BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Malam pergantian tahun di Kota Tangerang Selatan diwarnai insiden lalu lintas yang cukup menghebohkan. Sebuah tabrakan beruntun yang melibatkan lima kendaraan terjadi di Jalan Letnan Soetopo, Serpong, pada dini hari tadi, tepatnya sekitar pukul 01.40 WIB. Yang lebih mencengangkan, pemicu utama dari kecelakaan beruntun ini ternyata dipicu oleh pertengkaran antara sepasang kekasih di dalam salah satu mobil yang terlibat.
Menurut keterangan Kasat Lantas Polres Tangsel, AKP Danny Trisespianto Arief Sutarman, kecelakaan berawal dari kelalaian pengemudi mobil jenis Grand Livina berinisial AM. Pengemudi tersebut mengakui bahwa konsentrasinya saat mengemudi sangat terganggu. "Jadi betul, semalam ada kejadian sekira pukul 01.40 dini hari ya. Kronologinya memang dari pengemudi Grand Livina atas nama inisialnya AM itu lagi mengendarai mobil dan memang mengakui bahwa dia kurang konsentrasi," ungkap Danny kepada wartawan pada Kamis, 1 Januari 2026. Gangguan konsentrasi ini, sambung Danny, diduga kuat akibat adanya pertikaian kecil yang terjadi antara AM dengan pasangannya di dalam mobil. Pertengkaran inilah yang membuat AM kehilangan fokus di jalan raya, berujung pada kecelakaan yang tidak diinginkan.
Insiden tabrakan beruntun ini tidak main-main, melibatkan total lima unit kendaraan roda empat. Mobil yang dikemudikan oleh AM menjadi titik awal dari rangkaian kecelakaan tersebut. Akibat benturan yang terjadi beruntun, kelima mobil mengalami kerusakan. Mobil yang dikemudikan oleh AM, yaitu Grand Livina, dilaporkan mengalami kerusakan paling parah dibandingkan dengan kendaraan lainnya. "Yang rusak parah kalau kita lihat, paling parah sih yang nabrak awal ini yang Grand Livina ini. Yang lain hanya terdorong, penyok, tapi kondisi kendaraan masih bisa jalan," jelas Danny.
Kronologi lengkap kejadiannya adalah sebagai berikut: mobil Grand Livina yang dikemudikan oleh AM pertama kali menabrak mobil di depannya, sebuah Toyota Rush. Benturan ini kemudian memicu efek domino, di mana Toyota Rush yang tertabrak ikut terdorong dan menabrak Daihatsu Sigra yang berada di depannya. Daihatsu Sigra pun tidak luput dari tabrakan, ia kemudian menabrak sebuah Pajero yang posisinya berada di depannya lagi. Rangkaian tabrakan semakin panjang ketika Pajero yang ditabrak tersebut kemudian terdorong dan menabrak Pajero lain yang berada paling depan. Dengan demikian, urutan tabrakan beruntun tersebut adalah Grand Livina -> Toyota Rush -> Daihatsu Sigra -> Pajero -> Pajero.
Meskipun melibatkan lima kendaraan dan mengakibatkan kerusakan yang cukup signifikan, berita baiknya adalah tidak ada korban luka-luka maupun korban jiwa dalam peristiwa tabrakan beruntun ini. Ini menjadi sebuah kelegaan tersendiri bagi semua pihak yang terlibat. Namun, kerugian materiil akibat kejadian ini diperkirakan mencapai angka yang tidak sedikit. Kasat Lantas Polres Tangsel memperkirakan total kerugian materiil yang timbul dari kejadian ini berkisar di bawah Rp 50 juta. "Kalau gambaran kami sih, ini di bawah Rp 50 juta untuk keseluruhan kendaraan ya," tutur Danny. Angka ini mencakup perbaikan dari kelima kendaraan yang mengalami kerusakan, mulai dari penyok ringan hingga kerusakan yang lebih serius.
Menariknya, insiden yang berpotensi menimbulkan ketegangan ini berhasil diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Pihak yang bertanggung jawab atas tabrakan awal, yaitu pengemudi Grand Livina berinisial AM, telah menunjukkan itikad baiknya. Ia bersedia untuk mengganti rugi seluruh kerusakan kendaraan yang terlibat dalam tabrakan beruntun tersebut. "Semalam sudah ada kesepakatan damai antara semuanya. Saudara AM ini bersedia mengganti rugi seluruh kerugian yang diakibatkan oleh dirinya," pungkas Danny. Kesepakatan damai ini tentu saja meringankan beban pikiran bagi para korban lain dan menunjukkan bahwa penyelesaian masalah secara musyawarah mufakat masih menjadi solusi terbaik.
Kejadian ini juga menjadi pengingat penting mengenai pentingnya konsentrasi saat berkendara, terutama di momen-momen krusial seperti malam pergantian tahun yang seringkali diwarnai dengan suasana euforia dan mungkin juga emosi yang naik turun. Praktisi keselamatan berkendara yang juga Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, memberikan pandangannya terkait insiden ini. Ia menekankan bahwa mengemudi bukanlah aktivitas yang bisa dilakukan secara multitasking. Fokus dan konsentrasi penuh adalah kunci utama untuk menjaga keselamatan di jalan raya. "Menyetir itu bukan pekerjaan multitasking. Konsentrasi berkendara perlu dijaga saat berada di jalan," ujar Sony Susmana dalam kesempatan terpisah.
Sony melanjutkan, "Mengemudi apa pun kendaraannya harus fokus atau konsentrasi. Menjaga kontrol dan keseimbangan kendaraan. Tidak boleh yang namanya sambil-sambil." Pernyataan ini sangat relevan dengan kasus tabrakan beruntun di Serpong, di mana gangguan emosional menjadi penyebab utama hilangnya konsentrasi. Selain itu, Sony juga menyoroti peran emosi dalam pengambilan keputusan saat berkendara. "Ketika emosi terkontrol maka akal sehat akan memandu pengemudi dalam mengambil keputusan yang teraman," ucap Praktisi Keselamatan Berkendara tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kestabilan emosi sangat penting bagi seorang pengemudi agar dapat berpikir jernih dan membuat keputusan yang aman di jalan raya.
Insiden di Jalan Letnan Soetopo ini bukan hanya sekadar berita lalu lintas biasa, melainkan sebuah studi kasus nyata tentang bagaimana masalah pribadi dapat berimbas pada keselamatan orang lain di jalan raya. Pertengkaran sepasang kekasih, sekecil apapun itu, dapat memiliki konsekuensi yang besar jika terjadi saat salah satu pihak sedang mengemudikan kendaraan. Pentingnya komunikasi yang baik antar pasangan, serta kesadaran untuk menunda atau menghentikan percakapan sensitif saat berada di belakang kemudi, menjadi pelajaran berharga dari peristiwa ini.
Lebih jauh lagi, kejadian ini juga menegaskan kembali pentingnya aturan lalu lintas dan kesadaran akan tanggung jawab sebagai pengguna jalan. Meskipun tabrakan beruntun ini berakhir damai dan tanpa korban jiwa, potensi bahaya yang ditimbulkan sangatlah besar. Jika saja salah satu dari kendaraan yang terlibat adalah kendaraan umum atau jika ada pejalan kaki di dekat lokasi, dampaknya bisa jauh lebih mengerikan. Oleh karena itu, setiap pengemudi harus selalu ingat bahwa keselamatan diri sendiri dan orang lain adalah prioritas utama.
Pihak kepolisian melalui Kasat Lantas Polres Tangsel, AKP Danny Trisespianto Arief Sutarman, juga telah memberikan imbauan agar para pengemudi senantiasa menjaga konsentrasi saat berkendara. "Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya para pengemudi, untuk selalu menjaga konsentrasi saat berada di jalan. Hindari melakukan aktivitas yang dapat mengganggu fokus mengemudi, seperti menggunakan ponsel, makan, minum, atau bahkan terlibat dalam pertengkaran dengan penumpang," tegas Danny. Beliau juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan emosional sebelum memulai perjalanan.
Dalam konteks malam tahun baru, di mana seringkali terjadi peningkatan volume kendaraan dan suasana yang mungkin lebih ramai, tingkat kewaspadaan pengemudi seharusnya ditingkatkan. Keputusan untuk merayakan pergantian tahun dengan berkendara harus diiringi dengan kesadaran penuh akan risiko yang ada. Jika memang ada permasalahan pribadi yang perlu diselesaikan, sebaiknya dilakukan di tempat yang aman dan tidak saat mengemudikan kendaraan.
Para ahli keselamatan berkendara seperti Sony Susmana juga seringkali menyarankan untuk mengambil jeda jika merasa emosi sedang tidak stabil. "Jika merasa emosi sedang memuncak atau terganggu, sebaiknya menepi sejenak di tempat yang aman, tenangkan diri, baru kemudian melanjutkan perjalanan. Keselamatan lebih penting daripada terburu-buru," ujar Sony. Saran ini sangat relevan dan seharusnya menjadi pedoman bagi setiap pengemudi.
Kerugian materiil sebesar Rp 50 juta, meskipun mungkin dianggap tidak terlalu besar oleh sebagian orang, tetap saja merupakan kerugian yang signifikan. Angka ini bisa saja lebih besar jika melibatkan kendaraan mewah atau jika kerusakan yang terjadi lebih parah. Belum lagi potensi biaya perbaikan yang mungkin terus meningkat di masa depan. Namun, dalam kasus ini, penyelesaian secara kekeluargaan dengan penggantian rugi oleh pelaku menjadi solusi yang meringankan beban finansial para korban.
Penting untuk diingat bahwa berita ini tidak hanya sekadar laporan kejadian, tetapi juga sebuah pembelajaran bagi kita semua. Ini adalah pengingat bahwa jalan raya adalah ruang publik yang membutuhkan tanggung jawab dari setiap penggunanya. Membiarkan emosi menguasai saat mengemudi adalah tindakan yang sangat berisiko dan dapat membahayakan nyawa.
Pada akhirnya, insiden tabrakan beruntun di Serpong ini menjadi sebuah contoh nyata bahwa masalah pribadi, sekecil apapun itu, bisa berdampak besar jika tidak dikelola dengan baik, terutama saat berada di belakang kemudi. Kesadaran, konsentrasi, dan kontrol emosi adalah kunci utama untuk menciptakan lingkungan berkendara yang lebih aman bagi semua. Harapannya, kejadian ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat, agar lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam setiap perjalanan mereka di jalan raya.
