0

Atalanta Vs Roma: I Lupi Tumbang 0-1, Terdepak dari 4 Besar Klasemen Serie A

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – AS Roma harus menelan pil pahit dalam lawatan mereka ke markas Atalanta pada lanjutan Serie A pekan ke-18. Kekalahan tipis 0-1 dari La Dea membuat Giallorossi harus rela keluar dari zona empat besar klasemen sementara Serie A. Gol tunggal Giorgio Scalvini di babak pertama menjadi pembeda dalam duel yang digelar di New Balance Arena, Bergamo, Minggu (4/1/2026) dini hari WIB. Hasil ini memperpanjang catatan minor Roma dalam beberapa pertandingan terakhir dan menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi tim asuhan Jose Mourinho dalam perburuan tiket Liga Champions musim depan.

Pertandingan antara Atalanta dan Roma sejak awal sudah diprediksi akan berjalan ketat, mengingat kedua tim memiliki ambisi yang sama untuk mendongkrak posisi mereka di klasemen. Roma, yang datang dengan misi mempertahankan posisi di empat besar, justru harus menghadapi tekanan dari tuan rumah sejak menit-menit awal. Kans pertama datang pada menit ketujuh ketika sebuah backpass yang kurang sempurna dari Ederson kepada kipernya berhasil dipotong oleh Paulo Dybala. Sang penyerang asal Argentina itu sigap mengoper bola kepada Evan Ferguson, penyerang muda Irlandia yang dipercaya mengisi lini depan Roma. Sayangnya, tembakan pertama Ferguson masih mampu diblok oleh kiper Atalanta. Bola muntah kembali coba dimanfaatkan oleh Ferguson, namun kali ini Kolasinac berada di posisi yang tepat untuk menghalau bola di depan garis gawang, menyelamatkan gawang Atalanta dari kebobolan.

Petaka bagi Roma datang pada menit ke-12. Berawal dari sebuah sepak pojok, bola yang meluncur ke dalam kotak penalti berhasil disambut oleh Giorgio Scalvini. Bek muda Italia itu dengan tenang menceploskan bola ke gawang Roma yang dijaga oleh Mile Svilar. Wasit sempat menghentikan permainan sejenak untuk melakukan pengecekan melalui Video Assistant Referee (VAR) guna memastikan tidak ada pelanggaran terhadap Svilar dalam proses terjadinya gol. Namun, setelah meninjau ulang rekaman, wasit memutuskan bahwa gol tersebut sah. Keputusan ini tentu saja memukul mental para pemain Roma yang merasa terkejut dengan gol cepat dari tim tuan rumah.

Atalanta nyaris menggandakan keunggulan mereka pada menit ke-28. Kali ini, umpan silang matang dari Bernasconi dari sisi sayap kanan berhasil disundul oleh Gianluca Scamacca. Bola sundulan penyerang Italia itu sempat menggetarkan jala gawang Roma. Namun, euforia para pemain Atalanta dan pendukungnya harus tertahan sejenak karena wasit kembali melakukan intervensi melalui VAR. Setelah melihat kembali tayangan, wasit memutuskan bahwa Scamacca berada dalam posisi offside saat menerima umpan silang Bernasconi. Dengan demikian, gol kedua Atalanta dianulir, sebuah keputusan yang kembali memicu perdebatan di lapangan.

Memasuki babak kedua, Roma mencoba bangkit dan mencari gol penyeimbang. Peluang emas datang pada menit ke-50 ketika Evan Ferguson kembali mengancam gawang Atalanta. Gerakannya yang lincah berhasil melepaskan tembakan keras yang memaksa kiper Atalanta, Carnesecchi, melakukan penyelamatan gemilang dengan ujung jarinya. Meskipun Roma terus berupaya keras menciptakan peluang bersih, mereka masih kesulitan membongkar pertahanan solid Atalanta yang tampil disiplin. Sebaliknya, Atalanta justru hampir menambah gol di masa injury time melalui tendangan keras Krstovic, namun kali ini Svilar tampil sigap untuk menepis bola dan mengamankan gawangnya dari kebobolan lebih lanjut.

Kekalahan ini berdampak langsung pada posisi AS Roma di klasemen sementara Serie A. Giallorossi harus turun ke peringkat kelima dengan mengoleksi 33 poin dari 18 pertandingan yang telah dilakoni. Mereka digeser oleh Juventus yang berhasil meraih hasil imbang melawan Lecce di pertandingan lain. Meskipun memiliki jumlah poin yang sama, Juventus unggul dalam selisih gol, sebuah indikator bahwa Roma perlu segera memperbaiki performa mereka jika ingin kembali ke jalur kemenangan dan bersaing di papan atas.

Sementara itu, bagi Atalanta, kemenangan ini memberikan suntikan moral yang sangat berarti. La Dea berhasil naik ke peringkat kedelapan klasemen dengan total 25 poin dari 18 pertandingan. Hasil ini menunjukkan bahwa Atalanta tetap menjadi tim yang patut diperhitungkan di Serie A, mampu memberikan perlawanan sengit kepada tim-tim besar. Performa mereka yang inkonsisten di awal musim mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, dan kemenangan atas Roma bisa menjadi momentum penting untuk mengarungi sisa kompetisi.

Di lini tengah, duel antara pemain-pemain seperti Ederson dan De Roon dari Atalanta melawan Cristante dan Kone dari Roma berlangsung sengit. Ederson, dengan visi bermainnya yang baik, kerap mencoba mengatur tempo permainan Atalanta, sementara De Roon menjadi jangkar pertahanan yang solid. Di sisi Roma, Cristante mencoba memberikan kestabilan di lini tengah, namun kehadiran Kone yang masih muda seringkali terlihat kalah pengalaman dalam duel-duel krusial. Pergerakan Dybala di lini depan Roma menjadi ancaman utama, namun ia seringkali terisolasi karena minimnya dukungan dari lini tengah maupun sayap.

Pertahanan Atalanta yang dikomandoi oleh Scalvini dan Djimsiti tampil disiplin dalam meredam serangan Roma. Mereka berhasil menutup ruang gerak para penyerang Roma, termasuk Dybala dan Ferguson. Kolasinac, sebelum digantikan karena cedera, juga menunjukkan performa apik dalam mengawal pertahanan. Di sisi lain, lini belakang Roma yang diisi oleh Mancini, Ziolkowski, dan Hermoso terkadang terlihat rapuh dan mudah ditembus oleh serangan balik cepat Atalanta. Absennya beberapa pemain kunci akibat cedera atau akumulasi kartu tampaknya memberikan dampak pada kedalaman skuad Roma.

Pelatih Atalanta, Gian Piero Gasperini, patut diacungi jempol atas strategi yang diterapkan timnya. Ia berhasil meredam kekuatan serangan Roma dan memanfaatkan celah yang ada. Pergantian pemain yang dilakukan, seperti memasukkan Hien menggantikan Scalvini yang sedikit mengalami masalah, serta Ahanor untuk Kolasinac, menunjukkan kedalaman skuad dan kemampuan adaptasi Gasperini. Sementara itu, Jose Mourinho dari kubu Roma, tampaknya masih mencari formula terbaik untuk timnya. Pergantian pemain yang dilakukan, seperti memasukkan Wesley menggantikan Ziolkowski di awal babak kedua, serta Tsimikas dan Dovbyk untuk menambah daya gedor, belum mampu mengubah jalannya pertandingan secara signifikan.

Pertandingan ini juga menyoroti pentingnya bola-bola mati bagi Atalanta. Gol pembuka berasal dari skema sepak pojok, sebuah bukti bahwa tim asuhan Gasperini memiliki variasi serangan yang baik. Roma, di sisi lain, terlihat kurang efektif dalam memanfaatkan peluang dari set-piece. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi staf pelatih Roma untuk dapat meningkatkan efektivitas dalam situasi bola mati.

Secara keseluruhan, kekalahan ini merupakan pukulan telak bagi AS Roma dalam upaya mereka untuk bersaing di papan atas Serie A. Mereka harus segera mengevaluasi performa mereka, memperbaiki kelemahan yang ada, dan mencari cara untuk kembali ke jalur kemenangan. Bagi Atalanta, kemenangan ini menjadi modal berharga untuk terus mendaki klasemen dan membuktikan bahwa mereka masih merupakan kekuatan yang patut diperhitungkan di liga Italia. Pertarungan di Serie A musim ini dipastikan akan semakin menarik dengan persaingan yang ketat di setiap lini klasemen.

Susunan Pemain:

Atalanta: Carnesecchi; Scalvini (Hien 59′), Djimsiti, Kolasinac (Ahanor 26′); Zappacosta, De Roon, Ederson (Maldini 72′), Bernasconi; De Ketelaere, Zalewski (Musah 60′); Scamacca (Krstovic 72′)

Roma: Svilar; Mancini, Ziolkowski (Wesley 46′), Hermoso; Celik, Cristante, Kone (Pisilli 83′), Rensch (Tsimikas 60′), Soule (El Shaarawy 66′), Dybala; Ferguson (Dovbyk 60′)

(nds/pur)