0

Arsenal Ditahan Wolves 2-2, Warganet Curiga Arteta Bantu Man City Juara

Share

Jakarta – Drama panas dan penuh gejolak emosi tersaji di Molineux Stadium, markas Wolverhampton Wanderers. Arsenal, yang datang dengan ambisi besar untuk mengamankan posisi puncak klasemen, harus menelan pil pahit usai ditahan imbang tuan rumah 2-2 dalam lanjutan Premier League, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB. Hasil ini bukan hanya sekadar kehilangan dua poin, melainkan memicu gelombang kritik tajam dari warganet, bahkan menyeret nama manajer Mikel Arteta ke dalam teori konspirasi liar yang menuduhnya sengaja "membantu" Manchester City meraih gelar juara.

Pertandingan ini sedianya menjadi kesempatan emas bagi The Gunners untuk memperlebar jarak di puncak klasemen. Dengan rival terdekat, Manchester City, yang baru akan bertanding di kemudian hari, kemenangan di Molineux akan memberikan dorongan moral dan tekanan psikologis yang signifikan. Namun, apa yang terjadi di lapangan justru sebaliknya, mengulang kembali narasi pahit tentang rapuhnya mental juara Arsenal di bawah tekanan.

Awal Sempurna yang Berujung Nestapa

Sejak peluit kick-off berbunyi, Arsenal menunjukkan niat untuk menggebrak. Bukayo Saka, bintang muda andalan The Gunners, hanya butuh empat menit untuk memecah kebuntuan. Menerima umpan terobosan yang cerdik, Saka dengan tenang menaklukkan kiper Wolves, Jose Sa, membawa tim tamu unggul cepat 1-0. Gol ini sontak membakar semangat para pemain Arsenal dan memberikan kepercayaan diri yang tinggi untuk mengendalikan jalannya pertandingan.

Dominasi Arsenal berlanjut sepanjang babak pertama. Mereka menguasai bola, menciptakan beberapa peluang berbahaya, dan memaksa barisan pertahanan Wolves bekerja keras. Meskipun Wolves sesekali mencoba melakukan serangan balik, disiplin lini belakang Arsenal tampak solid dan mampu mematahkan setiap upaya tuan rumah. Paruh pertama ditutup dengan keunggulan 1-0 untuk Arsenal, sebuah skor yang terasa aman namun belum sepenuhnya melegakan.

Memasuki babak kedua, The Gunners kembali tancap gas dan berhasil menggandakan keunggulan pada menit ke-55. Gol kedua ini lahir dari situasi yang melibatkan lini belakang Wolves, di mana sebuah kemelut di depan gawang berujung pada bola yang masuk ke jaring. Sebagian laporan menyebutnya sebagai gol bunuh diri, namun yang pasti, skor berubah menjadi 2-0 dan Arsenal tampak berada di atas angin. Banyak yang berasumsi bahwa kemenangan sudah di tangan, dan tiga poin krusial akan segera dibawa pulang ke Emirates Stadium.

Momentum Berbalik dan Drama di Menit Akhir

Namun, dalam sepak bola, dua gol seringkali menjadi skor paling berbahaya. Perasaan di atas angin itu justru menjadi bumerang bagi Arsenal. Momentum pertandingan berubah drastis hanya lima menit berselang setelah gol kedua mereka. Wolves, yang tidak menyerah begitu saja di hadapan pendukung sendiri, berhasil memperkecil ketertinggalan lewat gol Hugo Bueno pada menit ke-61. Gol ini bukan hanya sekadar memperkecil skor, melainkan suntikan moral yang luar biasa bagi Wolves dan sekaligus alarm bahaya bagi Arsenal yang mulai kehilangan konsentrasi.

Sejak gol Bueno, permainan Arsenal mulai terlihat goyah. Intensitas serangan mereka menurun drastis, dan mereka cenderung bermain lebih pasif, mencoba mempertahankan keunggulan. Keputusan Mikel Arteta untuk melakukan beberapa pergantian pemain juga menjadi sorotan. Beberapa warganet menilai pergantian tersebut justru membuat lini tengah dan depan Arsenal kehilangan daya serang, memberikan ruang lebih banyak bagi Wolves untuk mengembangkan permainan.

Drama memuncak di masa injury time yang menegangkan. Ketika waktu menunjukkan menit ke-94, Wolves melancarkan serangan terakhir dengan keputusasaan. Sebuah umpan silang rendah dari sisi kiri pertahanan Arsenal menciptakan kekacauan di kotak penalti. Bola yang melibatkan Riccardo Calafiori, bek tengah Wolves yang aktif membantu serangan, berujung pada gol penyama kedudukan. Sebagian laporan menyebutnya sebagai gol bunuh diri yang tidak beruntung, sementara yang lain mengkreditkan Calafiori atas upaya kerasnya. Skor 2-2 pun bertahan hingga peluit panjang dibunyikan, mengakhiri pertandingan dengan hasil yang sangat mengecewakan bagi Arsenal. Dua poin yang sudah di depan mata melayang begitu saja, digantikan oleh rasa frustrasi dan kekecewaan yang mendalam.

Implikasi Hasil Imbang dan Tekanan di Puncak Klasemen

Hasil imbang ini memiliki implikasi serius bagi ambisi juara Arsenal. Meskipun masih memimpin klasemen sementara dengan 58 poin, posisi mereka kini semakin tertekan. Keunggulan tipis yang mereka miliki bisa dengan mudah dipangkas oleh Manchester City. Jika The Citizens berhasil meraih kemenangan di laga berikutnya, jarak poin bisa semakin menipis, bahkan mungkin menyamai, dan membuat persaingan gelar Premier League makin panas dan menegangkan. Tidak hanya City, tim-tim lain yang berada di papan atas juga bisa memanfaatkan situasi ini untuk mendekat, menambah kompleksitas perburuan gelar.

Arsenal Ditahan Wolves 2-2, Warganet Curiga Arteta Bantu Man City Juara

Secara psikologis, hasil ini adalah pukulan telak bagi Arsenal. Setelah unggul dua gol, kehilangan poin dengan cara dramatis di menit-menit akhir akan sangat memengaruhi mentalitas tim. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah Arsenal memiliki mental juara yang dibutuhkan untuk melewati fase krusial ini, ataukah "penyakit lama" mereka akan kembali kambuh di saat-saat genting?

Arteta Menjadi Sasaran Tembak Kritik Warganet

Tak butuh waktu lama bagi kekecewaan ini untuk meluap ke ranah digital. Media sosial, khususnya platform X (sebelumnya Twitter), langsung dibanjiri dengan komentar-komentar pedas yang sebagian besar menyasar Mikel Arteta. Banyak warganet menilai Arteta terlalu cepat bermain aman setelah unggul dua gol. Alih-alih terus menekan dan mencari gol ketiga untuk mengunci kemenangan, Arsenal justru dianggap menurunkan intensitas dan memberi ruang bagi Wolves untuk bangkit.

Kritik lain menyasar keputusan pergantian pemain yang dianggap tidak tepat. Beberapa warganet berpendapat bahwa Arteta seharusnya memasukkan pemain yang lebih agresif untuk mempertahankan tekanan, bukan justru menarik keluar pemain menyerang kunci atau memasukkan pemain dengan mentalitas yang lebih defensif terlalu dini. Rapuhnya lini belakang di menit-menit akhir juga menjadi sorotan tajam, menunjukkan kurangnya fokus dan konsentrasi ketika pertandingan memasuki fase krusial.

Bagi sebagian warganet, ini disebut sebagai "penyakit lama" Arsenal di era Arteta: unggul lebih dulu, lalu kehilangan fokus dan momentum, yang berujung pada hilangnya poin berharga. Pola ini disebut-sebut sudah berulang kali terjadi, membuat para penggemar muak dan frustrasi.

Teori Konspirasi "Arteta Bantu City" Merebak

Yang lebih mencengangkan, kekecewaan mendalam ini bahkan melahirkan teori konspirasi yang cukup liar. Beberapa komentar di X menarasikan bahwa Arteta, yang notabene adalah mantan asisten Pep Guardiola di Manchester City, sengaja "membantu" mantan klubnya untuk menjadi juara Liga Inggris. Argumen ini diperkuat oleh fakta bahwa Arteta memiliki hubungan dekat dengan Guardiola dan City, dan pola kekalahan poin yang berulang dengan cara yang hampir sama dianggap mencurigakan.

Berikut beberapa cuitan warganet yang mencerminkan kecurigaan tersebut:

  • "Arteta jadi Pelatih Arsenal itu emang dipersiapkan untuk memperlancar City buat jadi Juara apa ya? Jadi curiga deh," tulis akun @mu_jeep, mengekspresikan rasa curiga yang mendalam.
  • "gw selalu yakin arteta ini mata2 city buat bikin jalan mulus pep di akhir musim, hanya org bodoh yang ngulang kesalahan yg sama berulang kali," ujar @Randikalll, dengan nada kesal dan yakin bahwa ada motif tersembunyi di balik keputusan Arteta.
  • "Bener bener udah ikhlas juara 2 lagi emang gak ada mental juaranya, mending langsung kesalip aja udah langsung kasih piala ke city arteta langsung pecat" usul @kosongdoea02, yang saking frustrasinya sampai menyarankan Arteta dipecat dan piala diberikan langsung ke City.
  • "Ganti Xabi aja yg ada mental disaat genting perburuan gelar. Aseli arteta ga punya mental sama sekali, tak kira dulu city yg jago, pas ipul juara mulai terlihat. Dan musim ini terkuak dgn jelas bahwa arteta ga punya mental di perguruan gelar liga," opini @gusti_ra7049, yang membandingkan mentalitas Arteta dengan pelatih lain yang dianggap lebih memiliki mental juara.
  • "Arteta itu kan orang titipan City, ngasih harapan fans arsenal doang," tulis @tri21001216, semakin memperkuat narasi bahwa Arteta hanya memberikan harapan palsu kepada penggemar Arsenal demi kepentingan City.

Komentar-komentar ini, meskipun terdengar ekstrem dan tidak berdasar secara faktual, mencerminkan tingkat frustrasi yang luar biasa dari para penggemar Arsenal. Mereka merasa telah melihat pola yang sama berulang kali, di mana tim mereka menunjukkan potensi besar namun selalu gagal di momen krusial, terutama saat bersaing di puncak klasemen. Kegagalan di musim sebelumnya, di mana mereka sempat memimpin lama sebelum disalip City, masih membekas dalam ingatan para Gooners.

Menatap Masa Depan: Ujian Mentalitas Sesungguhnya

Kekalahan dua poin di Molineux ini adalah ujian mentalitas sesungguhnya bagi Arsenal dan Mikel Arteta. Perburuan gelar Premier League adalah maraton, bukan sprint. Setiap poin sangat berharga, dan setiap kesalahan bisa berakibat fatal. Arteta kini harus bekerja keras untuk membangkitkan kembali semangat tim, mengembalikan fokus, dan memastikan bahwa insiden seperti ini tidak terulang lagi.

Jadwal padat menanti, dan tekanan akan semakin membara. Arsenal harus menunjukkan bahwa mereka memiliki ketahanan mental untuk menghadapi tekanan ini, belajar dari kesalahan, dan membuktikan kepada para penggemar bahwa mereka memang pantas menjadi juara. Apakah Arteta mampu membungkam para kritikus dan menepis teori konspirasi liar, ataukah kekecewaan di Molineux akan menjadi titik balik yang mengakhiri impian juara mereka? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

(afr/afr)