0

Anak Deddy Dores Nekat Mau Jual Bola Mata: Demi Anak dan Ibu Saya

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pernyataan mengejutkan datang dari Calvin Dores, putra dari mendiang legenda musik dangdut Tanah Air, Deddy Dores. Belakangan ini, namanya mendadak viral di jagat maya setelah ia secara terbuka mengungkapkan niatnya yang nekat untuk menjual bola matanya demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga, terutama ibu dan anak-anaknya. Pengakuan yang diunggahnya di media sosial ini sontak mengundang perhatian dan simpati publik luas. Calvin Dores sendiri mengaku terkejut dan tak menyangka bahwa ucapannya tersebut bisa menjadi sorotan dan perbincangan hangat di kalangan netizen. Ia menjelaskan bahwa niat ekstrem tersebut muncul dari lubuk hatinya yang terdalam, didorong oleh kepedihan melihat kondisi ekonomi keluarganya yang kian terpuruk. "Kalau bicara itu, sebenarnya semua manusia yang masih diberi napas pasti alami masalah ya. Cuma saya juga nggak nyangka statement saya bisa viral se-viral ini gitu. Karena tujuan saya jual mata juga hanya untuk kepentingan warga saya sih, ibu saya, anak-anak saya," ujar Calvin Dores dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Detikcom di Studio FYP Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Jumat (22/5/2026).

Lebih lanjut, Calvin mengungkapkan bahwa ia tidak ingin anak-anaknya merasakan kesulitan dan kepahitan hidup yang saat ini sedang ia jalani. Ia melihat realitas pahit di depan matanya, di mana anak-anaknya harus turut merasakan dampak dari kondisi finansial keluarga yang memprihatinkan. "Saya cuma nggak mau anak-anak saya itu kehidupannya susah seperti sayalah gitu. Karena saya bukannya ngeluh atau gimana ya, maksudnya susahnya sesusah-susahnya orang gitu yang saya alamin sekarang ini," tuturnya dengan nada prihatin yang mendalam. Beban berat yang ia pikul tak hanya sebatas kebutuhan sehari-hari, tetapi juga perjuangan gigih untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Calvin mengaku seringkali dihadapkan pada tembok penghalang berupa persyaratan pendidikan formal, terutama ijazah, yang kerap menjadi kendala dalam setiap lamaran pekerjaan. Ia menampik anggapan sebagian netizen yang menudingnya malas, dan menegaskan bahwa ia telah berusaha keras dan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan penghasilan. "Ya sulit nyari kerja. Walaupun bukan berarti saya malas, banyak netizen bilang, ‘Malas’. Berarti dia belum kenal gue karena saya udah ngelakuin apa aja belakangan ini," tegasnya.

Dalam rentang waktu belakangan ini, Calvin mengakui bahwa ia terpaksa menjalani berbagai pekerjaan serabutan demi bisa bertahan hidup. Ia pernah menjadi sopir mobil, mengantarkan mobil gereja, hingga menjadi sopir antar-jemput anak sekolah. Namun, pekerjaan-pekerjaan tersebut bersifat tidak tetap dan tidak memberikan kepastian penghasilan bulanan, sehingga ia menggambarkannya sebagai pekerjaan "cabutan". "Saya sempat job nyupir mobil, terus nganterin mobil gereja, nganter jemput anak sekolahan, itu pernah. Cuman kan nggak netap bulanan, jadi kayak cabutan lah bahasanya," jelasnya. Pengalamannya melamar pekerjaan di sebuah perusahaan pun tak luput dari kendala ijazah. Meskipun memiliki teman yang bekerja di perusahaan tersebut dan ada lowongan yang tersedia, ia kembali terbentur pada persyaratan pendidikan. "Ngelamar kerja di suatu perusahaan. Kebetulan driver-nya temen saya. Ada lowongan, mentoknya balik lagi ijazah lagi, ijazah lagi gitu," keluhnya.

Di tengah kesulitan ekonomi yang melilit, Calvin Dores tetap berupaya untuk tetap aktif di dunia musik yang merupakan warisan ayahnya. Namun, realitasnya jauh dari kata ideal. Ia terpaksa menjual beberapa karya musiknya, baik yang diciptakan untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri, dengan harga yang sangat rendah demi mendapatkan uang untuk bertahan hidup. "Musik juga saya masih main sampai detik ini. Sampai saya jual-jual beberapa karya saya, baik dalam negeri atau luar negeri. Harganya jatuh banget, tapi nggak apa-apa deh, yang penting bisa bertahan hidup," ungkapnya dengan nada pasrah namun tetap tegar.

Momen terberat yang pernah ia alami adalah ketika harus menahan lapar, dan yang lebih memilukan adalah ketika anak-anaknya juga harus merasakan hal yang sama. Calvin menceritakan dengan senyum getir bahwa ia sudah terbiasa menahan lapar, bahkan pernah menganggapnya sebagai bentuk "intermittent fasting" demi mengurangi beban pikiran. Namun, hatinya terasa perih ketika melihat anak-anaknya harus turut menahan lapar bukan karena pilihan diet, melainkan karena keterbatasan ekonomi keluarga. "Kalau gue nahan lapar sih gue udah biasa ya. Sampai gue bikin statement di pikiran gua sendiri, ‘Ah udah, gua anggep aja intermittent fasting’," katanya sambil tertawa kecil yang diwarnai kesedihan. "Ini anak gue sampai nahan lapar karena gue nggak punya duit gitu loh. Bukan lapar banget ya, maksudnya lauk nggak ada. Ini lauknya ada, kayak telor mah gue bilang udah alhamdulillah-lah," pungkasnya dengan suara bergetar menahan haru.

Kisah pilu Calvin Dores ini tentu membuka mata banyak pihak tentang realitas kehidupan anak-anak dari figur publik yang terkadang tidak seindah yang dibayangkan. Di balik nama besar sang ayah, tersimpan perjuangan hidup yang tak ringan. Niat nekatnya untuk menjual bola mata, meskipun terdengar ekstrem, sejatinya adalah cerminan dari keputusasaan dan cinta seorang ayah yang tak terhingga kepada keluarganya. Ia rela melakukan apa saja, bahkan mempertaruhkan bagian dari dirinya, demi melihat ibu dan anak-anaknya hidup layak dan tidak menderita sepertinya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap dunia hiburan, ada banyak individu yang berjuang keras dalam diam untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar. Dukungan dan empati dari masyarakat, serta potensi bantuan dari pihak-pihak terkait, diharapkan dapat meringankan beban yang dipikul oleh Calvin Dores dan keluarganya, sehingga ia tidak perlu lagi berpikir untuk melakukan tindakan drastis demi bertahan hidup. Perjuangan Calvin menjadi inspirasi sekaligus keprihatinan, menunjukkan betapa kuatnya naluri seorang ayah dalam melindungi dan mencukupi kebutuhan orang-orang yang dicintainya, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun.