Pengurus Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (PP AMRI) secara resmi telah merampungkan agenda Safari Dakwah dan Musyawarah Wilayah (MUSYWIL) PW Rifa’iyah serta PW AMRI Provinsi Sumatera Utara yang berlangsung khidmat pada Rabu, 10 Juni 2026. Kegiatan strategis ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Rafiudin Al Barokah, yang terletak di kawasan Medan Selayang, Kota Medan. Lokasi ini memiliki nilai historis dan spiritual yang mendalam, mengingat pondok pesantren tersebut merupakan institusi yang didirikan oleh almarhum Tengku Zulkarnain, sosok ulama karismatik asal Medan yang kiprahnya dalam dunia dakwah serta perjuangan syiar Islam di Sumatera Utara sangat dihormati oleh berbagai kalangan.
Pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 54 delegasi jamaah dan pengurus Rifa’iyah dari berbagai daerah di Sumatera Utara ini menjadi ajang konsolidasi organisasi yang krusial. Selain sebagai forum silaturahmi, musyawarah ini difokuskan pada penguatan struktur kepemimpinan guna merespons dinamika dakwah masa kini. Momentum MUSYWIL ini berhasil mencapai mufakat dalam pembentukan formasi kepengurusan baru bagi PW Rifa’iyah dan PW AMRI Provinsi Sumatera Utara. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata untuk menghidupkan kembali denyut organisasi di luar Pulau Jawa serta memperluas jaringan dakwah Rifa’iyah agar lebih terorganisir, adaptif, dan mampu menjangkau generasi muda di wilayah Sumatera.

Dalam rangkaian acara yang penuh dengan semangat ukhuwah islamiyah tersebut, agenda tidak hanya terbatas pada pemilihan pengurus, tetapi juga diisi dengan upaya edukasi mengenai akar keilmuan Rifa’iyah. Para peserta diberikan pemahaman mendalam tentang sosok pendiri, KH Ahmad Rifa’i ibn Muhammad, seorang ulama besar Nusantara yang pemikirannya terus relevan melintasi zaman. Sebagai simbol komitmen dalam menjaga tradisi keilmuan, dilakukan penyerahan secara simbolis kitab Metode Pengajaran Kitab Tarajumah (MPKT) kepada para peserta.
Kitab MPKT sendiri bukanlah sekadar buku biasa, melainkan sebuah penjelasan komprehensif (syarh) dari kitab Riayatul Himmah yang merupakan karya agung KH Ahmad Rifa’i. Kitab ini secara spesifik mengulas disiplin ilmu ushuluddin, fiqih, dan tasawuf dengan bahasa yang lebih sederhana. Disusun oleh para masyayikh Rifa’iyah asal Pati dan diterbitkan oleh PD UMRI Pati, kitab ini didesain sebagai jembatan bagi generasi milenial dan Gen-Z agar lebih mudah memahami ajaran Tarajumah yang selama ini dikenal cukup mendalam. Langkah PP AMRI mendistribusikan kitab ini ke luar Pulau Jawa, termasuk Sumatera, merupakan strategi "membumikan" literasi keislaman agar ajaran KH Ahmad Rifa’i tidak hanya eksklusif dipelajari di lingkungan pesantren, tetapi juga dapat menjadi pegangan bagi masyarakat umum.
Kehadiran PP AMRI di Sumatera Utara menjadi bukti nyata bahwa semangat kaderisasi tidak boleh berhenti di pusat saja. Safari dakwah ini membawa pesan bahwa Rifa’iyah adalah organisasi yang inklusif dan progresif. Kaderisasi di Sumatera Utara dipandang sebagai pintu gerbang untuk memperkuat basis dakwah di wilayah barat Indonesia. Dengan kepengurusan baru yang terbentuk, diharapkan ada regenerasi kepemimpinan yang membawa visi segar, mampu mengelola manajemen organisasi secara profesional, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap permasalahan umat di sekitarnya.

Lebih jauh lagi, peran strategis AMRI sebagai sayap pemuda Rifa’iyah menjadi tulang punggung dalam gerakan ini. Pemuda diharapkan menjadi motor penggerak yang mampu menerjemahkan nilai-nilai perjuangan KH Ahmad Rifa’i ke dalam aksi nyata. Di era digital saat ini, tantangan dakwah semakin kompleks. Oleh karena itu, penguatan struktur PW Rifa’iyah dan PW AMRI di Sumatera Utara diharapkan mampu menjadi pusat informasi dan rujukan bagi masyarakat yang ingin mendalami ajaran Islam sesuai dengan manhaj Rifa’iyah yang moderat dan berbasis pada kitab-kitab klasik.
Kegiatan di Pondok Pesantren Rafiudin Al Barokah ini mencerminkan betapa pentingnya kolaborasi antara ulama, pengurus organisasi, dan warga masyarakat. Suasana kekeluargaan yang terbangun selama acara menjadi modal sosial yang kuat bagi para pengurus baru untuk mulai bekerja. Para peserta yang hadir menyatakan optimisme tinggi bahwa dengan kepengurusan yang solid, program-program kerja yang direncanakan dapat terealisasi dengan baik, mulai dari pengajian rutin, pelatihan kepemimpinan, hingga bakti sosial yang bermanfaat bagi masyarakat Sumatera Utara secara luas.
Sebagai penutup dari rangkaian kegiatan, penekanan diberikan pada pentingnya literasi digital dan penguasaan kitab-kitab karya KH Ahmad Rifa’i. Diharapkan ke depan, akan ada lebih banyak forum diskusi, kajian kitab, dan pelatihan yang memanfaatkan teknologi informasi untuk menyebarkan syiar Islam. Hal ini sejalan dengan cita-cita besar Rifa’iyah untuk mencetak kader-kader ulama sekaligus pemimpin umat yang tidak hanya paham agama secara tekstual, tetapi juga cakap dalam mempraktikkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat yang majemuk.

Dengan selesainya MUSYWIL ini, Sumatera Utara kini memiliki nahkoda baru dalam kepengurusan Rifa’iyah. Keberhasilan ini diharapkan menjadi pemicu bagi wilayah-wilayah lain untuk melakukan konsolidasi serupa. Semangat untuk terus berkhidmat, berdakwah, dan berkarya bagi umat harus terus dijaga, sebagaimana warisan perjuangan yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu. Pondok Pesantren Rafiudin Al Barokah pun telah mencatatkan sejarah baru sebagai saksi bangkitnya gairah dakwah Rifa’iyah di tanah Sumatera, membuka babak baru bagi perkembangan organisasi yang lebih dinamis, inklusif, dan berpengaruh bagi kemaslahatan umat Islam di masa depan. Perjalanan panjang dakwah masih terbentang luas, dan langkah awal yang dimulai di Medan ini menjadi fondasi yang kokoh untuk menapaki masa depan yang lebih cerah bagi seluruh warga Rifa’iyah di Indonesia.

