Dalam deskripsi barang yang diunggah di eBay, AdmiralBulldog menuliskan, "Setiap tim mendapatkan cincin karena memenangkan The International. Jika Anda menginginkan sepotong sejarah, inilah cincin dari final epik Na’Vi vs Alliance." Pernyataan ini menegaskan nilai historis yang tak terbantahkan dari objek tersebut, mengingat final TI3 merupakan salah satu pertandingan Dota 2 paling ikonik dan dikenang sepanjang masa. Dilansir dari Dot Esports pada Sabtu (10/1/2026), cincin juara ini dibanderol dengan harga awal yang fantastis, mencapai USD 70 ribu, atau setara dengan sekitar Rp 1,2 miliar.
Proses lelang cincin bersejarah ini telah dimulai sejak tanggal 3 Januari 2026, dan dijadwalkan akan berakhir pada sore menjelang malam hari ini, Sabtu, 10 Januari 2026. Bagi kolektor atau penggemar berat yang tidak ingin ambil risiko dalam lelang dan berhasrat untuk segera memiliki artefak esports ini, tersedia opsi "Buy It Now" dengan harga USD 99 ribu, atau sekitar Rp 1,6 miliar. Angka-angka ini tidak hanya mencerminkan nilai material cincin itu sendiri, tetapi juga nilai intrinsik dari sejarah, kemenangan, dan kenangan yang melekat padanya.
AdmiralBulldog meraih cincin juara tersebut setelah kemenangan bersejarah timnya, Alliance, di ajang The International 2013. Momen klimaks dari turnamen tersebut adalah final yang mendebarkan, di mana tim kuat asal Swedia ini berhadapan dengan salah satu rival terberat mereka, Natus Vincere (Na’Vi). Dalam serangkaian pertandingan yang intens dan penuh strategi, Alliance berhasil mengalahkan Na’Vi di game kelima yang menentukan, menandai salah satu momen paling ikonik dan dramatis dalam sejarah kompetisi Dota 2. Pertandingan tersebut dikenal sebagai "The Million Dollar Dream Coil" dan "The Base Race," yang hingga kini masih sering dibicarakan dan dianalisis sebagai contoh puncak dari strategi dan eksekusi di Dota 2.
Kemenangan Alliance di TI3 tidak hanya sekadar meraih gelar juara, tetapi juga mendefinisikan era baru dalam Dota 2. Mereka dikenal dengan gaya permainan "rat Dota" yang sangat efektif, di mana fokus utama adalah menghancurkan markas musuh dengan cepat melalui rotasi hero dan penggunaan kemampuan global, ketimbang pertarungan tim secara frontal. AdmiralBulldog, yang bermain di posisi offlaner, menjadi pilar penting dalam strategi ini, seringkali menguasai medan perang dengan hero-hero khasnya seperti Nature’s Prophet dan Lone Druid, yang memungkinkan tekanan konstan di seluruh peta. Cincin yang kini dijualnya adalah simbol fisik dari inovasi, dominasi, dan kerja keras yang membawa Alliance ke puncak dunia.
Lantas, pertanyaan besar yang menggelayuti banyak pihak adalah, mengapa AdmiralBulldog memutuskan untuk menjual benda paling bersejarah yang pernah ia peroleh di skena kompetitif Dota 2? Ini adalah sebuah piala yang tidak bisa digantikan, sebuah simbol dari puncak kariernya. Spekulasi pun merebak luas di kalangan penggemar. Beberapa pihak mulai berspekulasi bahwa mantan pemain profesional yang kini beralih profesi menjadi streamer populer ini mungkin sedang mengalami kesulitan keuangan. Dugaan ini muncul mengingat besarnya nilai jual cincin tersebut, yang seringkali menjadi indikasi bahwa seseorang membutuhkan dana tunai.
Namun, ada pula pihak lain yang memiliki pandangan yang sangat berbeda dan membantah keras spekulasi kesulitan finansial tersebut. Bagi mereka, kondisi keuangan AdmiralBulldog justru sangat baik, bahkan terus memperoleh pendapatan besar dari aktivitas streamingnya. Mereka menyatakan bahwa legenda Dota 2 ini termasuk dalam satu persen orang berpenghasilan tertinggi di Swedia, sebuah klaim yang didasarkan pada popularitas dan jumlah subscriber serta donasi yang ia terima di platform Twitch. AdmiralBulldog dikenal memiliki basis penggemar yang sangat loyal dan aktif, yang secara konsisten mendukungnya.
Menjawab rasa penasaran publik dan mengakhiri berbagai spekulasi yang beredar, AdmiralBulldog akhirnya angkat bicara. Ia mengonfirmasi secara langsung bahwa keputusannya untuk menjual cincin juara TI3 sama sekali bukan karena sedang membutuhkan uang atau berada dalam kondisi putus asa. "Alasan menjualnya bukan karena alasan khusus, bukan karena putus asa. Saya sudah lama mempertimbangkan untuk menjualnya, baru sekarang saya melakukannya," ujarnya. Penjelasan ini memberikan perspektif yang berbeda, menunjukkan bahwa keputusan ini adalah hasil pemikiran yang matang dan bukan desakan dari kondisi mendesak.
Lebih lanjut, AdmiralBulldog menjelaskan motivasi utamanya: "Saya hanya percaya bahwa cincin ini memiliki nilai moneter yang lebih tinggi daripada nilai sentimentalnya." Pernyataan ini cukup mengejutkan bagi banyak orang, mengingat bagaimana para atlet dan kompetitor seringkali sangat menghargai piala dan medali sebagai simbol dari kerja keras dan pencapaian mereka. Namun, bagi AdmiralBulldog, yang telah beralih sepenuhnya dari karier profesional ke dunia streaming, nilai sentimental dari cincin tersebut mungkin telah bergeser. Ia mungkin merasa bahwa warisan dan kenangannya terhadap TI3 sudah tertanam kuat dalam dirinya dan di hati para penggemar, tanpa perlu objek fisik sebagai pengingat.
Keputusan AdmiralBulldog ini membuka diskusi yang lebih luas tentang nilai memorabilia dalam dunia esports yang terus berkembang. Berbeda dengan olahraga tradisional di mana piala dan medali seringkali disimpan seumur hidup sebagai pusaka, esports masih relatif muda dan cara para pemain memandang "warisan" mereka mungkin berbeda. Apakah ini pertanda bahwa di masa depan, kita akan melihat lebih banyak artefak esports bersejarah diperjualbelikan? Mengingat pasar koleksi olahraga tradisional yang sangat besar, potensi pasar memorabilia esports juga sangat menjanjikan. Cincin TI3 AdmiralBulldog ini bisa jadi adalah salah satu pelopor dalam tren baru ini.
Selain itu, keputusan ini juga menyoroti transisi karier banyak pemain profesional esports. Setelah mencapai puncak, banyak dari mereka yang beralih menjadi streamer, komentator, atau pelatih. Bagi AdmiralBulldog, transisi ini sangat sukses, menjadikannya salah satu streamer Dota 2 paling populer. Kehidupannya sebagai streamer kini mungkin memberinya kepuasan dan pendapatan yang lebih konsisten dibandingkan tekanan kompetisi profesional. Oleh karena itu, menjual cincin yang melambangkan masa lalu kompetitifnya bisa jadi adalah bagian dari perjalanannya untuk sepenuhnya merangkul identitas barunya, sambil juga mengkapitalisasi nilai historis dari pencapaian lamanya.
Penjualan cincin ini juga menjadi pengingat akan seberapa besar pertumbuhan industri esports. Harga yang fantastis untuk sebuah cincin juara dari satu dekade lalu menunjukkan bahwa sejarah dan pencapaian dalam esports kini diakui memiliki nilai yang signifikan, baik secara budaya maupun finansial. Ini bukan hanya sekadar barang koleksi, melainkan sebuah potongan sejarah dari salah satu turnamen esports paling bergengsi di dunia. Bagi pembeli yang beruntung, cincin ini akan menjadi simbol abadi dari era keemasan Dota 2 dan warisan abadi Alliance serta AdmiralBulldog.
Pada akhirnya, terlepas dari berbagai spekulasi dan perdebatan, keputusan AdmiralBulldog untuk menjual cincin juara TI3-nya adalah hak prerogatif pribadinya. Ini adalah sebuah langkah yang mungkin pragmatis secara finansial dan filosofis bagi dirinya. Namun, satu hal yang pasti, penjualan cincin ini telah berhasil menempatkan kembali AdmiralBulldog dan kemenangan Alliance di TI3 sebagai topik hangat di seluruh komunitas Dota 2, membuktikan bahwa bahkan satu dekade setelahnya, legenda-legenda esports dan pencapaian mereka masih memiliki daya tarik dan relevansi yang kuat.

