0

Mojtaba Khamenei Sebut AS-Israel Coba Picu Perpecahan Usai Kalah Perang

Share

Dalam sebuah pernyataan yang mencerminkan ketegangan geopolitik yang kian memuncak di Timur Tengah, Mojtaba Khamenei, tokoh sentral dalam struktur kekuasaan Iran, melontarkan tuduhan keras terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia menyebut kedua negara tersebut sedang menjalankan agenda tersembunyi untuk menyebarkan benih perpecahan dan ketidakpercayaan di tengah masyarakat Iran. Narasi ini muncul sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai kekalahan telak dan penghinaan yang dialami aliansi Barat dan Israel dalam berbagai konfrontasi militer di kawasan, yang kini memaksa mereka beralih ke strategi perang hibrida.

Pesan tertulis yang disampaikan pada Kamis (4/6) tersebut menjadi sorotan dunia internasional, mengingat posisi strategis Mojtaba dalam lanskap politik Iran. Menurutnya, "musuh jahat" telah secara aktif mencoba menanamkan keraguan, keputusasaan, ketakutan, dan disintegrasi sosial. Ia menekankan bahwa dalam menghadapi tekanan eksternal yang masif ini, bangsa Iran dituntut untuk memiliki keteguhan hati, wawasan yang tajam, serta menjaga persatuan nasional sebagai garda terdepan untuk menetralisir rencana-rencana yang dianggap destruktif terhadap kedaulatan negara.

Pernyataan ini disampaikan di tengah momentum peringatan 37 tahun wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran. Dalam upacara khidmat yang dihadiri oleh jutaan pelayat di mausoleum sang pemimpin revolusi di selatan Teheran, pesan tersebut dibacakan oleh seorang imam di hadapan lautan manusia yang mengibarkan bendera Iran serta spanduk-spanduk dukungan bagi kelompok Hizbullah. Kehadiran massa yang besar ini menjadi simbol ketahanan ideologis Iran di tengah gempuran sanksi dan tekanan diplomatik yang terus berlangsung selama beberapa dekade terakhir.

Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa upaya musuh saat ini bukan lagi sekadar konfrontasi militer konvensional di medan laga. Ia menyebut bahwa setelah mengalami kekalahan yang "memalukan" dan "berarti" dalam berhadapan langsung dengan putra-putra pemberani Angkatan Bersenjata Iran, pihak lawan kini memusatkan seluruh sumber daya mereka pada strategi perang hibrida. Strategi ini, menurut Mojtaba, memiliki dua tujuan utama: pertama, melemahkan ketahanan mental dan daya juang rakyat Iran; dan kedua, menciptakan kesalahan perhitungan (miscalculation) di antara para pejabat negara dalam merumuskan kebijakan publik.

Dalam pandangan Mojtaba, setiap tindakan yang berpotensi memicu pesimisme, sinisme, atau kekecewaan di antara rakyat adalah bentuk pengkhianatan yang secara tidak langsung membantu agenda musuh. Ia secara eksplisit menekankan peran krusial pemerintah dalam mengawal stabilitas internal agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi asing yang disebarkan melalui berbagai kanal informasi dan perang siber. Baginya, menjaga persatuan bukan sekadar imbauan moral, melainkan kebutuhan strategis dalam menghadapi peperangan modern yang kini lebih banyak beroperasi di ruang psikologis dan digital.

Konflik yang dimaksud oleh Mojtaba mencakup dinamika kompleks di Timur Tengah, di mana Iran, melalui jaringan yang mereka sebut sebagai "Poros Perlawanan", terlibat dalam persaingan pengaruh yang sengit dengan Israel dan sekutu utamanya, Amerika Serikat. Kekalahan yang disebut Mojtaba kemungkinan besar merujuk pada ketidakmampuan pihak lawan untuk mematahkan pengaruh Iran di wilayah seperti Lebanon, Suriah, dan Irak, serta kegagalan dalam melumpuhkan kapabilitas militer Iran meskipun telah dijatuhi sanksi ekonomi yang sangat ketat.

Perang hibrida yang disebutkan oleh Mojtaba merupakan tantangan nyata yang dihadapi banyak negara berkembang saat ini. Penggunaan propaganda, serangan siber, disinformasi, dan infiltrasi ekonomi kini menjadi instrumen utama dalam menggoyahkan stabilitas sebuah bangsa tanpa harus melepaskan tembakan. Dengan menyoroti taktik ini, Mojtaba sedang berupaya membangun sistem imun ideologis bagi rakyat Iran agar lebih waspada terhadap arus informasi yang bertujuan memecah belah persatuan nasional.

Lebih jauh, pesan ini juga mengandung peringatan bagi para elit politik di dalam negeri. Dengan menyebut adanya potensi "kesalahan perhitungan" di kalangan pejabat, Mojtaba seolah memberikan instruksi agar para pengambil kebijakan di Teheran tetap teguh pada garis haluan yang telah ditetapkan dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan diplomatik yang menyelinap melalui jalur negosiasi atau intimidasi. Kesatuan antara pemerintah dan rakyat menjadi tema sentral yang terus diulang, menegaskan bahwa kekuatan Iran terletak pada solidaritas kolektif yang sulit ditembus oleh intervensi luar.

Para analis politik mencatat bahwa pernyataan Mojtaba ini merupakan upaya untuk memperkuat legitimasi dan solidaritas di tengah tantangan domestik, termasuk masalah ekonomi yang diperparah oleh isolasi internasional. Dengan membingkai isu-isu internal sebagai bagian dari perang besar melawan musuh asing, pihak kepemimpinan Iran berharap dapat meredam potensi ketidakpuasan publik dan mengalihkannya menjadi energi untuk mempertahankan kedaulatan negara.

Dalam upacara di mausoleum Khomeini, atmosfer yang terbangun sangat kental dengan nuansa revolusioner. Kehadiran atribut Hizbullah di tengah kerumunan menunjukkan bahwa Iran tetap berkomitmen pada aliansi regionalnya, terlepas dari tekanan yang diberikan oleh kekuatan global. Bagi para peserta upacara, kata-kata Mojtaba adalah panggilan untuk kembali ke akar revolusi, di mana kemandirian dan perlawanan terhadap hegemoni Barat menjadi fondasi utama identitas nasional.

Secara lebih luas, dinamika ini menunjukkan bahwa Iran tidak melihat dirinya sedang berada dalam masa damai, melainkan dalam fase perang yang terus berlangsung dalam bentuk yang berbeda. Perang hibrida ini menuntut kewaspadaan tingkat tinggi dari seluruh elemen masyarakat. Mojtaba menekankan bahwa "musuh jahat" tidak akan pernah berhenti mencari celah untuk melemahkan Iran, sehingga setiap warga negara harus bertindak sebagai garda terdepan dalam menjaga kesatuan dan tidak memberikan ruang bagi keraguan untuk tumbuh.

Dengan mengaitkan kekalahan musuh di medan perang dengan strategi mereka saat ini, Mojtaba berusaha membangun narasi kemenangan moral bagi rakyat Iran. Ia ingin menegaskan bahwa jika musuh saja tidak mampu menang di medan tempur, maka satu-satunya cara mereka untuk bisa menguasai Iran adalah dengan menghancurkan persatuan bangsa dari dalam. Oleh karena itu, pesan ini adalah seruan untuk memperkuat persatuan sebagai benteng pertahanan terakhir yang tidak boleh runtuh.

Di tengah situasi global yang tidak menentu dan konfrontasi yang terus membayangi, posisi yang disampaikan oleh Mojtaba Khamenei menjadi indikator penting mengenai arah kebijakan dan narasi politik Iran di masa depan. Fokus pada perang hibrida dan pentingnya persatuan nasional dipastikan akan terus menjadi tema sentral dalam retorika pemerintah Iran, sebagai upaya untuk memelihara stabilitas internal sekaligus memberikan perlawanan terhadap tekanan eksternal yang terus menerus datang dari Washington dan Tel Aviv.

Seiring berjalannya waktu, efektivitas dari narasi "perang hibrida" ini akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah Iran merespons kebutuhan domestik dan tantangan ekonomi yang nyata di mata rakyatnya. Namun, untuk saat ini, pesan tersebut berhasil mengonsolidasikan basis pendukung pemerintah dan mempertegas posisi Iran sebagai kekuatan yang menolak tunduk pada tekanan pihak luar, sembari tetap mewaspadai setiap upaya yang mencoba merusak fondasi persatuan nasional yang selama ini dijaga dengan ketat.

Dengan demikian, pernyataan Mojtaba Khamenei bukan sekadar pidato seremonial di peringatan wafatnya Khomeini, melainkan sebuah pernyataan perang dalam konteks modern. Ia mengirimkan sinyal jelas bahwa Iran menyadari sepenuhnya taktik yang digunakan oleh musuh-musuhnya dan siap menghadapinya dengan memperkuat narasi persatuan nasional, ketahanan mental, dan kewaspadaan kolektif sebagai senjata utama di tengah badai geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.