0

Trump Sempat Siapkan Eks Presiden Ahmadinejad Jadi Pemimpin Iran

Share

Laporan mengejutkan dari The New York Times (NYT) baru-baru ini mengungkap sebuah bab gelap dalam sejarah diplomasi dan operasi intelijen Timur Tengah, di mana pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut-sebut pernah menyusun rencana ambisius untuk melakukan perubahan rezim di Iran dengan menempatkan mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad sebagai pemimpin negara tersebut. Upaya yang melibatkan koordinasi erat dengan Israel ini bukan sekadar wacana diplomatik, melainkan sebuah operasi militer taktis yang melibatkan serangan langsung ke kediaman pribadi Ahmadinejad di Teheran.

Menurut keterangan pejabat-pejabat Amerika Serikat yang mendapatkan pengarahan langsung mengenai operasi tersebut, rencana ini didasarkan pada strategi untuk memanfaatkan ketegangan internal yang memuncak antara Ahmadinejad dan elite kepemimpinan Iran saat ini. Meskipun Ahmadinejad dikenal luas sebagai tokoh ultra-konservatif yang memiliki retorika tajam anti-Israel dan anti-Amerika, Washington dan Tel Aviv melihatnya sebagai pion yang paling potensial untuk menggantikan struktur kekuasaan petahana. Logikanya, Ahmadinejad memiliki basis massa yang cukup besar dan rekam jejak populisme yang mampu menggalang dukungan rakyat di tengah kondisi ekonomi Iran yang terpuruk akibat sanksi internasional.

Operasi ini mencapai titik krusial ketika Angkatan Udara Israel melancarkan serangan presisi yang ditujukan ke rumah Ahmadinejad di distrik Narmak, Teheran Timur. Serangan tersebut memiliki tujuan ganda: melumpuhkan sistem pengamanan yang ketat di sekitar kediamannya—yang selama ini difungsikan oleh otoritas Iran sebagai penjara rumah—serta melakukan "penyelamatan" paksa terhadap sang mantan presiden. Laporan menyebutkan bahwa serangan itu secara spesifik menargetkan pos-pos keamanan di gerbang masuk jalan menuju rumahnya, sementara struktur bangunan utama sengaja dihindari dari kerusakan masif untuk meminimalisir korban jiwa di pihak Ahmadinejad sendiri.

Namun, eksekusi di lapangan tidak berjalan sesuai dengan kalkulasi intelijen yang telah disusun. Pada hari pertama serangan, Ahmadinejad dilaporkan mengalami luka-luka. Insiden ini seketika mengubah dinamika operasi yang semula dirancang sebagai "operasi penyelamatan" menjadi sebuah kekacauan yang tak terkendali. Informasi mengenai nasib Ahmadinejad pun menjadi simpang siur; media-media lokal Iran sempat menyiarkan berita bahwa ia tewas dalam serangan tersebut, sebuah narasi yang kemudian dengan cepat dibantah oleh partai politik pendukungnya. Sementara itu, pihak otoritas resmi Iran mengonfirmasi bahwa Ahmadinejad selamat, namun mereka menegaskan bahwa para penjaga yang bertugas di kediamannya telah gugur akibat serangan udara tersebut.

Pasca-insiden tersebut, posisi Ahmadinejad menjadi semakin terisolasi dan misterius. Pejabat AS yang dikutip NYT mengungkapkan bahwa mantan presiden itu sempat merasa kecewa dengan upaya perubahan rezim yang gagal tersebut. Hingga saat ini, Ahmadinejad belum pernah muncul kembali di ruang publik, dan keberadaan serta kondisi kesehatannya tetap menjadi teka-teki besar yang diselimuti oleh kerahasiaan tingkat tinggi.

Latar belakang dari keterlibatan Ahmadinejad dalam skenario besar ini tidak muncul begitu saja. Selama memimpin Iran dari tahun 2005 hingga 2013, Ahmadinejad memang dikenal sebagai sosok yang kontroversial. Namun, setelah masa jabatannya berakhir, ia justru sering berseberangan dengan elite konservatif Iran yang lebih hardline. Ia kerap melontarkan kritik pedas terkait dugaan korupsi sistemik di jajaran pejabat senior pemerintahan dan institusi negara. Akibat keberaniannya yang dianggap membahayakan stabilitas rezim, ia sering dihalangi untuk mencalonkan diri kembali dalam kontestasi pemilihan presiden, dan ruang geraknya pun semakin dipersempit hingga akhirnya ia berada dalam status tahanan rumah secara de facto.

Kondisi Ahmadinejad yang terpinggirkan inilah yang dibaca oleh intelijen AS dan Israel sebagai celah yang sempurna. Mereka menilai bahwa ketidakpuasan Ahmadinejad terhadap rezim petahana bisa diubah menjadi kekuatan oposisi yang didukung dari luar. Strategi ini menunjukkan betapa kompleksnya pola pikir kebijakan luar negeri pemerintahan Trump, yang cenderung mengambil langkah-langkah agresif dan tidak konvensional dalam menghadapi Iran. Dengan mencoba "meminjam tangan" musuh lama untuk meruntuhkan musuh yang lebih besar, AS berharap dapat menciptakan pemerintahan baru di Teheran yang lebih kooperatif atau setidaknya lebih lemah terhadap tekanan internasional.

Namun, kegagalan operasi ini memberikan pelajaran berharga mengenai volatilitas politik di Timur Tengah. Mengandalkan figur yang memiliki sejarah permusuhan ideologis yang tajam dengan Barat terbukti menjadi pertaruhan yang sangat berisiko. Bukan hanya karena ketidakpastian loyalitas subjek, tetapi juga karena kuatnya cengkeraman keamanan internal Iran yang mampu mendeteksi dan merespons ancaman dengan sangat cepat.

Lebih jauh, keterlibatan Israel dalam serangan di jantung ibu kota Iran menandai eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, Israel melakukan serangan terhadap proksi Iran di wilayah luar seperti Suriah atau Lebanon, namun serangan langsung di Teheran—apalagi dengan tujuan membebaskan tokoh politik domestik Iran—merupakan pergeseran paradigma militer yang drastis. Hal ini menunjukkan bahwa koordinasi AS-Israel pada masa itu telah mencapai tahap di mana mereka merasa perlu untuk melampaui batas-batas diplomasi konvensional.

Secara politis, narasi bahwa AS berusaha menginstalasikan kembali seorang mantan presiden melalui intervensi militer tentu akan menjadi bahan propaganda yang sangat kuat bagi pemerintah Iran untuk menyatukan barisan nasional melawan "intervensi asing". Bagi warga Iran sendiri, kabar bahwa mantan pemimpin mereka menjadi bagian dari rencana kekuatan asing mungkin akan menimbulkan reaksi yang beragam, mulai dari kemarahan hingga sinisme mendalam terhadap integritas politik para pemimpin mereka.

Hingga hari ini, banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding rumah Ahmadinejad di distrik Narmak. Apakah ia benar-benar menjadi target penyelamatan, atau apakah ia hanyalah pion yang dikorbankan dalam permainan catur geopolitik yang jauh lebih besar? Apakah ada komunikasi rahasia yang terjalin antara Ahmadinejad dengan pihak intelijen luar sebelum serangan itu terjadi? Semua spekulasi ini tetap mengambang di tengah minimnya informasi dari pihak-pihak yang terlibat.

Kegagalan operasi ini juga menjadi catatan kelam bagi kebijakan luar negeri AS di era tersebut. Upaya untuk memaksakan perubahan rezim (regime change) sering kali berakhir dengan konsekuensi yang tidak terduga, yang justru memperkuat posisi pihak yang ingin digulingkan. Dengan tertutupnya akses ke Ahmadinejad dan hilangnya sosok tersebut dari peredaran publik, Iran tampaknya telah berhasil mengamankan kembali kendali atas dinamika internalnya, setidaknya untuk sementara waktu.

Sebagai penutup, peristiwa ini menegaskan kembali betapa rapuhnya situasi geopolitik di kawasan Teluk Persia. Keterlibatan kekuatan besar seperti Amerika Serikat dalam dinamika internal Iran, dengan menggunakan metode-metode yang berisiko tinggi seperti serangan udara untuk membebaskan tokoh politik, menunjukkan bahwa ketegangan di kawasan tersebut tidak hanya soal nuklir atau ekonomi, tetapi juga tentang persaingan kekuasaan yang bersifat eksistensial. Kasus Ahmadinejad akan terus menjadi subjek analisis bagi para pengamat intelijen dan sejarahwan selama bertahun-tahun ke depan, sebagai contoh nyata bagaimana rencana yang disusun dengan cermat di ruang rapat Washington atau Tel Aviv bisa hancur berantakan di lapangan saat berhadapan dengan realitas politik yang keras di Teheran. Kondisi Ahmadinejad yang tak diketahui pasti hingga hari ini pun seolah menjadi simbol dari ketidakpastian yang selalu menyelimuti hubungan antara Iran dan Barat.