0

Khutbah Jumat: Fajar Yang Berulang

Share

Fajar yang berulang adalah pengingat abadi bahwa waktu bukanlah sekadar deretan angka di kalender, melainkan rangkaian kesempatan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya untuk kembali menata orientasi hidup di tengah arus zaman yang kian menjauh dari nilai-nilai ketauhidan. Kehidupan kita hari ini, di bawah naungan cahaya teknologi dan kemajuan peradaban, sering kali menipu pandangan mata. Kita merasa telah meninggalkan masa Jahiliah yang kelam, masa di mana moralitas ditukar dengan berhala dan martabat manusia diinjak-injak oleh ego kesukuan. Namun, jika kita menelaah lebih dalam dengan kacamata iman, kita akan menemukan bahwa Jahiliah tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya bermetamorfosis, berganti kostum, dan menyusup ke dalam sendi-sendi kehidupan modern kita dengan cara yang lebih halus namun jauh lebih mematikan bagi jiwa.

Penting bagi kita untuk memahami bahwa Jahiliah bukanlah sekadar catatan sejarah tentang bangsa Arab sebelum Islam. Jahiliah adalah sebuah kondisi mental dan spiritual, sebuah keadaan di mana manusia kehilangan kompas wahyu dalam menentukan arah hidupnya. Ketika manusia lebih mengedepankan hawa nafsu, kepentingan kelompok, dan simbol-simbol duniawi di atas hukum-hukum Allah, maka pada saat itulah Jahiliah modern sedang bekerja. Allah SWT telah memberikan peringatan tegas melalui firman-Nya dalam Surah Al-Ma’idah ayat 50, yang mempertanyakan apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, padahal tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini kebenaran-Nya. Ayat ini adalah cermin bagi kita, yang hidup di era di mana kebenaran sering kali disesuaikan dengan selera zaman, bukan dengan titah Ilahi.

Salah satu wajah Jahiliah modern yang paling nyata adalah kembalinya penyembahan berhala, bukan lagi berupa patung batu, melainkan berhala-berhala kontemporer yang bersemayam di dalam hati. Dahulu, orang Quraisy menyembah Hubal atau Latta karena mereka menjanjikan perlindungan dan keberuntungan instan. Hari ini, banyak manusia menyembah "pengakuan digital". Kita menjadi hamba dari notifikasi, budak dari angka-angka pengikut di media sosial, dan penganut setia standar kebahagiaan yang dipaksakan oleh tren global. Ketika harga diri seseorang hanya ditentukan oleh seberapa banyak pujian yang ia terima di ruang maya, saat itulah ia telah menempatkan makhluk sebagai pusat orientasi hidupnya. Inilah bentuk penyembahan hawa nafsu yang sesungguhnya, yang menjauhkan manusia dari ketenangan sejati yang hanya bisa ditemukan dengan bersandar kepada Allah SWT.

Selain itu, fenomena ashabiyah atau fanatisme golongan juga kembali marak dengan wajah yang lebih canggih. Jika dulu ashabiyah diikat oleh pertalian darah dan suku, hari ini ia diikat oleh kesamaan ideologi, afiliasi politik, atau kubu digital yang saling berlawanan. Kita sering menyaksikan bagaimana kebenaran tidak lagi dinilai berdasarkan substansi atau dalil, melainkan berdasarkan siapa yang menyuarakannya. Jika ia berasal dari kelompok kita, maka ia dianggap benar secara mutlak. Namun jika ia berasal dari kubu lawan, maka ia akan diserang habis-habisan tanpa ruang untuk klarifikasi. Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan bahwa barangsiapa yang menyeru kepada fanatisme golongan bukanlah bagian dari umat beliau. Sikap ini adalah racun bagi persaudaraan Islam, yang justru memecah belah umat dan membuat kita lalai dari misi utama kita di dunia, yaitu menebar rahmat bagi semesta alam.

Di sisi lain, praktik riba pun telah mengalami transformasi yang menakutkan. Riba tidak lagi hanya berupa transaksi fisik yang melibatkan bunga di atas utang piutang secara konvensional, tetapi kini telah menjelma menjadi aplikasi pinjaman daring yang menjanjikan kemudahan namun membawa petaka. Masyarakat yang terjepit oleh gaya hidup konsumtif sering kali menjadi korban dari praktik ini. Mereka terjerat dalam lingkaran setan utang yang tidak hanya menghabiskan harta, tetapi juga merenggut martabat dan ketenangan batin. Kejahatan ini dibungkus dengan legitimasi yang tampak sah, namun hakikatnya tetap sama dengan praktik riba di zaman dahulu: mengambil keuntungan di atas penderitaan orang lain yang sedang berada dalam posisi lemah. Allah SWT memberikan ancaman yang sangat berat bagi pelaku riba, yang digambarkan seperti orang yang kerasukan setan karena gila akibat kerakusan mereka.

Selanjutnya, kita juga harus menyoroti bagaimana martabat manusia, khususnya perempuan, masih sering kali menjadi korban distorsi di era modern. Meskipun praktik penguburan bayi perempuan hidup-hidup sudah tidak ada, namun objektifikasi terhadap tubuh perempuan sebagai komoditas industri masih terus berlangsung. Islam datang dengan misi besar untuk mengangkat derajat perempuan, menempatkan mereka sebagai mitra laki-laki dalam membangun peradaban yang mulia. Namun, ketika nilai-nilai Islam dikesampingkan, perempuan sering kali dipandang hanya dari sisi nilai ekonomis atau pemuas hasrat semata. Ini adalah bentuk Jahiliah yang merendahkan kemanusiaan, yang menentang fitrah penciptaan manusia sebagai makhluk yang harus dihormati dan dilindungi kehormatannya.

Khutbah Jumat: Fajar Yang Berulang

Tidak kalah pentingnya adalah fenomena anomi atau ketiadaan aturan moral di ruang publik digital. Masyarakat kita saat ini sedang mengalami krisis adab dalam berkomunikasi. Budaya nyinyir, menghujat, dan menghakimi orang lain tanpa proses hukum yang adil telah menjadi pemandangan sehari-hari. Seseorang bisa dihancurkan reputasinya hanya karena satu potongan video atau narasi yang tidak lengkap, tanpa ada yang bertanya tentang kebenaran faktanya. Islam mengajarkan kita untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan bahkan kepada mereka yang tidak kita sukai. Ketiadaan sikap adil ini adalah ciri khas dari masyarakat yang hidup di masa kegelapan, di mana yang kuat adalah yang menang, dan yang vokal adalah yang dianggap benar.

Lantas, bagaimana kita keluar dari jebakan Jahiliah modern ini? Jalan keluarnya bukanlah dengan memusuhi kemajuan, melainkan dengan melakukan tathir atau penyucian hati secara terus-menerus. Kita harus berani melakukan audit spiritual terhadap apa yang kita kerjakan setiap hari. Apakah tindakan kita hari ini lebih banyak didorong oleh keinginan mencari ridha Allah, atau sekadar ingin memuaskan ego dan opini publik? Rasulullah SAW adalah teladan terbaik bagi kita. Beliau tidak pernah membalas kesombongan dengan kesombongan, atau kekasaran dengan kemarahan. Beliau justru memenangkan hati kaum Jahiliah melalui akhlak yang agung, kejujuran yang tak tergoyahkan, dan kelembutan yang menyentuh jiwa.

Jalan pulang dari Jahiliah modern dimulai dari rumah kita sendiri, dari meja makan kita, dari cara kita berinteraksi dengan gawai, dan dari cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita. Kita harus mulai belajar untuk menundukkan ego, memilih keadilan di atas loyalitas buta, dan senantiasa menempatkan Allah sebagai pusat dari setiap keputusan yang kita ambil. Kita harus menjadi bagian dari fajar, bukan bagian dari kegelapan yang berulang. Fajar yang berulang adalah simbol harapan bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri. Setiap kali matahari terbit, itu adalah tanda dari Allah bahwa pintu ampunan dan pintu perbaikan masih terbuka lebar bagi mereka yang mau berbenah.

Mari kita jadikan setiap ibadah, termasuk salat Jumat yang kita tunaikan saat ini, sebagai momentum untuk memperbaharui janji setia kita kepada Allah SWT. Jangan biarkan khutbah ini hanya menjadi rutinitas mingguan yang lewat begitu saja. Jadikan ia sebagai bahan perenungan untuk membedah diri: wajah-wajah lama Jahiliah apa yang masih bercokol di dalam hati kita? Apakah itu sifat sombong? Apakah itu rasa benci kepada sesama karena perbedaan kelompok? Atau mungkin itu rasa rakus terhadap dunia yang membuat kita menghalalkan segala cara?

Ingatlah bahwa waktu terus berjalan, dan usia kita kian mendekati akhir. Dunia yang kita tempati hanyalah tempat persinggahan sementara. Jika kita terus membiarkan diri kita terjerumus dalam pola-pola Jahiliah, maka kita sebenarnya sedang membangun kehancuran bagi diri kita sendiri di akhirat kelak. Namun, jika kita mampu bangkit, berhijrah menuju cahaya kebenaran, dan menjadikan Al-Qur’an serta Sunnah sebagai satu-satunya pedoman hidup, maka insya Allah kita akan menjadi golongan yang beruntung. Kita akan menjadi individu-individu yang mencerahkan, yang membawa kedamaian di tengah kekacauan, dan yang menebar kasih sayang di tengah kebencian.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, menjernihkan pandangan hati kita dari debu-debu Jahiliah, dan menguatkan iman kita agar tetap teguh di atas jalan-Nya. Semoga kita termasuk golongan yang senantiasa menanti fajar dengan harapan, beraktivitas dengan penuh kesadaran, dan mengakhiri hari dengan penuh rasa syukur. Jangan biarkan kegelapan masa lalu menguasai masa depan kita. Jadilah fajar yang nyata, yang kehadirannya selalu dinanti dan keberadaannya selalu memberikan manfaat bagi semesta alam. Akhir kata, marilah kita senantiasa memohon ampun kepada Allah atas segala kekhilafan kita, dan memohon pertolongan-Nya agar kita diberikan kekuatan untuk terus beristiqamah hingga ajal menjemput dalam keadaan beragama Islam yang sempurna. Amin ya Rabbal Alamin.