0

AI Hancurkan Perusahaan Software? Ini Kata Bos Nvidia

Share

Jensen Huang, pimpinan raksasa chip AI Nvidia, dengan tegas menyatakan bahwa pasar telah keliru dalam memperhitungkan ancaman yang ditimbulkan AI terhadap sektor perangkat lunak perusahaan (enterprise software). "Saya rasa pasar salah," kata Huang dalam wawancara dengan CNBC, menanggapi spekulasi bahwa agen AI akan menjadi kompetitor mematikan bagi industri software. Menurutnya, kekhawatiran bahwa agen AI akan menggantikan dan memusnahkan perangkat lunak yang ada adalah pandangan yang terlalu simplistis dan tidak akurat. Sebaliknya, Huang memprediksi bahwa agen AI tidak akan bertindak sebagai pengganti, melainkan sebagai pengguna dan pendorong efisiensi bagi sebagian besar perusahaan perangkat lunak.

Visi Huang adalah bahwa agen AI akan menjadi entitas cerdas yang memanfaatkan berbagai alat perangkat lunak yang sudah ada dan terbukti kokoh, bukan menggantikannya. "Itu alasan kami juga mengatakan bahwa agen adalah pengguna tool," tambahnya, menekankan peran kolaboratif AI. Dalam pandangan ini, agen AI akan berfungsi sebagai asisten cerdas yang mengorkestrasi dan memanfaatkan kemampuan perangkat lunak yang ada untuk meningkatkan produktivitas manusia. Ini berarti bahwa alih-alih merusak, AI justru akan memperkaya ekosistem perangkat lunak dengan menciptakan lapisan kecerdasan baru yang bekerja di atas infrastruktur yang sudah ada.

Untuk mengilustrasikan argumennya, Huang menyebut beberapa contoh alat perangkat lunak yang esensial dan akan terus digunakan oleh agen AI. Browser internet dan Microsoft Excel, misalnya, adalah dua alat produktivitas dasar yang tak tergantikan dalam kehidupan sehari-hari dan bisnis. Selain itu, ia juga menunjuk pada perangkat lunak perusahaan yang lebih spesifik seperti Cadence dan Synopsys, yang merupakan pemain kunci dalam desain chip dan otomatisasi desain elektronik; ServiceNow, platform manajemen layanan TI dan operasional; atau SAP, raksasa perangkat lunak perencanaan sumber daya perusahaan (ERP). "Semua tool yang kita pakai saat ini entah itu Cadence, Synopsys, ServiceNow, atau SAP, alat-alat ini ada karena alasan yang pada dasarnya kuat," kata Huang. Ia melanjutkan, "Agen AI akan jadi software cerdas yang menggunakan alat-alat tersebut untuk kita dan membantu kita menjadi lebih produktif." Ini menunjukkan bahwa fondasi kuat dan fungsi mendasar dari perangkat lunak tersebut akan tetap relevan, bahkan semakin diberdayakan oleh kecerdasan AI.

Komentar optimis dari Jensen Huang ini muncul di tengah periode yang sangat cemerlang bagi Nvidia. Perusahaan tersebut baru saja melaporkan pendapatan kuartal keempat fiskal yang melonjak fantastis sebesar 73% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai USD 68,13 miliar. Angka ini jauh melampaui estimasi analis yang sebelumnya memperkirakan USD 66,21 miliar, menandai dominasi Nvidia yang tak terbantahkan di pasar chip AI. Tidak hanya itu, Nvidia juga mengeluarkan panduan pendapatan yang sangat optimis untuk kuartal pertama fiskal mendatang, memproyeksikan angka sebesar USD 78 miliar, jauh di atas perkiraan analis sebesar USD 72,6 miliar. Kinerja finansial yang luar biasa ini menjadi bukti nyata dari gelombang investasi besar-besaran di infrastruktur AI, yang sebagian besar didorong oleh kebutuhan akan chip canggih yang diproduksi oleh Nvidia.

Namun, di balik kegemilangan Nvidia dan narasi optimis tentang AI, ada kekhawatiran yang mendalam di kalangan investor. Banyak yang mulai mempertanyakan apakah lonjakan besar-besaran dalam belanja perangkat keras AI saat ini dapat berkelanjutan dalam jangka panjang, memicu ketakutan akan terbentuknya gelembung ekonomi atau "bubble" serupa dengan krisis dot-com di awal tahun 2000-an. Ketidakpastian ini telah menyebabkan saham-saham penyedia layanan perangkat lunak terpukul dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan keraguan pasar terhadap model bisnis mereka di era AI.

Dan Niles, seorang manajer dari Niles Investment Management, turut menyuarakan kekhawatiran ini dengan perspektif historis yang menarik. "Orang perlu ingat bahwa segalanya, baik itu jalur kereta api, kanal, internet, semua cenderung dibangun secara berlebihan dan kemudian kita akan melihat siapa yang akan jadi pemenang dan pecundang," kata Niles. Pernyataan ini menggarisbawahi pola historis di mana inovasi teknologi atau infrastruktur besar seringkali diikuti oleh periode investasi berlebihan, konsolidasi, dan pada akhirnya, munculnya segelintir pemenang dan banyak yang gagal.

Niles secara khusus memperingatkan bahwa tidak semua perusahaan perangkat lunak akan lolos tanpa dampak signifikan dari revolusi AI. Ia memprediksi bahwa AI akan mengancam untuk mengotomatisasi alur kerja yang sebelumnya membutuhkan intervensi manusia, menekan harga layanan dan produk perangkat lunak karena efisiensi yang lebih tinggi, dan menurunkan hambatan bagi pesaing baru untuk memasuki pasar dengan solusi berbasis AI yang lebih murah atau lebih baik. "Ada beberapa perusahaan nyata yang akan menjadi nol (bangkrut) di ruang perangkat lunak," kata Niles, memberikan peringatan keras bahwa masa depan tidak akan mudah bagi semua pemain.

Meski demikian, Niles juga mengidentifikasi sektor-sektor tertentu dalam industri perangkat lunak yang ia yakini akan lebih tangguh dan berpotensi menjadi pemenang. Ia menambahkan bahwa pemain yang paling tangguh kemungkinan besar akan berada di sektor basis data (database) dan keamanan siber (cybersecurity). Alasan di balik prediksi ini cukup kuat: basis data adalah tulang punggung hampir semua aplikasi dan sistem AI, menjadikannya fundamental dan tak tergantikan. Sementara itu, keamanan siber akan menjadi semakin krusial di era AI, di mana kompleksitas sistem dan potensi ancaman siber akan meningkat secara eksponensial. Kebutuhan akan perlindungan data dan sistem dari serangan siber akan terus tumbuh, menjadikan perusahaan keamanan siber sebagai garda terdepan yang esensial.

Melihat dua pandangan yang berbeda ini, baik optimisme Jensen Huang maupun peringatan Dan Niles, dapat disimpulkan bahwa masa depan industri perangkat lunak di era AI tidak akan seragam. Perusahaan yang mampu beradaptasi, berinovasi, dan mengintegrasikan AI ke dalam produk serta proses mereka secara efektif akan memiliki peluang besar untuk berkembang. Agen AI, seperti yang diusulkan Huang, dapat menjadi katalisator untuk peningkatan produktivitas dan inovasi, memperkaya kemampuan perangkat lunak yang sudah ada. Namun, bagi perusahaan yang lamban beradaptasi, memiliki model bisnis yang rentan terhadap otomatisasi, atau tidak menawarkan nilai fundamental yang kuat, tantangan yang dihadapi akan sangat berat, bahkan bisa mengancam kelangsungan hidup mereka.

Transformasi yang dibawa AI adalah keniscayaan. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan menghancurkan perusahaan perangkat lunak, melainkan perusahaan perangkat lunak mana yang akan dihancurkan oleh AI, dan perusahaan mana yang akan bangkit menjadi lebih kuat dengan AI. Ini adalah era di mana inovasi dan adaptasi adalah kunci, dan hanya waktu yang akan membuktikan siapa pemenang dan pecundang sesungguhnya dalam revolusi teknologi terbesar di abad ini.