BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Fenomena ‘krisis ojol’ yang meresahkan warga Jakarta selama Ramadan 2026 akhirnya terkuak tabirnya. Bukan sekadar lonjakan permintaan atau fenomena mudik mitra driver ke kampung halaman seperti yang sempat dilontarkan oleh pihak aplikator, melainkan ada akar masalah yang jauh lebih fundamental dan merugikan para pengemudi. Asosiasi ojek online (ojol) Garda Indonesia dengan tegas membongkar biang kerok di balik kesulitan memesan layanan transportasi daring ini. Raden Igun Wicaksono, Ketua Umum Garda Indonesia, mengungkapkan bahwa kesulitan yang dialami konsumen merupakan bentuk protes diam atau "silent treatment" dari para mitra driver. Protes ini dilayangkan karena pendapatan mereka terus-menerus tergerus oleh potongan biaya aplikasi yang dinilai sangat besar dan sudah tidak dapat ditolerir lagi.
"Ini (krisis ojol) bentuk perlawanan kami protes mengenai potongan biaya aplikasi yang sangat besar sehingga sudah tidak dapat lagi ditolerir oleh rekan-rekan driver," ujar Igun dalam sebuah wawancara eksklusif yang dikutip pada Sabtu (14/3). Pernyataan ini menyoroti ketidakadilan yang dirasakan oleh para pengemudi, yang merasa bahwa sebagian besar hasil jerih payah mereka justru disedot oleh pihak pengembang aplikasi. Lebih lanjut, Igun menjelaskan bahwa situasi ini diperparah dengan minimnya tindakan konkret dari pemerintah. Belum adanya keputusan yang jelas dan mengikat mengenai pembagian hasil antara mitra driver dan aplikator, idealnya dengan skema 90:10 persen, membuat para mitra driver merasa frustrasi. "Karena pihak pemerintah hingga saat ini tidak juga memberikan keputusan konkret mengatur bagi hasil 90:10 persen, sehingga bentuk ‘silent treatment’ protes diam kami yaitu salah satunya rekan-rekan driver mengabaikan orderan yang masuk," tambahnya, menggarisbawahi bahwa mengabaikan pesanan adalah bentuk protes pasif yang terpaksa mereka lakukan.
Potongan biaya aplikasi yang dikeluhkan oleh mitra driver ini memang sangat signifikan. Menurut standar yang seharusnya, potongan tersebut idealnya hanya berkisar antara 10 hingga 15 persen dari total tarif perjalanan. Namun, kenyataan pahit yang dihadapi di lapangan jauh dari ideal. Igun membeberkan bahwa potongan tersebut bisa membengkak hingga mencapai 50 persen. Bayangkan, ketika seorang mitra driver berhasil menyelesaikan satu pesanan, separuh dari pendapatan yang seharusnya mereka terima langsung masuk ke kantong aplikasi. Kondisi seperti ini jelas menggerogoti motivasi dan semangat para pengemudi untuk mengambil pesanan. Pendapatan yang tersisa setelah dipotong biaya aplikasi, ditambah lagi dengan adanya skema hemat dan skema member yang terkadang memberatkan, membuat para mitra driver merasa bahwa usaha mereka menjadi tidak sepadan dengan hasil yang didapatkan.
"Apabila masih dibiarkan berlarut-larut, salah satu bentuk protes kami adalah silent treatment, mengabaikan orderan dari pelanggan. Sudah sangat kecil pendapatan driver ojol usai (dipotong) biaya aplikasi, skema hemat dan skema member," tegas Igun, menekankan bahwa aksi ini adalah puncak frustrasi dari kondisi yang terus memburuk. Jika tidak ada campur tangan dan regulasi yang tegas dari pemerintah, situasi krisis ojol ini dikhawatirkan akan terus berlarut-larut dan semakin merugikan baik mitra driver maupun konsumen. Ketiadaan pendapatan yang layak bagi mitra driver secara otomatis akan berdampak pada ketersediaan layanan, yang pada akhirnya akan dirasakan oleh seluruh pengguna jasa ojol di Jakarta.
Fenomena ‘krisis ojol’ ini memang bukan isapan jempol belaka. Sejak sepekan terakhir, keluhan masyarakat mengenai susahnya memesan ojek online di Jakarta semakin marak terdengar. Istilah ‘krisis ojol’ bahkan telah menjadi trending topic di berbagai platform media sosial, terutama di X (sebelumnya Twitter) dan Instagram. Para warganet tidak hanya mengeluhkan kesulitan mendapatkan driver, tetapi juga mengeluhkan lamanya pergerakan mitra driver setelah pesanan dikonfirmasi, yang menambah kekesalan dan ketidakpuasan. Pengalaman serupa juga dirasakan oleh tim redaksi, yang beberapa kali mengalami kesulitan dalam memesan ojol, baik roda dua maupun roda empat (taksi online/taksol), terutama pada jam-jam sibuk seperti malam hari atau sepulang kerja.
Menanggapi keluhan yang semakin meluas ini, pihak aplikator besar seperti Gojek dan Grab Indonesia memberikan berbagai alasan sebagai justifikasi atas fenomena ‘krisis ojol’ yang terjadi. Beberapa alasan yang mereka sampaikan antara lain adanya perubahan pola pemesanan dari masyarakat, tingginya penggunaan aplikasi pada jam-jam tertentu yang menyebabkan kepadatan sistem, kondisi cuaca yang seringkali hujan yang membuat mitra driver enggan beroperasi, serta fenomena mitra driver yang mudik ke kampung halaman menjelang hari raya. Namun, jika ditelisik lebih dalam, alasan-alasan tersebut seolah menjadi pemanis untuk menutupi masalah utama yang diungkapkan oleh asosiasi mitra driver, yaitu potongan biaya aplikasi yang terlalu tinggi.
Dampak potongan biaya aplikasi yang besar ini sangat terasa pada pendapatan bersih mitra driver. Jika diibaratkan, setiap kali mitra driver menyelesaikan satu pesanan, mereka seperti memberikan sebagian besar hasil kerja mereka kepada pihak aplikasi. Ini menciptakan siklus di mana mitra driver merasa tidak dihargai dan tidak mendapatkan imbalan yang sepadan dengan tenaga, waktu, dan risiko yang mereka ambil. Ketidakadilan ini memicu rasa frustrasi yang mendalam, yang kemudian berujung pada aksi protes diam-diam, yaitu dengan mengurangi jam operasional atau bahkan mengabaikan pesanan yang masuk. Aksi ini merupakan strategi terakhir yang terpaksa ditempuh ketika aspirasi mereka tidak kunjung didengar dan direspon secara memadai.

Asosiasi Garda Indonesia, melalui pernyataan Ketua Umumnya, Raden Igun Wicaksono, berupaya memberikan suara bagi para mitra driver yang merasa tertindas. Mereka mendesak pemerintah untuk segera turun tangan dan membuat regulasi yang jelas terkait pembagian hasil antara aplikator dan mitra driver. Skema 90:10 persen, di mana 90 persen pendapatan menjadi hak mitra driver dan 10 persen untuk aplikator, dianggap sebagai solusi yang paling adil dan dapat memulihkan kesejahteraan para pengemudi ojol. Tanpa intervensi pemerintah yang tegas, konflik kepentingan ini akan terus berlanjut, menciptakan ketidakpastian dalam industri transportasi daring dan merugikan semua pihak, terutama masyarakat yang bergantung pada layanan ini.
Lebih jauh lagi, penting untuk memahami bahwa mitra driver ojol merupakan tulang punggung dari seluruh ekosistem transportasi daring. Tanpa mereka, aplikasi secanggih apapun tidak akan berarti. Oleh karena itu, kesejahteraan mereka harus menjadi prioritas utama. Pemotongan biaya aplikasi yang berlebihan tidak hanya mengurangi pendapatan mereka, tetapi juga mengikis semangat kerja dan menciptakan ketidakpercayaan terhadap pihak aplikator. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan terjadi eksodus besar-besaran mitra driver dari platform-platform besar, yang pada akhirnya akan semakin memperparah ‘krisis ojol’ yang sedang terjadi dan bahkan dapat mengancam keberlangsungan bisnis transportasi daring itu sendiri.
Dampak ‘krisis ojol’ ini tidak hanya dirasakan oleh mitra driver dan konsumen, tetapi juga oleh perekonomian secara umum. Ketersediaan transportasi yang memadai sangat penting untuk mobilitas masyarakat, kelancaran aktivitas bisnis, dan perputaran roda ekonomi. Ketika layanan ojol sulit diakses, ini dapat menghambat aktivitas sehari-hari masyarakat, mengurangi produktivitas, dan berpotensi menurunkan tingkat konsumsi. Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini bukan hanya menjadi tanggung jawab para pihak yang terlibat langsung, tetapi juga menjadi perhatian penting bagi pemerintah sebagai regulator dan pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi.
Asosiasi Garda Indonesia juga menggarisbawahi bahwa skema hemat dan skema member yang seringkali diberlakukan oleh aplikator justru menambah beban bagi mitra driver. Skema-skema ini, yang terkadang mengharuskan mitra driver untuk memenuhi target tertentu atau menerima pesanan dengan tarif yang lebih rendah, seringkali tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus mereka keluarkan, seperti bahan bakar, perawatan kendaraan, dan pulsa. Hal ini semakin memperburuk kondisi finansial mereka dan membuat mereka semakin enggan untuk terus beroperasi.
Penting untuk dicatat bahwa media sosial telah menjadi saksi bisu dari berbagai keluhan dan ekspresi kekecewaan dari mitra driver. Banyak dari mereka yang membagikan tangkapan layar pendapatan mereka setelah dipotong biaya aplikasi, yang menunjukkan betapa minimnya hasil yang mereka terima. Cerita-cerita ini menjadi bukti nyata dari perjuangan keras yang mereka hadapi setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Dukungan dari masyarakat umum pun mulai mengalir, dengan banyak yang menyuarakan solidaritas mereka terhadap para mitra driver dan mendesak adanya solusi yang adil.
Dalam konteks ini, peran pemerintah menjadi sangat krusial. Regulasi yang jelas dan tegas mengenai pembagian hasil, tarif dasar, serta perlindungan hak-hak mitra driver sangat dibutuhkan. Pemerintah perlu duduk bersama dengan perwakilan mitra driver dan pihak aplikator untuk mencari titik temu yang menguntungkan semua pihak. Tanpa regulasi yang kuat, para mitra driver akan terus menjadi pihak yang paling dirugikan dalam ekosistem transportasi daring. ‘Krisis ojol’ ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap kebijakan yang ada dan merumuskan strategi yang lebih baik demi keberlanjutan industri ini dan kesejahteraan para pekerjanya.
Pada akhirnya, ‘krisis ojol’ di Jakarta bukan sekadar masalah teknis atau logistik semata. Ini adalah cerminan dari ketidakadilan dalam sebuah industri yang berkembang pesat. Dengan terkuaknya biang kerok berupa potongan biaya aplikasi yang berlebihan, diharapkan para pihak terkait, terutama pemerintah, dapat segera mengambil tindakan nyata. Protes diam para mitra driver melalui ‘silent treatment’ ini adalah sinyal kuat bahwa mereka tidak dapat lagi mentolerir kondisi yang merugikan. Solusi yang adil dan berkelanjutan harus segera ditemukan agar layanan ojol dapat kembali normal dan para mitra driver dapat bekerja dengan layak dan sejahtera.

