks. Ini bukan hanya tentang mengisi perut, tetapi tentang menjaga kesehatan fisik, mental, dan kinerja optimal dari para penjelajah yang berani ini. Saat mereka mengelilingi Bulan, setiap gigitan makanan yang mereka konsumsi adalah hasil dari inovasi ilmiah dan dedikasi manusia untuk mendorong batas-batas eksplorasi. Misi Artemis 2 dengan bekal makanannya yang terencana matang ini adalah langkah penting menuju kehadiran manusia yang lebih berkelanjutan di Bulan dan, pada akhirnya, di Mars.