BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perhelatan akbar sepak bola, Piala Dunia 2026, telah membius jutaan pasang mata di seluruh dunia sejak 11 Juni lalu, menyajikan duel-duel sengit dan kejutan di tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Hingga berita ini diturunkan, kompetisi yang telah memasuki fase grup ini telah menggelar 40 pertandingan yang penuh gairah. Tim nasional Amerika Serikat, sebagai salah satu tuan rumah, telah dua kali unjuk gigi di hadapan publiknya sendiri, meraih kemenangan meyakinkan atas Paraguay dengan skor 4-1 dan membungkam Australia 2-0 di bawah arahan pelatih Mauricio Pochettino. Namun, di tengah gegap gempita euforia Piala Dunia yang seharusnya menjadi momen kebanggaan nasional, sorotan publik justru tertuju pada absennya sosok penting: Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat.
Kejanggalan ini semakin terasa ketika diketahui bahwa Donald Trump, yang dikenal sebagai penggemar berat berbagai ajang olahraga besar di Amerika Serikat, belum sekalipun terlihat batang hidungnya di stadion untuk menyaksikan langsung pertandingan Piala Dunia 2026. Bahkan, ia dikabarkan tidak menghadiri laga perdana tim AS, sebuah momen yang biasanya akan disambut dengan antusiasme tinggi oleh seorang pemimpin negara. Alih-alih hadir di tribun kehormatan, Trump dikabarkan hanya sempat menelepon pelatih Pochettino untuk memberikan suntikan motivasi bagi "The Stars and Stripes". Ketidakhadiran ini menimbulkan tanda tanya besar, mengingat rekam jejak Trump yang biasanya sangat aktif menghadiri berbagai acara olahraga prestisius, mulai dari Super Bowl, pertarungan UFC, Piala Dunia Antarklub 2025, final tenis AS Terbuka, hingga final NBA beberapa waktu lalu.
Menurut laporan dari The Athletic, Gedung Putih sendiri enggan memberikan penjelasan resmi mengenai alasan di balik absennya Trump dari perhelatan akbar sepak bola ini. Ketidakjelasan ini semakin mempertebal misteri, mengingat sosok berusia 80 tahun tersebut memiliki kebiasaan untuk tidak melewatkan momentum olahraga penting di negerinya. Meskipun ada indikasi alasan yang cukup masuk akal untuk absennya Trump pada pertandingan kedua AS melawan Australia, yaitu karena ia sedang menghadiri acara peresmian pesawat kepresidenan baru yang merupakan hadiah dari Pemerintah Qatar, hal ini tidak sepenuhnya menepis rasa penasaran publik.
Menariknya, ketika Donald Trump absen, beberapa pejabat tinggi Amerika Serikat justru terlihat hadir di stadion, seolah menggantikan perannya dalam memberikan dukungan. Sejumlah menteri dan tokoh penting seperti Marco Rubio, Markwayne Mullin, Robert F Kennedy, dan Sean Duffy tampak hadir di tribun penonton, menunjukkan bahwa perhatian pemerintah terhadap Piala Dunia tetap ada, meskipun sosok Trump tidak terlihat. Hal ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai motivasi di balik ketidakhadiran Trump. Apakah ada alasan politik yang lebih dalam, ataukah sekadar masalah preferensi pribadi yang berubah?
Andrew Giuliani, Kepala Gugus Tugas Piala Dunia 2026 dari Gedung Putih, saat ditanya mengenai kemungkinan Trump akan menonton laga ketiga AS melawan Turki pada Kamis (25/6) waktu setempat, memberikan jawaban yang masih mengambang. "Saya berbicara dengannya satu atau dua hari setelah AS menang atas Paraguay. Dia sangat bersemangat. Dia memahami bahwa ini adalah tim yang sangat bagus yang memiliki peluang istimewa di sini," ujar Giuliani. Ia menambahkan bahwa seiring berjalannya turnamen dan jika tim AS terus menunjukkan performa gemilang, kemungkinan besar akan semakin banyak anggota pemerintahan yang hadir, termasuk perwakilan tingkat tinggi di Los Angeles. "Kita lihat saja nanti," tutupnya, menyisakan ruang untuk spekulasi lebih lanjut.
Absennya Donald Trump dari perhelatan Piala Dunia 2026 ini menjadi sebuah anomali tersendiri, mengingat posisinya sebagai mantan Presiden Amerika Serikat dan kecintaannya pada dunia olahraga. Berbagai spekulasi bermunculan, mulai dari dugaan adanya agenda politik yang lebih prioritas, hingga kemungkinan bahwa ketertarikan Trump terhadap sepak bola tidak sebesar olahraga lain yang biasa ia tonton. Terlebih lagi, Piala Dunia 2026 ini memiliki arti penting bagi Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah, sehingga partisipasi atau setidaknya kehadiran seorang mantan presiden seharusnya menjadi simbol dukungan yang kuat bagi tim nasional.
Perlu dicatat bahwa sepak bola, meskipun semakin populer di Amerika Serikat, masih belum memiliki daya tarik sebesar olahraga tradisional seperti American Football, basket, atau baseball. Trump sendiri dikenal memiliki kecintaan yang mendalam pada olahraga-olahraga tersebut. Ia sering terlihat hadir di pertandingan-pertandingan NFL (National Football League) dan NBA (National Basketball Association). Ada kemungkinan bahwa minatnya terhadap sepak bola tidak sebesar olahraga-olahraga yang sudah mengakar kuat dalam budaya olahraga Amerika Serikat.
Selain itu, faktor politik juga tidak bisa diabaikan. Sebagai seorang figur publik yang sering menjadi pusat perhatian, keputusan Trump untuk tidak hadir di Piala Dunia bisa saja memiliki implikasi politik yang lebih luas. Mungkin saja ia ingin menghindari kontroversi atau ingin fokus pada agenda politik lain yang dianggapnya lebih mendesak. Mengingat Piala Dunia 2026 berlangsung di tahun politik yang krusial bagi Amerika Serikat, di mana pemilu presiden akan segera digelar, setiap langkah dan keputusan Trump dapat diinterpretasikan secara politik.
Ada pula kemungkinan bahwa Trump merasa bahwa kehadirannya di stadion tidak akan memberikan dampak signifikan, atau bahkan bisa mengalihkan fokus dari tim nasional itu sendiri. Sebagai seorang politikus kawakan, ia tentu memahami bagaimana sebuah kehadiran figur publik dapat menciptakan narasi tersendiri. Jika ia merasa kehadirannya akan mendominasi pemberitaan dan mengalahkan sorotan terhadap para pemain dan tim, ia mungkin memilih untuk absen.
Meskipun demikian, absennya Trump tetap menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dicermati. Ia adalah sosok yang memiliki pengaruh besar, dan ketidakhadirannya di ajang sebesar Piala Dunia 2026 ini meninggalkan ruang kosong yang cukup signifikan dalam lanskap pemberitaan. Para penggemar olahraga dan pengamat politik akan terus mencari jawaban atas pertanyaan: mengapa Donald Trump, sang penonton setia olahraga besar, justru tidak terlihat di stadion Piala Dunia 2026? Apakah ini adalah pilihan sadar, atau ada faktor lain yang lebih kompleks di baliknya? Jawabannya mungkin akan terungkap seiring berjalannya turnamen, atau mungkin akan tetap menjadi misteri yang menyertai perhelatan akbar ini. Yang pasti, absennya Trump telah memberikan bumbu tambahan yang menarik dalam narasi Piala Dunia 2026, sebuah turnamen yang seharusnya menjadi perayaan sepak bola global, namun juga turut diwarnai oleh dinamika politik dan sorotan terhadap figur-figur publik.

