0

Hakim Santai, Sidang Anak Zaskia Adya Mecca Berjalan Nyaman

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Suasana khidmat pengadilan, yang biasanya diwarnai ketegangan dan formalitas, justru terasa berbeda di Pengadilan Militer II-08, Cakung, Jakarta Timur, pada Rabu (15/4/2026). Kali ini, Pengadilan Militer menjadi saksi bisu atas kesaksian seorang saksi istimewa: KM, anak dari pasangan selebriti Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo. Kesaksian KM sangat krusial dalam dugaan kasus penganiayaan yang melibatkan seorang oknum TNI dan seorang karyawan Zaskia, yang terjadi saat KM diantar ke sekolah. Kehadiran anak di bawah umur sebagai saksi dalam sebuah persidangan militer tentu menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana proses tersebut akan berjalan, terutama demi menjaga kenyamanan dan psikologis anak. Namun, apa yang terjadi di ruang sidang hari itu justru jauh dari dugaan, memperlihatkan sebuah pendekatan yang tak terduga dan sangat manusiawi dari para penegak hukum.

Usai menjalani pemeriksaan, KM secara gamblang mengungkapkan rasa nyaman yang ia rasakan selama proses berlangsung. Pengalaman ini tentu menjadi penanda positif, mengingat usia KM yang masih terbilang muda. Zaskia Adya Mecca, sang ibu, tak bisa menyembunyikan rasa terkejut dan lega yang mendalam. Ia menyaksikan sendiri bagaimana persidangan yang biasanya terkesan kaku dan intimidatif, justru bertransformasi menjadi sebuah ruang yang ramah dan bersahabat bagi putrinya. Zaskia mengakui bahwa ada pendekatan yang sangat berbeda diterapkan kepada KM, yang membuatnya merasa lega.

"Iya, alhamdulillah aku surprise banget karena ini sidang kedua aku ya seumur hidup, alhamdulillah semoga terakhir," ujar Zaskia dengan nada lega. Ia melanjutkan, "Jadi pas yang pertama tuh emang rasanya kan serius, tegang gitu kan. Terus pas hari ini Kala dipanggil, penyidik tuh meyakinkan gitu bahwa, ‘Tenang aja, kami sidang kalau ada anak, apalagi ini kan masih 12 tahun ya-itu akan sangat berbeda’." Keyakinan yang disampaikan oleh para penyidik inilah yang menjadi awal dari rasa tenang yang kemudian dirasakan oleh Zaskia dan putrinya.

Kejutan Zaskia tidak berhenti di situ. Ia mengaku sangat kaget ketika mendapati bahwa seluruh hakim yang bertugas di pengadilan militer tersebut tidak mengenakan seragam militer mereka selama proses pemeriksaan berlangsung. Sebaliknya, semua hakim memilih untuk mengenakan pakaian batik. Hal ini menciptakan suasana yang jauh lebih santai dan tidak mengintimidasi, seolah-olah mereka sedang berada dalam sebuah pertemuan biasa, bukan dalam ruang sidang militer yang memiliki bobot hukum tinggi. "Semuanya pakai batik," lanjut Zaskia, menambahkan detail yang semakin memperkuat kesan santai tersebut.

Menurut Zaskia, pemilihan pakaian batik oleh para hakim bukanlah sekadar pilihan gaya, melainkan sebuah strategi yang disengaja untuk menciptakan suasana persidangan yang nyaman bagi KM. Tujuannya adalah agar KM tidak merasa tertekan atau takut saat memberikan keterangan. Salah satu contoh konkret dari pendekatan ini adalah bagaimana pertanyaan-pertanyaan diajukan kepada KM. Alih-alih langsung masuk ke pokok perkara yang mungkin sensitif, para hakim justru memulai dengan hal-hal yang disukai oleh KM. "Karena tahu Kala suka bola, ditanya suka bola apa, klubnya apa gitu. Jadi bener-bener dibuat nyaman," ungkap Zaskia, menyoroti bagaimana pertanyaan tentang hobi sepakbola menjadi jembatan untuk membangun kedekatan.

Pendekatan yang diadopsi oleh para hakim dinilai sangat personal dan berorientasi pada anak. Mereka berusaha keras untuk membuat KM merasa dihargai dan dipahami. "Pak Hakim juga menjelaskan, ‘Saya punya anak seusia kamu, dia sukanya ini apa’, jadi rasanya nyaman ya," cerita Zaskia, menggambarkan bagaimana seorang hakim berbagi pengalaman pribadi tentang anaknya yang seusia dengan KM. Hal ini menunjukkan bahwa para hakim tidak hanya menjalankan tugasnya secara profesional, tetapi juga dengan empati yang mendalam. "Jadi nggak ada ketegangan, kasual, santai, dan alhamdulillah Kala juga bisa menjelaskannya dengan tenang," jelas Zaskia, menekankan hasil positif dari pendekatan yang diterapkan.

Di sisi lain, Mayor Laut Arin Fauzan, selaku Juru Bicara Pengadilan Militer, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai prosedur yang diterapkan. Ia menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap saksi anak, seperti KM, memang dilakukan secara tertutup sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Hal ini penting mengingat KM masih berada di bawah umur. "Terlebih anak Zaskia masih di bawah umur," ujarnya, menjelaskan alasan di balik kerahasiaan proses persidangan untuk saksi anak.

Mayor Arin menambahkan bahwa sidang baru akan dibuka untuk umum jika saksi yang bersangkutan telah berusia di atas 18 tahun. Aturan ini dirancang untuk melindungi hak-hak anak dan mencegah potensi dampak negatif dari eksposur publik yang berlebihan terhadap mereka. "Sidang baru dapat dibuka untuk umum jika saksi telah berusia di atas 18 tahun," terangnya.

Lebih lanjut, Mayor Arin Fauzan juga mengklarifikasi mengenai proses pengambilan sumpah saksi. Ia menyebutkan bahwa pengambilan sumpah secara formal hanya berlaku bagi saksi yang telah dianggap dewasa secara hukum. "Terkait pengambilan sumpah, Arin menyebut hal tersebut juga hanya berlaku bagi saksi yang telah dewasa. Di atas 18 tahun," pungkasnya.

Fenomena pendekatan santai dan humanis dalam persidangan militer ini patut diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa sistem peradilan, meskipun memiliki aturan yang ketat, tetap mampu beradaptasi untuk memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi saksi anak. Tindakan para hakim dan penyidik untuk menciptakan suasana yang ramah anak tidak hanya memfasilitasi proses pemberian kesaksian yang lebih jujur dan lancar, tetapi juga memberikan pengalaman yang positif bagi anak yang terlibat dalam situasi yang mungkin menakutkan. Keberhasilan pendekatan ini menjadi contoh bagaimana empati dan fleksibilitas dapat bersinergi dengan tegaknya hukum, menciptakan sebuah sistem yang tidak hanya adil, tetapi juga berhati nurani.

Perlu digarisbawahi bahwa meskipun suasana persidangan dibuat santai, integritas dan profesionalisme para hakim tetap terjaga. Pilihan untuk mengenakan batik dan mengajukan pertanyaan yang personal bukanlah upaya untuk meremehkan proses hukum, melainkan strategi cerdas untuk memecah kebekuan dan membangun kepercayaan dengan saksi anak. Hasilnya, KM dapat memberikan keterangan dengan tenang dan jelas, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada penegakan keadilan. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap proses hukum, ada manusia yang terlibat, dan perlakuan yang manusiawi dapat membuat perbedaan besar, terutama ketika melibatkan anak-anak yang rentan.

Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip-prinsip perlindungan anak yang diakui secara internasional. Anak memiliki hak untuk dilindungi dari segala bentuk bahaya, termasuk dampak psikologis negatif dari proses hukum. Dengan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, pengadilan militer telah menunjukkan komitmennya terhadap prinsip-prinsip tersebut. Pengalaman KM ini diharapkan dapat menjadi tolok ukur dan inspirasi bagi lembaga peradilan lainnya dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan saksi anak.

Kisah KM dan persidangan militer yang tak biasa ini memberikan pandangan baru tentang bagaimana keadilan dapat ditegakkan dengan sentuhan kemanusiaan. Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo dapat berbangga atas bagaimana putrinya ditangani, dan semoga pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak yang terlibat, serta masyarakat luas tentang pentingnya pendekatan yang sensitif dan ramah anak dalam sistem peradilan.