0

Gonjang-ganjing Ubisoft: Tutup Studio – Pembatalan Proyek Game

Share

Ubisoft tengah berada di persimpangan jalan, menghadapi salah satu periode restrukturisasi paling ambisius dan bergejolak dalam sejarahnya. Rencana perombakan besar pada struktur internal dan strategi rilis game yang akan bergulir dalam beberapa bulan hingga tahun ke depan telah diumumkan, diiringi oleh serangkaian keputusan drastis yang mengguncang industri. Inti dari perubahan ini adalah pembatalan enam proyek game yang sedang berjalan dan penundaan tujuh judul lainnya, termasuk nasib tragis remake Prince of Persia: The Sands of Time yang telah bertahun-tahun dalam pengembangan. Langkah-langkah ini bukan sekadar penyesuaian minor, melainkan sebuah manuver strategis yang bertujuan untuk merespons dinamika pasar game yang cepat berubah, sekaligus mengatasi tekanan finansial dan kritik terhadap model pengembangan mereka di masa lalu.

Dalam dokumen presentasi internal yang mengungkap visi masa depan perusahaan, Ubisoft secara eksplisit menyatakan akan memperkuat fokusnya pada genre game open-world dan live-service. Keduanya telah terbukti menjadi tulang punggung keberhasilan finansial di industri game modern, menawarkan potensi pendapatan berkelanjutan melalui monetisasi dalam game dan keterlibatan pemain jangka panjang. Selain itu, perusahaan juga berkomitmen untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) generatif yang berorientasi langsung ke pemain, sebuah langkah ambisius yang menjanjikan inovasi dalam personalisasi pengalaman bermain, penciptaan konten dinamis, dan interaksi yang lebih imersif. Sejalan dengan perubahan arah strategis yang fundamental ini, Ubisoft menunda sejumlah proyek yang masih dalam tahap pengembangan dan menghentikan beberapa pengembangan yang dinilai tidak lagi sejalan dengan visi jangka panjang perusahaan, sebuah indikasi tegas bahwa prioritas telah bergeser secara signifikan.

Pembatalan remake Prince of Persia: The Sands of Time menjadi salah satu sorotan utama dari pengumuman ini, mengingat riwayat pengembangannya yang berliku dan penuh tantangan. Proyek ini pertama kali diumumkan pada tahun 2020, memicu antusiasme di kalangan penggemar setia waralaba klasik tersebut. Awalnya, pengembangan game dipercayakan kepada Ubisoft Mumbai dan Ubisoft Pune. Namun, setelah trailer perdananya mendapat respons negatif yang luas dari komunitas pemain karena kualitas visualnya yang dianggap jauh di bawah standar, proyek tersebut dialihkan ke Ubisoft Montreal, studio yang tidak hanya memiliki rekam jejak mumpuni tetapi juga merupakan kreator di balik versi orisinal Prince of Persia: The Sands of Time yang ikonik pada tahun 2003. Pada tahun 2023, Ubisoft sempat mengonfirmasi bahwa pengembangan game tersebut di-reboot, memberikan secercah harapan baru bagi penggemar. Oleh karena itu, pembatalannya kini menjadi kejutan yang pahit, terutama di tengah rumor peluncuran yang semakin santer dalam waktu dekat, demikian dikutip detikINET dari Techspot pada Sabtu, 24 Januari 2026.

Selain Prince of Persia, daftar proyek yang dibatalkan Ubisoft mencakup tiga proyek baru yang belum diumumkan secara publik, satu game mobile yang potensial, serta satu proyek lain yang identitasnya masih dirahasiakan. Sejumlah pengamat industri dan media berspekulasi bahwa proyek terakhir yang tidak disebutkan namanya tersebut adalah remake Splinter Cell, sebuah waralaba mata-mata legendaris yang sangat dinantikan kembalinya oleh para penggemar. Remake Splinter Cell sendiri telah diumumkan pada tahun 2021, dan pembatalannya jika benar akan menjadi kekecewaan besar. Sejak tahun 2022, Ubisoft tercatat telah membatalkan sekitar selusin game, sebuah angka yang mengindikasikan pola konsolidasi dan peninjauan ulang portofolio yang agresif dalam upaya untuk mengefisienkan sumber daya dan fokus pada proyek-proyek yang paling menjanjikan. Tren ini mencerminkan tekanan yang dihadapi oleh penerbit game besar untuk mengelola biaya pengembangan yang terus meningkat dan memastikan setiap rilis memiliki potensi pasar yang signifikan.

Tidak hanya pembatalan, Ubisoft juga menunda sejumlah judul yang sudah diumumkan, meskipun rincian spesifik mengenai judul-judul yang ditunda tidak diungkapkan secara rinci. Namun, perusahaan memastikan bahwa satu rilis besar yang semula dijadwalkan untuk tahun fiskal ini akan digeser hingga tahun 2027. Laporan internal dan rumor di kalangan industri menyebutkan bahwa proyek yang ditunda hingga tahun 2027 tersebut kemungkinan besar adalah remake Assassin’s Creed IV: Black Flag, salah satu judul paling populer dan dihormati dalam waralaba Assassin’s Creed. Penundaan semacam ini, terutama untuk judul-judul besar, sering kali menjadi indikator adanya tantangan dalam pengembangan, kebutuhan akan waktu polesan tambahan, atau penyesuaian strategis untuk menghindari persaingan ketat di jadwal rilis.

Di balik serangkaian keputusan sulit ini adalah target ambisius Ubisoft untuk menghemat biaya sebesar €100 juta (sekitar Rp1,7 triliun) hingga Maret mendatang. Untuk mencapai tujuan ini, perusahaan tidak segan-segan melakukan langkah-langkah restrukturisasi yang menyakitkan. Salah satu tindakan paling drastis adalah penutupan studio di Halifax, Kanada, dan Stockholm, Swedia, yang akan berdampak langsung pada ratusan karyawan. Selain itu, studio lain seperti Ubisoft Abu Dhabi, RedLynx (terkenal dengan seri Trials), dan Massive Entertainment (pengembang The Division dan Avatar: Frontiers of Pandora) akan direstrukturisasi, yang kemungkinan besar melibatkan perampingan tim atau perubahan fokus proyek. Di samping perubahan struktural ini, Ubisoft juga memberlakukan kebijakan kembali ke kantor lima hari kerja per minggu, dengan jumlah hari kerja jarak jauh yang dibatasi secara ketat. Kebijakan ini, meskipun bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi dan produktivitas, telah memicu perdebatan di kalangan karyawan dan menunjukkan pergeseran budaya kerja yang signifikan di dalam perusahaan.

Untuk mendukung produksi game AAA secara lebih fleksibel dan responsif terhadap pasar, Ubisoft merombak organisasi pengembangan dan penerbitannya menjadi lima "Creative House" yang masing-masing akan berfokus pada waralaba dan genre tertentu. Model ini dirancang untuk menciptakan ekosistem pengembangan yang lebih terfokus, memungkinkan tim untuk membangun keahlian mendalam dalam domain spesifik dan mempercepat siklus inovasi. Dalam pernyataan resminya, Ubisoft menyebut langkah ini bertujuan untuk menciptakan struktur yang lebih responsif dan kompetitif di tengah perubahan cepat industri game global. Pendekatan ini diharapkan dapat meminimalkan duplikasi upaya, meningkatkan efisiensi, dan memastikan bahwa setiap proyek memiliki visi yang jelas dan dukungan strategis yang kuat.

Pergeseran ke fokus yang lebih kuat pada game open-world dan live-service bukanlah hal baru bagi Ubisoft, yang telah lama dikenal sebagai pelopor dalam genre open-world dengan waralaba seperti Assassin’s Creed dan Far Cry. Namun, strategi live-service yang intensif menunjukkan komitmen untuk bersaing di pasar yang didominasi oleh judul-judul seperti Fortnite, Genshin Impact, dan Apex Legends, yang mampu mempertahankan basis pemain dan menghasilkan pendapatan stabil selama bertahun-tahun. Keberhasilan dalam segmen ini membutuhkan investasi berkelanjutan dalam konten baru, pemeliharaan komunitas, dan adaptasi cepat terhadap umpan balik pemain.

Adopsi kecerdasan buatan generatif juga menjadi aspek menarik dari strategi baru Ubisoft. Teknologi ini memiliki potensi untuk merevolusi cara game dibuat dan dimainkan, mulai dari otomatisasi pembuatan aset visual dan audio, desain level prosedural yang tak terbatas, hingga penciptaan karakter non-pemain (NPC) dengan perilaku dan dialog yang lebih dinamis dan personal. Pemanfaatan AI yang "berorientasi langsung ke pemain" menunjukkan keinginan untuk menggunakan teknologi ini guna memperkaya pengalaman individu, mungkin melalui sistem personalisasi yang lebih canggih, narasi adaptif, atau bahkan interaksi yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, integrasi AI semacam ini juga membawa tantangan etika, teknis, dan artistik yang kompleks, serta pertanyaan mengenai dampaknya terhadap pekerjaan pengembang manusia.

Secara keseluruhan, "gonjang-ganjing" yang melanda Ubisoft mencerminkan respons terhadap tekanan pasar, tuntutan investor, dan kebutuhan untuk beradaptasi di era digital. Industri game saat ini ditandai oleh biaya pengembangan yang melambung tinggi untuk game AAA, siklus pengembangan yang panjang, dan persaingan ketat untuk mendapatkan perhatian pemain. Dengan fokus pada efisiensi biaya, restrukturisasi internal, dan taruhan besar pada open-world, live-service, serta AI generatif, Ubisoft berharap dapat menemukan kembali pijakannya dan mengamankan masa depan yang lebih stabil dan menguntungkan. Namun, jalan ke depan tidak akan mudah. Pembatalan proyek-proyek yang dinanti-nantikan dapat mengecewakan basis penggemar setia, sementara transisi ke model live-service yang lebih dominan harus dieksekusi dengan cermat agar tidak mengalienasi pemain yang menghargai pengalaman naratif tunggal. Tahun-tahun mendatang akan menjadi penentu apakah strategi radikal ini akan membawa Ubisoft menuju era kejayaan baru atau justru memperpanjang masa-masa sulitnya. Keputusan-keputusan yang diambil saat ini akan membentuk lanskap game Ubisoft untuk dekade berikutnya, dan seluruh industri akan mengamati dengan seksama bagaimana raksasa game asal Prancis ini menavigasi turbulensi menuju masa depan yang tidak pasti.