BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Penyanyi dan pengusaha ternama, Ashanty, baru saja menorehkan prestasi akademik yang luar biasa, tepat di momen sakral menjelang keberangkatannya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Istri dari musisi Anang Hermansyah ini berhasil menyelesaikan perjuangan panjangnya dengan dinyatakan lulus dalam ujian doktoral S3 di Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya. Pencapaian gemilang ini menjadi kado terindah yang melengkapi perjalanan spiritualnya di tahun ini, sebuah penanda kebangkitan setelah serangkaian ujian hidup yang ia hadapi sebelumnya.
Perjalanan Ashanty menuju gelar doktor, sebuah jenjang pendidikan tertinggi di bidang akademik, diakuinya bukanlah jalan yang mulus. Ia mengungkapkan bahwa proses ini sangat menguras energi fisik dan mentalnya. Tingkat stres yang dialaminya bahkan sempat memuncak, terutama ketika ia harus menghadapi fase ujian tertutup. "Sebenarnya aku kalau lebih gila stresnya tuh pas ujian tertutup karena itu di 2 jam itu aku tuh sama 10 penguji tertutup emang maksudnya tertutup maksudnya bukan gak ada boleh orang lain ya penguji 10 orang gitu di hantamnya di situ tuh kan revisi dan lain-lain tuh yang bikin kita memang down di situ," ujar Ashanty saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, pada Jumat (15/6/2026). Ujian tertutup ini, menurutnya, merupakan momen paling menegangkan karena ia harus mempertahankan hasil penelitiannya di hadapan tim penguji yang berjumlah sepuluh orang, dan segala revisi serta masukan dari mereka bisa sangat memukul mental. Tekanan ini semakin diperparah dengan tuntutan untuk menjawab setiap pertanyaan dengan tepat dan meyakinkan, sekaligus mengatasi rasa lelah dan keraguan yang mungkin muncul.
Setelah berhasil melewati fase ujian tertutup yang penuh ketegangan tersebut, Ashanty harus kembali menyiapkan mentalnya untuk menghadapi ujian terbuka. Meskipun secara materi ia merasa telah menguasai sepenuhnya penelitian yang telah ia lakukan, kehadiran ratusan penonton dan kehadiran penguji tamu dari luar universitas memberikan lapisan tekanan tersendiri. Ujian terbuka ini, berbeda dengan ujian tertutup, disaksikan oleh khalayak umum, yang menambah bobot psikologis bagi sang doktor. "Tapi terbuka itu lebih deg-degannya tuh karena ada 150 orang nonton, ada penguji dari dalam UNAIR, penguji dari luar dan penguji dari penguji tamu juga ada dihadirkan di depan untuk nanya. Jadi kalau kita gelagapan atau kita jawabnya juga atau pada saat ditanya kadang kan manusia tuh bisa blank lho," terangnya. Kekhawatiran akan terjadi "blank" atau lupa saat ditanya, sebuah fenomena yang lazim dialami oleh siapa saja di bawah tekanan, menjadi momok tersendiri baginya. Kehadiran penonton yang membuat suasana terasa lebih terbuka dan formal, serta penguji dari berbagai latar belakang, menuntut kemampuan presentasi dan argumentasi yang prima.
Namun, kekhawatiran tersebut ternyata tidak terbukti. Ashanty mampu memaparkan jawaban dan mempertahankan disertasinya dengan sangat lancar di hadapan para penguji dan audiens yang memadati ruangan. Ia merasa kelancaran yang ia alami merupakan berkah dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. "Jadi ada momen-momen yang kita bisa bilang tapi Allah baik banget aku rasa lancar itu menjawab jadinya mereka juga merasa ya layaklah anak ini lulus gitu," jelasnya. Kelancaran ini tidak hanya dipandang sebagai keberhasilan akademis, tetapi juga sebagai bukti ketulusan dan kesungguhan usahanya. Para penguji, melihat performanya yang memukau dan penguasaan materi yang mendalam, akhirnya memberikan penilaian positif dan menyatakan kelulusannya. Momen kelulusan ini menjadi titik kulminasi dari kerja keras dan dedikasinya selama bertahun-tahun dalam menempuh pendidikan S3.
Bagi Ashanty, pencapaian pendidikan S3 dan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tahun yang sama merupakan bentuk kompensasi dan ganti yang luar biasa atas berbagai ujian dan cobaan yang ia hadapi di masa lalu. Ia melihat kedua anugerah ini sebagai balasan dari Tuhan atas ketabahan dan kesabarannya. "Tahun lalu tuh tahun kayak aku ada aja masalah. Dari 2026 sampai sekarang aku tuh menemukan kayak diganti gitu duka-duka yang kemarin jadi masya Allah banget aku kalau masih mau mengeluhkan hidup aku kayaknya terlalu gimana," pungkasnya. Ia mengakui bahwa tahun sebelumnya merupakan periode yang penuh dengan tantangan dan masalah, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Namun, kini, dengan dua pencapaian besar ini, ia merasa segala kesulitan di masa lalu telah terbayarkan. Ia bersyukur atas limpahan rahmat dan kebaikan yang ia terima, dan merasa tidak pantas lagi untuk mengeluhkan nasibnya.
Lebih jauh, Ashanty menjelaskan bahwa disertasi S3-nya berfokus pada bidang ilmu komunikasi, sebuah bidang yang relevan dengan dunia hiburan dan bisnis yang ia geluti. Penelitiannya secara spesifik mengkaji tentang "Strategi Komunikasi Pemasaran Selebriti dalam Membangun Citra Merek" di era digital. Ia menyoroti bagaimana para selebriti, termasuk dirinya, menggunakan berbagai platform media sosial dan kanal digital lainnya untuk membangun dan mempertahankan citra merek mereka, baik citra pribadi maupun citra produk yang mereka promosikan. Dalam disertasinya, Ashanty menganalisis berbagai elemen strategi komunikasi, seperti konten visual, narasi, interaksi dengan audiens, serta kolaborasi dengan influencer lain. Ia juga membahas tantangan-tantangan yang dihadapi selebriti dalam mengelola citra merek di tengah derasnya arus informasi dan opini publik di dunia maya. Penelitian ini didasari oleh pengalamannya sendiri sebagai seorang selebriti yang aktif di berbagai bidang, mulai dari dunia musik, akting, hingga bisnis kuliner dan fashion. Ia melihat adanya kebutuhan mendesak untuk memahami secara mendalam bagaimana citra merek selebriti dibentuk, dikelola, dan dipertahankan agar tetap relevan dan kuat di mata konsumen.
Proses penelitian ini sendiri tidak lepas dari tantangan. Ashanty harus membagi waktu antara kesibukan sebagai seorang figur publik, pengusaha, dan ibu rumah tangga dengan tuntutan akademik yang sangat ketat. Ia harus menghadiri perkuliahan, melakukan riset lapangan, mengumpulkan data, menganalisis temuan, dan tentu saja, menulis disertasinya. Seringkali, ia harus rela mengorbankan waktu istirahatnya untuk menyelesaikan tugas-tugas akademiknya. Ia mengaku banyak begadang demi menuntaskan naskah disertasinya. "Ada momen-momen di mana saya harus memilih antara istirahat atau menyelesaikan bab tertentu. Tapi demi cita-cita ini, saya pilih untuk berjuang," ujarnya sambil tersenyum. Dukungan dari keluarga, terutama sang suami, Anang Hermansyah, dan anak-anaknya, menjadi sumber kekuatan utama baginya. Anang Hermansyah kerap menemani Ashanty belajar dan memberikan semangat di saat-saat terberat.
Keputusan Ashanty untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S3 di usia yang terbilang tidak muda lagi ini menunjukkan semangat belajar yang luar biasa dan komitmennya untuk terus berkembang. Ia ingin membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih impian akademis. "Saya ingin menjadi contoh bagi anak-anak saya dan juga bagi perempuan di luar sana bahwa pendidikan itu penting dan tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ilmu itu seperti investasi jangka panjang yang akan selalu berharga," tuturnya dengan mantap. Ia berharap pencapaiannya ini dapat menginspirasi banyak orang untuk tidak pernah berhenti belajar dan mengejar cita-cita, apapun tantangan yang dihadapi.
Keberhasilan Ashanty meraih gelar doktor ini disambut hangat oleh rekan-rekan artis, penggemar, dan sivitas akademika UNAIR. Banyak yang memuji ketekunan dan kegigihannya dalam menyeimbangkan berbagai peran dalam hidupnya. Ucapan selamat membanjiri akun media sosialnya. Di tengah kebahagiaan atas pencapaian akademisnya, Ashanty kini tengah mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik untuk menunaikan ibadah haji. Ia mengaku telah lama mendambakan panggilan suci tersebut, dan bersyukur akhirnya impiannya dapat terwujud di tahun yang sama dengan pencapaian akademisnya. "Ini adalah anugerah yang luar biasa. Saya akan mendoakan yang terbaik untuk keluarga, teman-teman, dan seluruh umat muslim di sana," katanya penuh harap. Keberangkatan haji ini menjadi momen refleksi dan ibadah yang sangat penting baginya, sekaligus menjadi penutup manis dari serangkaian perjuangan dan pencapaian di tahun ini. Perjuangan Ashanty ini menjadi bukti nyata bahwa dengan tekad yang kuat, kerja keras, dan dukungan dari orang terkasih, impian sebesar apapun dapat diraih.

