Podcast Denny Sumargo, yang dikenal dengan nama akrab Densu, sekali lagi menjadi pusat perhatian publik setelah keputusannya yang tegas untuk tidak mengundang pelaku child grooming yang terkait dengan kisah Aurelie Moeremans. Keputusan ini muncul tak lama setelah buku Aurelie berjudul ‘Broken Strings’ menjadi viral dan memicu diskusi luas di kalangan warganet, menegaskan posisi sang pebasket dalam mendukung korban dan menolak platform bagi pelaku kejahatan. Insiden ini tidak hanya menyoroti integritas Densu sebagai figur publik, tetapi juga membuka kembali perbincangan penting mengenai etika media dan tanggung jawab sosial para influencer di era digital.
Sejak kemunculannya, podcast Denny Sumargo telah menjelma menjadi salah satu platform media paling berpengaruh di Indonesia. Dikenal dengan format wawancara mendalam yang kerap mengupas sisi personal, kontroversial, hingga inspiratif dari para narasumber, siniar ini berhasil menarik jutaan penonton dan pendengar. Daya tariknya terletak pada kemampuan Densu untuk menggali cerita tamu-tamunya dengan empati namun tetap kritis, seringkali memicu perbincangan hangat di media sosial. Karena jangkauannya yang luas dan pengaruhnya yang signifikan, setiap keputusan Densu terkait pemilihan tamu atau topik diskusi selalu menjadi sorotan publik, dan kali ini, ia membuktikan komitmennya terhadap nilai-nilai moral yang kuat.
Pemicu utama dari keputusan Densu ini adalah kisah pahit yang dialami Aurelie Moeremans, yang ia tuangkan dalam bentuk e-book berjudul ‘Broken Strings’. Buku ini menceritakan pengalaman traumatis yang dialaminya sekitar 16 tahun silam, ketika ia masih belia dan menjadi korban child grooming. ‘Broken Strings’ dibagikan secara gratis melalui tautan di bio Instagram Aurelie, sebuah langkah yang berani dan transparan, bertujuan untuk berbagi pengalaman, menyuarakan, dan sekaligus menjadi bagian dari proses penyembuhan dirinya. Kisah Aurelie segera menyebar luas, memicu gelombang simpati dan kemarahan publik terhadap praktik child grooming yang seringkali luput dari perhatian.
Child grooming adalah tindakan manipulasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak atau remaja di bawah umur, seringkali dengan membangun hubungan emosional palsu untuk tujuan pelecehan seksual atau eksploitasi lainnya. Ini adalah kejahatan yang merusak masa depan korban, meninggalkan trauma mendalam yang dapat berlangsung seumur hidup. Dalam konteks ini, keputusan Densu untuk tidak mengundang pelaku child grooming adalah sikap yang tidak hanya personal tetapi juga memiliki resonansi sosial yang kuat, menandakan penolakan keras terhadap segala bentuk eksploitasi anak dan memberikan dukungan moral kepada para korban.
Ketertarikan Densu terhadap kisah Aurelie bermula dari unggahan Reels di akun Instagramnya, @sumargodenny, yang menampilkan cuplikan Aurelie saat masih muda. Dalam unggahan tersebut, Densu menuliskan komentar singkat, "Oo ini awalnya," mengindikasikan rasa penasarannya terhadap latar belakang kisah Aurelie. Unggahan ini segera menarik perhatian Aurelie, yang kemudian memberikan tanggapan langsung, mengonfirmasi interaksinya dengan Densu. Aurelie menimpali dengan komentar yang penuh apresiasi, "Bang Densu keren 🙏 Kemarin menelepon aku untuk minta kronologis dan memutuskan untuk tidak mengundang child groomer." Balasan Aurelie ini menjadi bukti nyata bahwa Densu tidak hanya sekadar mengikuti tren, melainkan melakukan upaya proaktif untuk memahami duduk perkara sebelum membuat keputusan.
Interaksi antara Densu dan Aurelie di media sosial ini sontak menjadi viral. Tangkapan layar dari percakapan mereka beredar luas di berbagai platform, khususnya Threads, di mana warganet beramai-ramai membagikannya dan memulai diskusi. Akun seperti nker.na ikut menggaungkan kabar tersebut, menuliskan, "Aurelie sebut di telpon Denny Sumargo untuk meminta kronologis dan Denny putuskan untuk tak undang pelaku Child Groomer!" Postingan ini menjadi katalisator bagi banjirnya komentar dari netizen yang sebagian besar merespons positif dan mendukung penuh keputusan Densu.
Respons netizen menunjukkan betapa kuatnya sentimen publik terhadap isu child grooming dan bagaimana mereka mengharapkan figur publik untuk mengambil sikap yang jelas. Salah satu komentar datang dari arina.tri yang dengan tegas menyatakan, "Kalau sampe undang si pelaku udah ku blacklist." Pernyataan ini menunjukkan tingkat kekecewaan yang akan dialami jika Densu mengambil langkah berbeda, dan bagaimana publik siap menarik dukungan mereka dari media yang dianggap memfasilitasi pelaku kejahatan. Sentimen serupa juga diungkapkan oleh ilo.vereemajes yang singkat namun padat menyatakan, "Yeah, me too," menegaskan bahwa pandangan ini tidak hanya individu, melainkan merupakan suara kolektif.
Beberapa netizen bahkan mengutarakan kekhawatiran praktis jika pelaku sampai diundang. "Bukannya apa entar klo diundang gak nyambung lg ngomongnya 😂," ucap salah seorang warganet, menyiratkan bahwa diskusi dengan pelaku grooming tidak akan menghasilkan percakapan yang berarti atau konstruktif, dan hanya akan memicu kemarahan. Komentar ini menyoroti bahwa tujuan utama podcast adalah untuk memberikan hiburan dan informasi yang bermanfaat, dan mengundang pelaku child grooming justru akan menyimpang dari tujuan tersebut, bahkan berpotensi merugikan kredibilitas podcast itu sendiri.
Tingkat kejengkelan dan kemarahan publik terhadap isu ini tergambar jelas dalam komentar luthfysetiyaningrum. Ia menuliskan, "Serius, kalo Ampe densu berani undang itu aki2 pedo kurang SE ons, jgnkan pas scrol ada postingan lagi podcast walaupun bukan Ama tu kakek pedo setress, iklan endorse dia pun gua skip. Semuak itu Ama berbagai kebodohan di negri ini yg di glorifikasi." Komentar ini bukan hanya ancaman untuk memboikot podcast Densu, tetapi juga mengungkapkan rasa muak yang lebih dalam terhadap "kebodohan di negri ini yg di glorifikasi," yang bisa diartikan sebagai fenomena di mana kasus-kasus sensitif seringkali diromantisasi atau dibiarkan tanpa konsekuensi serius. Ini adalah seruan untuk akuntabilitas yang lebih besar dan penolakan terhadap pemakluman atas kejahatan yang merugikan anak-anak.
Kisah ‘Broken Strings’ sendiri, seperti yang diungkapkan Aurelie kepada rekan media belum lama ini, bukan sekadar cerita pahit yang ingin ia lupakan, melainkan sebuah proses penyembuhan. "Menulis Broken Strings itu bukan karena aku sudah pulih sepenuhnya lalu ingin menunjukkan ke publik kalau aku baik-baik saja. Justru kebalikannya. Proses menulisnya adalah bagian dari proses pulih itu sendiri," ungkap Aurelie. Pernyataan ini memberikan konteks mendalam mengapa ia memilih untuk membagikan kisahnya. Ini adalah tindakan keberanian yang luar biasa, mengubah pengalaman traumatis menjadi narasi yang berpotensi memberdayakan korban lain dan meningkatkan kesadaran publik. Dengan membagikan bukunya secara gratis, Aurelie juga memastikan bahwa pesannya dapat menjangkau khalayak seluas-luasnya tanpa hambatan finansial.
Keputusan Denny Sumargo untuk mengambil sikap tegas ini tidak hanya mengukuhkan posisinya sebagai figur publik yang berintegritas, tetapi juga menetapkan standar penting bagi media dan influencer lainnya. Di tengah arus informasi yang tak terbendung, di mana sensasi seringkali lebih diutamakan daripada substansi, langkah Densu menunjukkan bahwa ada batasan etika yang tidak boleh dilanggar. Memilih untuk tidak memberikan platform kepada pelaku child grooming adalah bentuk perlindungan terhadap audiensnya, terutama mereka yang mungkin adalah korban atau memiliki hubungan dengan korban. Ini adalah pengakuan bahwa media memiliki kekuatan untuk membentuk narasi dan memengaruhi opini publik, dan dengan kekuatan itu datanglah tanggung jawab besar untuk tidak glorifikasi kejahatan atau memberikan panggung bagi mereka yang telah merugikan orang lain, khususnya anak-anak.
Peristiwa ini juga menyoroti peran penting media sosial dalam era kontemporer. Platform seperti Instagram dan Threads bukan lagi sekadar tempat berbagi foto, melainkan arena publik di mana percakapan serius terjadi, opini terbentuk, dan bahkan keadilan sosial diperjuangkan. Kecepatan penyebaran informasi dan kemampuan netizen untuk berinteraksi langsung dengan figur publik memberikan kekuatan baru pada suara kolektif. Dalam kasus ini, interaksi langsung antara Densu dan Aurelie, yang kemudian direspons masif oleh netizen, menunjukkan bahwa publik tidak lagi pasif; mereka aktif menuntut transparansi, integritas, dan akuntabilitas dari para pemimpin opini.
Pada akhirnya, keputusan Densu untuk tidak mengundang pelaku child grooming yang terkait dengan kisah Aurelie Moeremans adalah lebih dari sekadar pilihan editorial. Ini adalah pernyataan moral yang kuat, sebuah penolakan terhadap normalisasi kejahatan, dan sebuah dukungan yang tak tergoyahkan bagi para korban. Kisah ‘Broken Strings’ Aurelie telah membuka mata banyak orang, dan reaksi publik yang masif menunjukkan bahwa kesadaran terhadap isu child grooming semakin meningkat. Semoga peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pihak, terutama para pembuat konten dan figur publik, akan tanggung jawab mereka untuk menggunakan platform mereka demi kebaikan bersama dan melindungi mereka yang paling rentan dalam masyarakat.

