0

Mengenal Kitab Mufhamah karya KH. Ahmad Rifa’i

Share

Kitab Mufhamah merupakan salah satu mahakarya intelektual yang lahir dari pemikiran tajam ulama besar Nusantara, KH. Ahmad Rifa’i al-Jawi. Sebagai sosok ulama pejuang yang gigih melawan kolonialisme melalui jalur pendidikan dan dakwah, KH. Ahmad Rifa’i meninggalkan warisan literatur yang sangat berharga bagi umat Islam, khususnya bagi warga Rifa’iyah. Kitab Mufhamah, yang diselesaikan penulisannya pada hari Rabu, 4 Jumadil Akhir 1266 Hijriah, menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga kemurnian akidah di tengah masyarakat Jawa pada abad ke-19. Secara tematis, kitab ini membedah secara mendalam persoalan dikotomi antara mukmin dan kafir, sebuah tema krusial yang menjadi fondasi utama dalam bangunan akidah Islam.

Di masa hidup KH. Ahmad Rifa’i, kondisi sosial-keagamaan di tanah Jawa sedang mengalami dinamika yang cukup pelik. Beliau melihat adanya degradasi pemahaman keagamaan, di mana banyak praktik yang tidak sesuai dengan koridor syariat mulai mewabah. Tantangan inilah yang mendorong beliau untuk menyusun berbagai karya tulis sebagai panduan praktis bagi masyarakat. Mufhamah hadir bukan sekadar sebagai kitab hukum, melainkan sebagai kompas moral dan teologis. Dalam kitab ini, KH. Ahmad Rifa’i berusaha menjelaskan batasan-batasan iman dan kekafiran dengan merujuk langsung pada sumber primer, yakni Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Beliau ingin memastikan bahwa setiap pengikutnya memiliki benteng akidah yang kokoh sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam kemusyrikan, kemunafikan, atau kesesatan yang saat itu marak terjadi akibat pengaruh kolonial maupun pemahaman yang keliru.

Mengenal Kitab Mufhamah karya KH. Ahmad Rifa’i

Dari segi teknis penulisan, kitab ini disusun dengan pendekatan yang sangat ramah bagi masyarakat lokal. KH. Ahmad Rifa’i menggunakan bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon sebagai medium penyampaian pesan. Pemilihan aksara Pegon merupakan strategi dakwah yang sangat efektif pada zamannya, mengingat komunitas santri dan masyarakat Jawa lebih familiar dengan aksara tersebut dibandingkan dengan tulisan Latin atau aksara Jawa tradisional dalam konteks literatur keagamaan. Selain itu, gaya penulisan yang dipilih adalah nazam atau syair. Metode ini tidak hanya membuat isi kitab menjadi lebih estetis, tetapi juga memiliki fungsi pedagogis yang kuat. Dengan bentuk syair, teks menjadi lebih mudah untuk dilafalkan, dihafalkan, dan dipahami oleh para santri yang sedang menuntut ilmu di pesantren-pesantren asuhan beliau. Secara fisik, kitab ini tergolong ringkas namun padat, terdiri dari 36 halaman yang memuat 391 bait nazam. Angka 391 bait ini menunjukkan kedalaman materi yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam durasi yang cukup singkat untuk dibaca namun kaya akan makna.

Salah satu aspek menarik dari Kitab Mufhamah adalah penekanannya pada pentingnya peran ulama dalam membimbing umat. Hal ini terbukti dari kutipan hadis yang sering disematkan dalam karya-karya beliau, yang menekankan bahwa keberadaan seorang alim yang mengajarkan ilmu kepada manusia memiliki keutamaan yang luar biasa, bahkan melampaui ibadah sunnah seratus tahun. Bagi KH. Ahmad Rifa’i, ilmu adalah senjata utama. Dalam Mufhamah, beliau menguraikan ciri-ciri orang yang benar-benar beriman, yakni mereka yang hatinya tunduk pada perintah Allah dan Rasul-Nya, serta mereka yang mampu membedakan mana jalan keselamatan dan mana jalan kehancuran. Beliau tidak hanya memberikan batasan teoretis, tetapi juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya kemunafikan yang sering kali tidak disadari oleh seseorang. Kemunafikan, dalam pandangan beliau, adalah penyakit hati yang dapat merusak tatanan sosial dan spiritual seorang muslim.

Karakteristik khas dari kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i, termasuk Mufhamah, adalah sifatnya yang sangat "membumi". Beliau tidak menggunakan istilah-istilah filsafat yang rumit atau abstrak, melainkan menggunakan analogi-analogi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Hal ini membuat Mufhamah tetap relevan untuk dikaji hingga saat ini. Dalam kitab ini, pembaca akan menemukan penegasan bahwa menjadi seorang muslim tidak hanya sekadar mengaku beriman, tetapi harus dibuktikan dengan ketaatan mutlak terhadap ajaran yang telah digariskan oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Ketaatan ini mencakup aspek ibadah, muamalah, hingga perilaku sosial. Jika seseorang tidak mematuhi petunjuk tersebut, maka ia terancam kehilangan hakikat keimanannya.

Mengenal Kitab Mufhamah karya KH. Ahmad Rifa’i

Lebih jauh lagi, Mufhamah juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya menjaga akidah di tengah gempuran ideologi dan kebiasaan yang menyimpang. KH. Ahmad Rifa’i dengan sangat berani mengkritik perilaku-perilaku masyarakat yang dianggapnya telah keluar dari rel syariat. Kritik ini bukan didasarkan pada kebencian, melainkan bentuk kecintaan beliau terhadap umat agar tetap selamat di dunia dan akhirat. Melalui 391 bait nazam tersebut, beliau menuntun pembaca untuk melakukan refleksi diri setiap saat. Apakah iman yang kita miliki sudah murni? Apakah perilaku kita sudah mencerminkan seorang mukmin sejati? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang ingin dijawab melalui kajian kitab ini.

Dalam konteks literatur Islam Nusantara, Kitab Mufhamah menduduki posisi yang sangat penting. Ia merupakan bukti otentik bahwa ulama Nusantara pada masa itu memiliki kapasitas intelektual yang setara dengan ulama-ulama di Timur Tengah. Kemampuan KH. Ahmad Rifa’i dalam mengolah ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis ke dalam bentuk syair Jawa menunjukkan kedalaman penguasaan beliau terhadap ilmu alat, ushuluddin, dan tasawuf. Tidak mengherankan jika hingga hari ini, kitab-kitab karya beliau tetap dipelajari, dicetak ulang, dan didigitalisasi oleh berbagai lembaga, termasuk Rifaiyah, sebagai upaya melestarikan warisan ilmu pengetahuan Islam.

Keberadaan versi digital dari Kitab Mufhamah yang kini dapat diakses secara daring melalui tautan yang disediakan oleh pengelola situs Rifaiyah merupakan langkah progresif dalam literasi keislaman. Hal ini memungkinkan generasi muda, termasuk mahasiswa dan peneliti, untuk mempelajari pemikiran KH. Ahmad Rifa’i tanpa terhambat jarak dan akses fisik. Aksesibilitas ini diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat intelektual di kalangan generasi penerus untuk terus menggali khazanah pemikiran ulama Nusantara. Pembaca yang ingin memperdalam materi ini dapat mengunduh file PDF yang tersedia, yang memuat seluruh isi teks asli beserta terjemahan atau penjelasan yang relevan agar pesan-pesan moral di dalamnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan modern.

Mengenal Kitab Mufhamah karya KH. Ahmad Rifa’i

Sebagai penutup, Kitab Mufhamah bukan sekadar tumpukan kertas tua atau artefak sejarah. Ia adalah cermin bagi jiwa yang sedang mencari keteguhan iman. Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan perubahan nilai-nilai, ajaran KH. Ahmad Rifa’i dalam kitab ini tetap menawarkan kejernihan berpikir. Dengan memahami Mufhamah, umat diajak untuk kembali ke akar keislaman yang murni, yang tidak terpengaruh oleh kepentingan duniawi semata, melainkan selalu berorientasi pada keridaan Allah SWT. Warisan KH. Ahmad Rifa’i adalah pengingat bahwa menjadi seorang Muslim adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan ilmu, keteladanan, dan keberanian untuk memegang teguh kebenaran, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh beliau semasa hidupnya hingga akhir hayatnya. Semoga dedikasi beliau dalam menyebarkan ilmu menjadi amal jariyah yang terus mengalir dan memberikan manfaat luas bagi umat Islam di Indonesia maupun di dunia.