Setelah lebih dari satu setengah abad menjadi salah satu misteri maritim paling membingungkan dalam sejarah, teka-teki "kapal hantu" Mary Celeste yang ditemukan berlayar tanpa awak kini secara ilmiah semakin mendekati titik terang. Sebuah hipotesis yang telah diuji dan divalidasi melalui serangkaian eksperimen ilmiah canggih, mengarahkan pada kesimpulan bahwa ledakan uap alkohol yang tidak merusak namun menakutkan, kemungkinan besar menjadi pemicu kepanikan yang menyebabkan seluruh awak kapal meninggalkan bahtera mereka.
Kisah Mary Celeste dimulai pada 5 Desember 1872, ketika kapal brigantin Inggris, Dei Gratia, berlayar melintasi Samudra Atlantik. Di tengah hamparan biru yang luas, kru Dei Gratia dikejutkan oleh pemandangan yang tak biasa: sebuah kapal dagang Amerika, Mary Celeste, terlihat terombang-ambing tanpa arah, sekitar 400 mil lepas pantai Azores. Ketika kapten Dei Gratia, David Morehouse, dan beberapa kru mendekat dan naik ke kapal tersebut, mereka menemukan pemandangan yang sangat mengerikan dan membingungkan.
Mary Celeste tampak dalam kondisi yang relatif baik. Layar-layarnya sebagian besar masih terpasang, haluan kapal sedikit rusak, dan ada air setinggi satu meter di palka, namun tidak ada tanda-tanda kerusakan struktural serius akibat badai atau tabrakan. Yang paling mencengangkan adalah ketiadaan awak kapal. Kesepuluh orang di dalamnya—Kapten Benjamin Briggs, istrinya Sarah, putri mereka Sophia yang berusia dua tahun, dan tujuh kru kapal—lenyap tanpa jejak. Lebih aneh lagi, muatan kapal yang terdiri dari lebih dari 1.700 tong etanol pekat belum tersentuh, barang-barang pribadi di kabin kapten dan kru masih berada di tempatnya, dan tidak ada tanda-tanda perkelahian atau kekerasan. Meja makan kapten bahkan masih tertata rapi, seolah-olah mereka baru saja meninggalkan kapal secara mendadak. Hanya sekstan dan kronometer kapal yang hilang, menunjukkan bahwa Kapten Briggs mungkin telah mencoba mengamankan peralatan navigasi penting sebelum meninggalkan kapal.
Peristiwa ini dengan cepat melahirkan Mary Celeste sebagai kisah kapal hantu paling ikonik dari abad ke-19, memicu imajinasi publik dan memunculkan berbagai teori liar. Banyak yang berspekulasi tentang serangan bajak laut yang kejam, meskipun ketiadaan tanda-tanda perampokan dan kerusakan fisik kapal membantah teori ini. Teori lain mengemukakan kemungkinan cuaca buruk yang ekstrem, wabah penyakit yang mematikan, atau bahkan pemberontakan kru yang berakhir tragis. Tak ketinggalan, rumor tentang campur tangan alien atau kekuatan supranatural juga beredar luas, menambah aura misteri yang menyelubungi kapal nahas tersebut. Selama bertahun-tahun, Mary Celeste menjadi sinonim dengan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan, sebuah teka-teki maritim yang tampaknya ditakdirkan untuk tetap tak terpecahkan.
Namun, di era modern, dengan kemajuan dalam metode ilmiah dan forensik, para peneliti mulai mengalihkan fokus dari spekulasi ke analisis berbasis bukti. Meskipun masih menyisakan beberapa pertanyaan kecil, sebagian besar penelitian kini memperkuat gagasan bahwa ledakan uap alkohol adalah penyebab utama di balik kepergian mendadak awak Mary Celeste.
Hipotesis ini terdengar sangat masuk akal mengingat muatan utama kapal tersebut: lebih dari 1.700 tong etanol pekat yang disimpan dalam palkanya. Diyakini bahwa hingga 300 galon etanol yang sangat mudah menguap bisa saja merembes dari pori-pori kayu tong tersebut. Dalam ruang palka yang tertutup rapat—diduga karena kru telah menutupnya rapat akibat cuaca buruk atau untuk melindungi muatan—etanol yang merembes akan menguap dan terakumulasi.
Etanol murni memiliki titik nyala sekitar 13°C (55°F). Pada atau di atas suhu ini, cairan tersebut menghasilkan uap yang cukup untuk membentuk campuran yang mudah terbakar dengan udara. Mary Celeste berlayar dari perairan beku New York menuju perairan Atlantik yang jauh lebih hangat di dekat Portugal. Peningkatan suhu ini akan menyebabkan lebih banyak etanol menguap, menciptakan konsentrasi uap alkohol yang semakin tinggi di dalam palka. Dalam kondisi seperti itu, hanya butuh satu percikan api—mungkin dari gesekan logam, batu api, atau bahkan percikan statis—untuk memicu ledakan.
Penjelasan ini sempat ditepis oleh beberapa pihak karena tidak ada bekas luka bakar yang ditemukan pada tong-tong kayu maupun di tempat lain di dalam kapal. Ketiadaan tanda-tanda kebakaran atau hangus diyakini menjadi bukti kuat yang menggugurkan teori ledakan. Namun, beberapa bukti ilmiah kemudian menunjukkan bahwa tidak adanya bekas hangus tidak serta merta menggugurkan kemungkinan terjadinya ledakan uap.
Pada tahun 2006, para ahli kimia dari University College London (UCL), bekerja sama dengan TV Inggris Channel 5, melakukan eksperimen penting untuk menguji hipotesis ini. Mereka membangun replika palka Mary Celeste, lengkap dengan model tong-tong kayu yang dirancang untuk mensimulasikan kebocoran uap alkohol. Dalam eksperimen yang diawasi ketat itu, mereka menyulut uap yang terkumpul. Hasilnya adalah bola api yang membubung tinggi dan spektakuler, memenuhi ruang replika tersebut, namun yang paling krusial, tidak ada satu pun kubus kertas atau material mudah terbakar lainnya di dalam palka yang terbakar atau rusak.
Dr. Andrea Sella, seorang ahli kimia di UCL yang memimpin eksperimen tersebut, menjelaskan fenomena ini. "Apa yang kami ciptakan adalah jenis ledakan gelombang tekanan," katanya. "Ada gelombang api yang spektakuler, tetapi di belakangnya terdapat udara yang relatif sejuk. Tidak ada jelaga yang tertinggal dan tidak ada bekas terbakar atau hangus." Sella menambahkan bahwa hasil ini sangat signifikan. "Mengingat semua fakta yang kita miliki, ini mereplikasi kondisi Mary Celeste. Ledakan tersebut akan cukup kuat untuk mendobrak palka hingga terbuka dan pasti akan sangat mengerikan bagi semua orang di dalamnya. Ini adalah penjelasan paling masuk akal," paparnya. Ledakan semacam itu, meskipun tidak meninggalkan jejak fisik yang permanen, akan menciptakan suara gemuruh yang dahsyat dan kilatan cahaya yang membutakan, cukup untuk menimbulkan kepanikan massal.
Empat belas tahun kemudian, pada tahun 2026, hipotesis yang sama kembali diuji oleh tim ilmuwan lain. Sekali lagi, eksperimen ini dilakukan untuk film dokumenter Channel 5, saluran TV yang tampaknya sangat tertarik dengan kisah ini. Jack Rowbotham dan Frank Mair dari Universitas Manchester membangun model kapal skala 1:18 menggunakan kayu dan etanol untuk mereplikasi kondisi Mary Celeste dengan lebih detail.
Mereka menciptakan ulang kondisi cuaca dan suhu yang dialami kapal tersebut dalam perjalanannya. Pertama, mereka menyemprotkan etanol dingin untuk mereplikasi perairan New York yang dingin dan menggunakan kabel listrik untuk memicu percikan api. Seperti yang diperkirakan, tidak terjadi apa-apa; suhu dingin mencegah etanol menghasilkan uap yang cukup untuk mencapai konsentrasi yang mudah terbakar.
Selanjutnya, mereka mereplikasi suhu Atlantik yang lebih hangat dengan menghangatkan etanol dan model kapal tersebut. Kali ini, ketika percikan api menyambar, ledakan hebat mengoyak sebelum lenyap dalam sekejap. Eksperimen ini dengan jelas menunjukkan bahwa ledakan uap etanol bisa saja tidak meninggalkan jejak fisik pada Mary Celeste, namun lebih dari cukup untuk membuat kru panik dan segera meninggalkan kapal.
Para ilmuwan menduga bahwa percikan menyulut uap dan menghasilkan bola api biru yang mencapai suhu sekitar 2.000°C (3.600°F), meskipun hanya berlangsung selama beberapa detik. Panas yang intens ini, dikombinasikan dengan gelombang tekanan yang kuat, akan sangat menakutkan bagi siapa pun yang berada di dekatnya.
Dr. Sella, yang juga ikut berkomentar pada eksperimen terbaru ini, menekankan dampak psikologisnya. "Ketika Anda membayangkan kru kapal yang mungkin tidak terlalu berpendidikan, maka gagasan bahwa di kegelapan, Anda tiba-tiba disuguhkan kilatan biru dan hawa panas, lalu semua pintu terbuka dengan sendirinya, itu sangat menakutkan," ujarnya.
Dalam skenario ini, Kapten Benjamin Briggs yang bertanggung jawab dan berpengalaman, kemungkinan besar dihadapkan pada situasi yang tak terbayangkan. Melihat ledakan dahsyat yang tidak meninggalkan bekas terbakar, namun disertai suara memekakkan telinga dan kilatan api biru yang menakutkan, ia mungkin khawatir akan ledakan susulan yang jauh lebih besar. Ditambah lagi, kepanikan yang mungkin melanda kru yang kurang berpendidikan bisa saja membuat mereka melompat ke laut. Dalam upaya untuk menyelamatkan semua orang, Kapten Briggs kemungkinan memerintahkan seluruh awak, termasuk istri dan putrinya, untuk segera masuk ke sekoci penyelamat. Mereka mungkin berniat untuk tetap dekat dengan Mary Celeste, menunggu situasi mereda atau menunggu bantuan. Namun, takdir berkata lain. Sekoci kecil itu mungkin terlepas dari kapal karena cuaca buruk atau kesalahan perhitungan, meninggalkan Mary Celeste yang kosong untuk terus berlayar tanpa tujuan, sementara nasib Kapten Briggs dan krunya tetap menjadi misteri tragis yang tak pernah terungkap.
Meskipun pertanyaan tentang apa yang terjadi pada sekoci dan penumpangnya masih belum terjawab, penyebab mengapa Mary Celeste ditinggalkan kini memiliki penjelasan ilmiah yang kuat. Kisah Mary Celeste, yang dulunya adalah simbol misteri yang tak terpecahkan, kini menjadi bukti kekuatan metode ilmiah dalam mengungkap kebenaran di balik legenda sejarah.

