BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Seniman Betawi ternama, Mandra, baru-baru ini angkat bicara mengenai kesalahpahaman publik yang telah lama melekat terkait penyebutan nama salah satu kesenian tradisional Betawi. Selama ini, masyarakat luas mengenal dan menyebut kesenian tersebut dengan nama "tanjidor". Namun, menurut Mandra, istilah yang sudah terlanjur populer ini sejatinya adalah sebuah kekeliruan, sebuah salah kaprah yang perlu diluruskan. Mandra secara tegas menyatakan bahwa penyebutan "tanjidor" yang populer saat ini justru berawal dari sinetron legendaris "Si Doel Anak Sekolahan", sebuah karya yang turut membesarkan namanya.
"Hal yang seperti itu yang perlu dibenahi. Satu contoh macam seperti apa yang tadi situ bilang, dengan adanya sebutan tanjidor. Ini yang perlu diluruskan. Tanjidor itu dengan sebutan yang salah," ungkap Mandra dengan nada serius saat ditemui di Studio Trans 7, kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada suatu kesempatan. Pernyataan Mandra ini bukan tanpa dasar. Ia menjelaskan bahwa kesalahan dalam penyebutan ini sudah berlangsung begitu lama, hingga akhirnya masyarakat secara luas menganggapnya sebagai kebenaran yang tak terbantahkan. Padahal, menurut penuturannya, masih banyak masyarakat, bahkan di kalangan seniman Betawi sendiri, yang belum sepenuhnya memahami sejarah, makna, serta istilah asli dari kesenian tradisional yang kaya ini. "Macam kayak bahasa kata panjak, anak wayang, kan kadang maaf ya, si senimannya sendiri banyak yang salah. Ya kadang-kadang itu ya senimannya sendiri aja nggak paham. Banyak," tambahnya, menyiratkan keprihatinan atas minimnya pemahaman mendalam mengenai warisan budaya sendiri.
Lebih lanjut, Mandra memberikan pencerahan mengenai istilah yang seharusnya digunakan. Ia menjelaskan bahwa kata yang benar dan otentik adalah "tanji". Kata "dor" yang selama ini kerap ditambahkan di belakangnya, menurut Mandra, memiliki arti tersendiri yang terpisah dan tidak seharusnya digabungkan untuk merujuk pada kesenian tersebut. "Dor itu bodoran (lawakan). Kalau mungkin era sekarang tahunya… komika karena ada lawakannya," jelas Mandra, mengaitkan arti "dor" dengan unsur kelucuan atau hiburan yang mungkin ada dalam pertunjukan yang mengiringi kesenian "tanji". Ia mencoba memberikan analogi yang mudah dipahami oleh generasi sekarang, di mana "komika" identik dengan lawakan.
Mandra menelusuri akar dari penyebutan "tanjidor" yang keliru ini. Ia mengungkapkan bahwa istilah "tanjidor" mulai populer dan menyebar luas ke publik sejak era 1990-an. Momen penting dalam penyebaran ini adalah ketika kesenian tersebut diangkat dan ditampilkan dalam sinetron legendaris "Si Doel Anak Sekolahan". Dari sinilah, kata "tanjidor" kemudian menyebar bagai api di rumput kering, digunakan oleh masyarakat luas hingga saat ini tanpa mempertanyakan kebenarannya. "Kayak tanjidor. Tanjidor nggak ada. Lo mesti tahu asal usul, kok kenapa bisa disebut tanjidor? Lo kenalnya tahun berapa? Tanjidor tuh tahun berapa? 90-an mungkin, dengan kata bahasa tanjidor gara-gara Si Doel yang bilangnya tanjidor," beber Mandra, menekankan bahwa popularitas sinetron tersebut menjadi katalis utama penyebaran istilah yang salah.
Karena itulah, Mandra merasa memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk meluruskan sejarah dan kekayaan budaya Betawi. Tanggung jawab ini semakin terasa mengingat banyak pihak, termasuk mahasiswa dan peneliti, yang secara aktif datang kepadanya untuk menggali informasi langsung dan mendalam mengenai kesenian Betawi. Ia ingin memastikan bahwa informasi yang mereka peroleh akurat dan berakar pada sejarah yang sebenarnya. Pria berusia 59 tahun ini juga mengingatkan bahwa kesenian Betawi memiliki sejarah yang sangat panjang dan kompleks, yang tidak bisa dipahami hanya dari permukaan atau secara setengah-setengah. Ia menyoroti bahwa masih banyak kesenian lain yang berkaitan erat dengan "Tanji" namun jarang diketahui oleh masyarakat awam.
"Kalau ada tanjidor berarti ada lagi sebenarnya. Ada jinong, ada jipeng. Itu kan urutannya si tanjidor. Kalau lo dulu kenal cuma tanjidor doang, ya berarti ilmu lo baru sejengkal. Apalagi lo orang Betawi ngakunya, ‘Saya punya tanjidor’, ya udah… ya baru bangun tidur kali," pungkasnya dengan nada berkelakar namun sarat makna. Pernyataannya ini merupakan sebuah peringatan keras bagi mereka yang mengaku sebagai pewaris budaya Betawi namun hanya memiliki pemahaman yang dangkal. Mandra menekankan pentingnya penggalian informasi yang lebih luas dan mendalam. Ia menyebutkan adanya "jinong" dan "jipeng" sebagai contoh kesenian lain yang merupakan bagian dari rangkaian kesenian yang lebih besar, di mana "tanji" menjadi inti atau titik awal. Dengan demikian, hanya mengenal "tanjidor" berarti pengetahuan yang dimiliki masih sangat terbatas, seolah baru belajar sedikit saja. Kalimat terakhirnya yang jenaka namun tegas menyindir mereka yang merasa sudah memahami budaya Betawi hanya karena mengenal satu istilah yang keliru. Mandra berharap kesadarannya ini dapat memicu upaya pelestarian budaya Betawi yang lebih otentik dan mendalam.

