BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah gelombang arus digitalisasi yang tak terbendung, di mana ponsel telah menjelma menjadi perpanjangan tangan hampir setiap individu, musisi legendaris Fariz RM justru memilih jalan yang kontras. Keputusannya untuk meninggalkan total penggunaan ponsel pasca-bebas dari jerat hukum kasus penyalahgunaan narkoba, sontak menjadi sorotan dan menimbulkan rasa penasaran publik. Langkah drastis ini bukanlah tanpa alasan, melainkan sebuah respons mendalam atas pengalaman pahit yang pernah ia lalui, di mana ponsel menjadi salah satu elemen yang memperumit hidupnya. "Ya ribet! Artinya aduh, saya mesti ngalamin hal yang gak-gak karena handphone, aduh ampun deh. Gak deh, ampun," ungkap Fariz RM dengan nada tegas saat ditemui di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Pengakuan ini bukan sekadar ungkapan kekesalan sesaat, melainkan sebuah refleksi dari titik balik penting dalam perjalanan hidupnya. Perasaan jengkel dan muak yang ia rasakan akibat interaksi dengan ponsel di masa lalu, mendorongnya untuk melakukan introspeksi mendalam mengenai esensi ketenangan yang selama ini terasa sulit digapai. "Iya, itu dia salah satunya. Ngeselin gitu," tambahnya, menegaskan betapa besar dampak negatif yang ia rasakan.
Keputusan untuk hidup tanpa ponsel bukanlah sebuah keputusan impulsif yang datang tiba-tiba. Jauh sebelum itu, selama menjalani masa penahanan, Fariz RM dipaksa untuk beradaptasi dengan kehidupan tanpa akses ke gawai tersebut. Periode satu tahun tersebut justru menjadi sebuah masa pencerahan. Tanpa gangguan notifikasi yang konstan, panggilan telepon yang tak terduga, atau godaan media sosial, ia mulai menemukan sebuah kenikmatan dan ketentraman batin yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. "Setelah saya pertimbangkan, karena setahun kemarin juga selama di diklat saya gak pegang handphone kan. Ternyata enak gitu," jelas musisi berusia 67 tahun ini, dengan sorot mata yang memancarkan kepuasan. Pengalaman ini kemudian menumbuhkan keinginan kuat untuk mempertahankan kondisi tanpa ponsel tersebut dalam kehidupan barunya, sebuah babak baru yang ia ingin jalani dengan lebih bermakna dan damai.
Kini, sang pelantun lagu legendaris "Sakura" mengaku benar-benar menikmati setiap momen dalam kehidupannya yang baru. Tanpa beban notifikasi media sosial yang seringkali memicu perbandingan diri atau panggilan telepon yang bisa saja mengganggu fokus, ia merasa hidupnya mengalir lebih tenang dan damai. Ketenangan batin telah menjadi prioritas utama, sebuah harta yang tak ternilai harganya, jauh melampaui kemudahan instan yang ditawarkan oleh teknologi. "Oh iya, tenteram. Tenteram sekali, amat sangat tenteram," pungkasnya, menggarisbawahi betapa besar perbedaannya sebelum dan sesudah ia memutuskan untuk melepaskan diri dari jeratan ponsel.
Keputusan Fariz RM ini bisa dilihat sebagai sebuah pernyataan berani di tengah budaya yang semakin terpusat pada keterhubungan digital. Di era di mana orang berlomba-lomba untuk selalu online dan terhubung, ia justru memilih untuk mundur sejenak, menciptakan ruang pribadi yang lebih luas untuk refleksi, kedamaian, dan koneksi yang lebih otentik dengan dunia nyata. Hal ini juga membuka pandangan bahwa teknologi, meskipun menawarkan banyak kemudahan, dapat pula menjadi sumber stres dan gangguan jika tidak dikelola dengan bijak. Pengalaman Fariz RM menunjukkan bahwa ada alternatif lain untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan, yang mungkin tidak selalu sejalan dengan tren teknologi yang dominan. Ia membuktikan bahwa kesederhanaan dan pelepasan diri dari ketergantungan digital dapat membawa dampak positif yang signifikan terhadap kualitas hidup.
Lebih jauh lagi, keputusan Fariz RM ini bisa dianalisis dari perspektif psikologis. Ketergantungan pada ponsel seringkali dikaitkan dengan fenomena fear of missing out (FOMO), kecemasan sosial, dan penurunan kemampuan konsentrasi. Dengan menjauhi ponsel, Fariz RM secara efektif memutus rantai pemicu stres tersebut. Ia memberikan kesempatan pada otaknya untuk beristirahat dari stimulasi konstan, memungkinkan pikiran untuk lebih jernih dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Proses detoksifikasi digital ini, meskipun terdengar ekstrem bagi sebagian orang, justru dapat memulihkan keseimbangan mental dan emosional. Ini adalah sebuah pengingat bahwa kesejahteraan mental tidak harus selalu dicari melalui terapi atau obat-obatan, terkadang solusi paling efektif justru datang dari perubahan gaya hidup yang mendasar.
Perjalanan hidup Fariz RM, termasuk masa lalu yang kelam, memberikannya perspektif yang unik tentang nilai sebuah ketenangan. Pengalaman berada di titik terendah dan kemudian bangkit kembali, membuatnya lebih menghargai kedamaian batin. Keputusannya untuk meninggalkan ponsel bukan hanya tentang menolak teknologi, tetapi lebih kepada memilih jalan hidup yang ia yakini akan membawanya pada kebahagiaan yang berkelanjutan. Ia tidak lagi terikat oleh ekspektasi sosial yang menuntutnya untuk selalu aktif di dunia maya. Sebaliknya, ia membebaskan dirinya untuk menjalani kehidupan yang lebih otentik, di mana interaksi tatap muka dan pengalaman dunia nyata menjadi prioritas.
Dalam konteks industri musik, keputusan Fariz RM ini juga bisa memberikan inspirasi bagi para seniman lain. Banyak musisi yang merasa tertekan untuk terus menerus membangun personal branding di media sosial, mempromosikan karya mereka secara agresif, dan merespons setiap komentar dari penggemar. Beban ini bisa sangat menguras energi kreatif. Dengan memilih untuk tidak terlibat secara aktif dalam dinamika media sosial, Fariz RM mungkin dapat lebih fokus pada proses kreatifnya, menghasilkan karya-karya yang lebih berkualitas dan bermakna tanpa terpengaruh oleh tren sesaat atau tekanan komersial. Ketenangan yang ia rasakan bisa jadi menjadi bahan bakar inspirasi yang luar biasa.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa keputusan Fariz RM ini adalah respons personal terhadap pengalamannya. Bagi sebagian orang, ponsel adalah alat yang sangat penting untuk pekerjaan, komunikasi dengan keluarga dan teman, serta akses informasi. Namun, kisahnya menjadi sebuah studi kasus menarik tentang bagaimana individu dapat secara aktif membentuk lingkungan mereka untuk mendukung kesejahteraan diri. Ini adalah tentang menemukan keseimbangan, mengenali kapan sebuah teknologi justru lebih banyak merugikan daripada menguntungkan, dan berani mengambil langkah untuk melakukan perubahan demi hidup yang lebih baik.
Ketenangan yang dirasakan Fariz RM adalah sebuah pengingat bahwa dalam hiruk pikuk dunia modern, kita memiliki kekuatan untuk memilih bagaimana kita berinteraksi dengan teknologi dan bagaimana kita mendefinisikan kesuksesan dan kebahagiaan. Keputusannya untuk meninggalkan ponsel bukan berarti ia menolak kemajuan zaman, melainkan ia memilih untuk tidak menjadi budaknya. Ia memilih untuk menjadi penguasa atas hidupnya sendiri, menemukan bahwa kebahagiaan sejati seringkali tersembunyi dalam kesederhanaan dan kedamaian batin, sebuah pelajaran berharga yang ia bagikan kepada publik melalui teladan pribadinya. Hidup tanpa genggaman ponsel, bagi Fariz RM, adalah sebuah pilihan sadar untuk meraih ketenteraman yang hakiki, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi di tengah kompleksitas kehidupan modern.

