BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Seniman Betawi kawakan, Mandra, menyampaikan rasa bangga dan optimisme yang mendalam terhadap perkembangan seni budaya Betawi yang kini semakin digandrungi oleh generasi muda. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap fenomena menarik di mana kesenian yang dulunya kerap diasosiasikan dengan kalangan tua, kini justru berkembang pesat di tangan anak-anak muda yang menunjukkan kualitas dan kemampuan yang semakin mumpuni. Mandra melihat fenomena ini sebagai angin segar yang sangat vital bagi keberlangsungan dan regenerasi pelaku seni Betawi di era modern yang penuh dengan dinamika perubahan. Ia mengamati bahwa banyak anak muda tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga mampu membawa inovasi kreatif dan keterampilan yang lebih canggih dalam mengembangkan seni tradisional Betawi.
"Ya, kalau saya secara pribadi jelas menerima perkembangan ini dengan sangat positif," ujar Mandra dengan nada antusias saat ditemui di Studio Trans 7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Minggu (21/6/2026). "Bahkan, seperti yang saya sampaikan tadi, pengembangan seni budaya Betawi ini yang dulunya mungkin hanya dilakukan oleh, anggaplah, generasi yang lebih senior atau ‘orang sepuh’, kini justru saya bisa membuktikan sendiri bahwa dari mulai tarian Betawi, musik-musik Betawi, semuanya kini telah diadaptasi dan dijalankan dengan gaya yang lebih modern oleh generasi sekarang. Mereka jauh lebih canggih, lebih hebat, dan lebih terampil dibandingkan generasi sebelumnya," tambahnya, menekankan perubahan positif yang ia saksikan.
Lebih lanjut, Mandra menggarisbawahi bahwa tingginya minat generasi muda terhadap kesenian Betawi dapat diukur dari semakin banyaknya anak-anak yang menunjukkan bakat luar biasa sejak usia dini. Kecepatan mereka dalam menyerap ilmu seni dan kemampuan adaptasi mereka terhadap teknik-teknik baru menjadi bukti nyata potensi yang dimiliki oleh generasi penerus. "Contoh saja, animo untuk menjadi penari Betawi sekarang ini sudah tidak sedikit lagi. Artinya, anak-anak usia 10 tahun saja sudah bisa kita lihat kecerdasan dan bakat mereka masing-masing dalam seni tari Betawi. Ini menunjukkan bahwa seni ini memiliki daya tarik yang kuat bagi mereka," jelas Mandra, memberikan ilustrasi konkret mengenai antusiasme tersebut.
Meskipun merasa senang dan bangga melihat antusiasme generasi muda terhadap warisan budaya Betawi, Mandra menegaskan bahwa ia tidak pernah memaksakan anak-anaknya sendiri untuk mengikuti jejak kariernya sebagai seniman. Ia percaya bahwa setiap individu memiliki hak untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri, dan kebebasan berekspresi adalah kunci. "Kalau untuk anak-anak saya sendiri, saya tidak pernah memaksakan. Ketika mereka masih kecil, tentu saya tidak menekankan pilihan karier. Namun, bagi mereka yang sudah beranjak dewasa atau bahkan sudah kuliah, saya rasa tidak perlu lagi saya memberikan arahan yang terlalu spesifik. Mungkin apa yang mereka lihat dan rasakan sendiri yang akan menjadi pegangan mereka ke depannya," tuturnya, menjelaskan filosofi pengasuhannya yang mengedepankan kemandirian.
Bagi Mandra, kecintaan mendalam terhadap sebuah budaya, termasuk seni tradisional, tidak dapat dipaksakan. Ia berpegang teguh pada keyakinan bahwa rasa kepemilikan dan kecintaan terhadap kesenian tradisional haruslah lahir dari kesadaran diri dan keinginan pribadi yang tulus. "Seperti yang tadi saya katakan, dalam hal kecintaan terhadap budaya, biasanya itu muncul dari hati. Dari lubuk hati yang paling dalam. Tidak perlu kita memaksakan atau mendorong mereka secara berlebihan, karena itu tidak akan efektif. Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu," pungkasnya, menegaskan prinsipnya yang menjunjung tinggi ketulusan dan kesadaran individu dalam melestarikan budaya.
Di tengah geliat positif ini, Mandra juga mengungkapkan pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi seni Betawi. Ia mengakui bahwa persaingan dengan budaya pop global yang semakin mendominasi lanskap hiburan tanah air menjadi salah satu tantangan terbesar. Namun, ia yakin bahwa dengan kreativitas dan adaptasi yang tepat, seni Betawi memiliki potensi untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan bersaing di kancah yang lebih luas. "Kita harus terus berinovasi. Jangan sampai kita terjebak dalam zona nyaman dengan cara-cara lama. Anak-anak muda sekarang punya perspektif yang berbeda, mereka bisa melihat seni Betawi dari sudut pandang yang segar, dan itu yang kita butuhkan," ujar Mandra.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara seniman senior yang memiliki pemahaman mendalam tentang akar budaya dengan seniman muda yang memiliki gagasan-gagasan baru dapat menjadi formula ampuh. Kolaborasi semacam ini dapat menghasilkan karya-karya seni Betawi yang otentik namun tetap relevan dengan selera zaman. "Bayangkan jika tarian Cokek dipadukan dengan musik elektronik, atau jika lenong dikemas dalam format pertunjukan yang lebih interaktif. Potensinya sangat besar," serunya penuh semangat.
Mandra juga menyoroti pentingnya peran media dan platform digital dalam mempromosikan seni Betawi kepada audiens yang lebih luas. Ia melihat bahwa media sosial dan platform streaming dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk memperkenalkan kekayaan seni Betawi kepada generasi muda, baik di dalam maupun di luar negeri. "Sekarang ini kan zamannya digital. Anak-anak muda sangat akrab dengan teknologi. Jika kita bisa memanfaatkan ini dengan baik, mengenalkan seni Betawi melalui video pendek yang menarik, atau melalui konten-konten kreatif di media sosial, saya yakin akan banyak orang yang tertarik," jelasnya.
Lebih jauh, Mandra berharap agar pemerintah daerah, khususnya di wilayah Jakarta, dapat memberikan dukungan yang lebih nyata bagi pengembangan seni budaya Betawi. Dukungan ini tidak hanya dalam bentuk pendanaan, tetapi juga dalam penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, serta program-program pelatihan yang berkelanjutan. "Pemerintah punya peran penting untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal. Dengan dukungan yang tepat, kita bisa menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembangnya seni Betawi," katanya.
Mandra percaya bahwa seni Betawi memiliki nilai universal yang dapat dinikmati oleh siapa saja, terlepas dari latar belakang suku, ras, atau agama. Keunikan dan kekayaan tradisinya merupakan aset bangsa yang patut dibanggakan dan dilestarikan. "Seni Betawi itu punya jiwa, punya cerita. Kalau kita bisa menyampaikannya dengan cara yang tepat, saya yakin akan banyak orang yang jatuh cinta padanya," tandasnya dengan optimisme yang membuncah. Ia berharap agar generasi muda terus bersemangat dalam menggali dan mengembangkan seni Betawi, sehingga warisan budaya ini dapat terus hidup dan memberikan warna bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

