0

Catatan Fairuz dan Sonny Septian Hadapi Anak Saat Jenuh Menghapal Al-Qur’an

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pasangan selebritas yang dikenal harmonis, Sonny Septian dan Fairuz A. Rafiq, kembali menjadi sorotan publik, kali ini bukan hanya karena pesona mereka di layar kaca, tetapi lebih kepada pendekatan mendidik anak yang penuh empati dan relatable bagi banyak orang tua. Di tengah kesibukan dunia hiburan, keduanya menunjukkan komitmen kuat dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada buah hati mereka, terutama dalam menghapal Al-Qur’an. Namun, di balik layar yang tampak mulus, tersimpan kisah perjuangan menghadapi fase kejenuhan yang dialami anak-anak mereka, sebuah tantangan yang tak asing bagi setiap orang tua.

Fairuz A. Rafiq membagikan pengalamannya mengenai upaya mendidik putra sulungnya, Faaz, yang kini telah menginjak usia 13 tahun. Selama bulan Ramadan, Faaz mendapatkan program khusus yang mendorongnya untuk menghapal Al-Qur’an. Program ini tidak hanya berfokus pada kuantitas hapalan, tetapi juga mencakup penilaian terhadap adab dan akhlak yang ditunjukkan oleh Faaz. Meskipun terlihat konsisten dan disiplin dalam menjalankan program tersebut, Fairuz mengakui bahwa ada kalanya anak-anak mengalami kejenuhan, sebuah fenomena alamiah dalam proses belajar, apalagi ketika materi yang dihadapi cukup menantang seperti menghapal kitab suci.

"Kalau lagi gak mood, kita gak pernah maksa, gak pernah harus selesai saat itu juga," ujar Fairuz dengan tegas saat ditemui di Studio TransTV, kawasan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada suatu kesempatan. Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi parenting mereka yang mengutamakan fleksibilitas dan pemahaman terhadap kondisi emosional anak. Alih-alih menerapkan pendekatan yang kaku dan otoriter, Fairuz dan Sonny memilih jalur komunikasi yang lebih personal dan hati ke hati. Mereka percaya bahwa memaksa anak dalam kondisi tidak mood hanya akan menimbulkan resistensi dan pengalaman negatif terhadap proses belajar.

Tantangan terbesar bagi orang tua, menurut Fairuz, terletak pada bagaimana cara merespons ketika anak menunjukkan tanda-tanda kebosanan atau ketidaksemangatan. Di sinilah pendekatan persuasif menjadi kunci utama. Fairuz dan Sonny tidak hanya memberikan perintah, tetapi mereka berusaha memberikan pemahaman yang mendalam kepada anak-anak mereka. Mereka menjelaskan berbagai keuntungan yang akan diperoleh jika mereka mampu menyelesaikan tugas menghapal Al-Qur’an tepat waktu, serta konsekuensi yang mungkin timbul jika penundaan terjadi. Penjelasan ini disampaikan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna oleh anak-anak, disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka. Pendekatan ini bertujuan agar anak-anak tidak hanya patuh karena perintah, tetapi juga memahami esensi dan manfaat dari apa yang mereka lakukan.

Sonny Septian turut menambahkan pandangannya mengenai pentingnya keteladanan dalam mendidik anak. Menurutnya, anak-anak sejatinya adalah peniru ulung. Mereka lebih mudah menyerap dan mencontoh apa yang mereka lihat daripada sekadar apa yang diperintahkan. "Kalau kita memerintahkan, tapi gak memperlihatkan, mereka gak akan mencontoh. Tapi kalau mereka melihat, nanti mereka akan ikut dengan sendirinya," jelas Sonny dengan lugas. Prinsip ini sangat relevan dalam konteks mendidik anak dalam hal keagamaan. Ketika orang tua sendiri menunjukkan semangat dan konsistensi dalam menjalankan ibadah dan belajar agama, anak-anak akan lebih termotivasi untuk mengikuti jejak mereka. Keteladanan menjadi media pembelajaran yang paling efektif, membangun pondasi moral dan spiritual yang kuat sejak dini.

Bagi Fairuz A. Rafiq, inti dari pola asuh yang mereka jalankan sebenarnya sangat sederhana namun mendalam: melibatkan Allah dalam setiap aspek kehidupan dan aktivitas keluarga. Konsep ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah keyakinan yang diintegrasikan dalam rutinitas sehari-hari. Dengan menjadikan Allah sebagai pusat dari segala kegiatan, diharapkan keluarga mereka senantiasa mendapatkan bimbingan, kekuatan, dan keberkahan. Sementara itu, Sonny Septian menekankan satu prinsip utama yang menjadi pilar dalam keluarga mereka, yaitu prinsip kasih sayang dan saling menjaga. Keluarga yang saling menyayangi dan saling menjaga akan mampu menghadapi berbagai cobaan dan tantangan bersama dengan lebih kuat. Kasih sayang menjadi perekat yang mengikat anggota keluarga, sementara rasa saling menjaga menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.

Namun, di balik konsep parenting yang terdengar ideal dan harmonis ini, tersembunyi realitas perjuangan sehari-hari yang tak kenal lelah. Menghadapi anak yang sedang jenuh membutuhkan kesabaran ekstra dan strategi yang tepat. Menjaga konsistensi dalam murajaah (mengulang hafalan) agar hapalan yang sudah ada tidak hilang juga menjadi pekerjaan rumah yang tiada henti. Lebih dari itu, tantangan terbesar bagi Fairuz dan Sonny adalah bagaimana mereka bisa menjadi orang tua yang suportif dan inspiratif, tanpa terjebak dalam peran sebagai sosok yang diktator atau otoriter. Mereka terus belajar dan beradaptasi untuk menemukan keseimbangan yang tepat, memastikan bahwa proses pendidikan anak berjalan sesuai dengan nilai-nilai yang mereka pegang teguh, sambil tetap menghargai tumbuh kembang dan kebutuhan emosional anak.

"Tapi bagaimana caranya kita sebagai orang tua bukan menjadi apa ya, diktator buat anak," tutup Fairuz A. Rafiq dengan sebuah renungan yang sangat menyentuh. Pernyataan ini mencerminkan kesadaran mereka akan pentingnya memberikan ruang bagi anak untuk berkembang secara mandiri, mengembangkan pemikiran kritis, dan membentuk kepribadian yang kuat. Menjadi orang tua bukanlah sebuah profesi yang memiliki manual pasti, melainkan sebuah perjalanan pembelajaran berkelanjutan yang penuh dengan eksperimen, refleksi, dan penyesuaian.

Kisah Fairuz dan Sonny Septian ini memberikan pelajaran berharga bagi para orang tua di luar sana. Di era digital yang serba cepat ini, menjaga nilai-nilai spiritual dan moral pada anak memang memiliki tantangan tersendiri. Namun, dengan pendekatan yang tepat, penuh kasih sayang, dan senantiasa melibatkan Tuhan dalam setiap langkah, proses mendidik anak, termasuk dalam hal menghapal Al-Qur’an, dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan penuh makna, bahkan ketika anak sedang dilanda kejenuhan. Mereka menunjukkan bahwa parenting yang efektif adalah tentang membangun hubungan yang kuat dengan anak, memahami kebutuhan mereka, dan memberikan bimbingan yang konsisten dengan cinta dan kesabaran.