Dunia

Eks Kepala Shin Bet Gugat Netanyahu Rp 17 Miliar: Pertarungan Narasi di Balik Tragedi 7 Oktober

Foto: Dok. kumparan / Ilustrasi Berita

Konflik internal di puncak pimpinan keamanan Israel memuncak ke ranah hukum setelah mantan Kepala Badan Keamanan Dalam Negeri (Shin Bet), Ronen Bar, secara resmi melayangkan gugatan pencemaran nama baik terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Gugatan senilai 3 juta shekel atau sekitar Rp 17,38 miliar ini menjadi simbol keretakan mendalam di jajaran elit Israel pasca-peristiwa berdarah 7 Oktober 2023. Dokumen gugatan setebal 134 halaman yang didaftarkan pada Rabu (14/10) tersebut menuding Netanyahu telah melakukan kampanye kebohongan sistematis untuk melempar tanggung jawab atas kegagalan intelijen yang memicu serangan Hamas paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.

Perseteruan ini berakar pada narasi "siapa yang paling bertanggung jawab" atas jebolnya pertahanan Israel. Selama ini, Netanyahu, yang telah memosisikan dirinya selama puluhan tahun sebagai "Mr. Security", mencoba mengalihkan kritik publik dengan menyatakan bahwa serangan Hamas bisa dicegah jika Ronen Bar atau para petinggi militer membangunkannya melalui sambungan telepon pada dini hari saat serangan mulai berlangsung. Namun, Bar dengan tegas membantah narasi tersebut dalam dokumen pengadilan, menyebut tuduhan Netanyahu sebagai bentuk fitnah yang disengaja untuk melindungi karier politik sang Perdana Menteri menjelang pemilihan umum pada 27 Oktober mendatang.

Dalam argumen hukumnya, Bar mengungkapkan bahwa dirinya telah berusaha menjalankan prosedur komunikasi yang tepat dengan menghubungi sekretaris militer perdana menteri ketika indikasi ancaman mulai terdeteksi. Bar menekankan bahwa ia tidak memiliki akses langsung ke saluran telepon pribadi Netanyahu, sehingga ia harus melalui protokol yang ada. Ia berargumen bahwa pernyataan Netanyahu yang menyebut dirinya melakukan "kegagalan kriminal" adalah upaya manipulatif untuk menutupi kebijakan jangka panjang Netanyahu sendiri. Menurut pihak Bar, kebijakan Netanyahu selama bertahun-tahun justru membiarkan organisasi teroris di Gaza tumbuh subur, yang pada akhirnya meningkatkan bahaya bagi Israel.

Ronen Bar sendiri sebenarnya telah mengundurkan diri dari jabatannya pada Juni 2025. Saat pengunduran diri tersebut, ia mengakui adanya keruntuhan sistemik dalam badan keamanan dan kegagalan Shin Bet dalam membunyikan tanda bahaya sebelum serangan terjadi. Namun, ia menegaskan bahwa pengunduran dirinya adalah bentuk tanggung jawab moral dan profesional sebagai pimpinan, bukan pengakuan atas tuduhan "pengkhianatan" atau "kelalaian kriminal" yang digembar-gemborkan oleh lingkaran dekat Netanyahu. Bar bersikeras bahwa sebelum 7 Oktober, ia sudah berulang kali memberikan peringatan mengenai potensi ancaman besar dari Hamas, namun peringatan tersebut tidak mendapatkan penanganan yang memadai dari otoritas tertinggi.

Respons dari pihak Netanyahu tidak kalah tajam. Melalui pernyataan resmi partai Likud, Netanyahu justru balik menantang kredibilitas Bar. "Ronen, apakah Anda serius?" tanya Netanyahu dalam pernyataannya. Ia menegaskan bahwa Bar memiliki akses ke saluran khusus atau red line yang seharusnya bisa digunakan untuk menghubunginya secara langsung dalam situasi darurat nasional. Netanyahu melontarkan retorika yang menyudutkan, "Berapa banyak nyawa yang bisa kita selamatkan seandainya saja Anda menelepon tepat waktu?" Pernyataan ini jelas dirancang untuk memosisikan Netanyahu sebagai pemimpin yang siap bertindak, namun terhambat oleh inkompetensi jajaran bawahannya.

Dinamika politik di Israel saat ini memang sedang berada dalam titik didih. Jajak pendapat menunjukkan Netanyahu tengah berjuang keras mempertahankan kekuasaan di tengah tekanan hebat dari oposisi yang menuntut pertanggungjawaban atas kegagalan 7 Oktober. Serangan Hamas sendiri bukan sekadar peristiwa militer, melainkan trauma nasional. Kelompok militan tersebut berhasil menerobos perbatasan menggunakan kombinasi taktik konvensional dan asimetris, termasuk penggunaan truk pikap dan paralayang, yang mengejutkan dunia. Data resmi Israel mencatat 1.221 orang tewas, dan 251 orang sempat diculik sebagai sandera ke Gaza, di mana 44 di antaranya dikonfirmasi telah meninggal dunia.

Respon Israel terhadap serangan tersebut telah memicu krisis kemanusiaan yang masif di Gaza. Operasi militer besar-besaran yang dilancarkan oleh militer Israel telah menelan korban jiwa yang sangat besar. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza yang diakui validitasnya secara internasional oleh PBB, lebih dari 74.300 orang tewas akibat serangan tersebut. Angka ini mencerminkan skala kehancuran yang tidak terbayangkan dan menambah tekanan internasional terhadap pemerintahan Netanyahu, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri.

Gugatan hukum ini menjadi sangat krusial karena akan membuka lebar perdebatan mengenai batas tanggung jawab antara pemimpin politik dan pimpinan intelijen di Israel. Sidang yang akan datang diprediksi akan mengungkap dokumen-dokumen internal yang selama ini tersimpan rapat terkait komunikasi krisis pada pagi hari tanggal 7 Oktober. Apakah ada kegagalan komunikasi, atau apakah ini murni upaya pengalihan isu politik oleh Netanyahu? Publik Israel kini menunggu kebenaran di balik perseteruan yang tidak hanya melibatkan uang sebesar Rp 17 miliar, tetapi juga reputasi sejarah dan masa depan politik negara tersebut.

Bagi Ronen Bar, gugatan ini adalah tentang martabat dan upaya meluruskan catatan sejarah sebelum ia meninggalkan panggung publik secara permanen. Bagi Netanyahu, gugatan ini adalah gangguan besar di tengah kampanye pemilu yang sangat krusial. Terlepas dari siapa yang nantinya akan dimenangkan oleh pengadilan, kerusakan hubungan antara pimpinan intelijen dan eksekutif Israel ini telah menunjukkan bahwa luka akibat 7 Oktober masih sangat terbuka lebar, bahkan di tingkat yang paling tinggi sekalipun.

Ketegangan ini juga memicu diskusi luas di media Israel mengenai integritas sistem keamanan nasional. Beberapa analis berpendapat bahwa terlepas dari siapa yang menelepon atau siapa yang dihubungi, sistem pertahanan Israel memang mengalami kegagalan kolektif yang sangat memalukan. Namun, dengan membawa kasus ini ke meja hijau, kedua belah pihak secara tidak langsung sedang memperebutkan narasi utama yang akan ditulis dalam buku sejarah masa depan: apakah ini kegagalan sistemik yang tidak terhindarkan, atau kelalaian individu yang bisa dicegah.

Seiring berjalannya waktu, persidangan ini kemungkinan akan menjadi tontonan publik yang menyita perhatian. Masyarakat Israel, yang masih trauma dengan peristiwa 7 Oktober, menuntut transparansi. Mereka ingin tahu mengapa sistem keamanan yang dianggap salah satu yang terbaik di dunia bisa jebol begitu mudah. Gugatan Bar terhadap Netanyahu bukan sekadar perselisihan pribadi, melainkan cerminan dari kegelisahan sebuah bangsa yang sedang mempertanyakan arah kepemimpinan dan integritas institusi keamanannya sendiri di tengah perang yang tak kunjung usai.

Sebagai penutup, dunia internasional akan terus mengamati perkembangan ini. Stabilitas politik Israel sangat mempengaruhi dinamika keamanan di Timur Tengah. Jika seorang mantan kepala intelijen merasa perlu menggugat pemimpin negaranya karena "kebohongan", hal ini menunjukkan betapa dalamnya krisis kepercayaan yang sedang terjadi. Pertarungan hukum ini pun akan menjadi penentu penting dalam peta politik Israel ke depan, yang mungkin akan mengubah wajah kepemimpinan negara tersebut untuk dekade berikutnya. Semua mata kini tertuju pada ruang sidang, menanti bukti-bukti yang akan disajikan oleh pihak Ronen Bar maupun sang Perdana Menteri.

Bagaimana respons Anda terhadap berita ini?

Lina Irawan

Penulis dan kontributor di Bahas Gadgets dan Teknologi.

Komentar (0)

Tulis Komentar Anda

Sampaikan komentar dengan santun dan patuhi pedoman komunitas situs ini. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.