BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kekalahan telak 2-5 dari Galatasaray dalam leg pertama play-off 16 besar Liga Champions, Rabu (18/2/2026) dini hari WIB, tidak hanya menyakitkan bagi Juventus, tetapi juga semakin mempertegas rekor buruk mereka saat berhadapan dengan klub asal Turki tersebut. Catatan suram ini kembali terukir, menambah daftar panjang kegagalan Bianconeri dalam upayanya untuk kembali berjaya di kompetisi antarklub paling prestisius di Eropa. Rekor buruk ini bukan hanya terjadi dalam satu atau dua pertandingan, melainkan sebuah tren negatif yang terus menghantui Juventus di panggung Liga Champions dalam beberapa musim terakhir.
Pertemuan antara Juventus dan Galatasaray di Liga Champions bukanlah hal baru. Sejak pertama kali bersua di kompetisi ini, Juventus telah tujuh kali berhadapan dengan Galatasaray. Dari tujuh pertemuan tersebut, statistik menunjukkan dominasi Galatasaray yang mengejutkan. Juventus hanya mampu meraih satu kemenangan, tiga kali bermain imbang, dan tiga kali menelan kekalahan. Kemenangan tunggal Juventus atas Galatasaray terjadi pada fase grup Liga Champions musim 2003/2004, di mana mereka berhasil mengamankan tiga poin di kandang sendiri dengan skor 2-1. Namun, kemenangan tersebut terasa bagai anomali di tengah dominasi Galatasaray yang konsisten.
Lebih mengerikan lagi, dari total tujuh pertemuan tersebut, Juventus hanya mampu mencetak delapan gol ke gawang Galatasaray, sementara gawang mereka telah kebobolan sebanyak sepuluh gol. Ini menunjukkan bahwa lini serang Juventus kesulitan menembus pertahanan Galatasaray, sementara pertahanan mereka kerap kali rapuh dan mudah ditembus. Kekalahan 2-5 di kandang Galatasaray kali ini menjadi pukulan telak, mengukuhkan dominasi tuan rumah dan menunjukkan betapa besarnya jurang pemisah yang kini ada di antara kedua tim.
Rekor buruk melawan Galatasaray ini seolah menjadi cerminan dari performa Juventus yang semakin menurun di Liga Champions dalam beberapa tahun terakhir. Sejak mencapai final pada musim 2017/2018, Juventus seakan kehilangan taringnya di kompetisi ini. Mereka tidak mampu lagi menembus babak perempatfinal sejak musim 2018/2019. Musim lalu, Juventus bahkan harus terhenti di babak play-off 16 besar, sebuah pencapaian yang sangat jauh dari ekspektasi klub sebesar Juventus. Rentetan kegagalan ini tentu menjadi pertanyaan besar bagi manajemen dan para pendukung Juventus mengenai strategi dan kedalaman skuad yang dimiliki.
Pernyataan bek Juventus, Pierre Kalulu, yang mengatakan, "Pertandingan itu sudah berlalu, kami harus menatap masa depan dan tidak memikirkannya lagi. Yang bisa saya katakan hanyalah, ini sangat disayangkan," memang mencerminkan upaya untuk bangkit. Namun, ucapan tersebut terasa hampa tanpa adanya bukti nyata di lapangan. Sejarah mencatat bahwa Juventus telah berulang kali tersandung di fase gugur Liga Champions, dan kali ini, Galatasaray menjadi batu sandungan terbaru.
Kekalahan ini juga semakin menambah beban mental bagi Juventus menjelang leg kedua. Dengan defisit tiga gol, Juventus harus memutar otak untuk bisa membalikkan keadaan di kandang sendiri. Namun, melihat sejarah pertemuan yang buruk dan performa tim yang inkonsisten, harapan untuk melihat keajaiban di leg kedua terasa semakin tipis. Para pendukung Juventus tentu berharap tim kesayangan mereka bisa menunjukkan mental juara yang selama ini menjadi ciri khas klub, namun kenyataannya, performa yang ditunjukkan jauh dari harapan.
Analisis mendalam terhadap kekalahan ini perlu dilakukan. Apakah ini murni karena kehebatan Galatasaray, atau ada kelemahan fundamental dalam skuad Juventus yang belum terselesaikan? Pertanyaan ini perlu dijawab agar Juventus bisa segera bangkit dari keterpurukan. Faktor cedera pemain kunci, taktik yang kurang efektif, atau bahkan mentalitas pemain yang belum teruji dalam situasi genting, semuanya bisa menjadi penyebab.
Jika dilihat dari data head to head secara rinci, terlihat jelas pola yang kurang menguntungkan bagi Juventus:
- UCL 1998/1999: Juventus 2-2 Galatasaray. Pertandingan ini menunjukkan ketatnya persaingan, namun hasil imbang di kandang sendiri menjadi catatan awal yang kurang memuaskan.
- UCL 1998/1999: Galatasaray 1-1 Juventus. Kembali hasil imbang, kali ini di kandang Galatasaray, menunjukkan bahwa Juventus belum mampu meraih kemenangan tandang melawan raksasa Turki tersebut.
- UCL 2003/2004: Juventus 2-1 Galatasaray. Kemenangan tunggal yang dicatat oleh Juventus, namun skor tipis menunjukkan perlawanan yang sengit.
- UCL 2003/2004: Galatasaray 2-0 Juventus. Kekalahan di kandang Galatasaray ini menjadi pukulan telak bagi Juventus pada musim tersebut.
- UCL 2013/2014: Juventus 2-2 Galatasaray. Hasil imbang kembali terjadi, kali ini di kandang Juventus, yang menunjukkan kesulitan Juventus untuk meraih kemenangan kandang atas Galatasaray.
- UCL 2013/2014: Galatasaray 1-0 Juventus. Kekalahan dramatis di menit-menit akhir pertandingan ini menjadi salah satu momen paling menyakitkan bagi Juventus, yang akhirnya membuat mereka tersingkir dari fase grup.
- UCL 2025/2026: Galatasaray 5-2 Juventus. Kekalahan telak dan memalukan di leg pertama play-off 16 besar, yang semakin mempertegas dominasi Galatasaray.
Data ini menunjukkan bahwa Juventus memiliki catatan yang sangat buruk melawan Galatasaray, terutama dalam beberapa pertemuan terakhir. Kekalahan 2-5 kali ini bukan hanya sekadar angka, tetapi sebuah indikasi serius mengenai penurunan performa Juventus di kancah Eropa.
Para pengamat sepak bola dan pendukung setia Juventus tentu berharap agar tim kesayangan mereka bisa belajar dari kekalahan ini. Perlu ada evaluasi menyeluruh, mulai dari pemilihan pemain, strategi pelatih, hingga mentalitas tim. Jika tidak segera berbenah, Juventus berisiko semakin terpuruk dan semakin jauh dari impian untuk kembali meraih kejayaan di Liga Champions. Rekor buruk ini harus segera dipatahkan, dan leg kedua nanti menjadi kesempatan terakhir bagi Juventus untuk membuktikan diri bahwa mereka masih memiliki semangat juang yang tersisa. Namun, dengan defisit gol yang begitu besar, tugas berat menanti mereka di kandang sendiri. Pertanyaan besarnya, mampukah Juventus bangkit dari mimpi buruk ini, ataukah mereka akan terus terperosok dalam jurang rekor buruk yang terus memanjang?

