0

Dirahasiakan 10 Tahun, Borok Valentino Rossi Akhirnya Terbongkar!

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Legenda balap motor asal Spanyol, Sete Gibernau, akhirnya memecah keheningan yang telah berlangsung selama satu dekade, membongkar sisi gelap rivalitasnya dengan Valentino Rossi di era keemasan MotoGP. Pernyataan Gibernau, yang diungkapkannya dalam podcast Gypsy Tales, menyoroti tudingan bahwa "The Doctor" tidak segan menggunakan cara-cara tak terpuji dan tidak sportif demi meraih kemenangan. Pengakuan ini, yang baru berani ia utarakan setelah bertahun-tahun menyimpannya, memberikan perspektif baru yang mengejutkan mengenai dinamika di balik layar kompetisi yang paling bergengsi di dunia balap motor.

Rivalitas Gibernau dengan Rossi mencapai puncaknya pada musim 2003 dan 2004, di mana kedua pebalap tersebut bersaing ketat untuk memperebutkan gelar juara dunia. Dalam dua musim berturut-turut tersebut, Gibernau harus puas berada di posisi runner-up, selalu kalah tipis dari Rossi. Pengalaman ini, yang meninggalkan luka mendalam dalam kariernya, mendorong Gibernau untuk akhirnya berbagi cerita yang selama ini ia pendam. Ia merasa bahwa kini adalah momen yang tepat untuk menyuarakan kebenaran yang ia yakini, sebuah kebenaran yang telah lama tersembunyi dari pandangan publik.

"Saya belum pernah membicarakan fakta ini sebelumnya. Tapi, saya merasa, mungkin inilah saat yang tepat untuk mengungkapnya," ujar Gibernau dengan nada yang tegas namun penuh penyesalan, sebagaimana dikutip pada Sabtu (10/1). Keputusan ini bukan datang tanpa pertimbangan matang. Bertahun-tahun menyimpan rasa gerah dan kekecewaan, Gibernau akhirnya memilih untuk membebaskan diri dari beban masa lalu dan memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi di lintasan.

Meskipun akar perseteruan mereka terbentang di musim 2003 dan 2004, insiden-insiden kontroversial yang melibatkan kedua pebalap ini tak berhenti di situ. Musim 2005 menjadi saksi bisu dari beberapa peristiwa yang semakin memperuncing ketegangan. Salah satu momen yang paling membekas bagi Gibernau terjadi di Sirkuit Jerez, Spanyol. Dalam balapan tersebut, Rossi dituding melakukan manuver agresif yang berujung pada kontak fisik di tikungan terakhir.

"Ya, dia menabrak saya di tikungan terakhir. Saya sampai keluar lintasan. Dia tidak mendapat penalti apa pun. Sejak saat itu, saya mulai kehilangan kepercayaan pada olahraga ini," ungkap Gibernau dengan nada getir. Insiden ini bukan sekadar tabrakan biasa di lintasan balap; bagi Gibernau, ini adalah titik balik yang mengikis keyakinannya pada integritas olahraga yang ia cintai. Ia merasa bahwa aturan yang seharusnya berlaku adil bagi semua pebalap, ternyata memiliki pengecualian bagi sosok-sosok tertentu.

Dirahasiakan 10 Tahun, Borok Valentino Rossi Akhirnya Terbongkar!

Gibernau melanjutkan, "Selalu seperti itu. Tahun 2003, Vale dan saya. 2004, Vale dan saya. Lalu 2005 lagi. Dan saya tidak bisa memahami bagaimana ini tidak dianggap sebagai olahraga non-kontak." Pernyataannya ini menggarisbawahi pola yang ia rasakan terjadi berulang kali, di mana Rossi seolah selalu mendapatkan keuntungan dari situasi yang seharusnya membuahkan sanksi. Ia melihat adanya bias dalam penegakan aturan, yang memberatkan pebalap lain sementara Rossi seolah memiliki kekebalan tertentu.

Lebih lanjut, Gibernau mengungkapkan kekecewaannya terhadap perlakuan yang ia rasakan. Ia mengakui kehebatan Rossi sebagai pebalap dan juga popularitasnya yang luar biasa, yang menjadikannya idola bagi jutaan penggemar di seluruh dunia. Namun, justru karena status inilah, Gibernau merasa Rossi tidak perlu menempuh jalan pintas yang tidak sportif untuk meraih kemenangan.

"Saya sudah memaksa diri saya sejauh mungkin untuk melawan iblis dalam diri saya dan melawan salah satu pebalap terbaik sepanjang sejarah. Dan saya berpikir: Valentino bahkan tidak perlu melakukan hal-hal seperti itu untuk menang, dan tidak ada seorang pun yang mengatakan apa-apa," tuturnya, menyiratkan rasa frustrasi karena ia merasa telah berjuang dengan adil, sementara lawannya diduga melakukan hal sebaliknya tanpa konsekuensi yang berarti.

Gibernau menduga bahwa sistem penegakan aturan di MotoGP pada masa itu cenderung memberikan hukuman yang lebih berat kepada pebalap yang dianggap "biasa-biasa saja", sementara para bintang besar seperti Rossi bisa lolos dari sanksi meskipun melakukan pelanggaran serupa. Ia merasa bahwa status superstar yang disandang Rossi memberinya semacam "kekebalan" yang tidak adil.

"Dari sosok seperti Valentino, seorang superstar, kenapa hal seperti itu diterima? Menurut saya itu salah. Dia tidak perlu melakukannya," pungkas Gibernau, menegaskan kembali pandangannya bahwa tindakan Rossi, terlepas dari hasil akhirnya, telah melanggar etika olahraga. Pernyataan ini membuka kembali luka lama dan memicu diskusi tentang bagaimana popularitas dan status dapat memengaruhi persepsi dan penegakan aturan dalam dunia olahraga profesional, terutama di level tertinggi seperti MotoGP. Pengakuan Gibernau ini bukan sekadar cerita tentang rivalitas, melainkan juga kritik terhadap sistem yang ia yakini tidak selalu adil.